
Saat ini Drag, Vera dan Vino sudah berada di sebuah lestoran seafood yang di inginkan Vera. Drag dan Vino duduk di meja berbeda, bukan tak ingin bergabung, tetapi Vino lebih tenang menikmati seafood nya di meja nya sendiri. Ia tak mau menjadi nyamuk lagi diantara kedua pengantin baru yang hampir habis masa espayet nya.
Di tengah-tengah Vera dan Drag sudah terhidang berbagai macam seafood, mulai dari kepiting terbesar hingga terkecil. Di sana juga terdapat udang, cumi-cumi, Lobster, kerang, tak lupa berbagai macam saus dan sayur pelengkap seperti jagung, wortel, buncis dan sawi. Selain seafood, di sana juga terdapat nasi dan beberapa jus dan es krim pesanan Vera. "Mari makan," ucap Vera penuh semangat lalu segera mengayunkan sesuap udang ke mulut nya.
"Baca doa dulu sayang," ucap Drag membuat Vera menghentikan gerakan nya. Kini udang itu tergantung di depan mulut Vera yang sudah terbuka. Vera merapat kan kembali mulutnya dan memberikan tatapan ngambek ke arah Drag. "Ayo berdoa," ajak Drag membuat Vera mau tak mau mengikutinya.
Setelah membaca doa, Vera segera melanjutkan acara makan nya yang tertunda.
"Enak?" tanya Drag setelah memasukkan sesuap kepiting Alaska ke dalam mulut Vera. Vera hanya mengangguk dengan mulut yang penuh. "Pelan-pelan sayang," tegur Drag sembari mengelap saus pedas manis dari sudut bibir Vera. Bukan nya mengelap saus yang berada di tangannya, Drag malah menjilat saus itu.
"Mas nggak jijik memakan bekas ku?" tanya Vera lalu kembali mengunyah makanannya.
"Kenapa harus jijik? kan kamu istri mas," ucap Drag membuat Vera mengangguk sebab tak tau mau menjawab apa.
Kini keduanya diam dan menikmati makanan di depannya. Terkadang Drag menyodorkan sesuap seafood ke mulut Vera, Vera yang menatap mata Drag seperti tak tega melihat suaminya itu. Akhirnya dengan ekspresi kesal Vera memberikan suapan serupa pada Drag. "Makasih sayang," ucap Drag tersenyum lalu hendak mencium Vera dengan bibirnya yang terdapat sedikit noda saus.
"Jangan cium-cium!" tolak Vera yang sudah menengadahkan tangannya ke depan Drag.
"Kenapa?" tanya Drag heran karena tak biasanya Vera menolak ciuman kasih sayangnya.
"Ih,,,mulut mas ada saus tuh! nanti kalau pipi aku pedas gimana mas!" ucapnya sangat manja membuat hati Drag ngilu.
"Jangan ngomong begitu ah, mas jadi takut!" ucapnya takut tak bisa menahan sesuatu dalam dirinya.
"Emang aku hantu gitu makanya mas takut? jahat banget ih!" ucapnya sembari menusuk otot Drag dengan jari kecilnya.
"Sudah, mari makan lagi," ucap Drag sembari memberikan suapan lagi ke dalam mulut Vera.
Kenapa wajah wanita itu tak asing ya di penglihatan ku ini. batin Vera memfokuskan lagi matanya melihat wanita culun berkacamata yang sedang duduk di meja kosong.
"Mas," panggil Vera dengan kepala yang sedikit dekat ke arah Drag.
"Hm," sahut Drag dengan mulut yang sedang mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Mas, bukannya itu Lili ya, yang mengatur baju pernikahan kita," ucap Vera membuat Drag mengalihkan mata tajamnya ke arah wanita yang di tunjuk Vera.
"Eh, iya sayang. Itu Lili yang berkerja di Vio Collection," sahut Drag membenarkan tebakan Vera.
"Samperin yuk mas," ucap Vera yang di angguki Drag pertanda setuju.
Karena sudah mendapat izin dari Drag, Vera segera mencuci tangannya lalu pergi menemui Lili yang tengah duduk sendiri di lestoran itu. "Lili," panggil Vera dengan sangat antusias. Lili yang mendengar suaranya yang di panggil segera menolehkan kepalanya ke asal suara.
"No-nana," ucapnya terlihat gugup melihat kedatangan istri dari Drag Baraq Abraham.
Saat ini Lili terlihat gugup dengan kedatangan Vera, lain halnya dengan Vera yang terlihat ceria dan biasa-biasa saja.
"Lagi apa?" tanya Vera sok akrab dengan memancarkan senyum tulusnya.
"Sa-saya se-sedang mampir saja nona," ucap Lili memberikan jawaban yang kurang meyakinkan membuat Vera memicingkan matanya lalu tertawa. "Jangan gugup, anggap saja kita teman, bagaimana?" ucapnya mencoba membuat Lili senyaman mungkin di dekatnya.
"Terimakasih no-nona," ucap nya masih terlihat gugup di depan Vera.
"Is, jangan gugup!" ucap Vera dengan nada kesal membuat Lili yang segan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Ternyata nona Vera manis dan baik juga. Memang benar, tak boleh menilai seseorang dari tampilan atau luarnya saja. batin Lili terus menatap Vera dengan senyum simpul di pipinya.
"Berapa usia mu?" tanya Vera dengan kepala yang sedikit condong ke arah Lili.
Lili memundurkan kepalanya ketika merasakan nafas Vera yang menyentuh kulitnya. "Saya baru berusia 18 tahun Nona," ucapnya jujur sembari membenarkan kaca matanya yang miring sebelah.
"Wah muda sekali,,,kita seumuran berarti. Apa boleh aku memanggilmu Lili?" tanya Vera menatap mata Lili dengan sangat serius.
"Tentu saja boleh Nona," jawabnya masih tak enak dengan Vera.
"Baiklah Lili, maukah kau bergabung di mejaku?" tanya Vera dengan tangan yang sudah merangkul pundak Lili.
Lili yang gugup semakin gugup ketika melihat Drag yang tengah meliriknya dengan sorot mata yang tajam. "Maaf Nona, saya tak ingin mengganggu waktu anda dengan tuan Drag," ucap Lili menolak secara halus.
__ADS_1
"Tentu saja tidak menggangu, jika kau merasa tak enak duduk bersamaku, kau bisa duduk dengan bawahan suamiku," ucap Vera seakan tak menerima penolakan dari Lili. Dengan paksa istri nakal Drag itu menyeret Lili ke meja milik Vino. Lili melepaskan matanya sekilas melihat pria dingin nan datar yang ia tabrak tempo lalu.
Matilah aku,,, batinnya sangat takut. Saat ini jantungnya berdetak tak karuan. Saat ini rasanya ia ingin terbang ke luar angkasa. Mungkin menemani seorang astronot menyelesaikan tugasnya lebih baik daripada harus duduk semeja dengan pria arogan di depannya.
"Ta-tapi Nona," ucapnya gugup dengan nafas yang naik turun. Nafas wanita itu terlihat seperti orang sesak. Karena takut jantungnya akan keluar dari dalam tubuhnya, Lili segera meletakkan tangannya di dada.
"Sudah, ayo ikut," paksa Vera dengan senyum usil di wajahnya. Drag yang melihat kelakukan istrinya sendari tadi hanya bisa menggeleng dan tersenyum sesekali. Sudah tak heran baginya melihat kelakukan luar biasa Vera.
Setelah berhasil menyeret tubuh Lili ke dekat meja Vino, Vera segera menatap sinis ke arah asisten suaminya itu. "Hm," dehem Vera dengan wajah datar, membuat Vino yang terganggu segera menolehkan wajahnya ke arah asal suara. Mata tajamnya melihat dua gadis yang menampilkan gelagat aneh.
Ada apa lagi ini! jangan bilang Nona Vera memaksa sih culun ini untuk duduk bersamaku. Batin Vino menebak dari raut wajah keduanya.
"Ada apa Nona?" tanya Vino dengan nada datarnya dengan tubuh yang sudah berdiri menghadap Vera.
"Apa kau tak keberatan jika Lili duduk di sini?!" tanya Vera dengan wajah menjengkelkan nya.
Sudah ku duga! batin nya lagi masih menatap mata Vera.
Aduh,,, apa yang anda lakukan Nona. Aku benar-benar sangat malu saat ini! kalau saja aku tahu hal ini akan terjadi, mungkin aku akan mengurungkan niatku untuk menginjakkan kaki di sini. batinnya kesal bercampur malu tetapi tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti ucapan Vera.
"Tentu saja boleh Nona," jawab Vino terpaksa tetapi tak rela. Ia menyembunyikan ketidak sukaan nya di balik wajah datar nan dinginnya.
"Sayang," panggil Drag yang sudah berada di belakang Vera, membuat tiga mata menoleh ke arahnya.
"Ada apa mas?" tanya Vera yang sudah menghilangkan wajah menjengkelkan nya.
"Biarkan Lili bersama Vino. Mari lanjutkan makan mu," pinta Drag dengan tangan yang sudah menjauhkan Vera dari Lili. Vera hanya mengerucut kan bibirnya sebal karena kegiatan nya terganggu oleh Drag. "Ayo sayang," paksa Drag yang sudah menggenggam pergelangan tangan Vera.
"Apa yang kau lihat, jangan menatap istriku terlalu lama!" ucap Drag cemburu dengan Vino yang menatap Vera dengan ekspresi datarnya.
Suami dan istri sama-sama aneh. Yang satu polos dan nakal nya tak ketulungan, dan yang satu sipencemburu yang tak kenal tempat. Uh, andai saja ini bukan jam kerja, pasti sudah ku sikat habis sih Drag sialan ini. Dasar sahabat tak ada akhlak! umpat Vino gemas dalam hati dengan sepasang suami istri itu.
"Maaf tuan," lagi-lagi Vino hanya bisa mengalah dan meminum pil pahitnya.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban Vino, Drag segera menyeret Vera ke tempat nya semula. Sebelum semakin jauh dari Lili dan Vino, Vera masih sempat menatap dan mengatakan sesuatu. "Jangan malu-malu ya Lili, makan saja banyak-banyak! biar Vino yang bayar. hehe." ucapnya asal ceplos dengan wajah ceria dan tangan yang terus di tarik Drag