
Masih di rumah sakit, kini Drag masih setia duduk di samping ranjang Vera. Mata tajamnya menatap iba pada wanita yang di cintai nya itu. Sendari tadi tak henti-hentinya Drag mencium tangan Vera yang berada di genggaman nya. Karena sentuhan Drag yang tak henti-hentinya, membuat Vera mulai sadar dari pingsannya. Samar-samar gadis itu memperhatikan setiap inci ruangan itu. Tak sadar, kini mata Vera menatap mata tajam yang sendari tadi memperhatikan nya. "Sayang," ucapnya dengan suara parau nya seakan ingin menangis. Vera yang belum mengetahui kondisi nya saat ini mengerutkan dahinya. Ia merasa aneh melihat suaminya. "Yang," panggil nya dengan suara lirih tetapi masih bisa di dengar oleh Drag.
"Hm," sahutnya dengan deheman lembut nan menentramkan. Lagi-lagi Drag mencium tangan Vera membuat gadis itu merasa sangat spesial.
"Kita dimana yang?" tanyanya lagi membalas tatapan tajam Drag.
"Kita di rumah sakit sayang," ucapnya dengan tangan yang aktif mengeluarkan punggung tangan Vera. Drag bisa merasa jika Vera masih lemas karena tangan Vera terlihat lebih berat dari biasanya. "Apa kepalanya sakit?" tanya Drag ketika melihat Vera memegang ujung kepalanya. Vera menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Ya sudah, Mas panggil dokter dulu ya," ucap Drag hendak bangkit dari duduknya namun di tahan oleh Vera.
"Jangan pergi Yang," lirihnya dengan wajah sendu membuat Drag Kembali ke posisi awal.
"Iya, Mas tidak akan pergi sayang," ucapnya sangat lembut membuat Vera mengangguk sembari tersenyum. "Ya sudah, mari tidur lagi agar pusingnya cepat hilang," ucap Drag yang di angguki Vera. Vera yang masih merasakan matanya berat segera menutup matanya. Dalam hitungan menit, Vera pun tertidur dengan pulas. Drag yang melihat Vera sudah tertidur, segera bangkit dari duduknya, ia mencium kening Vera dan menyelimuti nya. Setelah itu, Drag segera melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Di luar terlihat Drag fokus menatap layar handphone, seperti nya ia ingin menghubungi seseorang. "Saya ingin kalian segera menghilangkan isu tentang istri saya yang hamil di luar nikah. Saya tidak mau tau, sayang ingin masalah ini segera selesai!" perintah Drag dengan nada tegas membuat seseorang di ujung telepon gelagapan.
"Baik tuan,"
Setelah mengatakan itu, Drag segera memutuskan sambungan telepon nya dan memanggil dokter untuk memeriksa istri nya.
"Bagaimana dok kondisi istri saya?" tanya nya fokus menatap dokter.
Dokter tersenyum mendengar pertanyaan Drag, "Istri anda baik-baik saja tuan, ia hanya perlu banyak istirahat dan jangan biarkan istri anda sampai stres ataupun kelelahan," ucap dokter yang di angguki Drag.
__ADS_1
"Baiklah dokter, terima kasih atas waktu dan sarannya," ucap Drag menjabat tangan sang dokter.
"Sama-sama tuan, permisi," ucapnya lalu segera pergi meninggalkan Drag dan Vera di ruang VIP itu.
"Tok-tok-tok," terdengar suara ketukan pintu membuat Drag bangkit dan berjalan menuju pintu, "Cklek," terlihat kedua orang tuanya dan Vera sudah berada di depannya. "Mama, Papa, mari masuk," ajak Drag yang di angguki para orang tua. "Vera lagi tidur Ma," ucapnya ketika Sela dan Ami sudah berada di dekat ranjang Vera.
"Ah,,,gadis ku yang malang," ucap Sela menyeka air matanya membuat Ami mengelus punggung Sela.
"Bagaimana Nak, Kami sudah mengetahui berita yang tersebar tentang istri mu. Apa kamu sudah mengusutnya?" tanya Jon yang di angguki Ronal. Drag berjalan ke sopa lalu ikut duduk bersama Papa dan Papa mertua nya.
Drag menghela nafasnya sesaat sebelum menjawab pertanyaan Papanya. "Drag sudah memerintahkan seseorang untuk menghilang kan berita buruk ini Pa, jika nanti Masyarakat tetap termakan isu ini, terpaksa Drag dan Vera akan melakukan Konferensi pers untuk menghilangkan berita miring ini Pa." jelas dengan wajah serius menatap Papa nya yang mengangguk setuju dengan keputusan Drag.
"Bagus nak, Papa bangga dengan mu. Papa tidak perlu khawatir lagi dengan kelangsungan hidup anak Papa satu-satunya. Tak salah Papa menitipkan Vera padamu. Terimakasih Nak," ucap Ronal yang kini memeluk Drag dengan sangat erat.
Di negara yang berbeda, terlihat Gaura dan kuntoro tertawa senang di apartemen yang di berikan Marco. Senyum keduanya begitu mereka menatap layar tv yang menampilkan berita miring tentang Vera. Karena Vera istri dari orang terkaya di Asia, membuat berita itu tak hanya buming di Indonesia saja, tetapi juga buming di luar negeri. Karena Papa dan Anak itu sangat bahagia, kini keduanya melakukan pesta miras di apartemen itu.
Tak ingin orang sekitar mendengar pembicaraan nya, Gaura segera mengunci pintu dan menghidupkan mode hening di apartemen sehingga orang di luar apartemen tak bisa mendengar suara yang di timbulkan dari dalam. "Mari Pa, kita bersulang," ucap Gaura yang sudah mengangkat gelasnya untuk melakukan tos. Kuntoro menampilkan gigi ratanya lalu mengangkat segelas wine di tangannya.
Kini keduanya merayakan kemenangan nya dengan berpesta di apartemen. Di dalam sana sudah terdapat puluhan miras. Tak lupa Gaura menghidupkan lagu DJ ala diskotik. Dengan tidak malunya anak dan Papa itu berjoget dan minum bersama. Memang benar peribahasa yang mengatakan, jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, begitu putaran jam yang terasa begitu cepat. Tak sadar ayah dan anak itu sudah menghabiskan empat setengah botol wine. Kini kedua tengah mabuk berat di apartemen itu. Tanpa sadar, Kuntoro memperhatikan ke cantik kan dan kemolekan anak semata wayangnya itu. Entah karena mabuk atau mendapat bisikan setan, Kuntoro menatap liar pada anaknya sendiri.
__ADS_1
Gaura yang tengah duduk terlihat memberikan senyum nya pada ayahnya yang kini berjalan ke arahnya. Ntah kenapa, senyum Gaura seperti senyum godaan di mata Kuntoro. Pakaian Gaura yang selalu terbuka membuat birahi Kuntoro naik. Dan dengan cepat, tuan Kuntoro menarik Gaura dan mengajaknya ke atas ranjang.
Gaura yang tak sadar dengan kondisinya saat ini hanya tersenyum dan terlihat biasa-biasa saja. Bahkan dia merasa orang yang menarik tubuhnya adalah Drag suami Vera. Karena sudah tak tahan, kini Kuntoro meniduri anaknya sendiri. Dan terjadi lah dosa besar itu yang beberapa kali di ulangi dalam satu malam. Gaura merasa ketagihan dengan ayahnya sendiri membuat dia tak peduli jika itu adalah ayahnya. Bukan tidak peduli, tetapi karena pengaruh alkohol membuat dia tak sadar melakukan hubungan haram dengan ayah kandungnya sendiri.
Setelah selesai melakukan hubungan haram itu, Papa dan anak itu tidur dalam selimut yang sama tanpa mengenakan sehelai benang pun. Tak terasa pagi pun tiba, seperti biasanya sebelum ke kantor, Marco selalu singgah menemui pujaan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Gaura. Marco juga tau jika saat ini kekasih nya itu tengah tinggal satu atap dengan papanya.
Karena Marco hafal kode apartemen Gaura membuatnya langsung masuk tanpa menghubungi Gaura terlebih dahulu. Di saat sudah berada di dalam, Marco mengerutkan keningnya melihat apartemen yang berantakan dan terdapat banyak botol wine. Hidung mancung nya juga menghirup aroma alkohol yang sangat menyengat membuat dirinya ingin muntah tetapi ia tahan.
Marco segera melangkahkan kakinya mencari Laura dan kini tibalah dia di depan pintu kamar Gaura. Tanpa mengetuk, Marco membuka pintu itu dan betapa kagetnya ia ketika melihat hal tak senonoh di depannya. Gaura yang terbangun karena suara pintu segera mengalihkan pandangannya menatap Marco. "Sayang, sejak kapan kamu berada di sini?" tanyanya yang belum sadar dengan kondisinya saat ini.
"Apa ini? kau berhubungan dengan Papa kandung mu sendiri? why!" tanyanya dengan bentakan di ujung kalimat membuat Kuntoro terkejut dan terbangun dari tidurnya. Karena pergerakan Kuntoro membuat selimut yang menutupi aset keduanya terjatuh. Gaura kaget ketika melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Sama halnya dengan Gaura, Kuntoro juga terkejut dan mencoba mengingat kejadian kemarin malam.
Apa yang telah aku lakukan pada putriku sendiri? batinnya dalam hati mengutuki kebodohan nya.
Gaura yang sudah sadar segera menjatuhkan air matanya dengan tangan yang sudah membekap kain di dadanya. "Kenapa Papa bisa melakukan ini semua pada Gaura? Pa, Gaura ini anak Papa!" teriaknya histeris membuat Marco langsung menghilangkan wajah marah nya. Seperti nya ia termakan dengan drama Gaura yang berpura-pura berlagak menjadi korban.
"Beraninya kau memperkosa kekasihku pria tua!" bentak Marco sembari melayangkan satu pukulan di wajah Kuntoro. Marco yang tak terima kekasihnya di lecehkan, segera membawa Kuntoro ke jalur hukum. Ia segera memerintahkan asisten nya untuk membawa polisi. Dan benar saja, tak lama polisi datang dan menangkap Kuntoro.
Maafkan aku Pa, aku tak masalah kau melakukan itu padaku, tetapi aku tak ingin kehilangan bank berjalan ku. batin Gaura masih berpura-pura nangis di pelukan Marco.
Karena kejadian yang tak mengenakan ini, membuat Marco memilih tak masuk ke kantor. Ia menemani Gaura sepanjang hari di apartemen nya. "Tenanglah sayang, aku percaya padamu." ucap Marco membuat Gaura tersenyum di dadanya.
__ADS_1
Sialan! andai saja aku terbangun lebih dahulu, pasti Papa tak akan di serahkan ke kantor polisi! batinnya terlihat kesal mengingat Papanya yang menangis histeris memanggil namanya.