
"Kalian berdosa banget...lihat tu wajahnya kak Vera. Sudah seperti kepiting rebus. Hihi." ucap Balqis sok baik padahal ia juga ikut menggoda.
"Loh juga kali!" ucap mereka serentak kearah Balqis.
"Biasa aja kali! Wek..." ejek Balqis menjulurkan lidahnya pada semua saudaranya.
"Sudah-sudah...cepat habiskan sarapan kalian." perintah Drag dengan aura dingin nya. Mereka yang takut dengan Drag segera melanjutkan sarapan.
Saat ini terjadi keheningan taman itu. Drag dan Vera masih menikmati sarapannya di meja yang sama dengan para orang tua.
"Nak Drag. " panggil Anton yang tak lain paman Drag.
"Iya paman" sahut Drag mengalihkan pandangannya menatap Anton.
"Apa kalian tidak ada niat untuk berbulan madu nak?" tanya nya dengan raut wajah serius.
"Sepertinya lebih baik jika kami menggelar pesta pernikahan sebelum berbulan madu paman. Takutnya timbul fitnah kan, karena kami menikah secara sederhana, hanya keluarga saja yang tau." ucap Drag memberitahukan niatnya itu pada Anton.
"Papa setuju dengan saran kamu nak. Menurut papa itu rencana yang bagus." ucap Jon menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Bener apa yang di katakan nak Drag... kita adakan saja resepsi nya dengan sangat mewah." usul Rina istri tuan Anton.
"Maaf ma. Kalau boleh kasih saran, kita undang saja acara TV di resepsi kak Drag dengan kak Vera .Hari bahagia ini harus di siarkan di dalam negeri maupun di luar negeri. Agar semua orang tau bahwa CEO pemilik perusahaan super power nomor 1 di Asia sudah menikah." ucap Popi memberikan saran pada mama nya dan semua orang yang berada di sana.
Para orang tua yang berada di sana menyetujui saran dari Popi. "Papa sangat setuju dengan saran adik sepupu mu Drag, cuma... papa kembalikan lagi ke kamu nak. Kamu mau tidak? gimana nyamannya kalian saja." ucap Jon penuh wibawah.
"Khusus bulan madu biar paman yang mengatur." ucap Anton dengan tangan mengangkat segelas air di depannya.
Kenapa tiba-tiba bahas hal ini sih... aku kan malu! batin Vera malu dan risi.
Tak ada yang menyadari jika sendari tadi Vera menahan semua perasaan malu dan gereget nya dari pandangan banyak orang. "Vera gimana sayang?" tanya Ami menatap Vera yang menyimak dan memilih diam sendari tadi.
"Vera ikut saja ma." ucap Vera singkat dengan senyum simpul di wajahnya.
Ya Allah... jantungku mau meledak rasanya. batin Vera gugup dengan tangan yang meremas ujung gaunnya.
"Sayang... jangan malu... inikah acara pernikahan kamu dan Drag nak. Ungkapkan saja apa yang ada di dalam hati dan fikiran mu. Mana tau Vera mempunyai wedding impian." ucap Ami fokus menatap Vera yang terlihat menahan malu.
"Bener nggak jeng?" tanya Ami sembari mengalihkan pandangannya melihat Sela.
"Bener banget jeng." ucap Sela memberikan satu jempolnya kepada besannya itu.
Merekapun terus membahas tentang acara pernikahan dan bulan madu untuk sepasang pengantin baru itu. Vera hanya diam mematung mendengarkan pembicaraan di depannya.
__ADS_1
Malam semakin larut, Kini jam sudah menunjukkan pukul 10:00. Semua keluarga memilih menginap di rumah besar itu. Sedangkan mama Vera memilih pulang ke kediamannya. Vera dan Drag di paksa untuk menginap di mansion besar itu. Kini Drag sudah berada di dalam kamarnya sembari membaca buku.
Di lantai yang sama dengan Drag, terlihat Vera datang bersama Devan dan Popi. Gadis itu mencoba membuka sedikit pintu dan mengintip seseorang yang berada di dalam kamar itu. Dengan keisengan nya. Devan mendorong Vera agar masuk kedalam kamar itu. Hal hasil Vera yang tengah mengintip pun ketahuan oleh Drag yang sendari tadi tengah mengintipnya.
Setelah Vera berhasil masuk, dengan cepat Popi menutup dan mengunci kamar Drag dari luar. Bukan tanpa alasan Devan dan Popi melakukan itu. Tetapi karena mereka di perintahkan oleh Ami, dan tentu saja ada imbalan yang mereka dapatkan.
Di dalam kamar Drag melihat Vera sekilas lalu kembali fokus pada buku yang di pegang nya.
Saat ini Vera benar-benar canggung. Ia takut jika suaminya marah dengan semua kelakuannya hari ini.
Beruang kutub ini serem banget sih... wajahnya sudah seperti triplek. Dasar muka datar! umpat Vera dalam hati.
"Hm." Vera berdehem mencoba mendekati sang suami. "Mas." panggilnya pelan tetapi tidak di gubris oleh Drag.
Vera yang di diemin oleh Drag pun mendudukkan tubuhnya di samping Drag. Gadis nakal itu depan memegang betis Drag sembari menggoyangkan nya. "Sayang." panggil Vera dengan manja. Dia mencoba merayu Drag dengan bersikap selembut mungkin.
Drag yang tak bisa marah pun akhirnya merespon Vera dengan mata datarnya.
"Apa." satu kata yang keluar dari mulut Drag. Lelaki itu menutup bukunya lalu menatap ke arah Vera yang berada di samping nya.
Mata elang Drag menghunus tajam ke arah Vera. Vera yang di tatap dengan tajam hanya bisa menelan saliva nya.
"Jangan marah..." rayu Vera dengan wajah yang memelas.
Gawat... batin Vera panik ketika suaminya bersikap dingin dan menghindar darinya.
Dengan cepat Vera pun menyusul dan menghadang langkah kaki suaminya.
"Sayang..." Vera memelas sembari memanjakan suaranya seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Drag hanya melihat Vera dengan wajah datarnya. Dia terus diam tanpa berniat menjawab ucapan Vera. "Sayang, jangan marah..." bujuk Vera memohon dengan tangan yang menggoyangkan lengan kekar Drag.
"Aku janji deh akan nurutin apa yang kamu mau... asalkan kamu nggak marah lagi sama aku..." rayu Vera dengan berbagai cara. Bahkan ia tak sadar jika sudah melontarkan janji di hadapan Drag.
Gila.. apa yang barusan aku katakan tadi? nurutin semua perintahnya? Mampus kau Vera... tamat lah riwayatmu! batin Vera mengumpat dirinya sendiri.
"Beneran kamu akan menurutin semua yang saya inginkan jika saya memaafkan mu?" tanya Drag dengan wajah serius. Kali ini Drag merasa senang dan menang ketika istrinya sendirilah yang menawarkan dirinya.
Vera enggan menjawab. Dia lebih memilih menganggukkan kepalanya perlahan seperti terpaksa tapi tak rela. "Hm...bagaimana kalau saya mau yang itu." goda Drag sembari memeluk Vera.
"E...e...lepas dulu suamiku, lepas dulu." ucap Vera panik sembari mendorong tubuh suaminya agar segera melepaskan pelukannya. Drag sedikit tersenyum devil ketika melihat raut ketakutan di wajah Vera.
Benar-benar menggemaskan. batin Drag memandang Vera dengan senyum kecil di wajah nya.
__ADS_1
Vera yang melihat senyum suaminya itupun langsung berfikiran negatif.
Ya Allah.. aku belum siap di anu... selamatkan lah hamba mu ini. Doa Vera dalam hati sembari mewanti-wanti Drag suaminya.
***
Di ruang lain terlihat Devan dan Popi becanda dan tertawa ketika mengingat apa yang telah mereka lakukan. Mereka terus melangkahkan kakinya sembari terus membicarakan Vera.
"Hhhh... Aku tak bisa bayangkan gimana ekspresi kak Vera." ucap Popi tertawa geli mengingat perlakuan nya kepada istri kakak sepupunya itu.
"Aku yakin pasti kak Vera spot jantung menghadapi kak Drag yang galak dan cuek itu. Hhhhh" tawa Devan tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Pasti kak Vera marah sama kita Dev." ucap Popi dengan raut wajah yang serius.
"Biarkan saja!" ucap Devan santai dengan mata yang fokus ke arah depan. Devan terlihat sangat cool ketika kedua tangannya berada di saku celananya.
"Dengar-dengar, kak Vera galak lo..." ucap Popi sangat serius dengan wajah yang terlihat sedikit panik.
"Apa peduli ku? aku tidak takut sama sekali dengan kakak ipar cerewet dan ngeselin itu. Justru jika dia marah, itu membuat ku senang, bahkan sangat-sangat senang! Hhhh." ucap Devan mengeluarkan tawa jahatnya.
Popi tersenyum devil mendengar ucapan itu.
"Benar-benar kau ya Dev." ucap Popi menggelengkan kepalanya pelan.
Tak lama berjalan, akhirnya Devan dan Popi pun berpisah. Mereka masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
***
Malam sudah berlalu, pagi pun mulai datang. Jam sudah menunjukkan pukul 07:00 dini. Sebagian keluarga sudah berada di meja makan. "Selamat pagi." ucap Ami dengan senyum manisnya.
"Pagi semua." teriak Popi dengan meriah.
"Us... pagi-pagi tak baik ribut." tegur Ami memperingati keponakan nya itu.
"Hehe... sorry tante." ucap Popi menyengir kuda ke arah Ami.
"Cepat duduk dan habiskan sarapan mu." ucap mama Ami dengan penuh perhatian.
"Siap tante cantik." ucap Popi mengangkat tangannya dengan hormat ke arah mama Ami.
"E.e.e.e.... penganti baru sudah bangun..." goda Devan ketika melihat Vera dan Drag berjalan menuju meja makan dengan tangan yang saling bertautan.
Hmm...sosweet banget sih kak Vera dan bang Drag! kan aku jadi iri. batin Balqis merana dalam hati.
__ADS_1