Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Penjara


__ADS_3

"Maaf tuan, saat ini saudari atas nama Vera sedang berada di kantor polisi." lanjut seseorang dari ujung telepon.


"Apa!" ucapnya terkejut ketika mendapat informasi jika istrinya berada di kantor polisi.


"Wanita ini juga mengaku bahwa ia istri anda. Apa benar tuan?" tanya seseorang di ujung telepon.


"Benar pak, saya suaminya. Dimana dia sekarang pak? bisakah bapak kirimkan alamat kantornya?" tanya Drag dengan jantung yang berdetak hebat. Ia takut sekaligus panik dengan keadaan Vera di sana.


Bagaimana bisa Vera berada di kantor polisi? bukankah dia berada di kamarnya? batin Drag bertanya.


"Baiklah pak, terima kasih atas informasinya, saya akan segera kesana." ucap Drag lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


Setelah mematikan sambungan telepon nya, Drag meninggalkan perkejaan nya dan berjalan cepat menuju kamarnya. Ia masih tak percaya Vera berada di kantor polisi. "Dimana kau Vera..." gumamnya pelan sembari memeriksa penjuru ruang kamarnya.


Karena tak mendapat kan Vera di kamarnya, Drag segera turun ke lantai bawah dan memerintahkan seluruh pelayan untuk mencari Vera. Kini para pelayan sibuk di buat Drag. "Maaf tuan, kami tidak menemukan nona Vera di manapun. Tapi satu yang janggal tuan, motor beat anda tidak ada di garasi." jelas pak Li dengan wajah panik bercampur cemas menatap Drag.


"Stf." decak Drag menendang udara di depannya.


"Apa yang terjadi tuan?" tanya Vino yang harus saja tiba.


"Ayo ikut aku ke kantor polisi." perintah Drag tanpa menjawab pertanyaan Vino. Vino yang tak tau apapun hanya mengangguk cepat.


Bos dan asisten itu berjalan cepat menuju mobil. Sepanjang perjalanan Vino menjadi bahan pelampiasan amarah Drag. Drag tak henti-hentinya memerintahkan Vino untuk mengendarai mobil dengan lebih cepat lagi.


"Bruk." ban mobil yang di tumpangi Drag meletus dan membiarkan mobil oleng ke sisi jalan. Karena kecepatan yang tinggi membuat mobil terbentur sangat kuat. Bagian depan mobil itu sudah bonyok bahkan hampir hancur. Untung tak ada korban jiwa saat kecelakaan terjadi.


"Astagfirullah Al adzim..." ucap Drag prustasi dengan tangan yang mengacak rambutnya.


Drag dan Vino segera keluar dari mobil. Untung beberapa mobil pengawal mengikuti mereka sehingga Drag bisa melanjutkan perjalanan nya bersama Vino. Sebelum pergi, Vino memerintahkan anak buahnya agar segera membereskan kekacauan yang terjadi.


Waktu berlalu dengan cepat, kini Drag sudah berada di halaman kantor polisi. Setelah mobil berhenti, Drag melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki bangunan di depannya. "Selamat siang." sambut kepala polisi dengan hormat. Dia sudah tau siapa Drag Baraq Abraham.


"Siang pak." ucap Drag menyambut tangan kepala polisi itu.


"Maaf pak, dimana istri saya berada?" tanya Drag ketika tak mendapati Vera di sekitar nya.


"Mari tuan, biar saya antar menemui istri anda." ucap kepala polisi langsung turun tangan mengantar Drag.


Kepala polisi itu mengarahkan Drag kesebuah ruangan yang terdapat dua sel di dalamnya. "Vera." panggil Drag refleks berlari mendekati istri nakalnya itu.

__ADS_1


"Mas." ucap Vera sedikit takut melihat mata Drag yang memerah menahan amarah.


"Kenapa dahi kamu sayang." ucapnya sangat lembut jauh dari ekspektasi yang Vera bayangkan.


"Glow mengantuk kan kepalaku ke dinding mas." ucap Vera dengan suara lirih. Ia masih takut menghadapi kemarahan Drag.


"Kenapa tak bilang jika ingin ke mall? huh!" sentak Drag mengguncang bahu Vera di balik jeruji besi.


"Maaf." ucapnya lirih dengan kepala yang menunduk sedih.


"Saya panik banget Vera ketika seseorang mengatakan bahwa kamu berada di kantor polisi." ucap Drag mencurahkan isi hatinya. "Kenapa kamu tak pernah mendengar kan saya Vera? saya ini suami kamu. Saya yang bertanggung jawab atas semua yang menimpa kamu. Kalau kamu kenapa-kenapa, siapa yang rugi? huh? kamu sendiri yang rugi!" nasehat Drag menatap kecewa istri nakalnya itu.


"Maaf tuan mengganggu, izinkan saya membuka kunci sel terlebih dahulu." ucap kepala polisi dengan penuh hormat. Drag mengangguk kan kepalanya sembari memberi ruang pada kepala polisi.


"Cklek." pintu sel telah terbuka. Kini Drag langsung mendekap Vera dengan erat. Drag mendongakkan wajahnya menahan tangis. Dia sangat khawatir dengan keadaan Vera. Dia sangat takut sesuatu yang tak di inginkan menimpa Vera.


"Hiks. Maaf mas." isak Vera di dada bidang Drag.


"Sudah, jangan di ulangi lagi." ucap Drag mengelus rambut Vera dengan sayang. Vera hanya mengangguk tanpa berniat melepas kan pelukannya di pinggang Drag.


Beberapa jam di kantor polisi, akhirnya Vera pun di lepaskan. Kini Drag dan Vera sudah berada di dalam mobil dengan tubuh yang menempel satu sama lain. Vino yang membawa mobil melirik sekilas kursi penumpang dari spion depan. Mobil yang di Kendarai Vino berjalan santai menuju mansion Drag. "Much." Drag mengecup perban di kening Vera dengan penuh cinta. Sebelum memutuskan untuk pulang, Drag memerintahkan Vino agar membawa Vera ke rumah sakit. Bukan kening Vera saja yang terluka, tetapi tubuh dan wajahnya terdapat memar dan luka cakaran.


Ini semua belum berakhir, lihatlah, aku akan membalasmu Sena! batin Vera mengeraskan rahangnya yang berada di dekapan Drag.


***


Di rumah sakit, terlihat Glow dan Grisela mendapatkan penanganan medis. Kedua orang tua wanita itu sudah berada di sana. Bukannya sedih, orang tua keduanya malah memarahi mereka. Mereka tak percaya dengan apa yang di sampaikan Glow dan Grisela. Bagaimana para orangtua itu bisa percaya jika selamat ini mereka selalu mendapat masalah di sebabkan kenalan keduanya.


"Aduh sayang, saking banget ya." tanya Laila sembari mengelus lembut perban yang membalut luka Glow.


"Iya ma, sakit..." ucapnya manja pada Laila.


"Jangan manja! tak mungkin gadis itu menyerang mu jika kau tak berbuat salah padanya." ucap Endrik memilih membela Vera di banding anaknya sendiri.


"Kenapa sih papa tak percaya pada kami dan memilih membela gadis sialan itu!" kesal Glow menatap tak suka ke arah papanya.


"St..., sudah sayang, lebih baik kamu istirahat agar tubuhnya lebih vit." ucap Laila tersenyum tulus ke arah Glow. Glow mengangguk manja lalu segera masuk ke dalam pelukan mamanya.


"Grisela, Mari kita pulang!" perintah Dio dengan nada tegas.

__ADS_1


"Baik pa." ucapnya sembari berjalan lemah mengikuti langkah kedua orang tua nya.


Sebelum pulang ke kediamannya, Grisela dan kedua orang tua nya berpamitan dengan Glow dan kedua orang tua nya.


Awas kau kerupuk jangek! batin Grisela masih menyimpan kesal pada Vera.


***


Di kediaman Drag, terlihat para orang tua sudah menunggu kehadiran anak menantunya. Mereka sangat cemas ketika mendapatkan informasi mengenai mobil Drag yang kecelakaan. Ami dan Sela yang melihat Vera penuh luka segera menghampiri nya.


"Saya apa yang terjadi denganmu, hiks." tanya Sela panik dengan air mata yang sudah menetap.


"Menantu mama, kenapa dahi mu di perban nak, hiks." tanya Ami menangis dengan tubuh yang sudah memeluk Vera. Tangan yang yang mulai keriput itu mengeluarkan kepala Vera dengan penuh kasih sayang.


"Ma, sebaiknya kita duduk dulu. Anak menantu kita terlihat kelelahan." ucap Jon memberi saran.


Semua orang yang berada di sana mengangguk setuju dan bergegas pindah ke ruang keluarga. "Sayang ayo minum dulu." ucap Sela memberikan segelas jus jeruk pada Vera.


"Makasih ma." ucapnya lirih tak seperti biasanya.


"Sama-sama sayang." ucap Sela sembari menyelipkan rambut Vera di telinganya.


Jon mengalihkan matanya menatap Drag. "Bagaimana mulanya ini bisa terjadi?" tanya Jon lalu menyesap kopi panas nya.


Drag menghela nafas mencoba menetralkan dirinya. "Drag sangat khawatir pa ketika mendapatkan informasi jika Vera berada di kantor polisi." ucapnya dengan wajah teduh.


"Apa, kantor polisi?" ucap para orang tau secara bersamaan. Drag mengangguk pelan sedangkan Vera hanya menunduk takut.


"Bagaimana bisa nak Vera berada di kantor polisi?" tanya Ami serius dengan sesekali melirik Vera.


"Vera bertengkar dengan teman sekampus nya ma. Vera tak terima karena di fitnah mencuri di ruang Drag. Karena fitnah itu membuat para mahasiswa membully Vera. Istri Drag di lempari telur, tepung dan air selokan ma. Bahkan salah satu kakinya sempat terkilir." ucap Drag dengan sejelas-jelasnya.


"Astagfirullah anak mama. Hiks" Sela menangis memeluk tubuh Vera. Dia tak terima anaknya menjadi bahan bully para teman-teman nya.


"Yang sabar sayang. Hiks." ucap Ami ikut menangis.


"Terus bagaimana dengan para mahasiswa itu nak?" tanya Ronal menunggu jawaban Drag.


"Alhamdulillah, mereka sudah mendapatkan sangsi yang setimpal pa." ucap Drag menatap Jon dan Ronal yang mengangguk kan kepala bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2