Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Diamnya Drag


__ADS_3

Vera memakan buah itu dengan penuh penekanan. "Jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang." goda Drag mencubit pipi Vera yang menggembung disebabkan mulutnya yang penuh.


"Tring." terdengar panggilan masuk dari handphone milik Drag.


"Halo." ucap Drag dengan handphone yang berada di telinga nya.


"halo, dari butik Vio collection." sapa seorang wanita dari ujung telepon.


"Saya ingin Fitting baju di lakukan di kediaman saya!" ucap Drag langsung ke intinya. Setelah mengatakan itu, ia pun memutuskan sambungan telepon.


Di tempat lain terlihat seorang wanita berdecak kesal dengan sikap semena-mena Drag. "Dasar orang kaya songong! umpat Lili yang tak lain ialah asisten disainer.


"Kenapa cemberut Lili? " tanya Vio yang tak lain ialah pemilik butik. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ini klien nona songong banget." aduh Lili dengan wajah cemberut.


"Emang siapa klien yang baru kamu telpon?" tanya Vio yang sudah duduk santai sembari menikmati jusnya.


"Kliennya bernama Drag Baraq Abraham nona." jawab Lili dengan wajah bet mood nya.


"Byur...." Vio menyemburkan air di mulutnya menatap Lili dengan wajah terkejut. "Apa! Drag Baraq Abraham!" Wajah terkejut kini berubah menjadi panik.


Lili segera mendekat kan dirinya ke arah Vio. "Apakah nona baik-baik saja?" tanyanya panik dengan tangan yang mengelus punggung Vio.


"Kenapa kau tak bilang Lili... kau tau siapa Drag Baraq Abraham?" tanya Vio mengguncang bahu Lili. Lili hanya menggeleng pertanda tidak tau.


"Ya ampun Lili... tuan Drag Baraq Abraham adalah pengusaha nomor satu di Asia... dalam sekejap dia bisa menghancurkan butik kecilku ini. Kenapa kau tidak memberitahuku jika yang menelpon adalah tuan Drag Baraq Abraham?" ucap Vio frustasi memegang kepalanya dengan kedua tanganya.


Vio lemas dan hampir jatuh ke lantai.


"Minum dulu nona dan tenanglah." ucap Lili merasa bersalah pada bos nya itu.


"Apa yang di katakan tuan Drag tadi?" tanyanya sudah mulai tenang. Ia menghirup udara lalu menghembuskan nya secara perlahan.


"Tuan Drag ingin fitting baju pernikahan di kediaman nya nona." jelas Lili dengan pelan.


"Hanya itu saja?" tanya Vio memastikan.


"Iya nyonya. Tuan Drag langsung mematikan sambungan telepon nya setelah mengatakan itu." ucap Lili lagi menatap Vio dengan wajah sendu.


"Tuan Drag tersinggung Lili karena bukan aku yang menelponnya. Bagaimana ini Lili jika butik ku di tutup untuk selamanya. Aku sangat teledor Li." ucap Vio menyalahkan dirinya sendiri.


"Tenanglah nona... aku pastikan tuan Drag tidak akan menutup butik anda nona." ucap Lili sembari membersihkan tubuh Vio yang tidak kotor meskipun duduk di lantai.


***


Masih di kamar, Drag duduk santai dengan Vera yang menyender di bahunya. "Besok kita akan fitting baju pengantin." ucap Drag sembari mengelus rambut Vera.


"Hmm." dehem Vera dengan malas.

__ADS_1


Pusing sekali hari ini. batin Vera mulai menutup matanya. Sepertinya ia hendak tidur.


"Tring..." mata Vera yang sudah berat kini terpaksa harus di buka. Ia dan Drag secara bersamaan melihat ke asal suara. Dengan malas gadis itu mengangkat panggilan dari Lucy.


"Halo." ucap Vera dengan suara lemahnya di sebabkan mengantuk.


"Assalamualaikum Ver. Gimana keadaan mu?" tanya Lucy penuh perhatian dari ujung sana.


"Wa'alaikumussalam, aku baik Lu." jawab nya lemah dengan mata tertutup.


"Siapa?" bisik Drag di telinga Vera.


"Lucy." jawab Vera tanpa mengeluarkan suara. Gadis itu menatap netra tajam Drag sebentar. Drag mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban.


"Alhamdulillah kalau kau baik Ver. Mental mu aman?" tanya Lucy dengan candaan di ujung kalimat nya.


Vera mengeluarkan wajah cemberut nya. "Amanlah mental ku Lu!" ucapnya sewot.


"Baguslah Ver, nggak nangis lagi kau? kakimu uda baik? nggak stres kau kan gara-gara semalem?" tanya Lucy beruntun membuat Vera menggaruk kepalanya kesal. Rambut gadis itu berantakan dan Drag lah yang merapikan.


"Semalam aku nangis bukan karena takut, tapi malu." elak Vera membuat Drag dan Lucy tertawa.


"Hhhhhh." tawa itu membuat Vera langsung menatap tajam ke arah Drag. Drag langsung menutup mulutnya dan di ganti dengan senyum simpul.


"Iyalah Vera-iyalah Vera." ucap Lucy dari ujung telepon. Gadis tomboy itu menampilkan gigi kelincinya yang di pagar.


"Makan nasi banyak-banyak...,bukannya sembuh, gendut iya." ucap Vera dengan nada sewot.


"Baguslah gembul." goda Lucy lagi-lagi membuat Vera kesal. "Ya uda, wassalamu'alaikum." pamit Lucy ingin mengakhiri panggilan telepon.


"Wa'alaikumussalam." jawab Vera lalu memutuskan sambungan telepon.


Setelah sambungan telepon berakhir, Vera kembali memejamkan matanya. Drag yang melihat itu langsung membenarkan posisi tubuh Vera agar tak sakit. "Jangan ngelus-ngelus." omel Vera tak suka Drag mengelus pipinya.


"Kenapa?" tanya Drag dengan ekspresi datarnya.


"Pokoknya jangan ngelus-ngelus!" omelnya lagi lalu membelakangi Drag.


"Vera..." panggil Drag menggoyang bahu Vera.


"Apa lagi sih." ucapnya berdecak kesal.


"Tidak boleh tidur membelakangi suami." nasehat Drag membuat Vera terpaksa membalikkan tubuhnya. Drag menggelengkan kepalanya makhlum dengan sikap kekanakan Vera. Karena tak tau mau melakukan apa, Drag pun membaringkan tubuhnya di samping Vera lalu menutup matanya.


Keduanya kini tertidur pulas hingga petang tiba. Sayup-sayup Drag mulai bangun dari tidur nya. Netra tajam itu beralih menatap Vera yang masih setia memejamkan matanya. Karena sudah memasuki waktu shalat, Drag pun segera membangunkan istri nakalnya itu.


"Vera." panggil nya mengelus pelan pipi Vera.


Drag mendekat kan wajahnya menatap dengan jelas wajah cantik Vera. Jari-jari besar Drag masih setia berada di sana. Mata tajam nya kini beralih menatap bibir tebal Vera. "Glek." Drag menelan saliva nya menahan hasrat.

__ADS_1


Tanpa di sadari, Drag memajukan wajahnya semakin dekat hendak mencium buah cery Vera. "Dek." jantung Drag berdetak ketika Vera menatap matanya.


"Ah..." teriak Vera refleks mendorong Drag.


"Sakit Vera." aduh Drag ketika sudah tersungkur di bawah sana.


"Bapak ngapain sih?" tanya nya sewot.


"Hm." dehem Drag memilih pergi meninggalkan Vera di sana.


Pasti ngambek. batin Vera sembari memperhati kan Drag.


"Cklek." Drag menutup pintu dengan sedikit keras. Hal itu membuat Vera bergidik ngeri.


Setelah menutup pintu, Drag terus melangkahkan kakinya menuju ruang kerja. Drag benar-benar kesal dengan penolakan Vera. Tak banyak yang ia inginkan dari Vera. Ia hanya ingin sedikit di sayang dan di manja oleh istri nakalnya itu.


"Tok tok tok." terdengar ketukan pintu dari pintu ruang kerja Drag.


"Masuk." ucap Drag dari dalam sana. Saat ini Drag berusaha mengontrol emosinya dengan berdiam diri di ruang kerjanya.


"Tuan." ucap Vino ketika sudah berada di hadapan Drag.


"Hm." sahut nya dengan deheman.


"Tuan kuntoro mengundang anda untuk menghadiri perayaan ulang tahun putrinya." ucap Vino menjelaskan dengan ekspresi datarnya.


"tuan kuntoro? anaknya yang bernama Gaura itu ya?" tanya nya yang di angguki Vino.


"Benar tuan. Tuan kuntoro berharap anda menghadiri hari spesial anak semata wayangnya." jelas Vino fokus menatap Drag. "Apakah anda akan hadir tuan?" tanya Vino dengan serius.


"Ya, kita akan menghadiri acara itu." terima Drag tanpa berfikir panjang.


"Baik tuan, saya akan menyiapkan semuanya." ucap Vino mengangguk pelan lalu pamit pergi meninggalkan Drag.


Waktu menunjukkan pukul 21:00. Di kamar terlihat Vera terus memperhatikan Drag yang berdiri di depan cermin. Drag terlihat sangat rapi dan segar. Vera yang menyederhanakan tubuhnya di dinding kasur terlihat kesal melihat Drag yang mendiamkannya.


Mau kemana dia? biasanya dia pergi selalu memberitahu ku. Bahkan dia menawarkan ku untuk ikut bersamanya. Lihat dia, wangi parfum nya memenuhi ruangan ini. Apa dia tak mual menggunakan parfum sebanyak itu. nyinyir Vera dalam hati.


Drag yang tau Vera memperhati kan nya sendari tadi memilih acuh dan tak peduli. Setelah merapikan dasinya, Drag bergegas pergi meninggalkan kamar itu. Vera yang penasaran segera berjalan ke arah jendela. Ia menunggu suaminya menaiki mobil.


"Ada apa dengannya? aneh sekali." gumamnya bingung dengan tangan yang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Apakah tidak ada yang tertinggal tuan." tanya Vino ketika sudah berada di dalam mobil.


"Tidak." ucapnya singkat dengan mata yang melirik ke arah jendela.


"Baik tuan." ucap Vino lalu segera menjalankan mobilnya.


Di jendela kamar, Vera masih setia menatap mobil Drag yang tengah berjalan. Tanpa sadar, gadis itu meneteskan air matanya. Tak tau kenapa, Vera sangat sedih di acuhkan Drag. Vera segera kembali ke ranjang nya ketika mobil Drag sudah hilang dari pandangan nya.

__ADS_1


__ADS_2