
Masih di swalayan, terlihat Vera membuka lemari es dan mengambil beberapa jenis es krim yang di sukai nya. Drag hanya bisa menghela nafas melihat es krim yang banyak itu. Bukan masalah seberapa banyak Vera memakan es krimnya, tetapi ia khawatir jika Vera jatuh sakit. "Sayang, jangan terlalu banyak nanti kamu sakit." ucap Drag memperingati Vera yang terkekeh padanya.
"Jangankan makan es krim, mandi hujan saja aku nggak bisa sakit kok mas." ucap nya bangga dengan wajah meyakinkan Drag.
"Yakin?" tanya Drag memastikan lagi membuat Vera hanya mengangguk kan kepalanya. "Jangan nangis kalau nanti sakit!" peringatan Drag tak di pedulikan Vera.
"Mas mau es krim yang mana?" tanya Vera dengan mata yang terus memperhatikan berbagai macam jenis es krim.
"Mas memakan es krim yang berada di keranjang saja." ucap Drag membuat Vera menghentikan kegiatan nya lalu memperlihatkan raut juteknya.
"Nggak boleh, itu semua punya ku mas! kalau mas mau, ambil saja yang berada di kulkas ini." tolak Vera membuat Drag tertegun sejenak.
"Pelit banget sih,,," ucap Drag mencubit pipi Vera dengan ekspresi gemas.
"Aduh,,,sakit tau mas!" aduh Vera mengelus pipi gembul nya. Drag hanya terkekeh sembari mengelus kepala Vera dengan penuh kasih sayang.
Setelah selesai mengambil es krim, keduanya segera pergi menuju kasir untuk membayar belanjaan nya. "Semua total belanjaan nya lima juta lima ratus ribu tuan." ucap penjaga kasir. Drag mengangguk sembari memberi kan satu kartu tanpa batasnya.
Wih, Black Card. beruntung sekali wanita ini mempunyai kekasih seperti tuan ini. batin penjaga kasir sembari melirik Vera dan Drag sekilas.
Penjaga kasir sudah selesai menggunakan Black Card milik Drag dan mengembalikan nya. Karena sudah selesai berbelanja, kini Vera maupun Drag segera berjalan menuju mobilnya. Sedangkan belanjaan mereka di bawa oleh Vino. Di parkiran terlihat Vera maupun Drag terdiam melihat kursi penumpang yang di isi dengan boneka. Saking besarnya, membuat kuris penumpang hanya bisa di duduki satu orang saja.
Vera tersenyum senang lalu bergegas membuka pintu mobil dan langsung duduk di sebelah bonekanya. Drag terdiam sembari memancarkan tatapan tak suka dengan boneka panda yang mengambil tempat duduknya. Dengan cepat Drag membuka pintu penumpang dan segera menarik Vera keluar. Vino hanya terdiam bingung dengan apa yang akan di lakukan tuan nya itu.
"Mas apaan sih." omel Vera menatap nanar boneka panda nya.
Tak kan ku biarkan boneka jelek itu menggantikan posisi ku! batin Drag cemburu dengan wajah di tekuk.
Kini Drag membuka pintu depan dan menyuruh Vera masuk. Drag segera berjalan menuju pintu kemudi. "Vino, kau duduk bersama boneka itu!" perintah Drag tanpa bahasa formalnya.
Lagi-lagi Vino menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia segera masuk ke kursi penumpang dan duduk di sebelah boneka.
"Mas, kenapa Vino sih yang duduk di sana!" omelnya tak terima dengan wajah yang hampir menangis.
Nasib menjadi bawahan, sabar Vino,,, sepertinya duduk bersama boneka tak begitu buruk. batinnya mencoba menetralkan suasana hatinya.
__ADS_1
"Pakai sabuk pengaman nya Vera." ucapnya tanpa di imingi kata sayang.
Seperti tuan sedang cemburu dengan boneka ini. batin Vino melirik kepala boneka yang hampir mencium wajahnya.
"Jangan di cium!" kesal Vera tak terima melihat Vino yang ingin mencium boneka nya.
Drag melirik ke belakang sekilas sembari menerbitkan senyum menyeringai nya. "Biarkan saja dia mencium boneka itu, lagian dia tidak punya kekasih." ejek Drag di iringi kekehan pelan.
Bisa-bisa nya tuan mengejekku! jomblo-jomblo begini setidaknya happy dan tak masuk ke dalam percintaan yang penuh drama. batin Drag tetap memperlihatkan ekspresi datar nan dinginnya. Ia lebih memilih diam dari pada harus meladeni ucapan dua orang di depannya.
"Jauh-jauh!" ucap Vera mencoba menjauhkan bonekanya dari Vino.
"Tidak bisa nona, ini sangat sempit." ucap Vino mulai membuka suara barinton nya yang terdengar datar.
"Sudahlah sayang,,,biarkan saja dia menikmati waktu berdua nya dengan kekasihnya itu." ejek Drag lagi membuat Vino menahan dadanya yang panas, sedangkan Vera menatap penuh permusuhan pada Vino yang melirik nya sekilas.
"Awas ya kalau berani goda-goda panda ku!" ucap Vera memberi peringatan kepada Vino membuat Drag tak bisa menahan tawanya lagi. Vino yang merasa di bully segera mengalihkan tatapan datarnya ke luar jendela.
Apa nona fikir saya gila menggoda benda mati seperti boneka ini! jangankan menggoda, selera pun tidak! jangan sepelekan orang jomblo, karena faktanya orang jomblo itu lebih waras daripada orang yang tidak jomblo! batin Vino mengomel dalam hati tanpa bisa mengutarakan perasaan nya secara langsung. Vino benar-benar sudah seperti nyamuk yang kesal karena tak bisa menikmati darah dari mangsanya.
Kini di sepanjang jalan hanya kesunyian yang menemani perjalanan mereka. Mungkin jika ada jangkrik dan katak, mereka akan menyedekah kan suaranya untuk meramai kan suasana di dalam mobil itu.
Beberapa waktu membela jalan, kini mobil Drag sudah memasuki kawasan perusahaan. Mereka semua turun dari mobil dengan Vino yang membawa boneka besar Vera. Sepertinya asisten jomblo itu harus bersemangat membawa boneka menuju lantai teratas di gedung itu.
Tak ingin membuang waktu, Drag segera masuk ke perusahaan nya sembari menggandeng Vera membuat semua karyawan bingung sekaligus penasaran dengan sosok Vera. Setau mereka, CEO dinginnya itu tak pernah membawa seorang wanita kecuali wanita masa lalunya.
Tak hanya memperhatikan Drag, sepanjang perjalanan menuju lantai atas, para karyawan tak henti-hentinya memperhatikan Vino yang tengah membawa boneka besar di pelukannya. "Manis sekali sih tuan Vino." bisik salah satu karyawan dengan teman-teman nya.
"Benar sekali,,,aku jadi ingin menjadi istrinya." balas wanita itu dengan senyum berharap membuat teman di sebelahnya kesal.
"Jangan mimpi! apa kau tak tau jika tuan Vino itu tak tertarik dengan seorang wanita?" ucapnya menampilkan wajah seserius mungkin.
"Darimana kau mendapat berita buruk seperti itu?" tanya tak percaya dengan ucapan temannya itu.
"Semua orang di kantor ini sudah tau. Karena selama berkerja di sini, mereka tak pernah melihat tuan Vino menggandeng seorang Wanita." bisik nya lagi menyebar gosip yang belum tentu benar.
__ADS_1
"Berhentilah bergosip, dan kembali berkerja!" sentak atasan mereka yang biasa di kenal dengan madam cerewet dan galak. Mereka yang sudah terkena marah segera kembali melanjutkan perkejaan nya.
Di lantai atas terlihat Vino memegang pinggang nya yang sedikit pegal karena menggendong boneka Vera sendari tadi. Bukan hanya besar, boneka itu juga lumayan berat. Setelah meletakkan boneka di atas sopa, Vino segera pergi menuju ruangannya. Kini tinggal lah Vera dan Drag di dalam sana.
"Mm,,,enak." gumamnya pelan sembari menikmati eskrim nya yang hampir mencair.
"Mas mau?" tawar Vera menyodorkan es krim nya ke arah Drag.
Drag mengangguk mau dan segera mendekatkan mulutnya ke arah es krim yang di pegang Vera. "Ambil sendiri mas." ucap Vera sembari menjauhkan es krim nya dari jangkauan Drag. "Di sana es krimnya." ucap Vera lagi sembari menunjuk tempat es krim dengan sorot matanya.
"Hm,,," dehem Drag menampilkan wajah ngambek.
"Hehe." kekeh nya geli melihat wajah Drag.
"Ketawa lagi." ambek Drag masih menampilkan wajah cemberut nan kesalnya.
Akhirnya Drag mengambil es krimnya sendiri. Drag segera duduk di sebelah Vera dengan es krim yang sudah di buka. "Eh tunggu mas." ucap Vera membuat es yang hendak masuk ke mulut Drag tergantung. "Boleh rasa nggak?" tanya Vera melirik es krim nanas yang di pegang Drag.
"Nih." Drag menyodorkan es krimnya ke arah Vera.
"Pegang dulu mas." ucap Vera sembari menyerahkan es krimnya dan mengambil es krim milik Drag.
"Enak." ucapnya tersenyum senang ke arah Drag, sedangkan Drag masih setia menunggu es krim nya yang di makan Vera.
"Kenapa mas diam? makanlah." ucapnya menatap wajah bingung Drag.
"Es krim mas kan masih kamu makan sayang." ucapnya membuat Vera melayangkan tatapan kesal padanya.
"Mas makan saja es krim yang itu, yang ini untuk ku saja ya." ucap Vera tanpa rasa bersalah membuat Drag yang menahan rasa gemasnya sendari tadi segera menarik tengkuk Vera lalu mencium habis wajahnya.
"Ih mas,,,lengket tau!" decak nya kesal ketika bekas es krim di mulut Drag menempel di wajah Vera.
"Rasain! itu hukuman karena sudah membuat mas kesal." balas Drag tanpa rasa bersalah.
Vera hanya memanyunkan bibirnya tanpa berniat menjawab ucapan Drag. Karena tak ingin berdebat, Vera segera melanjutkan kegiatan memakan es krimnya lagi.
__ADS_1