Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Pertarungan dua lawan satu


__ADS_3

"Di waktu yang tepat, aku akan memberi tau keberadaan ku. Ok pa, ya sudah ya pa. Dah..." ucapnya ingin mengakhiri panggilan telepon.


"Baiklah sayang, jaga dirimu baik-baik di sana. Papa matikan ya telepon nya." ucap Kuntoro penuh kasih sayang.


"Iya pa." ucap Gaura lalu memutuskan sambungan telepon nya.


Setelah pembicaraan singkat itu, Gaura kembali menerbitkan senyumnya. Wanita nakal itu mengecup bibi pria di bawahnya dengan cepat. "Maaf sayang membuatmu menunggu." ucap Gaura lalu segera melanjutkan kegiatan haramnya.


***


Di ruang kerjanya, terlihat Drag sedang mendengarkan penjelasan Vino tentang kejadian di hotel. Drag sangat marah ketika mendapatkan rekan bisnisnya memanipulasi keadaan. Vino tak sebodoh yang di fikirkan Kuntoro. Siapa yang menyangka asisten Drag yang tak banyak bicara itu mempercayai nya begitu mudah. Vino dan Drag tengah menyusun strategi untuk menjebak Kuntoro dan Gaura.


Tunggu saja tanggal mainnya pria tua! batin Drag geram dalam hati.


Antara kesal dan bahagia ketika di jebak oleh Gaura. Di satu sisi ia hampir masuk dalam jebakan Gaura dan papanya. Dan di satu sisi lagi ia bahagia karena bisa menyentuh istrinya di sebabkan obat perangsang. Drag bahkan bingung antara berterima kasih atau mengumpat wanita licik itu.


"Apa kau tau dimana wanita itu berada?" tanya Drag lalu menyesap segelas kopi.


"Tidak tuan, seperti nya wanita licik itu bersembunyi di luar negeri." ucap Vino dengan tampang arogannya.


"Hm, aku ingin kau segera menyelesaikan masalah ini Vino. Aku tak ingin Berlarut-larut dalam masalah dan kau harus ingat, jangan sampai masalah ini di ketahui siapapun terutama istriku." ucap Drag menatap serius mata tajam Vino.


"Baik tuan." ucap Vino sembari mengangguk kan kepalanya sekali.


Setelah selesai dengan urusan nya, Drag segera pergi meninggalkan ruang kerja menuju kamarnya. Di dalam kamar terlihat Vera tertidur dengan tv yang masih menyala. Drag hanya menggeleng kan kepalanya melihat itu.


"Anak ini selalu saja membuat kepalaku seperti terbalik!" gumam Drag pelan lalu memindahkan Vera ke ranjang.


"Minggir, dasar dosen jelek! sudah jelek, killer pula. Hus,hus...pergi! jangan dekat-dekat, aku kan ratu lautan api...aku bisa membakar wajah jelek mu menjadi lebih jelek lagi. Dasar dosen killer!" ucap Vera mengigau dengan sedikit gerakan tak jelas.


"Ptf." Drag menahan tawanya melihat tingkah aneh Vera.


"Plak." tanpa di sadari Vera melayangkan satu tamparan di wajah datar Drag.


"Ct. Vera." desis Drag menahan sakit di pipinya. "Aduh,,,hentikan Vera!" aduh Drag kesakitan ketika Vera menarik rambutnya. Saking kerasnya tarikan itu membuat rambut Drag rontok di tangan Vera.


"Vera!" sentak Drag mencubit pinggang Vera dengan gemas. Vera yang mendapat cubitan segera bangun dari mimpinya. Ia terlihat hampir menangis memegang pinggang nya. Matanya belum terbuka dengan sempurna. Dengan wajah bantalnya Vera menatap Drag dengan tajam.

__ADS_1


"Mas apaan sih!" bentak Vera yang tak terima pinggangnya di cubit.


"Kamu yang apaan, bisanya mengigau sambil main tangan." ucap Drag sembari memegang lengan Vera yang masih berada di rambutnya.


"Dek." mata mengantuk Vera refleks terbuka lebar. Vera segera menjauhkan tangannya dari rambut Drag. "Hehe." Vera terkekeh malu pada Drag yang menatapnya dengan tajam.


"Hm..." dehem nya menahan amarah.


"Maaf mas, aku nggak sengaja." ucap Vera dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.


"Ayo sarapan." ajak Drag dengan sangat juteknya. Vera memanyunkan bibirnya melihat sikap tak bersahabat Drag.


"Iya." jawab Vera mengikuti keinginan Drag.


Sebel banget sih. batin Vera menatap tak suka pada Drag.


Tak ingin membuat Drag semakin marah padanya, Vera bergegas menyusul Drag yang sudah melangkahkan kakinya terlebih dahulu.


Sesampainya di ruang makan, Vera dan Drag segera menyantap makanan yang telah di hidangkan para pelayan. Di meja itu terjadi keheningan. Drag maupun Vera tak berniat membuka pembicaraan.


***


"Ya, aku masih di izinkan untuk keluar, lagian kalau tak di izinkan, tetap keluarlah aku. Peraturan di buat untuk di langgar. Hhh." ucap Glow tertawa jahat dengan mata yang melihat kuku-kuku indahnya.


Grisela tersenyum devil ke arah Glow melalui cermin di depannya. "Hhhhh, aku setuju denganmu Glow. Bagaimana jika hari ini kita shopping?" ucap Grisela dengan tubuh yang sudah membelakangi cermin. Glow yang mendengar ajakan itu hanya bisa menghela nafas berat. Dia ingin shopping bersama Grisela tetapi uangnya sedang tak ada.


"Tak usah sedih! hari ini aku yang traktir." ucap Grisela membuat Glow menerbitkan senyumnya. Dengan girangnya Glow bangkit dari duduknya dan segera memeluk Grisela.


"Hati-hati Glow, makeup-ku bisa berantakan nanti!" ketus Grisela membuat Glow terkekeh geli.


"Thank baby." ucapnya sangat senang sembari menatap Grisela yang tersenyum padanya.


"Ok girls, let's go!" ucap Grisela sudah pergi dengan Glow yang mengikutinya.


***


Kembali ke kediaman Drag. Setelah menyelesaikan sarapan nya, Vera maupun Drag pergi mencari kegiatannya masing- masing. Vera yang sudah lama tak pergi kemana-mana berinsiatif untuk pergi ke mall. Dengan lancangnya istri nakal itu keluar tanpa seizin suaminya.

__ADS_1


Diam-diam Vera keluar dari kamarnya dengan tas kecil kesayangan. Di dalam tas kecil itu terdapat dompet, handphone dan kunci motor Drag. Kemarin Drag memerintahkan Vera untuk menyimpan kunci motornya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Vera bergegas pergi ke mall dengan motor Drag.


Seperti biasanya Vera berirama bahagia sepanjang perjalanan. Mata-mata orang yang di lewatinya menatap heran padanya. Beberapa menit membela jalan, kini Vera sudah berada di parkiran mall. Dengan segera Vera melangkahkan kakinya memasuki pusat perbelanjaan. "Gak enak ni kalau nggak makan es krim." ucap nya ketika melihat penjual es krim. Gadis itu segera membeli es krim dan tentunya mengantri.


Beberapa menit menunggu, akhirnya Vera mendapatkan es krim yang ia mau. "Hm..., enak." ucapnya dengan kaki yang melangkah mengikuti instingnya.


"Mau kemana kita Vera, ke sana!" ucapnya mengikuti syair kartun Dora.


Vera menghentikan langkahnya. Gigi rata itu tertutup rapat ketika melihat dua wanita yang di kenalnya. Wajah ceria itu berganti datar melihat Grisela dan Glow yang sedang memilih perhiasan. Dengan hati yang penuh dendam, Vera segera menghampiri Glow dan mendorong nya dari arah belakang.


"Eh! apaan sih Lo!" bentak Glow yang sudah terhuyung ke depan. Hampir saja kepalanya mengenai meja.


"Apa! itu nggak seberapa ya dengan perbuatan kau kemarin!" bentak Vera tepat di depan Glow.


Grisela yang tak terima sahabatnya di ganggu segera mendekati Vera. Dengan kesal Grisela mendorong tubuh Vera dengan kasar. "Jangan ikut campur kau!" bentak Vera yang sudah mengacak-acak rambut indah Grisela.


Glow yang sudah di penuhi api Amarah segera menyerang Vera.


Vera yang pada dasarnya nakal, segera menyerang dua penyihir di depannya. Dengan kemarahan yang menggebu-gebu Vera menjambak rambut Grisela dan Glow secara bersamaan. Dengan sekuat tenaga, dia menerantuk kan kepala keduanya. Pertarungan dua lawan satu itu kini menjadi pusat perhatian banyak orang. Para keamanan segera memisahkan mereka.


"Bruk." kepala Vera di antuk kan ke dinding. Antuk kan yang keras itu membuat kening Vera berdarah. "Ss..." desis Vera menahan sakit dan rasa pusing di kepalanya.


Bukannya berhenti, kini Vera semakin marah. Ia yang melihat vas kaca yang berada di meja perhiasan segera melayangkan nya ke kepala Glow. "Ahh." teriak Glow kesakitan. Darah keluar deras dari kepalanya. Karena tak sanggup lagi, akhirnya Glow tak sadarkan diri. Para keamanan segera memegang Vera, sedang kan Grisela segera membawa Glow ke rumah sakit.


Vera menatap kepergian Glow dan Grisela. "Kemari kalian brengsek! awas kalian!" teriak nya hendak mengejar tetapi tak bisa di karena kan tubuhnya yang di tahan pihak keamanan.


"Ayo ikut kami!" perintah beberapa keamanan dengan tegas.


"Lepaskan aku!" bentak Vera memberontak.


"Diam, dan ikut kami!" bentak pihak keamanan lagi.


Tak ada yang tau mau di bawah kemana dia. Sekarang Vera tak memperdulikan apa yang akan terjadi padanya di kedepannya, intinya dia cukup puas membalas kan dendamnya pada Glow dan Grisela.


***


Di meja kerjanya, terdengar suara handphone berdering. Drag segera mengangkat telpon itu sembari tetap fokus melihat berkas di depan nya.

__ADS_1


"Selamat siang, dengan tuan Drag Baraq Abraham?" tanya seseorang dari ujung telepon.


"Ya dengan saya sendiri." jawab nya masih fokus memeriksa berkas di depannya.


__ADS_2