Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Poligami


__ADS_3

Drag mengangguk kan wajahnya dengan penuh wibawa, bahkan senyum simpulnya sangat manis. "Saya mempunyai seorang anak gadis yang cantik dan berpendidikan, anak saya juga seorang model tuan." ucap tuan Kuntoro mulai menceritakan kelebihan anaknya. Drag hanya mengangguk kecil tanpa berniat memotong ucapan tuan Kuntoro.


"Dan, saya ingin menawarkan kepada tuan Drag. Apakah tuan mau menikah dengan anak saya?" ucap tuan Kuntoro tanpa rasa bersalah. Bagai kaca di sambar petir, Drag terdiam seribu bahasa. Drag merasa tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dia dengar. Bagaimana bisa rekan bisnisnya ini menyuruhnya untuk menikahi anak gadisnya sedangkan dia sudah berkeluarga.


"Maaf tuan sebelumnya, saat ini saya menikah dan memiliki keluarga sendiri!" ucap Drag berterus terang dengan penekanan di ujung kalimat. Drag mencoba menahan amarahnya. Dia juga mencoba menetralkan suasana di ruangan itu.


Kuntoro yang mendengar pengakuan Drag terlihat bingung. "Sejak kapan anda menikah tuan? kenapa saya tidak tau?" tanya tuan Kuntoro menunggu jawaban. Setau nya, rekan bisnisnya ini masih singel dan belum menikah. Kalaupun menikah, kenapa Drag tidak mengundangnya? itulah sekiranya yang berada di fikirkan tuan Kuntoro.


"Maaf sebelumnya tidak mengundang anda tuan. Istri saya ingin menikah dengan acara yang sederhana dan hanya keluarga saja yang di undang. Untuk resepsinya masih kami tunda tuan di karenakan kesibukan saya yang belum selesai." ucap Drag mencoba menjelaskan secara singkat. Drag sangat marah tetapi dia tetap profesional dalam pekerjaannya.


Belum mengadakan resepsi. Berarti masih ada kesempatan anakku untuk menjadi istri pengusaha terkaya nomor 1 di asia. gumam tuan Kuntoro dengan penuh semangat dan optimis.


"Apakah tuan tidak berniat untuk menikah lagi? Anak saya pasti mau menjadi istri kedua tuan Drag." ucap tuan Kuntoro tanpa rasa getar dan bersalah. Emosi Drag mulai memuncak tetapi dia masih bisa menetralkan dirinya.


Berani sekali sih pria tua ini berbicara seperti itu kepadaku! kesal drag dalam hati. Saat ini hatinya benar-benar panas dengan pria tua di depannya.


"Saya sangat mencintai istri saya tuan, dan sayapun sudah cukup dengan satu wanita, yaitu istri saya sendiri." ucap Drag dengan aura dingin dan suara yang maskulin. Dia masih berusaha menahan amarahnya.


"Maaf tuan, mungkin pembahasan kita cuma bisa sampai di sini, saya ada urusan lain tuan. Sampai jumpa di lain waktu tuan Kuntoro. Senang bisa berkerja sama dengan anda." ucap Drag mengakhiri pertemuan dengan spontan, lalu menjabat tangan tuan Kuntoro.


Setelah mengatakan itu Drag segera keluar dari ruangannya dengan cepat. Dia tidak ingin berlama lama dengan pria tua itu.


Tuan Kuntoro yang melihat kepergian Drag merasa terhina dan kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya sangat masam.


Mungkin saat ini anda menolak putri saya tuan, tapi tidak dengan hari esok. Akan saya pastikan, anda akan menikahi putri kesayangan saya. Enak sekali istri anda menikmati harta anda sendirian. gumam tuan Kuntoro dengan raut wajah yang garang dan senyum jenakanya.


Karena tak ada kepentingan lagi, akhirnya tuan Kuntoro pun memilih pergi dari perusahaan Drag. Pria tuan itu masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil pria tua itu terus mengumpat dan mencela Drag.


Sebenarnya tuan Kuntoro sudah tau jika rekan bisnisnya itu sudah menikah tetapi dia berpura- pura tidak tahu, sehingga kerja sama dan rencananya tidak gagal dan berantakan.


"Vino." ucap Drag dengan nada yang terdengar emosi. Moodnya benar-benar hancur saat ini. Darahnya yang mendidik belum dingin hingga sekarang.


Ada apa dengan tuan Drag? kenapa tuan Drag terlihat sedang menahan amarah?! batin Vino dalam hati. Vino melirik sekilas kursi penumpang dari spion depan.

__ADS_1


"Iya tuan." ucap Vino melirik pria di depannya.


"Lain kali, jangan biarkan siapapun untuk masuk ke ruangan ku dan jangan biarkan para rekan bisnisku untuk bertemu di kantor ini!" ucap Drag dengan penuh penekanan. Mata tajamnya yang sempat membara kini berubah datar.


"Baik tuan, untuk kedepannya saya akan memastikan hal ini tidak terjadi lagi." ucap Vino memberikan sedikit anggukan kecil.


"Ayo pulang." ajak Drag dengan tangan yang yang berada di saku celananya. Tubuh tegapnya berjalan cepat membela lorong perusahaan nya.


Mereka memasuki lift dan turun dari lantai atas menuju parkiran kantor. Drag masuk ke dalam mobil yang di bawah oleh Vino.


"Kau kenapa Drag?" tanya Vino dengan bahasa non formal. Mereka adalah sahabat, saat berkerja mereka harus berbahasa formal dan tentunya Profesional, sedangkan di luar jam kerja mereka tidak menggunakan bahasa formal.


"Kau tau Vin, pria tuan itu ingin aku menikahi putrinya." ucap Drag dengan wajah berapi- api.


"What!" ucap Vino terkejut dengan apa yang di ucapan sahabatnya itu.


"Kau saja kaget kan, apalagi aku. Emosi kali aku!" ucap Drag tetap m nahan amarahnya yang masih menggebu.


"Ini sih parah banget Drag. Tuan Kuntoro tau nggak jika kau sudah menikah?" tanya Vino penasaran.


"Maklum sajalah." ucap Vino dengan nada datar nya.


"Apanya yang harus di maklumi Vin, sudah ku beritahu kalau aku sudah menikah! kau tau? pria tua itu menyuruhku melakukan poligami. Gila kan!" ucap Drag tidak habis pikir dengan pemikiran rekan kerjanya itu. Bisa-bisa tuan Kuntoro tak merasa segan mengatakan hal itu.


"Ini sih bukan gila lagi Drag, tapi gila banget!" ucap Vino ikut geram dengan perilaku tuan Kuntoro. Pria tampan itu memegang kemudiannya dengan kuat mencurahkan kemarahan di sana.


"Terus bagaimana dengan kerja samanya?" tanya Vino dengan penuh rasa penasaran.


Kerja samanya masih berjalan Vin." ucap Drag dengan kondisi yang sudah sedikit membaik dan tenang.


"Untuk saat ini mungkin berjalan lancar, tetapi tidak tau untuk kedepannya." ucap Drag dengan aura yang dinginnya. Matanya masih setia menikmati jalan yang ia lewati.


"Keren juga kau ya. Kalau aku di posisi mu, sudah ku sleding ginjal sih tua b*ngka itu! sangat tidak tidak sopan sekali dia." ucap Vino dengan sangat geram. Sekarang sikapnya bertukar. Vino yang marah, Drag yang tenang.

__ADS_1


"Jatuhlah wibawah ku Vin. Biarkan saja dia emosi sendiri dengan sikap yang ku berikan, biar dia kepanasan sendiri! buat apa aku banyak bicara jika diam ku telah menyakiti nya." ucap Drag penuh wibawa. Vino mengangguk setuju mendengar penuturan Drag.


Buset... dewasa banget anak ini. Sabar sekali dia. Kalau saja aku berada sih di posisi nya mungkin aku tak akan tinggal diam. Ke ring tinju pun jadi. Hehehe. Gumam Vino tersenyum devil ke arah jalan.


"Iya sih Drag. Tapi, kalau kau terus diemin orang seperti itu... dia akan semakin menjadi! orang-orang seperti itu biasanya tipe orang yang tak tau diri! " jelas Vino dengan nada yang terdengar serius.


"Hmm." Jawab Drag dengan deheman. Dia pun berhenti menanggapi ucapan Vino. Drag lebih memilih menyenderkan kepalanya lalu memejamkan matanya.


Rileks nya.. gumam Drag merasakan ketenangan.


Vino hanya melihat Drag dari kaca spion depan lalu kembali memfokuskan matanya ke arah jalan.


***


Di dalam mansion mewah, tepatnya di dalam kamar. Terlihat Vera sedang sibuk mengobrol dengan sahabatnya Lucy. Terkadang mereka mengobrol dengan serius dan terkadang mereka becanda ria juga.


"Mas... mau nggak jadi suami aku, gitu lu? hihihi. " ucap Vera terkikik geli membayang kan sesuatu.


"Mas, mas, Abang! " ucap Lucy membenarkan ucapan Vera.


"Mas loh Lu, biasanya seorang suami itu di panggil mas." ucap Vera tidak mau kalah.


"Abang loh... dari mana pulak asalnya mas?!" ucap Lucy bersikukuh dengan ucapannya.


"Mas loh Lu... di mana-mana tu orang yang sudah menikah pasti memanggil suaminya dengan sebutan mas, apalagi kalau di novel- novel. Mas semua! biar tau kau!" ucap Vera dengan serius dengan mata yang menatap tv di depan nya.


"Cih... jijik kali aku dengar sebutan itu. Abang di bilang mas. "ucap Lucy dengan nada ketus nya.


"O ya ampun... Aku baru ingat kalau kau anak medan ya... pantaslah logat kau kasar kali. Abang? abang apanya." ucap Vera sedikit nyinyir dengan Lucy.


"Kenapa emangnya? orang betol kok abang. ilfeel aku dengar kata mas. Aku nanti kalau uda kawen nggak mau aku panggil mas sama suami aku. Abang! titik nggak pakai koma pokoknya! " ucap Lucy dengan bahasa khasnya.


aduhh... Ninja tomboy ini ngeselin banget... ngalah ajalah aku. batin Vera setengah bete.

__ADS_1


"Kau tau lu, gara-gara sering ngobrol sama kau, jadi ikut-ikutan aku logat kasar kau tu. Kau berubah napa lu bahasanya... banyak loh yang nggak ngerti..." ucap Vera dengan kesal pada Lucy.


__ADS_2