
"Tidak, terima kasih." respon nya cuek dan datar. Pramuniaga itu sedikit kesal dan manyun ketika Drag mengacuhkannya.
Kenapa tuan ini tidak tertarik denganku?padahal tubuhku ini begitu sexy dan cantik!menyebalkan! gumam Pramuniaga penggoda itu.
Dari jauh terlihat seorang wanita menampilkan raut wajah yang tak bersahabat. Dia menatap nyalang ke arah Pramuniaga penggoda itu.
Dasar ke gatelan! berani sekali dia menggoda suamiku! awas aja ya. Akan aku beri pelajar dia! umpat Vera di ujung sana.
"hm..hm.." dehem Vera ketika sudah berada di dekat Drag.
"Sudah siap?" tanya Drag menatap wajah Vera.
"Sudah sayang..." ucap Vera dengan sangat manisnya sembari berjalan ke arah suaminya.
"Maaf ya sudah buat sayangku ini menunggu..." ucap Vera dengan sangat manja. Sikapnya berubah seratus sembilan puluh derajat.
Lucu juga... Gumam Drag tersenyum devil melihat perubahan istrinya.
"hm..hm.." Pramuniga penggoda mencoba mencari perhatian dengan cara berdehem.
"Eh ada orang." ucap Vera pura-pura kaget dan tidak tau dengan keberadaan Pramuniaga itu.
"Maaf ya mbak, saya kira mbak tadi gantungan baju." ucap Vera memberikan ekspresi sedih yang di buat-buat.
Ngeselin banget sih perempuan ini. Kenapa sih taun ini mau dengan gadis yang standarnya di bawahku. Lihatlah, dia tak ada apa-apa di bandingkan denganku! umpat Pramuniaga gemas dalam hati. Ia merasa kedudukan lebih tinggi daripada Vera.
"Iya mbak, tidak apa." ucap Pramuniaga menerbitkan senyum terpaksa.
Pandai sekali dia tersenyum bohong ya...Jadi ingin godain dia terus. gumam Vera tersenyum devil. Vera memeluk lengan Drag dengan sangat manja dan posesif.
"Sayang bagaimana, cantik nggak?" tanya Vera ketika sudah berdiri di depan suaminya.
"Cantik." puji Drag sembari menganggukkan kepalanya. Suami istri itu tidak memperduli kan Pramuniaga penggoda itu, sehingga hal itu membuat Pramuniaga penggoda kesal dan panas.
Pramuniaga mengepalkan kedua tangannya dari belakang punggungnya. Wajah pramuniaga itu memerah dan jutek sehingga siapa saja tau kalau Pramuniaga itu sedang menahan amarah.
kepanasan kau kan, makanya jangan jadi wanita penggoda! sudah jelek, godai suami orang pulak. Terlalu pede, mengaca napa! umpat Vera dalam hati dengan mata yang sesekali melirik pramuniaga penggoda.
"Sudah siap belanjanya?" tanya Drag pada Vera.
Vera mengangguk manis sembari berkata, "Sudah sayang..." saat ini Vera terlihat sangat manja, dan Drag menyukainya.
"Ya sudah." ucap Drag lalu bangkit dari duduknya .Mereka segera berjalan ke arah kasir. Drag mengeluarkan kartu dari dompet nya dan menyerahkan nya pada penjaga kasir.
Setelah selesai membayar, Drag dan Vera berjalan ke tempat yang lain. "Mau kemana lagi? " tanya Drag dengan lembut.
"Kita nonton ya." ucap Vera sembari melihat suaminya.
"y..." ucap Drag terpotong ketika melihat handphonenya berbunyi.
Vera pun langsung melihat ke asal suara itu.
__ADS_1
"sebentar ya." ucap Drag melirik Vera sekilas
Vera hanya bisa mengangguk dengan mata yang terus memperhatikan pergerakan suaminya itu.
"Halo." ucap Drag pada orang di ujung telepon.
"kenapa mendadak? " tanya Drag pada orang di ujung telepon. "Ya sudah, saya ke sana sekarang. " ucap Drag lalu mematikan teleponnya.
"Siapa? " tanya Vera penasaran.
"Asisten saya, nontonnya di lain waktu saja ya. Ada urusan yang harus saya selesaikan di kantor. " ucap membuat Vera bete seketika.
Wajah senang Vera kini menjadi cemberut. Sepertinya gadis ini sedang ngambek.
"Nggak seru ih kamu ini! " ucap Vera kesal lalu berjalan pergi meninggalkan Drag
"Vera... " Panggil Drag mengejar Vera lalu menarik tangan istrinya.
"Jangan pengang-pengang! " ucap Vera dengan jutek.
"Sayang... " ucap Drag lembut sembari menarik Vera ke dalam pelukannya.
"Nggak usah peluk-peluk! " ucap Vera kesal sembari melepaskan pelukan Drag.
"Vera... tolong mengerti. " ucap Drag membujuk Vera istrinya. Vera diam tak menanggapi suaminya.
"Bagaimana kalau malam minggu kita nonton? kita jalan-jalan berdua. Nanti hari minggunya kita pergi kemanapun yang kamu mau. Mau nggak? " ucap Drag berusaha membujuk Vera.
"Beneran? kemanapun yang aku mau? " tanya Vera memastikan. Matanya memicing melihat kejujuran mata suaminya.
"Iya sudah aku mau. Tapi beneran kan? nanti kamu ingkar janji sama aku! " ucap Vera mulai sedikit kesal.
"In syaa Allah nggak istriku... " ucap Drag sembari mencubit pipi Vera dengan gemas.
Manis sekali suamiku ini! gumam Vera senang
"Jangan di cubit... " ucapnya berpura-pura marah.
"Gitu aja marah." goda drag.
"Ya sudah, yuk kita pulang" ucap Drag pada Vera. Vera pun hanya mengangguk di ajak Drag pulang.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang ke mansion mewahnya. Sesampainya di mansion, Vera pun keluar dari dalam mobil yang di tumpangi nya. "Saya pergi dulu ya. Assalammualaikum istriku. " pamit Drag menampilkan wajah genit kepada Vera.
Hi jijik aku. gumam Vera geli dengan tingkah suaminya. Wajahnya di tekuk jijik.
"Iya-iya. wa'alaikumussalam. " ucap Vera dengan cepat.
Akhirnya Drag segera pergi dan Vera pun masuk ke dalam mansion nya.
Di dalam mobil, terlihat Drag tersenyum sendiri mengingat perlakuan istrinya di mall tadi.
__ADS_1
Ternyata istriku manis sekali ya... tapi saya, istriku cerewet dan nakal. Hhhhh. Gemes aku. gumam Drag gemes sendiri sembari tersenyum lucu.
"Huh." Drag membuang nafasnya sembari menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
***
"Selamat siang tuan." Sapa para karyawan kantor.
"Selamat siang tuan. " Sapa asisten Drag sembari menghampiri Drag.
"Bagaimana dengan tuan kuntoro? " Tanya drag langsung ke inti pembahasan.
"Rekan bisnis anda yang berada dari kota a sudah berada di ruangan anda tuan. " ucap Vino sembari berjalan mengikuti langkah panjang Drag.
"Kenapa mendadak sekali... " ucap Drag sedikit pusing. Tidak biasanya investor yang ingin berkerja sama dengan perusahaannya langsung mendatangi perusahaan tanpa membuat janji terlebih dahulu kepadanya.
"Sepertinya ada pembicaraan penting yang ingin di bicarakan oleh tuan kuntoro pada anda tuan." ucap Vino masih berada di belakangnya Drag.
"Baiklah kalau begitu. " ucap drag dengan aura dinginnya. Kaki panjang itu terus melangkahkan Muju lift dan memasuki nya.
"Ting." Drag dan Vino pun menaiki lift ke lantai paling atas gedung pencakar langit itu.
Setelah sampai, merekapun berjalan menuju ruang direktur. Tempat ruangan Drag. "Selamat siang tuan kuntoro" ucap Drag ketika sudah berada di sana. Ia tersenyum dengan tangan yang menjabat tangan tuan Kuntoro.
"Siang tuan Drag. " ucap tuan kuntoro menyambut Drag dengan hangat.
"Silahkan duduk tuan. " ucap Drag mempersilahkan rekan bisnisnya itu untuk duduk kembali.
Saat ini mereka duduk di sopan yang berada di dalam ruangan milik Drag. Vino juga sudah menyuruh beberapa bawahannya untuk membawakan makanan dan minuman ke ruang direktur. Makanan dan minuman pun sudah penuh di meja yang berada di tengah-tengah para pengusaha itu. "Silahkan di minum tuan. " ucap Vino pada Drag dan tuan kuntoro.
"Terimakasih tuan Vino." ucap tuan Kuntoro, sedangkan Drag hanya mengangguk datar.
Suasana pun hening seketika. Para pengusaha itu sedang menikmati teh yang sudah di sediakan. "Maaf tuan, sudah merepotkan anda. " ucap tuan Kuntoro setelah menyeruput teh hangat nya.
"Tidak mengapa tuan, saya tidak merasa di repotkan. " ucap Drag tersenyum kecil pada rekan bisnisnya itu.
Tuan Kuntoro tersenyum sesaat lalu menghela nafasnya perlahan. "Baiklah, saya langsung ke intinya saja ya tuan. " ucap tuan Kuntoro mencoba menetralkan dirinya.
"Saya ingin menambah saham yang sudah kita sepakati kemarin, apakah bisa tuan? " Tanya tuan Kuntoro pada Drag. Wajah tuan Kuntoro terlihat sangat serius saat ini.
"Tentu saja tuan. " ucap Drag dengan senang hati menerima suntikan dana tambahan dari rekan bisnisnya itu. Hal ini bisa sangat menguntungkan bagi perusahaannya. Selain pengeluaran yang berkurang, penghasilan perusahaan pun akan bertambah.
Kenapa tuan Kuntoro tiba-tiba ingin menambah saham ya? batin Vino dalam hati. ia merasakan ada sesuatu yang janggal dari tuan Kuntoro.
"Maaf tuan, bisakah kita berbicara empat mata saja?" Tanya tuan Kuntoro pada Drag. Drag yang mendengar hal itu sedikit aneh dengan rekan bisnisnya yang satu ini.
"Tentu saja tuan." ucap Drag mempersilahkan. Wajah CEO dingin itu terlihat bingung tetapi tetap memasang wajah netral nya.
Drag mengalihkan pandangannya ke arah Vino sembari berkata, "Keluarlah Vino. " perintah Drag dengan aura dinginnya.
"Baik tuan." ucap Vino segera berlalu pergi meninggalkan Drag dan tuan Kuntoro.
__ADS_1
Setelah Vino keluar, Drag pun memfokuskan pandangannya ke arah rekan bisnisnya itu. Dia sangat penasaran dengan apa yang akan rekan bisnisnya itu sampaikan. "Silahkan tuan." ucap Drag mempersilahkan tuan Kuntoro untuk berbicara dengan memberikan senyum simpul nya.
"Jadi begini tuan, kedatangan saya kemari bukan hanya sekedar mengajak berkerja sama, tetapi, ada maksud lain di luar perkerjaan tuan. " ucap tuan Kuntoro dengan nada yang terdengar serius. Drag tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari tuan Kuntoro.