Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Bab 5 (Lelet Seperti Siput)


__ADS_3

Tak ingin membuang waktu, Vera segera memesan taksi. Gadis ini sangat kuat bertahan di terik matahari sendari tadi. Setelah beberapa menit menunggu, taksi yang di pesannya pun datang.


Uh,,, baru datang dia. Nggak tau apa orang kepanasan nungguin! Bukannya ngebut bawah mobilnya! batin Vera kesal dengan supir taksi yang datang sedikit lama. Vera yang sudah kepanasan segera masuk ke kursi penumpang. Gadis itu duduk bermalas-malasan di sana.


Enaknya,,,Adem lagi! Begini kenapa dari tadi. Kan enak! Batin Vera dengan tubuh yang sangat rileks.


Vera menikmati kesejukan ac mobil. Pinggul Vera tak bisa diam. Supir taksi yang memperhatikan kelakuan Vera hanya menggeleng bingung.


Mbak ini kenapa ya? seperti orang bisulan saja.


Supir taksi hanya bisa bergumam dalam hati tanpa bisa mengucap secara langsung, Karena takutnya, gara-gara dia salah ngomong Vera membatalkan orderannya.


Vera berhenti menyender. Gadis itu menegakkan tubuhnya lalu melirik ke arah supir taksi. “Wak lama lagi ya?!” tanya Vera kesal pada supir taksi yang lamban membawa mobilnya.


Uwak-uwak. Dia kira aku uwak dia! Orang masih muda gini di panggil uwak. Hmm... Batin supir taksi kesal.


Supir taksi hanya bisa mengumpat dalam hati. Wajahnya sedikit masam dan tidak bersahabat. “Maaf mbak sebentar lagi kita sampai tujuan,” ucapnya dengan senyum terpaksa. Hatinya sudah terbakar, tetapi supir taksi itu segera menepisnya.


“Cepat sedikit kenapa Wak. Kawan aku sudah nungguin loh Wak,” ucap Vera sedikit memaksa. Wajahnya yang jutek kini terlihat sedikit merajuk seakan mengatakan pada supir taksi jika ia sedang tertekan. Supir taksi hanya bisa mengelus dada menghadapi perilaku Vera.


Penumpang tak ada akhlak. Ku sleding ginjalnya baru tau dia. Bersabarlah wahai diri... Kalau kau marah, uangmu akan lenyap. Payah anak gadis sekarang... Batin supir taksi dengan wajah datar bercampur kesal.


Supir taksi mencoba bersabar dan menahan diri menghadapi Vera. Supir taksi itu memilih fokus melihat jalan. Vera yang gabut pun mulai bernyanyi.


“Siput o siput... Kenapa kau lelet... Macam mana aku tak lelet, Aku sudah tua. Hhhhhh,” Vera bernyanyi seakan menyindir supir taksi online itu. Dia tertawa dengan nyanyiannya sendiri. Supir taksi itu membulatkan matanya ketika mendengar lagu sindiran Vera. Sepertinya supir taksi itu tertekan. Semoga saja dia tak di larikan ke rumah sakit jiwa.


Tak lama, sampailah Vera di depan rumah Lucy. Supir taksi menghentikan mobilnya. Setelah mobil berhenti, Vera langsung memberikan uang merah kepada supir itu. ”Makasih ya Wak. Hehehe.” ucapnya memperlihatkan senyum mengejek.

__ADS_1


Supir taksi tersenyum paksa. “Sama-sama mbak,” balasnya sembari mengeluarkan dompetnya untuk mengambil kembalian Vera. Vera yang paham maksud supir itupun langsung menghentikannya.


“Nggak usah di kembalikan Wak. Sisanya untuk uwak saja, untuk servis mobil, biar nggak mogok,” ucapnya tersenyum mengejek. Dengan cepat Vera turun dari mobil itu.


Nggak ada akhlak ni anak. Sial kali hari ini aku mendapat penumpang nggak ada akhlak kayak dia! umpat nya dalam hati.


“Makasih ya mbak,” ucap supir grab itu manis sembari tersenyum di buat-buat. Padahal api di dalam hatinya sudah meletup-letup seperti gunung berapi.


“Iya wak siput 🐌. Eh maksudnya Wak taksi. Hehe,” ucapnya sengaja sembari terkekeh geli. Dengan cepat, Vera meninggalkan taksi itu.


“Sialan!” umpat supir taksi ketika Vera sudah menghilang dari pandangannya. Sayang sekali supir taksi itu hanya bisa mengumpat di belakang orangnya. “Huh..” Membuang nafas kasar sembari menghidupkan mesin mobilnya. Tanpa membuang waktu, supir taksi pun pergi dari kawasan perumahan Lucy.


Vera berjalan menuju rumah Lucy. Dengan penuh antusias Vera mulai mengeluarkan suara cemprengnya. “Assalammualaikum cinta,” teriak Vera sembari menyelonong masuk.


Terkejut, Sasa terkejut. “Wa’alaikumussalam," ucap Sasa yang sedang berada di ruang tamu sembari memainkan handphonenya. Vera melirik Sasa sembari tersenyum manis.


Sasa memberi isyarat menggunakan matanya sembari berkata, “Di dapur Ver, masuk saja!” ucap Sasa datar lalu kembali memainkan handphone miliknya.


“Ok.” Vera tersenyum sembari berlalu menuju dapur.


Setelah berjalan beberapa langkah, Vera pun menemukan Lucy yang sedang duduk di meja makan. Terlihat lucy sedang serius membaca buku yang berada di tangannya.


“Assalammualaikum,” teriak Vera mengagetkan, tetapi sayang lucy tak kaget. Vera yang melihat Lucy biasa saja memanyunkan bibirnya. Dia kesal melihat Lucy yang tak respect. “kenapa nggak kaget kau Lu!” kesal Vera menatap Lucy dengan datar.


“Astaghfirullah. Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ngagetin aja kau!” kesal Lucy pada Vera.


“Terlambat!” ucapnya mulai merajuk. Lucy hanya tersenyum lucu melihat sikap Vera.

__ADS_1


Vera mendudukkan pinggulnya di kursi sebelah Lucy. Tubuh gadis itu miring menghadap Lucy. “Kau lagi apa Lu?” pertanyaan bodoh Vera. Lucy sangat malas menjawab pertanyaan yang aneh dan tak bermutu, sebagaimana pertanyaan yang di lontarkan Vera.


“Nyuci!” ucap nya asal dengan tampang kesal.


Vera menaikan satu alisnya lalu berkata, “Nyuci-nyuci. Megang bukunya kau,” ucap Vera kesal dengan mulut nyinyir. Ia mencoba menetralkan emosi di hatinya.


“Kalau uda tau kenapa nanyak!” ucap Lucy datar dan dingin. Lucy kesal dengan tingkah kekanak-kanakan Vera. Vera mengangkat sebelah alisnya tak senang.


“Nggak boleh memang?” tanyanya sedikit cemberut.


“Terserah kaulah,” ucap Lucy sangat malas berdebat Dey Vera.


“Sleep,” Vera menarik buku yang di baca Lucy. Vera meletakkan buku itu di belakang punggung nya.


“Apaan sih Ver,” Lucy kesal bukunya di ambil secara tiba-tiba.


“Aku tu lagi kesal hari ini! Jadi bisa nggak jangan duakan aku dengan bukumu ini!” ucapnya kesal pada Lucy.


Lucy yang sudah menjiwai sikap Vera membuang nafas kasar. Dengan penuh sabar Lucy mengikuti kemauan Vera. “Ada apa lagi sih? Coba cerita,” tanya Lucy sembari bertumpuh pada kedua tangannya. Saat ini Lucy sedang tak enak badan sehingga bawaannya lemas dan malas.


Vera kembali ke posisinya, gadis itu mulai curhat dengan wajah yang memelas sedih. “Tadi pagi aku telat," ucap Vera dengan sedih dan bibir mewek. Lucy hanya melihat Vera dengan tatapan malas.


“Terus?” Lucy menanggapi dengan datar.


"Aku di keluarkan dari kelas sama dosen Killer yang menyebalkan itu!” ucapnya dengan wajah memerah ketika terlintas di pikirannya tampang dosen Kiler itu. Ya siapa lagi kalau bukan Drag.


Lucy mengernyit heran ke arah Vera. “Emang kau datang jam berapa?” tanya Lucy dengan penuh rasa penasaran.

__ADS_1


Vera melihat kuku-kukunya lalu berkata, “Cuma telat dikitnya aku Lu. Aku datang jam 08:30 kok,” ucapnya dengan santai tanpa merasa bersalah.


__ADS_2