
"Halo." ucap Vera dengan suara tak bersahabat.
"Di mana?" tanya Drag to the point.
"Kenapa?" tanya Vera cuek sembari melirik kesembarang arah. "Saya lagi makan bersama teman saya" ucap Vera tanpa memberitahu keberadaannya.
"Laki laki atau perempuan?" tanya Drag dengan penuh penasaran.
"Perempuan, ya uda ya...saya mau makan dulu." ucap Vera mematikan panggilan teleponnya dengan cepat.
Drag terlihat sedikit kesal dengan perilaku istrinya yang memutuskan panggilannya sepihak.
Lucy menatap mata Vera seakan meminta jawaban. "Siapa yang nelpon?" tanya Lucy dengan wajah datar. Vera tersenyum menetupi kepanikannya.
"Biasa bos besar." ucap Vera seakan-akan mengatakan kepada Lucy bahwa yang menelpon adalah orang tuanya.
"Hmm.." dehem Lucy dengan anggukan pelan ke arah Vera.
Cukup lama menunggu, akhirnya pesanan Vera dan Lucypun sampai. "Silahkan mbak.” ucap pelayan cafe sembari menatap makanan dan minuman.
"Makasih ya mbak." ucap Lucy dan Vera secara bersamaan. Pelayan cafe itu mengangguk sembari tersenyum.
"Sama-sama mbak." ucap pelayan cafe lalu pergi meniggalkan Vera dan Lucy
Tak ingin membuang waktu, Vera dan Lucy segera menyantap makanan yang ada di hadapannya. Vera menggoyang tubuhnya senang karena merasakan makanan enak. "Enak ya lu." ucap Vera lalu menyuapkan sesendok mie ke mulutnya. Lucy hanya mengangguk lalu memakan makanannya dengan tenang.
"Hmm.." hanya berdehem cuek.
Setelah menghabiskan ipomie nya, Vera duduk sejenak lalu memainkan handphone mahal miliknya. Vera mengalihkan pandanganya ke salah satu pelayan cafe. "Bang bang..." panggil Vera dengan suara yang lumayan kuat. Pelayan cafe yang mendengar ada yang memanggil nya pun langsung berjalan ke arah meja Vera. "Sini bang." panggil Vera lagi sembari mengangkat dan melambai kan tangannya kepada pelayan pria itu.
Pelayan cafe itu sudah berada di depan Vera. "Iya kak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan pria itu dengan sopan dan full senyuman.
"Saya mau nanya, fassword wifi di cafe ini apa ya bang?!" tanya Vera tanpa rasa malu kepada pelayan cafe itu. Lucy hanya melirik Vera sekilas tanpa memperdulikan apa yang akan di lakukan gadis nakal itu. Lucy lebih memilih menikmati ipomie nya.
"Pesan dulu kak." ucap pelayan pria itu kepada Vera. Vera mengerutkan dahinya mendengar penuturan pelayan cafe itu. Bagaimana bisa pelayan cafe itu menyuruh nya memesan makanan, sedangkan siapa saja yang melihatnya tau bahwa mereka telah memesan sesuatu, bahkan ada yang sudah habis pesanan nya.
"Kita sudah pesan loh ini." ucap Vera sembari menunjuk semua yang berada di atas mejanya.
Pelayan itu mencoba membuat Vera mengerti. “Iya...kakak kan tanya password wifi kan? Pesan dulu,” ucap pelayan cafe itu dengan santai.
“Iya sudah. Kita kan udah pesan loh...Kita kan dah pesan ini,” ucap Vera ngotot dengan wajah sedikit kesal.
Pelayan cafe menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Iya kak....Pesan dulu gitu loh...” ucap pelayan itu dengan raut wajah yang sudah mulai kesal.
__ADS_1
“Iya. Fassword wifinya apa!” ucap Vera dengan sedikit tekanan. Pelayan cafe mengeluarkan wajah frustasi.
”Ya Allah kak...Pesan dulu lah...” ucap pelayan itu meyakinkan Vera.
“Sudah kita pesan ini bang! Ngajak gado abang ini!” ucap Vera sembari menampilkan wajah kesal. Pelayan itu mengangguk dengan wajah serius menatap Vera.
”Iya kak...PESAN DULU!” ucap pelayan itu berusaha meyakini Vera.
“Ini sudah pesan bang...” ucap Vera dengan sangat kesal dan penuh penekanan. Gadis ini benar-benar tidak mau kalah.
Pelayan cafe itu lelah berdebat dengan Vera, akhirnya Pelayan cafe itupun berhenti untuk menanggapi Vera dan memilih pergi tanpa sepatah katapun. Terlihat sekali wajah kesal dan lelah pelayan itu setelah berusaha meyakinkan Vera. Vera melirik ke arah pelayan cafe yang pergi meninggalkan nya tanpa memberi tau fassword WiFi. “Ii...Pelit kali dia bah...” ucap Vera tak habis fikir dengan pelayan cafe itu.
Lucy memperhatikan Vera sendari tadi sembari menahan tawa nya. “Hhhhhh...” tawa Lucy pecah ketika pelayan cafe itu sudah pergi meninggalkan meja mereka.
Vera memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah Lucy. Gadis nakal itu menatap Lucy dengan tatapan kesal. “Kenapa kau ketawa Lu? emang ada yang lucu di sini?!” Vera kenaikan sedikit alisnya mengintrogasi Lucy.
“Uda lah itu. Hihihi,” Lucy terkikik kecil dengan pandangan yang sulit di artikan.
“Hmm...” Vera hanya berdehem kesal dengan Lucy yang menertawainya.
Lucy mengulurkan tangan kanannya ke arah Vera. “Sini handphone mu,” pinta Lucy lalu menyambar handphone Vera.
“Buat apa?” tak biasanya Lucy meminjam handphone Vera dan hal itu membuat Vera bingung.
“Fassword nya apa,” tanya Lucy sembari menghadapkan layar handphone Vera tepat di depan wajahnya.
“Nggak buta loh aku Lu....1 sampai 9 fassword nya,” ucap Vera dengan nada kesal.
Vera yang bingung dan penasaran dengan apa yang di lakukan Lucy, langsung segera mengambil handphonenya dari atas meja. “Loh kok bisa lu?!” tanya Vera tak percaya. Matanya membulat sempurna ketika wifi cafe itu terhubung di handphone nya.
Lucy tersenyum devil menatap Vera. “Kau pulaknya nggak ngudeng,” ucap Lucy membuat Vera memanyunkan bibirnya.
“Maksudnya apa Lu?” tanya Vera dengan wajah ngambek.
Vera Vera...apa sih yang ada di fikiranmu hingga kau tak fokus!
“Kau nanyak fassword wifi cafe ini kan?” tanya Lucy dengan nada serius.
Vera mengangguk kan kepalanya. “Iya,” jawab nya singkat.
“Ya uda...Fassword nya itu pesan dulu,” ucap Lucy mencoba membuat Vera faham. Vera menaikkan sebelah alisnya. Gadis itu sudah seperti orang bodoh yang polos.
“Pesan dulu? kan kita sudah pesan lu,” tanya Vera dengan polosnya. Dia tidak paham dengan ucapan pelayan dan Lucy.
Lagi lagi Lucy di buat hilang akal oleh Vera. “Hhhhhh....” Lucy tertawa terpikal-pikal untuk kedua kalinya. Dia sampai memegangi perutnya yang sakit karena menertawai kebodohan vera.
Ngeselin banget sih lucy ni. Dia dan pelayan itu sama saja ngeselin nya!
“Maksudnya...fassword wifinya itu pesan dulu. P, e, pe, s, a, sa, tambah n. Pesan. D, u, du, l , u, lu. Dulu. Jadi sandinya yang harus kau tulis agar wifinya tersambung yaitu PESAN DULU!” ucap Lucy menjelaskan dengan rinci.
Vera membulatkan mata dan membuka mulutnya lebar. Dia baru sadar bahwa dia seperti orang bodoh sendari tadi. “Hhhhh...bodoh kali aku ya. Ih betul+betul nggak ngeh aku Lu. Abang tu pulak bilangnya asal-asal,” ucap Vera membela diri sembari menertawai dirinya sendiri.
“Uda paham kau?!” tanya Lucy lalu meminum esnya tanpa mengalihkan tatapannya dari Vera.
__ADS_1
“Iya, Hhhh” Vera menertawakan kebodohan nya.
“Kau kalau nggak bilang dari tadi sih lu...kan malu aku sama abang itu.” ucap Vera dengan ekspresi semulanya.
“Aku kan lagi makan.” ucap Lucy dengan santai.
“Hmm...” dehem Vera menapilkan wajah cemberut.
“Cepat habisi makananmu Ver,” ucap Lucy yang melihat sepiring nasi goreng yang belum di sentuh oleh Vera. Benar-benar perut gentong ya Vera.
“Iya,” ucap Vera sembari memakan nasi gorengnya.
***
Vera dan Lucy melanjutkan kegiatannya di cafe itu tanpa melihat waktu. Mereka sangat asik mengobrol dan bersendah gurau. “Ting,” suara notifikasih pesan dari handphone Lucy.
Pesan wa.
“Di mana lu?” Sasa.
“Kenapa sa?” Lucy.
“Jam berapa pulang?” tanya Sasa.
“Bentar lagi sa.” Lucy.
“Nanti pulang belikan makanan ya lu...jangan lupa belikan obat lambung.” pesan Sasa sembari memberikan emot sedih.
“Belum makan kau?” tanya Lucy.
“Belum ni lu, makanya aku suruh kau. Lambung ku kumat.” Sasa.
“Ya sudah aku pulang sekarang ya...tahan ya sa, nanti kita berobat.” Lucy terlihat cemas memikirkan keadaan Sasa.
“Iya lu...hati-hati ya....maaf merepotkan.” pesan Sasa tak enak hati.
“Nggak ngerepoti kok.” balas Lucy dengan emot tersenyum.
Pesan berakhir.
Lucy mengemas barang-barangnya, “Pulang yuk Ver,” ajak Lucy yang sudah berdiri di tempatnya.
Vera mendongakkan kepalanya menatap Lucy. “Kenapa?” tanya Vera bingung saat merasa Lucy tergesa-gesa.
“Sasa sakit. Kasihan dia sendiri di rumah...Malah belum makan lagi dia,” Lucy mengeluarkan keringat. Dia benar-benar sangat cemas saat ini.
“Oh ya sudah Lu,” ucap Vera penuh pengertian sembari ikut bangkit dari duduknya.
Lucy memasukkan handphone miliknya ke dalam kantung sweater nya. “Kau mau kemana Ver biar aku antar?” menatap Vera dengan mata khasnya, apalagi kalau bukan mata datar nan sayu.
“Aku mau ke rumah mamaku aja Lu, Aku naik grab aja ya,” ucap Vera yang langsung si angguki Lucy.
__ADS_1