
Lili terjatuh ketika tubuhnya terbentur dengan sesuatu yang keras. Gadis culun itu mengelus pinggulnya yang sakit. "Aduh,,,sakit banget..." ringis nya dengan mata terpejam. Setelah selesai mengelus pinggulnya, Lili segera mengalihkan pandangannya melihat orang yang ia tabrak. "Dek!" betapa terkejutnya dia ketika melihat pria tampan berwajah datar. Ya, orang yang di tabrak Lili tak lain ialah asisten Vino.
"Glek." gadis itu meneguk Saliva nya sembari membenarkan kaca matanya. Ia menatap mata tajam itu dengan sedikit takut. "Ma-maaf tuan." ucapnya sedikit gugup melihat ekspresi arogan itu.
"Hm." dehem nya dingin tanpa senyuman sedikitpun. Tak ingin membuang waktu yang tak penting, Vino segera pergi meninggalkan Lili yang menatapnya dengan pandangan kesal.
"Sombong banget sih!" ketusnya menatap punggung tegap Vino. Tak ingin membuat Vio menunggu, Lili segera kembali ke ruang fikting.
***
Di perusahaan yang lumayan besar, terlihat Kuntoro berduduk santai di kursi kekuasaan nya. Senyum pria tua itu terbit seakan merasakan kemenangan.
"Tuan." panggil Arnol asisten kesetiaan Kuntoro.
Kuntoro yang tengah menikmati segelas air dingin menghentikan kegiatan meminumnya. Pria tua itu mengalihkan matanya menatap Arnold. "Ada apa Arnol." tanyanya dengan tubuh yang masih bersantai.
"Ada berita buruk menimpa perusahaan kita tuan." ucap Arnol menatap cemas ke arah Kuntoro.
Kuntoro yang mendengar penuturan itu menegakkan tubuhnya sembari menatap Arnold dengan serius. "Katakan!" ucapnya penuh penekanan.
"Perusahaan Abraham Grub memutuskan kontrak kerjasama nya dengan perusahaan kita tuan. Bahkan kita harus membayar penalti sebesar 23 miliar tuan." jelas Arnol sangat serius.
"Brak". Kuntoro mengebrak mejanya dengan kasar. Semua benda yang berada di atas sana sudah berserakan di lantai. "Bagaimana ini bisa terjadi!" bentaknya pada Arnol.
"Ini ada sangkut pautnya dengan putri anda tuan." jelas kuntoro mengingat semua perbuatan busuknya dengan Gaura.
"Akh,,,sial*n kau Drag!" teriaknya geram membayangkan wajah Drag di kepala nya.
"Ini tidak bisa di biarkan, kita harus segera menggelar pertemuan dengan Drag dan asisten nya. Kalau begini, perusahaan bisa jatuh bangkrut." ucap Kuntoro menampilkan wajah tegang yang memerah. "Arnol." panggil Kuntoro.
"Iya tuan." jawab Arnol sedikit memajukan langkahnya ke hadapan Kuntoro.
"Lakukan sesuatu, pastikan mereka mau bertemu dengan kita." perintah Kuntoro dengan nafas yang naik turun.
"Baik tuan, akan saya usahakan." ucap Arnol sedikit ragu dengan perintah Kuntoro. Perusahaan Abraham Grub tak mudah kembali berkerja sama dengan perusahaan yang sudah rusak citranya. Bisa di bilang, sudah masuk daftar hitam perusahaan.
***
Di kediaman Drag terlihat tim wedding organizer sudah berkemas. Tugas mereka hari ini sudah selesai. Semua tim pamit pergi dari kediaman Drag. "Istirahat yang banyak ya sayang, tak lama lagi, pesta kalian akan di laksanakan. Harus sehat-sehat dan perbanyak memakan makanan bergizi ya." ucap Ami sangat perhatian pada Vera.
Sela yang berada di sebelah Ronal tersenyum senang melihat keakraban antara menantu dan mertua itu. "Bersyukur kita menjodohkan anak kita dengan keluarga Abraham ya pa." ucap Sela tanpa memalingkan pandangannya.
"Iya ma, papa sudah tak khawatir lagi dengan hidup anak kita." ucap Ronal sembari mengangguk pelan.
"Iya ma." sahut Vera memberikan senyum simpulnya. Dia tak tau harus berkata apa.
"Ya sudah, kami pulang dulu ya." pamit Ami yang di angguki Jon.
__ADS_1
Setelah lama berkunjung, kini para orang tua pergi meninggalkan kediaman Drag. Kini didalam sana tinggal lah Vera dan Drag. Pak Li dan beberapa pelayan tengah mengantar para orang tua hingga halaman depan. "Hati-hati tuan, nyonya." ucap pak Li yang di angguki empat orang tua.
Setelah masuk ke mobil, dua mobil mewah mulai pergi meninggalkannya kawasan mansion Drag. Masih di ruang fikting, terlihat Vera merenggangkan tubuhnya sembari menguap. "Kalau menguap, tutup mulutnya. Jangan biarkan jin masuk ke dalam sana." nasehat Drag dengan tangan yang menutup mulut menguap Vera.
"Hm." dehem nya memberikan tatapan malas pada Drag.
"Hm, mari kita mandi." ajak Drag langsung menggendong Vera tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Mas..." teriaknya terkejut dengan tindakan Drag yang tak di sangka.
"Diam Vera." ucapnya menerbitkan senyum mesumnya.
Aduh,,,mau apa sih beruang kutub ini. batinnya pasrah di gendongan Drag
Di sepanjang jalan menuju kamar, semua pelayan tersenyum melihat keromantisan itu. Drag tak memperdulikan tanggapan siapapun, lain halnya dengan Vera yang menahan malu karena tindakan Drag. Wajah merahnya sengaja ia sembunyikan di dada bidang Drag.
Kenapa di kunci kamarnya? gawat! ah... batinnya berteriak tak mau.
Beberapa jam menuntaskan ibadahnya, kini Vera berdecak kesal dengan tangan yang di lipat di dada. Vera tak henti-hentinya melayangkan tatapan tajam ke arah Drag yang tengah tersenyum padanya. "Apa lihat-lihat!" ketusnya membuat Drag terkekeh gemas. Dengan gemasnya Drag mencubit pinggang Vera dengan pelan.
"Aduh, sakit mas..." geramnya menyeruduk kan kepalanya di tubuh Drag. Drag yang mendapat serangan itu tertawa terbahak-bahak.
"Aduh Vera geli. Aduh, hhhh." ucapnya di iringi tawa bahagia.
"Mampus, rasakan ini." ucapnya dengan terus menyeruduk Drag dengan kepalanya.
"H." Vera membuang wajah ke samping.
"Sayang..." rayu Drag memeluk Vera dari belakang. Vera masih setiap membuang wajahnya. Ia sangat kesal dengan suaminya itu.
Dengan usilnya Drag memegang dada Vera dengan tubuh yang masih membekap. "Mas!" sentak Vera bertambah kesal. Drag yang tak mau mendapatkan serangan Vera lagi, segera menjauhkan tubuhnya sembari tertawa gemas.
"Hhhhh." tawanya membalas tatapan kesal Vera.
"Kesal ah." ucapnya manja sembari melayangkan bantal kecil ke arah Drag.
"Maaf sayang." ucapnya setelah berhasil menguasai tawanya.
"Hm." dehem Vera acuh tanpa berniat membalas ucapan Drag.
Setelah pertengkaran romantis itu berakhir, Drag segera pergi menemui Vino di ruang kerjanya.
***
Di kamar Glow, terlihat Monica menatap kesal melihat glow dan Grisela yang babak belur. Bahkan gadis itu mengeraskan rahangnya menatap perban di kepala Glow. "Baru beberapa Minggu aku cuti, kalian sudah seperti ini? helo gusy, image kita bisa hancur. Saran ku, kalian berdua jangan dulu ke kampus! Yes?" ucap Monica yang di angguki Glow dan Grisela.
"Kita harus membalas kerupuk jangek itu!" dendam Grisela dengan wajah emosi.
__ADS_1
"Tentu saja girls, kita harus membalasnya." sahut Monica tersenyum devil. Glow menyetujui ucapan kedua sahabatnya itu dengan bibir tersenyum devil.
"Baiklah gusy, karena aku tak ada di saat kalian membutuhkan, aku akan mentraktir apa saja yang kalian mau. Gimana?" ucapnya yang langsung di angguki kedua gadis di depannya.
"I'm very-very happy." girang Glow memenuhi ruangan dengan suaranya.
"Let's go girls." ajak Grisela dengan aura judesnya.
Kini tiga trio itu pergi meninggalkan kediaman Glow. Dan tentunya tanpa sepengetahuan Endrik papa Glow. Mereka memilih mengendarai mobil sendiri. Grisela dan Monica duduk di kursi depan, sedangkan Glow duduk di kursi penumpang. Mereka memenuhi mobilnya dengan musik yang sangat kuat.
***
Di sopa ruang kerja, terlihat Drag dan Vino membicarakan bisnis mereka. "Bagaimana tuan, apakah anda akan menghadiri pertemuan itu?" tanya Vino dengan serius.
"Tidak." ucapnya dengan ekspresi datarnya.
"Saya rasa tuan Kuntoro akan melakukan segala cara untuk membuat kita kembali bekerja sama dengannya tuan." jelas Vino menatap wajah datar Drag.
"Itu tak kan terjadi Vino. Aku tak akan membiarkan siapapun mengatur dan mengendalikan ku! jangan perduli kan permohonan mereka." ucap Drag mengalihkan tatapannya pada Vino. Vino mengangguk setuju pada Drag.
"Bagaimana dengan wanita itu?" tanya nya lagi pada Vino.
"Saya sudah menjalankan rencana yang sudah kita susun tuan." ucap Vino masih menatap Drag.
"Hm, bagus." ucapnya datar.
"Jika berhasil, segera jebloskan gadis itu ke penjara. Aku sangat tak suka dengan tipe manusia seperti mereka." ucap Drag lagi dengan hati yang masih memendam amarah.
"Baik tu-" ucap Vino terpotong ketika mendengar suara cempreng dari luar ruangan.
"Mas..." panggil Vera setengah berteriak.
Di luar sana Vera mengendarkan pandangan nya ke berbagai arah. "Mas..." panggil nya membuat Drag menerbitkan senyumnya di dalam sana.
"Nanti kita lanjutkan lagi Vino." ucap Drag bergegas menghampiri Vera.
"Baik tuan." ucap Vino mengangguk pelan.
"Cklek." terdengar suara pintu di buka membuat Vera menolehkan wajahnya seketika. "Ada apa sayang." ucap Drag sangat lembut di sertai senyuman.
"Mas darimana saja sih, aku lelah tau mencari mas." keluhnya kesal ke arah Drag.
"Mas di ruang kerja sayang." ucap Drag yang sudah merangkul pinggang Vera.
"Hm." dehem nya ngambek pada Drag.
"Gemesnya istri mas." ucap Drag dengan tangan yang mencubit pipi Vera.
__ADS_1