
Di ruang keluarga, Mereka masih berkumpul sembari mengobrol dan becanda ria. Dari jauh terlihat pak Li berjalan mendekati keluarga yang tengah berkumpul itu.
"Maaf tuan, Tim wedding organizer sudah berada di depan." ucap pak Li membuat semua mata tertuju padanya.
"Wah kebetulan sekali kita berada di sini." ucap Ami sangat senang membuat Sela mengangguk kan kepalanya.
"Sayang..." Sela tersenyum sembari mendatangi Vera lalu memeluknya.
"Biarkan mereka masuk pak." jawab Drag membalas tatapan kepala pelayan.
"Baik tuan." ucap pak Li lalu segera pergi menemui Tim wedding organizer yang sudah menunggu.
Di halaman depan, terlihat Lili dan Vio berbisik kagum dengan kemegahan kediaman Drag Baraq Abraham. "Nona, saya sedikit gugup." ucap Lili seperti bisikan.
Vio yang mendengar itu menatap Lili sembari berbisik. "Sama, aku juga gugup dan takut." Vio dan Lili segera menjatuhkan tubuhnya satu sama lain ketika melihat pak Li dan beberapa maid mendatanginya. Bukan hanya Vio collection saja yang berada di sana melainkan semua tim yang ikut partisipasi dalam acara wedding Vera dan Drag.
"Maaf membuat tuan dan nona menunggu, silahkan masuk. Tuan muda sudah menunggu." ucap pak Li yang di angguki semua Tim wedding organizer.
Tak ingin membuat Drag menunggu, Tim wedding organizer segera melangkahkan kakinya mengikuti arahan Kepala pelayan.
Semua mata tim wedding terpanah dengan keindahan di dalam mansion.
Sangat megah dan indah. batin Lili tak berkedip. Bahkan ia sampai membenarkan kaca matanya.
"Selamat datang semua Tim wedding organizer." sapa Jon tersenyum ramah. Drag menyambut tim itu tanpa memperlihatkan senyumannya.
Kaku sekali tuan Drag ini. batin Lili terus memperhatikan Drag yang menatap dingin pada ketua Tim wedding organizer.
"Hm." dehem Vino tak suka dengan Lili yang terus menatap tuan mudanya.
Lili yang mendengar deheman itupun segera menolehkan wajah tak bersahabat kearah Vino. "Nona, siapa pria berwajah dingin ini. Dia terlihat sangat arogan." bisik Lili membuat Vio mengalihkan matanya menatap Vino sekilas.
"Diam lah Lili. Jantungku sedang tak sehat saat ini." bisik nya sembari memegang tangan Lili. Ia ingin membuktikan ketakutan nya dengan menempatkan tangan dinginnya di tangan Lili.
Dingin sekali tangan anda nona. batin Lili seperti merasakan es di tangannya.
"Baik lah, bagaimana jika kita mulai fikting pakaian pengantin." saran mama Amel yang di angguki semua orang yang berada di sana.
Aduh gawat, kenapa harus fikting baju dulu sih. batin Vio bersamaan dengan bulu kuduknya yang berdiri.
Vio menarik nafas lalu membuang, ia mencoba bersikap profesional. "Baik nyonya." ucap Vio membalas senyum tulus Ami.
Akhirnya Drag dan Vera segera mencoba dan mencocokkan pakaian yang akan mereka kenakan di acara nanti. Saat ini semuanya sudah berpindah ke ruang khusus yang di mana terdapat ruang ganti. "Sempit banget sih." kesal Vera merasa bagian dadanya terjepit.
Saat ini Vera masih berada di ruang ganti. Sudah sejam wanita itu berada di dalam sana. Bagaimana ia bisa keluar jika gaun yang ia kenakan sangat tidak cocok untuknya bahkan banyak yang tak muat di bagian dadanya. "Ih..." kesalnya ingin merobek gaun yang di kenakan nya saat ini. Saking sempitnya, Vera kehabisan tenaga untuk melepas gaun itu.
"Vera." panggil Sela melirik ruang ganti sendari tadi.
__ADS_1
Lama sekali anak ini. batin Sela segera menyusul Vera menuju ruang ganti.
"Sayang,,,kenapa lama sekali." panggil Sela terus melangkahkan kakinya.
Aduh ada mama lagi. Malu banget... batin Vera melirik pintu.
"Tok tok tok." gedoran Sela mulai terdengar membuat Vera tak konsentrasi melepas gaunnya.
"Sebentar ma." sahutnya sedikit keras.
"Apanya yang sebentar, kamu sudah sejam loh sayang di dalam sana!" ucap Sela dengan nada kesal.
"Tok tok tok, cepat buka!" ucap Sela memaksa dengan tangan yang terus menggedor pintu.
"Ma, biar Drag yang masuk." ucap Drag yang langsung di angguki Sela. Tak ingin mengganggu, Sela segera kembali ketempat nya.
Kira-kira nona ngapain ya di dalam sana? kenapa lama sekali? seperti mengatri panjang saja! batin Lili terus mengalihkan matanya melihat pintu ruang ganti.
"Nona, menurut anda sedang apa istri tuan Drag di dalam sana?" tanya Lili kepo dengan bisikan kecil.
"Ntah lah, aku berharap nona Vera baik-baik saja." bisik Vio dengan wajah yang sedikit pucat. Ia takut gaun-gaun yang sudah di siapkan tak sesuai dengan selera Drag dan Vera.
"Vera, buka!" panggil Drag memaksa dengan tangan yang memutar knop pintu berulang kali.
Gawat,,,kenapa sih beruang kutub kesini. batin Vera melirik pintu. Dengan terpaksa Vera membukakan pintu untuk Drag.
"Apa lihat-lihat! bantuin ni nggak bisa lepas." ucap Vera dengan tangan yang menutup dada polosnya.
"Kenapa tak bilang sih Vera. Kami sudah menunggu mu cukup lama." omel Drag segera membantu Vera melepas gaun sempit nya. "Glek." Drag menelan saliva nya menatap punggung mulus Vera dari belakang.
Lama banget sih buka kancingnya. batin Vera yang tak tau jika punggungnya menjadi bahan tontonan Drag.
"Mas!" ucap Vera sedikit berteriak. Hal itu membuyarkan lamunan Drag.
"Sret." terdengar suara resleting di buka.
"Sudah." ucap Drag dengan ekspresi datarnya.
"Ya sudah keluar, aku ingin mengganti pakaian ku." usir Vera melirik pintu sekilas.
"Silahkan kalau mau ganti, saya akan menunggu mu di sini." ucap nya kekeh tak mau keluar.
"Iss,,,sana keluar." usir Vera mendorong Drag dengan satu tangan, sedang kan sebelah tangan nya memegang gaun yang akan jatuh jika tak di pegang.
"Kenapa saya harus keluar?" tanya Drag memberikan tatapan tajamnya ke arah Vera.
"Aku malu loh mas..." ucapnya setengah merajuk.
__ADS_1
"Malu? bukankah Sebelum nya kita pernah melihat satu sama lain?" goda Drag tersenyum mesum.
"Is... pokoknya keluar ya keluar!" rengek Vera membuat Drag tertawa. Drag memilih mengalah dan keluar dari ruang ganti.
"Huh." Vera menghela nafas lega melihat Drag yang sudah pergi meninggalkan nya.
Tak ingin mendengar ceramah seribu satu ayat, Vera bergegas menukar pakaian nya lalu segera keluar. "Kenapa lama sekali sih!" marah Sela berkacak pinggang menatap Vera.
"Hehe, maaf ma." kekeh Vera menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf nona, bagaimana dengan gaunnya, apakah ada yang sesuai?" tanya Vio dengan sangat berhati-hati.
"Saya rasa, harus di ukur ulang." ucap Drag menatap Vio dengan datar.
"Baik tuan." ucap Vio segera mengukur tubuh Vera.
"Yang dada jangan lupa di ukur ya, gaun nya bagus, cuma di bagian dadanya sempit." bisik Vera tepat di telinga Vio. Vio tersenyum dan mengangguk kan kepalanya pelan.
Pantas lama sekali nona di dalam sana, rupanya bagian dadanya banyak yang tak muat. batin Vio merasa lega ketika tau inti permasalahan Vera.
"Sudah nona." ucap Vio sembari memindahkan alat pengukur di leher.
"Makasih mbak." ucap Vera membalas senyum Vio.
"Sama-sama nona." balasnya masih tersenyum.
Dari jarak 2 meter Lili terus memperhatikan Vio dengan kaki yang rapat seperti ingin membuang air kecil. "Maaf nyonya, bolehkah saya izin pergi ke kamar mandi?" tanya Lili pada Ami.
"Silahkan mbak. Maid akan memberitahu letak kamar mandinya." ucap Ami tersenyum manis sembari melirik kepala pelayan sekilas.
Kepala pelayan yang di lirik langsung paham dengan keinginan Ami. Ia segera memerintah kan beberapa maid untuk mengantar Lili.
"Mari nona biar kami antar." ucap dua maid dengan ramah.
Lili menganggukkan kepalanya dan membuat kaca matanya sedikit turun. Gadis itu membenarkan kaca matanya lalu segera mengikuti langkah para maid. "Luas sekali...bahkan mau ke kamar mandi saja butuh tenaga ekstra." gumam Lili pelan dengan kaki yang terus melangkah.
"Silahkan nona." ucap salah satu maid mengarahkan tangannya ke kamar mandi.
"Makasih mbak, kalian boleh pergi, saya bisa kembali sendiri nanti." ucap Lili tak enak hati dengan para maid.
"Baiklah nona, kami izin pergi dulu." ucap dua maid menunduk hormat pada Lili.
"Ok." ucapnya tersenyum lalu segera masuk ke kamar mandi. Di dalam sana terlihat Lili menuntaskan hajatnya dengan mata yang terus melirik ke arah sekitar.
Benar-benar sultan. Jangankan berharap tinggal di tempat seperti ini, tinggal di rumah kontrakan saja sudah sujud syukur. batin Lili sedikit iri dengan orang-orang beruntung di sekitarnya.
Setelah selesai, Lili bergegas membersihkan tubuhnya lalu segera keluar dari dalam sana. Gadis berkaca mata yang terlihat culun itu terus melangkahkan kakinya tanpa fokus melihat jalan. Dan, "Bruk."
__ADS_1