
Wajah para mahasiswi itu semakin marah ketika termakan provokasi Glow.
Mampus kau kerupuk jangek! batin Glow senang dalam hati.
Dengan cepat para mahasiswi itupun mulai mendekati Vera. "Tidak-tidak, kalian salah faham." bantah Vera sembari melambaikan tangannya ke arah depan.
"Bacot!" ucap Sena sih tukang bully.
Akhirnya Vera pun di bawah oleh beberapa mahasiswi itu. "Lepas! lepas kan aku! Sena, Glow." teriak Vera memberontak.
Mereka tak memperdulikan teriakan Vera, kini para mahasiswi itu membawa Vera ke tengah lapangan di jurusan tempat mereka belajar. Dengan kasar beberapa teman-teman Sena mendorong gadis itu tepat di tengah lapangan. "Mana skincare nya." ucap Sena sembari mengulurkan salah tangannya ke arah temannya.
"Ini Sen." ucap Stevie dengan senyum jahat sembari memberikan skincare yang Sena maksud.
"Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Vera bingung. Ia sangat ketakutan dengan tatapan nyalang perempuan di depannya.
"Sen... apa yang mau kalian lakukan dengan Vera." tanya Bimo yang baru saja tiba di lapangan itu ketika melihat banyak siswa yang mengerubuni Vera. Vera menjadi bulan- bulan para mahasiswa dan mahasiswi di kampus itu.
"Kau akan tau." ucapnya sembari tersenyum jahat ke arah Bimo.
"Sudahlah Sen...kasihan gadis ini." ucap Bimo membujuk Sena. Tidak ada yang perduli dengan Vera selain Bimo di situ. Teman- teman Bimo malah sibuk dan asik tertawa melihat Vera di bully.
"Alah... Bim-Bim. Pencuri ngapain di belain. Iya nggak guys." ucap Tika dengan tegas.
Glow secara perlahan pergi dari tempat itu dalam keadaan tersenyum kemenangan. Dengan cepat dia pergi dari kampus itu. Benar-benar licik sih Glow, dia menyelamat kan diri dari perbuatannya sendiri.
Rasain tu gadis kerupuk jangek. batin Glow tersenyum senang.
"Sekarang teman-teman." teriak Sena mulai melemparkan telur ke arah Vera yang duduk tersungkur di bawah sana.
Para mahasiswa yang melihat Sena mulai melemparkan telur ke arah Vera pun langsung mulai ikutan melemparkan telur ke arahnya.
"Ambil skincare nya. Ambil!" ucap Tika sembari membagi-bagikan telur dan tepung.
Buka hanya telur yang mereka lempar tetapi tepung juga ikut mereka lempar. Buka hanya itu saja, bahkan ada yang dengan teganya mengambil air selokan lalu menyiramkan nya ke arah Vera. "Hhhhhh." tawa semua para mahasiswa yang berada di sana.
"Hiks..." Vera menangis dengan semua perlakuan para teman sekampusnya.
"Bruk." terdengar suara pukulan dari arah belakang para mahasiswa.
"Ah..." beberapa mahasiswa mengaduh kesakitan.
"Ah..." beberapa wanita di tarik rambutnya oleh seseorang.
Dalam sekejap, semua mahasiswa dan mahasiswi yang membully Vera jatuh tersungkur ke tanah. Ada yang pingsan, ada yang kesakitan, dan ada yang lemas tak berdaya.
__ADS_1
"Mampu*s kelen. Kelen kira hebat kali kelen. Siapa bapak kelen? acek-acek kebun sayur? Ku pecahkan kepala kelen. Presiden kelen bawah sini, nggak takut aku!" bentak seseorang dengan suara keras, tegas,dan rada tomboy.
Vera mengangkat kepalanya dan melihat ke asal suara. "Lucy." ucap Vera menerbitkan senyum senang setengah mewek.
Lucy yang mendengar Vera memanggil namanya langsung tersenyum dan berjalan ke arahnya. "Lucy...hiks." tangis Vera setelah berada dalam pelukan Lucy. Selain berbagi tangisan, Vera juga menyedekahkan ingus dan kotoran di tubuhnya. Tubuh Lucy sekarang mengeluarkan bau yang sama seperti Vera.
"Makasih ya Ver, hadiah nya." ucap Lucy membuat Vera tertawa sebentar di s la tangisannya.
Dari kejauhan terlihat Drag dan beberapa mahasiswa berlari ke arah Vera dan Lucy.
"Apa yang terjadi!" tanya Drag dengan tegas ketika sudah berada di sana. Mata tajam itu memperhatikan beberapa mahasiswa nya yang sudah terkapar menahan sakit.
Drag berlari dan keluar dari jam mengajarnya ketika ada beberapa mahasiswa yang melaporkan ada pembullyan dan kekerasan di lapangan fakultas kimia.
"Vera." ucap Drag ketika melihat istrinya sudah sangat kotor dan bau.
Mata Drag memerah melihat tangisan istrinya di bawah sana. Ia segera menghampiri Vera yang masih berada di pelukan Lucy.
"Sudah pak ,saya saja yang membawanya. Bapak urus saja mereka ini." ucap Lucy tanpa melihat Drag. Drag hanya menganggukkan kepalanya. Drag yang sudah tau jika Lucy sahabat Vera, membiarkan gadis itu membawa istrinya.
Setelah Lucy dan Vera pergi, Drag mengalihkan pandangannya ke para mahasiswa nya. Dosen killer itu mencoba menahan amarahnya yang sudah menggebu-gebu sendari tadi.
Di tengah jalan menuju toilet, Vera terjatuh di sebabkan tak bisa menopang tubuhnya yang lemah. Vera pun berusaha untuk berdiri dengan tangan yang mengalung manja di leher Lucy.
"Ayo." ucap Lucy sembari membungkukkan tubuhnya.
"Apa lu?" tanya Vera bingung.
"Cepat naik, biar aku gendong." ucap Lucy dengan gaya datar dan cueknya.
"So sweet banget sih." ucap Vera senang sembari terharu dengan sahabatnya ini.
"Iw. Jangan bilang begitu ya Ver. Geli aku!" ucap Lucy berterus terang dengan wajah datarnya.
"Ok sayang." ucap Vera mengeratkan tanganya di leher Lucy.
Kesedihan Vera hilang seketika ketika melihat perlakuan istimewa sahabatnya itu. Lucy Segera melangkahkan kakinya dengan Vera yang berada di gendongannya. Akhirnya mereka pun melanjutkan langkahnya menuju toilet terdekat.
***
Di ruang rektor terlihat Drag sedang mengintrogasi beberapa siswa termasuk Sena dan teman-temannya. "Ada yang mau menjelaskan?" tanya Drag dengan nada datar dan kesal. Dia menatap tajam ke arah para mahasiswanya itu.
Semua hanya diam. Tak ada satupun yang berani mengeluarkan sepatah katapun di depan Drag. Para mahasiswa itu enggan menatap ke arah Drag. Ada yang melihat ke bawah, ada yang melihat ke arah samping dan ada pula yang melihat ke arah dosen lain yang sedang menggelengkan kepalanya.
"Baik jika tidak ada yang mau berbicara, biar saya saja yang berbicara." ucap Drag menatap satu persatu mahasiswa nya dengan tatapan yang sangat tajam dan mengimitasi. "Kalian semua diskors dan besok suruh orang tua kalian datang untuk menemui saya!" perintah Drag dengan tegas dan dingin. Sikap Drag saat ini benar-benar mengerikan, berwibawa, tampan, keren dan cool.
__ADS_1
"Tapi pak." ucap Sena mencoba membantah. Mata jahat itu memancarkan ketakutan menatap mata tajam Drag.
"Tidak ada tapi-tapi, jika besok orang tua kalian tidak menemui saya, maka silahkan kalian keluar dari kampus ini!" ucap Drag dengan tegas. Setelah mengatakan itu, Drag segera bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan semua mahasiswa nya itu.
"Cr.ct.ct." salah satu dosen menggeleng kan kepalanya tak habis fikir dengan perilaku para siswanya ini. Akhirnya salah satu dosen pun mulai menceramahi para mahasiswanya itu.
***
Di tempat lain terlihat Vera sudah selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi kampus. Vera mengenakan baju yang di berikan Lucy.
"Lihat ini Lu." ucap Vera lemas ke arah lucy.
"Cantik sekali." puji Lucy menggoda Vera.
"Apanya yang cantik Lu. Lihatlah ini bajuku, gobor kali loh...macam ibu-ibu aku." keluh Vera setengah cemberut dengan mata yang sebab dan merah.
"Siapa yang bilang seperti ibu-ibu?" tanya Lucy sembari merapikan jilbab besar yang di kenakan Vera.
Saat ini Vera sedang mengenakan pakaian milik Lucy. Dia mengenakan gamis, khimar panjang, leajing panjang, kaus kaki, handsock, tak lupa dalaman khimar dan tentunya semua yang ia kenakan berwarna hitam.
Aku sudah seperti kuntilanak hitam syar'i jika mengenakan ini. Kalau malam-malam aku jalan di kegelapan, mungkin orang tidak bisa melihat ku. Mereka bisa lari ketakutan jika aku berjalan di malam hari sendirian di jalan raya. batin Vera sembari membayangkan wajah ketakutan orang-orang yang melihatnya.
"Uda jangan cemberut... yuk ku antar pulang." ucap Lucy sembari memegang tangan Vera.
Aduh... gawat ni kalau Lucy tau. Pokoknya aku harus cari alasan. Iya alasan! batin Vera sembari berfikir keras.
"Aku mau di jemput Lu, tadi sudah hubungi supir ku." ucap Vera tersenyum meyakinkan.
"Beneran sudah ada yang jemput?" tanya Lucy memastikan.
"Hmm." dehem Vera pelan sembari menganggukkan kepalanya.
"Ya uda hati-hati ya. Yuk jalan kedepan bareng-bareng." ucap Lucy kembali menggendong Vera. Vera menikmati kendaraan hidupnya itu.
Aku nggak pernah menyangka jika mempunyai sahabat sekuat anak ini. batin Vera sembari tersenyum senang.
Beberapa menit mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di depan kampus.
"Yakin Ver kau nunggu di sini aja?" tanya Lucy memastikan.
"Iya Lu aku nunggu di sini saja." ucap Vera tersenyum di balik cadarnya.
"Ya sudah aku mau ke parkiran dulu ngambil kereta(motor)." ucap lucu lalu pergi meninggalkan Vera.
"ok." jawab Vera singkat tanpa melepaskan pandangannya ke arah Lucy.
__ADS_1