
Hari ini terlihat para wanita sudah berkumpul di kediaman Drag. Para wanita itu sangat bahagia ketika mendengar kabar jika Vera tengah hamil. "Aduh, aku tidak menyangka jika Vera sudah hamil," ucap Glow sembari membayangkan menggendong bayi lucu milik Vera.
"Seharusnya Vera mengadakan baby shower," saran Sasa yang di angguki semuanya.
"Sudah berapa bulan kandungan mu Ver?" tanya Lucy yang kini mengelus perut Vera yang sedikit membuncit.
"Mau jalan hampir tiga bulan Lu," ucap Vera sembari tersenyum yang di balas anggukan Lucy.
"Rasaku baby shower lebih baik di adakan dua bulan sebelum melahirkan," ucap Lucy yang sudah mengalihkan tatapan datarnya pada Vera dan yang lainnya.
"Benar juga, sepertinya lebih seru kan," ucap Sena sembari menikmati rujak buah yang telah mereka buat.
"Nanti kalau bisa, kalian jangan lihat hasil USG nya, agar menjadi kejutan di baby shower," saran Grisela membuat Vera menampilkan wajah sedikit bingung.
"Caranya?" tanyanya menatap Grisela.
"Katakan saja pada dokter jika kalian ingin mengadakan baby shower, pasti sudah paham dokter itu. Gampang kan?" ucap Lucy memberikan senyum devil nya. Vera mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban.
"Jangan diam saja Ver, mari makan," ucap Lucy menyodorkannya sepiring buah tanpa bumbu. Vera yang melihat hanya potongan buah saja, membuat wajahnya cemberut sebal pada Lucy. "Jangan cemberut, wanita hamil harus menjaga kesehatan nya, bukankah begitu teman-teman?" ucap Lucy menatap semua orang satu persatu.
"Betul!" ucap semuanya secara bersamaan dan penuh semangat.
"Ver, sekali-kali izin gitu sama pak Drag biar kita bisa jalan-jalan keluar," ucap Tika mengalihkan semua mata padanya.
"Nanti deh aku coba, kalian kan tahu suamiku seperti apa," ucap Vera dengan wajah ragu nya.
"Lu, kaulah coba minta izin sama pak Drag agar Vera bisa ikut kita pergi jalan-jalan," ucap Sena menatap mata datar Lucy.
"Nantilah," ucapnya sedikit acuh membuat Sena memanyunkan bibirnya. "Iya loh Sen, in Syaa Allah nanti aku coba. Udah, jangan di tekuk wajah jelek kau itu!" ucap Lucy dengan nada datarnya membuat Sena kesal dan langsung menggelitik nya. "Hhhhhh, geli Sen, hey sen!" ucap Lucy tetapi tak mengurungkan niat Sena yang masih senang memberinya pelajaran. "Beraninya kalian mengeroyok ku, hhhhhh," ucap Lucy masih berusaha menangkis tangan-tangan jahil yang menggelitik nya.
Sasa yang melihat Lucy di keroyok tersenyum lalu bangkit dari tempatnya dan membantu Lucy. "Rasakan ini," ucap Sasa membalas gelitikkan Sena, Tika, dan Grisela. "Et, ibu hamil tidak boleh ikutan," ucap Sasa membuat Vera mengurungkan niatnya dengan ekspresi merajuk membuat semuanya kembali tertawa.
"Sudah-sudah, kasihan ibu hamil itu," ucap Lucy berhasil menghentikan serangan teman-teman nya.
"Maaf ya Vera," ucap Monica dengan nada godaan di iringi senyum jenakanya.
"Btw, kemana Lili Vio?" tanya Vera pada Vio yang berada tak jauh darinya. Ternyata semenjak ikut menjadi Bridesmaid, Lili dan Vio sudah masuk ke sirkel Ratu kampus.
Anggota ratu kampus sudah bukan terdiri dari tiga orang lagi, tetapi terdiri dari 11 orang termasuk Vera sendiri. Betapa bahagia dan menyenangkan nya sirkel mereka saat ini. Setiap harinya, terdapat spam chat dari grub Ratu kampus. Sepertinya mereka bisa pingsan jika tak mengobrol satu sama lain dalam grub.
__ADS_1
"Iya Vio, kemana Lili?" sambung Lucy yang sudah sangat akrab dengan Lili. Hal itu berawal dari Lili yang bertanya banyak hal pada Lucy tentang kecantikan.
"Aku tidak tau Lili kemana? soalnya hari ini tokoku tutup," ucap Vio berterus terang.
"Coba di telpon, rasanya gimana gitu jika sirkel kita kekurangan satu anggota," ucap Monica yang membuat Grisela langsung menghubungi wanita berkacamata itu.
"Tidak di angkat," ucap Grisela menunjukkan layar ponselnya.
"Biarkan sajalah, mungkin Lili ada kegiatan lain yang tak bisa di ganggu gugat," sambung Lucy menatap Grisela dan Monica secara bergantian.
***
Di rumah sakit terlihat Lili menundukkan kepalanya karena takut melihat mata tajam pria di depannya. Saat ini Lili berada di rumah sakit dan duduk di sebelah ranjang pasien.
Sendari tadi tak henti-hentinya Lili mengucapkan terimakasih dan maaf pada pria yang tengah di rawat itu.
Flashback on.
Karena Mendapat kabar dari teman-teman nya untuk berkumpul di tempat Vera, akhirnya Lili memutuskan untuk pergi kesana. Ia yang sangat berhemat memilih menggunakan sepeda miliknya. Walaupun sepeda itu sudah sedikit tua dan terdapat karat, tak membuat Lili malu menggunakan nya. "Eh apa itu?" gumam Lili pelan sembari membenarkan kaca matanya. Dengan bodohnya Lili berhenti dan melihat suara aneh dari tembok yang berada di depan nya, dengan ragu Lili kembali mendayung sepedanya.
"Gung, Gung, Gung," betapa kagetnya Lili ketika melihat anjing hitam yang lumayan besar menatap ke arahnya. Karena merasa tak aman dan takut, Lili mendayung sepedanya dengan sekuat tenaga dan sangat cepat. Anjing hitam itu yang merasa Lili seorang pencuri segera mengejarnya di sertai gonggongan.
"Mama,,," suara itu terlihat sangat pilu. Lili terus mendayung sepedanya hingga melewati sebuah cafe yang dimana terdapat Vino di dalamnya. Vino yang melihat Lili di kejar anjing hitam, segera menolong gadis itu. Hal hasil dialah yang terkena imbasnya. Anjing hitam itu sempat menggigit kaki kanan nya sebelum di amankan orang sekitar.
"Kenapa kau menyiramnya culun!" sentak Vino masih memegang kakinya.
"Agar tidak rabies tuan," ucap Lili lalu bergegas membantu Vino berdiri dan masuk ke taksi yang sudah di hentikan oleh beberapa pengunjung.
Taksi yang mereka tumpangi melaju begitu cepat menuju rumah sakit terdekat. Setelah sampai, Vino segera di tangani oleh dokter dan langsung di suntik vaksin rabies. "Aduh, bagaimana ini," gumamnya sangat khawatir. Setelah selesai di tangani, akhirnya Vino di pindahkan ke ruang rawat VIP.
Terjadi keheningan di ruangan itu, sesekali Lili melirik Vino yang tak henti-hentinya menatap tajam padanya. "Terimakasih tuan, dan maafkan saya," ucap Lili sangat pelan tetapi masih bisa di dengar oleh Vino.
"Cih! kau ini sangat menyusahkan dan pembawa sial!" ucap Vino membuat Lili meremas ujung bajunya.
"Maaf tuan," ucapnya lagi terus meminta maaf.
"Sakit sekali telingaku mendengar nya, aku tidak mau tau, kau harus merawat ku hingga kakiku sembuh!" ucap Vino membuat Lili menegakkan wajahnya Seketika.
"Ta-"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian, ini semua disebabkan dirimu. Dasar culun!" sela Vino tak henti-hentinya menghina Lili yang terlihat kesal padanya. Lili yang tak ingin berdebat mencoba menetralkan hatinya. Mau tak mau ia harus mengikuti keinginan Vino untuk merawat nya.
"Baiklah tuan," ucapnya dengan wajah yang sangat lemas.
Vino menaikkan satu alisnya melihat perubahan wajah Lili yang terlihat tak senang. "Kenapa wajah jelek mu itu? apa kau tak senang merawat ku!" ucap Vino membuat Lili mendengus kasar.
"Saya tidak jelek tuan!" ucapnya mulai membelah diri.
Vino langsung tertawa mendengar penuturan wanita di sampingnya itu. "Apa katamu? kau tidak jelek? jadi kau merasa dirimu itu cantik? percaya diri sekali, hhhh." tawa Vino membuat Lili memanyunkan bibirnya.
"Aku memang cantik ya, kamu saja yang tidak sadar!" geram Lili tak menggunakan bahasa formal lagi.
Gadis ini sangat lucu, mungkin aku harus sedikit bermain-main dengannya. Pasti seru, gumam Vino memikirkan banyak rencana busuk untuk mengerjai Lili.
Kenapa dia tertawa? apa dia sudah gila disebabkan gigitan anjing tadi? batin Lili tak melepaskan tatapan matanya nya pada Vino.
"Sudahlah, aku ingin muntah mendengar ocehan mu itu!" ucap Vino dengan nada datar dan ketusnya.
"Cklek," terlihat dokter dan suster masuk ke ruang Vino. "Bagaimana tuan, apakah ada keluhan di kaki anda?" tanya dokter sembari mengecek detak jantung Vino.
"Dokter, tak bisakah vaksin rabies di tambah lagi ke tubuh tuan Vino? sepertinya ia sedikit aneh semenjak di gigit anjing itu," ucap Lili membuat Vino menatap tajam ke arahnya.
"Culun!" ucap Vino memberi peringatan.
Dokter hanya tersenyum melihat pertengkaran di depannya, "Tuan sudah baik-baik saja, jadi tidak perlu menambah vaksin rabies," ucap dokter pada keduanya.
"Apakah saya sudah bisa pulang dok?" tanya Vino dengan wajah serius.
"Tentu tuan, anda sudah bisa pulang. Tapi apa tidak sebaiknya menginap dulu tuan?" tanya dokter memastikan.
"Tidak perlu dokter, saya sudah baik-baik saja," ucap Vino yang di angguki dokter.
Setelah pembicaraan singkat itu, kini dokter dan suster pamit keluar dari ruangan itu. Kini Vino tengah bersiap-siap untuk pulang dengan Lili yang setia membantunya. "Pelan-pelan culun," ucapnya ketika Lili terlalu cepat berjalan.
"Bukan jalan saya yang cepat tuan, tapi anda saja yang memang lelet!" ketusnya membuat Vino menghentikan langkahnya.
"Siapa penyebab kakiku begini?" tanya Vino membuat Lili tak bisa menahan senyum malunya.
"Maaf tuan, ayo jalan lagi," ucap Lili tak ingin berdebat.
__ADS_1
"Hm," dehem nya terlihat tak senang dengan Lili.
Kali ini Lili ikut pulang bersama Vino ke apartemen nya. Sebelumnya Vino sudah menghubungi supir untuk menjemput nya dan Lili, sehingga mereka tak perlu lagi memanggil taksi.