Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Mansion


__ADS_3

Apa ini mimpi?! Pening kepala ku di buat dosen gila ini! Batin Vera sembari melirik Drag dengan tatapan yang tak terbaca.


Mereka terus berjalan menuju kamar mereka di lantai empat. Sebelum menaiki tangga, mereka melewati ruang tamu dan berbagai lorong. Hanya pemilik mansion dan para pelayan lah  yang tau lorong-lorong itu karena semakin besarnya mansion itu.


Besar banget ruang tamunya, banyak kelok keloknya juga. gumam Vera


“Besar banget sih rumah ini...Capek tau jalan terus...” keluh Vera melihat Drag dengan wajah kesal. Drag menghentikan langkahnya.


“Capek?!” tanya Drag menatap Vera dengan wajah datar.


“Hmm..” menjawab dengan acuh tanpa melihat Drag.


Gila kali dia. Uda tau orang capek, malah nanyak lagi! umpat Vera menatap Drag dengan malas.


“A...Apaan ini!” teriak Vera ketika tubuhnya di angkat secara mendadak. Drag menggendong tubuh Vera ala bridal style. Gadis nakal itu memukul dada bidang Drag. Drag yang memang kuat dan rajin olahraga tak merasakan pukulan tangan Ver.


“Turunin nggak! Malu di lihatin banyak orang...” omel Vera pada Drag yang semaunya saja memperlakukan nya. 


Drag tidak mendengarkan dan tam memperdulikan ucapan Vera. Dia terus saja menggendong istrinya itu sampai ke lantai empat. Para pelayan yang mereka lewati hanya bisa tersenyum melihat ke romantisan sepasang pengantin baru itu. Vera hanya bisa pasrah dalam gendongan Drag. “Ngeselin banget sih jadi orang!” umpat Vera dengan nada kasar setelah sampai di lantai empat.


Drag berjalan melewati Vino sembari berkata, “Apa jadwal ku hari ini?” tanya Drag dengan kaki yang terus melangkah. Vino berjalan mengikuti langkah kaki Drag.


“Siang ini kita akan Meeting di restoran xxx dengan tuan Billi tuan.” jelas Vino pada Drag.


Drag tetap fokus ke depan tanpa melihat ke arah asisten Vino. “Hmm baiklah.” ucap Drag dengan penuh wibawa. Drag dan Vino sudah berada di dalam mobil. Tak lama, Mobil yang mereka tumpangi pun pergi meninggalkan mansion mewah itu.


***


Masih di mansion, terlihat Vera sedang melihat ke arah luar jendela kamarnya. Dia melihat pemandangan yang sangat asri di sekitar mansion megah itu. Mansion yang di tempati Vera berada di kawasan yang sangat elit. Mansion Drag lah yang paling besar dan megah.


 


Kok bisa banyak kalilah uang dia ya, apa dia melakukan persugih*n? atau ng*pet mungkin? Batin Vera curiga dengan dengan asal kekayaan Drag.


Gila sekali Vera ini bisa menuduh dan berfikiran negatif kepada suaminya sendiri. Sableng memang! Harusnya kalau di kasih suami yang good looking, kaya, pintar, Sholeh, bersyukur... karena hal itu sudah termasuk kategori lelaki sempurna! Vera Vera.


Saat ini Vera terlihat betah berada di dekat jendela, pandangan gadis itu masih setia memandangi berbagai tumbuhan di luar sana. “Apa ya yang bisa aku lakukan di kamar ini? bosan banget!” ucap Vera berbicara sendiri. Sepertinya gadis ini sangat jenuh di tempat itu.


“Trying...” terdengar suara dering handphone.


“Tumben mama nelpon.” ucap Vera ketika melihat layar handphonenya memunculkan profil mamanya. Vera mengangkat panggilan teleponnya.


“Klik” sambungan telepon terhubung.


 


Vera meletakkan handphone miliknya di telinga. “Halo ma, Assalamualaikum” ucap Vera terbalik, seharusnya kan mengucap salam terlebih dahulu baru kata halo. Dasar Vera!


 

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam anak mama yang cantik...” ujar Sela dari ujung telepon.


“Kenapa ma?” tanya Vera tanpa basa-basi. Benar benar anak durhaka. Mama Vera mengernyitkan dahi di kediamannya.


“Kenapa bertanyak sih?! memang mama nggak boleh nelpon anak mama ya!” tanya Sela sedikit kesal. Vera membuang nafas untuk menetralkan dirinya.


“Iya mama ku sayang.” ucap Vera mengalah kepada mamanya.


 


“Ngomong-ngomong, bagaimana malam pertama anak mama dengan suaminya ni...” tanya Sela sangat penasaran dan kepo. Vera memandang taman di depannya dengan malas ketika mendengar penuturan mamanya.


“Biasa saja sih ma.” ucap Vera apa adanya.


“Masa sih sayang...” tanya Sela tak percaya.


“Iya mama ku sayang.” ucap Vera malas dengan pertanyaan mamanya. Mama Vera tersenyum di kediamannya.


“Mama tau ni...pasti kamu malukan sama mamamu ini.” tebak mamanya dari ujung telepon dengan wajah yang cengar-cengir memikirkan ekspresi Vera.


“Sudah cerita saja sama mama... mama juga pernah muda loh...Hhhh” tawa Sela menggoda Vera.


Mau retak jantungku ini rasanya. Batin Vera kesal.


 


“Ya sudah pengantin baru kalau tak mau cerita, mama matiin dulu ya telepon nya. Jangan lupa kasih mama dan papa cucu. Uda nggak sabar mama mau gendong cucu.” goda Sela sangat bahagia.


“Klik.” sambungan telepon terputus.


 


Ada ada aja mamaku ini. Ihhh ogah aku di sentuh dosen killer itu. Ihh beruang kutub! umpat Vera sembari menghentakkan satu kakinya.


***


Di dalam kamar Vera terduduk lemas karena jenuh. Gadis itu terlihat menyenderkan tangannya di ujung sopan. “Rumah besar, tapi seperti kuburan. Sepi dan sunyi...sekali...” keluh vera kesal dengan situasinya saat ini.


Keliling saja kali ya. Batinnya sangat jenuh.


Vera mencoba membuka sedikit pintu dan mengintip situasi di luar kamar itu. Dia mengeluarkan kepalanya, lalu melihat ke arah kanan dan kiri untuk memastikan keadaan.


Gini kan enak, nggak ada yang nungguin di depan pintu. Hehe... Batin Vera tersenyum puas.


Akhirnya Vera memutuskan untuk keluar dari kamar, dan mencoba berjalan sembari memandang semua miniatur mansion itu. “Eeee...” Vera segera bersembunyi di balik tembok, ketika melihat ada beberapa pelayan yang melewati jalur yang sama.


Untung saja nggak kelihatan. Risi tau, di ikutin terus!


Setelah merasa para pelayan sudah pergi, dengan segera Vera keluar dari persembunyiannya. Tanpa menunggu lama, Vera melanjutkan langkah kakinya menyusuri semua lorong yang ada rumah itu.

__ADS_1


Banyak kali pun gangnya ini! kalau ada kakek- kakek atau nenek-nenek yang tiba-tiba serangan jantung, mungkin keburu mati di luan tu. Lihat saja rumah ini besarnya minta ampun! Aduh...pening kali aku bah.


 


Vera sangat kesal dengan mansion yang di tempatinya saat ini. Bagaimana tidak! Mansion itu besar kurang besar, luas kurang luas. Mau mati berdiri rasanya sih Vera karena kecapean jalan, tapi tak ketemu ketemu pintu keluar. “Alhamdulillah...Akhirnya nemu juga tu pintu. Hehehe rezeki anak mamak ku memang.” ucap Vera senang ketika berhasil menemukan satu pintu.


Ala-ala...baru juga dapat angin segar, tiba tiba berubah jadi angin topan. Isss...Kurang banyak ruang di rumah ini!


 


Vera membuang nafasnya dengan sangat kasar. “Stel gila ajalah aku. Sia-sia aku ngumpet dari tadi!” ucap Vera kesal meratapi kebodohannya sendiri. Vera-vera, apaan sih.


"Maaf nona, anda mau ke mana?" tanya salah satu bodyguard padanya. Vera melirik bodyguard dengan tampang juteknya.


"Tidak ada...aku hanya ingin mencari hawa segar...apa di mansion ini ada tempat yang bagus?" tanya Vera mencari alasan.


Bodyguard itu tersenyum ramah ke arah Vera. "Tentu saja ada nona...apakah mau kami antar kan?" tanya salah satu bodyguard pada Vera.


 


Vera senyum terpaksa. "Oo...tidak perlu repot repot...hehehe. Tunjukkan saja di mana tempatnya, biar aku sendiri yang ke sana." ucap Vera sembari terkekeh terpaksa.


 


Aneh banget istri tuan Drag ini. Batin Salah satu bodyguard.


 


"Tapi nona, tuan Drag tidak mengizinkan nona keluar tanpa penjagaan.” ucap salah satu bodyguard itu.


Vera tersenyum sembari mengibaskan salah satu tanganya ke arah Bodyguard. "Tenang saja, tadi aku sudah meminta izin kok kepada suamiku." ujar Vera mengada ngada.


 


"Baiklah nona kalau begitu." ucap salah satu bodyguard mengijinkan, lalu memberitahu sebuah taman indah di belakang mansion. Vera sangat bahagia bisa keluar dari rumah membosankan itu.


"teng tambah kayu, thank you." ucap Vera pada para bodyguard sembari melambaikan tangannya.


"Hati hati nona." ucap para boduguard itu secara bersamaan. Salah satu bodyguard melirik ke arah temannya dengan ekspresi bingung.


"Aneh banget ya istri tuan Drag." ucap salah bodyguard kepada temannya.


"Akupun merasa apa yang kau rasa." ucap bodyguard kedua.


"Ih, kok sama kalian? ciee homo!" Ejek teman bodyguard satu dan dua.


"Ihhh ogah." ucap dua bodyguard itu bergidik ngeri lalu buru buru menjauhi satu sama lain.


"Hhhhhh." tawa bodyguard ketiga dan empat.

__ADS_1


"Kampret-kampret." umpat bodyguard kedua.


Di taman belakang mansion, terlihat vera sedang berjalan melihat lihat berbagai bunga berwarna warni dan berbagai jenis pohon buah-buahan. "Gila...Ini surga atau taman? indah sekali...” gumam Vera pelan. Gadis ini terpukau dengan pemandangan indah di depannya.


__ADS_2