Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Bab 3 (Manis di mulut, lain di hati)


__ADS_3

Terlihat beberapa pejalan kaki yang berbisik-bisik ketika melihat Vera. Para pejalan kaki itu menatap Vera dengan wajah yang tak bisa di jelaskan. "Kenapa dia," bisik para pejalan kaki 1.


"Mungkin sudah gila," ucap pejalan kaki 2.


"Jangan dekat-dekat dia," ucap pejalan kaki 3.


Berbagai tanggapan yang tidak mengenakkan tertuju pada Vera. Para perempuan nyinyir itu memberikan tatapan yang sinis dan tak bersahabat. "Malu banget,,," ucap Vera tertahan sembari menutup sebagian wajahnya dengan tangan. "Terpaksa harus naik taksi online," Vera sangat sebal.


Dengan cepat gadis itu mengeluarkan handphone dan memesan taksi online. Tak lama memesan, akhirnya taksi online pesanannya pun tiba, Vera segera naik ke mobil itu lalu meninggalkan motornya. Vera sudah memanggil montir untuk membawa motornya. Di sepanjang perjalanan Vera hanya menampilkan wajah jutek dan kesal.


Sih vera kena senjata makan tuan tu. Makanya jangan suka mengumpat dan mendoakan orang yang buruk. Jangan mencoba melempar batu ke pohon karet nanti bisa Kena sendiri kan batunya. Hhhhh. Lawak


Setelah beberapa saat di jalan, akhirnya Vera tiba di tempat tujuannya. Apalagi kalau bukan di mall, tempat refreshing para wanita. “Huh!akhirnya,” Vera membuang nafas lega karena sudah sampai. Vera segera turun dari mobil lalu segera mengeluarkan uang Merah satu lembar buat membayar ongkosnya. Vera menyodorkan beberapa uang berwarna biru sembari berkata, “Ini Pak,” menyerahkan pada supir taksi.


“Ini kembaliannya mbak,” ucap supir itu memberikan uang kembaliannya ke pada Vera. Vera menatap supir itu dengan wajah datar.


“Tidak usah Pak, ambil saja kembaliannya,” ucap Vera lalu segera berlalu pergi.


Supir taksi itu sangat senang, matanya berbinar melihat beberapa lembar uang merah di tangannya. “Terimakasih banyak ya mbak,” ucap supir taksi dengan sangat senangnya. Vera hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah supir itu.


“Mbak ini memang baik, tapi sayang tidak menghadap lawan bicaranya saat berbicara. Sangat tidak sopan!” ucap supir grab kesal dan jengkel. Setelah mengatakan itu, supir taksi itupun pergi meninggalkan perkarangan mall.


Di dalam mall Vera sedang asik berjalan melirik ke sana ke mari mencuci mata. Vera sangat menikmati masa bolosnya. “Bebasnya hidupku,” ucapnya dengan penuh kesenangan.


Ya, siapa sih yang tidak senang jika sudah bolos sekolah? Tidak pusing-pusing lagi memikirkan pelajaran dan penjelasan guru.

__ADS_1


“Beli eskrim dulu ah,” ucapnya seketika ingat pada eskrim. Vera terus melangkahkan kakinya mencari penjual eskrim.


“Tumben sepi,” ucapnya ketika melihat toko eskrim yang terlihat sepi.


“Bagus deh kalau sepi, jadi nggak perlu ngantri,” tersenyum senang.


Vera melirik salah satu pria penjual es krim sembari berkata, “Bang, eskrim yang putih itu satu ya, taru coklat dikit. Awas saja kalau kebanyakan,” pesan Vera memerintah, hal itu membuat penjual eskrim kesal dan cemberut.


Dengan malas penjual eskrim membuat pesanan Vera. “Ya mbak,” ucapnya ekspresi datar.


Vera tersenyum devil melihat penjual eskrim itu. “Wajahnya jangan di tekuk kenapa bang, jelek tau!” Vera memperlihatkan senyum menjengkelkan nya.


Ni anak cantik-cantik ngeselin banget,,, ngidam apa sih ibu nya waktu hamil dia. gerutu penjual eskrim dalam hati.


Vera mengambil es krim pesannya sembari menyodorkan uang merah “Ni bang uangnya,” penjual eskrim itu menahan eskrim milik Vera. Sepertinya penjual eskrim itu sedang melamun. “Lepas dong bang, malah di tahan gini eskrimnya,” nyinyir Vera kesal karena es krim nya di tahan.


Nyebelin banget sih tu abang-abang! gumam Vera dalam hati.


Vera mudah sekali menilai seseorang. Padahal tanpa dia sadari, dia sendiri yang menyebalkan. “Nyebelin banget mbak itu ya,” ucap teman penjual eskrim.


”Banget-banget pun,” sambung penjual eskrim yang melayani Vera.


“Ya sudahlah,” ucapnya menyudahi obrolan dan melanjutkan perkejaannya.


Saat ini Vera berjalan mengelilingi mall sembari menikmati es krim nya. “Wih keren banget tu sweater,” ucap Vera ketika melihat sweater pria yang sangat bagus dan keren.

__ADS_1


Dengan langkah tak sabar, Vera berjalan cepat menuju toko itu dan memasukinya. Ia melihat-lihat sweater yang keren- keren, flush sweater yang dia lihat tadi. “Cantik ya sweater ini,” terdengar suara wanita paru baya di samping nya.


”Eh,,,” kaget Vera sembari mengelus dada. ”Maaf bu saya nggak tau kalau ada ibu di dekat saya,” dengan sopan Vera meminta maaf.


Wanita paru baya itu tersenyum lalu berkata, “Tidak apa mbak, maaf ya, saya mengejutkan mbaknya,” Vera hanya mengangguk memperhatikan wanita itu yang tengah memilih sweater. “Mbak mau beli sweater juga ya,” wanita itu tersenyum ke arah Vera.


Vera terlihat gugup dan kurang nyaman dengan keberadaan wanita paru baya itu. “I-iya Bu,” ucap Vera terbata.


“Sama dong kita. Saya ingin membelikan sweater untuk anak saya,” ucap wanita itu dengan memegang salah satu sweater di tangannya.


Nggak nanyak! gumam Vera dalam hati.


“Iya Bu,” tersenyum manis seakan-akan Vera senang dengan kehadiran wanita paru baya itu.


“Anak Ibu suka ya mengenakan sweater?” tanya Vera dengan pandangan yang sulit di artikan. Tak tau, apakah itu pandangan kesal atau pandangan hangat.


“Iya Mbak, anak saya sangat suka. Bahkan kalau di rumah hampir setiap hari menggunakan sweater.” Jelas wanita paru baya itu. Vera sangat takjub mendengar penuturan Wanita yang berada di samping nya. Wanita tua itu tersenyum melihat ekspresi yang di tampilkan Vera.


“Menurut mbak sweater mana yang bagus,” tanya wanita paru baya itu dengan senyum yang tak pudar.


Hm,,, aku bilang saja asal-asalan. Kalau aku bilang sweater yang aku lihat tadi, pasti akan di ambil sama wanita tua ini. Mana bisa! gumamnya dalam hati. Sungguh mengesalkan sekali engkau wahai Vera.


Vera pura-pura melirik sweater seakan sedang memilih yang terbagus. “Yang ini Bu,” tunjuk Vera asal sembari menunjuk sweater abu-abu di sebelahnya. Wanita paru baya itu tersenyum.


“Bagus.” Satu kata yang keluar dari mulut wanita itu dengan senyum yang tak luntur dari wajah keriputnya. Wanita tua itu mengambil sweater yang di sodorkan Vera dan langsung membelinya. Sedangkan Vera dia mengambil sweater yang dia lihat tadi. Dasar licik.

__ADS_1


Kan benar dugaan ku! Pasti wanita tua itu akan mengambilnya. Untung saja bukan sweater ini yang ku pilih. Gumamnya bangga dalam hati sebab telah berhasil berfikir cerdik. Dasar Vera!.


Vera membawa sweaternya ke kasir lalu segera membayar sweater itu. Setelah membayar dan menerima barangnya, Vera segera keluar dari toko lalu berjalan menuju lestoran, kebetulan ia belum makan. Vera duduk di sebuah meja paling pinggir. Gadis itu menyandarkan tangganya di meja untuk menampung dagunya.


__ADS_2