
Vera masih menatap mata Lucy dengan mata yang sayu. Tangan mereka masih tertaut satu sama lain. Lucy masih setia mendengar penjelasan Vera. "Belum lama Lu, mungkin sekitar hampir sebulan." ucap Vera dengan nada sendunya.
"Bisa kali kau lupa kapan nikah. Hhhh, Vera-Vera." kekeh Lucy dengan tangan yang mengelus lembut bahu Vera.
"Ya gimana lagi Lu, kami saja di jodohkan, itupun nikahnya mendadak, seakan aku hamil di luar nikah!" kesalnya mengingat semuanya.
"Uda, syukuri aja. Kalau yang di jodohkan baik kan Alhamdulillah." ucap Lucy membuat Vera mengangguk setuju. Gadis itu mengingat semua sikap perlakuan baik Drag terhadapnya.
Aku baru sadar, ternyata aku termasuk salah satu wanita beruntung itu. batin Vera merasa bersalah memperlakukan suaminya dengan sikap yang tak pantas.
"Halo." tegur Lucy membuyarkan lamunan Vera.
Vera yang terkejut segera mengalihkan pandangannya ke arah Lucy. Dia tersenyum malu dengan tangan yang menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gi-gimana-gimana Lu?" tanya Vera sedikit gugup.
"Apa Vera baik-baik aja?" tanya nya lembut. Lucy paham dengan posisi Vera saat ini. Ia sangat peka dengan perasaan Vera. "Hm, kalau kurang nyaman bercerita, tak apa Vera. Itu kan hak dan privasi mu. Aku boleh mengetahui apa yang kau izinkan untuk aku ketahui. Begitu pun sebaliknya, kau boleh tau tentangku apa yang aku izinkan untuk tau. Ok." ucap Lucy memberikan senyum lembutnya pada Vera.
"Makasih ya Lu." ucapnya di sertai rasa kagum. Dua sahabat itupun saling memeluk satu sama lain.
"Sama-sama." ucapnya mulai ke mode aslinya.
Cukup lama mereka berbagi cerita, kini jeda mata kuliah sudah habis. Lucy dan Vera berjalan beriringan memasuki area kelas. Dari lain arah terlihat Monica menatap nyalang ke arah Vera dan Lucy. Lucy yang tau jika Monica menatap nya dan Vera, segera menyerang balik tatapan itu dengan mata tajamnya. Tatapan tajam Lucy berhasil membuat Monica menunduk kan pandangan nya.
Benci banget sama sih kura-kura ninja! batinnya kesal mengingat ekspresi Lucy dari balik cadarnya.
"Tumben sekali dua gadis gila nggak masuk Lu?" bisik Vera sembari melirik kursi Grisela dan Glow.
"Sudahlah Ver, nggak penting juga!" ucapnya menatap Vera sebentar lalu kembali fokus ke depan.
"Iya Lu." ucapnya sembari mengangguk pelan.
Beberapa menit menunggu, kini dosen mata kuliah lainnya sudah masuk ke dalam kelas. Semua mahasiswa duduk tenang mendengar penjelasan dosen di depan.
Di negara yang berbeda, terlihat Gaura berada di sebuah perusahaan besar. Wanita itu sedang berduduk manja di pangkuan CEO mighty. Perusahaan mighty adalah perusahaan terbesar yang hampir masuk tingkat dunia. Tak jarang perusahaan ini berlomba-lomba dengan perusahaan tingkat tinggi lainnya termasuk perusahaan Abraham Grub.
Di sopa ruang CEO itu masih terlihat dua manusia yang saling bermanja. Gaura yang pada dasarnya nakal tak segan-segan membelai dada bidan Martin. Ya, Martin adalah pemilik perusahaan mighty. "Apa kau tak bosan duduk di pangkuanku terus sayang." ucap Martin menerbitkan senyum devil nya. Dia benar-benar jatuh kedalam pesona Gaura.
"Aku tak akan pernah bosan bermanja padamu." ucap Gaura sangat manja dan penuh godaan.
__ADS_1
Martin menerbitkan senyumnya lagi melihat tingkah manja Gaura yang di luar batas. Karena gemas dengan wanita di pangkuan nya, Martin segera mendarat kan ciuman di buah cery Gaura. Ciuman itu berubah menjadi lebih panas. Gaura yang sudah di bakar api gairah segera meminta Martin untuk melakukan yang lebih. Martin menatap Gaura dengan tatapan penuh gairah. Ketika hendak menyerang Martin lagi, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.
"Ct. Mengganggu saja!" decit Gaura menatap tajam ke arah pintu. Martin yang melihat wajah kecewa Gaura hanya tersenyum sinis.
"Masuk." perintah Martin ketika sudah membenarkan posisi duduknya bersama Gaura.
Karena sudah mendapat izin, orang yang mengetuk pintu tadi segera masuk. Terlihat wanita culun berkaca mata besar masuk ke ruangan itu. "Maaf tuan, ini berkas yang anda minta." ucap Loly yang tak lain ialah sekretaris CEO. Gadis itu sama dengan Gaura yang berasal dari negara Indonesia.
"Hm, letakan di sana." perintah Martin sembari menunjuk meja dengan sorot mata tajamnya.
"Baik tuan." ucap Loly lalu segera melangkah kan kakinya menuju pintu keluar.
Martin dan Gaura terus memperhatikan Loly yang terlihat tak memperdulikan mereka. "Tunggu!" ucap Martin dengan suara berat nan datarnya.
Loly yang di panggil pun segera mengehentikan langkah nya lalu menoleh kan wajahnya ke arah Martin. "Ada apa tuan?" tanyanya sangat datar.
"Buatkan kekasihku jus." perintah Martin membalas tatapan datar Loly.
"Maaf tuan, saya sekretaris bukan obe." tolaknya dengan tegas lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
Terserah dia sajalah! ketus Loly dalam hati.
"Kurang aj*r sekali bawahan mu itu sayang, pecat saja dia!" ucap Gaura mencoba mempengaruhi Martin.
Martin menatap Gaura dengan datar. "Aku tak bisa memecatnya. Perusahaan ini masih membutuhkan nya." ucap Martin membuat Gaura menghela nafas kesal. Tak ingin menunda pekerjaan nya, Martin segera kembali ke mejanya dan mengecek semua berkas yang di letakan Loly di mejanya.
"Ting." terdengar suara notifikasi dari handphone milik Gaura. Gaura segera membuka handphone nya dan melihat sang pengirim pesan.
Sayang, ada suatu hal penting yang ingin papa bicarakan. Jika sudah kembali ke apartemen, segera hubungi papa ya nak.
Gaura terus menatap pesan singkat itu dengan fikiran yang bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang ingin di bicarakan papanya. Tak biasanya papa Gaura meminta izin untuk melakukan panggilan. Gaura yang tak ingin pusing segera mengembalikan handphone nya ke tempat semula.
"Sayang,,,kita belanja yuk." ajak Gaura yang sudah duduk di sisi kursi Martin. Martin yang mendengar itu menghentikan kegiatan menulisnya. Kini mata tajam Martin menatap Gaura dengan penuh cinta. Gaura yang di tatap segera menerbitkan senyum indahnya yang seperti bunga bangkai, Indah dan bau.
"Sebentar ya sayang, sedikit lagi perkerjaan ku selesai." jawab Martin menampilkan senyum berlesung pipi nya.
"Ma aci cayang." ucap Gaura dengan suara sok imut. Martin mengangguk dengan senyum manisnya. Gaura tersenyum senang dengan tubuh yang memeluk kekasih nya itu.
__ADS_1
Beberapa menit menunggu, Martin sudah menyelesaikan pekerjaan nya. Gaura sangat senang Karena hari ini ia akan berbelanja banyak barang mewah. Dan tentunya Martin yang membayarnya.
"Culun!" panggil Martin setelah berada di luar ruang kerjanya. Mata tajam itu terus menatap ke arah meja sekretaris yang berada di luar.
"Iya tuan." sahut Loly dengan nada yang tak bersahabat. Ia paling tak suka jika seseorang memanggilnya dengan sebutan culun.
Ingin sekali rasanya ku sliding bos gila ini. batin Loly memancarkan sorot mata tak bersahabat.
"Bersihkan ruangan ku. Ingat, jangan sampai barang-barang ku rusak. Mengerti!" ucapnya penuh penekanan. Membuat Loly mengerucut kan bibirnya.
"Baik tuan." ucapnya singkat tak ingin berlama-lama berbicara dengan bos galak nan gilanya.
"Yang bersih ya culun!" ucap Gaura ikut menghina Loly.
"Iya nona murahan." ucapnya spontan membuat sepasang kekasih itu menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Loly. "Maksudnya, iya nona muda membahana." ucapnya sedikit gugup dengan tatapan imitasi dari dua orang di depannya.
"Aku memang membahana. Yuk sayang." ajak Gaura melempar tatapan sok cantik ke arah Loly.
"Hm." sahut Martin lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Sepasang kekasih yang serasi. Serasi dalam cinta bodohnya. Dasar idiot! umpat Loly sembari menatap lurus punggung dua orang yang sudah hampir menghilang di telan tembok.
Dengan perasaan gusar bercampur kesal, Loly masuk ke ruang CEO lalu segera membersihkan setiap sudut ruangan. Ia sangat berhati-hati dalam melakukan pekerjaan nya.
***
"Ini untukmu Lu." ucap Vera memberikan satu undangan pernikahan pada Lucy. Lucy masih menatap datar undangan yang sudah berada di tangannya.
Vera dan Drag. batin Lucy dengan mata yang langsung beralih menatap mata Vera.
"Vera dan Drag?" tanya Lucy setengah berbisik. Ia tak ingin semua orang di sekitar nya mendengar pembicaraan nya dengan Vera. Vera yang di tanya hanya mengangguk dengan senyum simpul di wajahnya.
"Apa Drag dosen kita?" tanya Lucy mencoba memastikan lagi. Lagi-lagi Vera hanya mengangguk di sertai senyuman.
"Maa syaa Allah, selamat Vera." ucap Lucy sangat bahagia. Saking bahagianya, gadis tomboy itu sampai memeluk Vera dengan erat. Semua orang yang berada di kelas menatap heran pada dua wanita yang tengah berpelukan itu.
Hm, kenapa mereka? mencurigakan! batin Monica ingin tahu apa yang membuat dua orang yang di bencinya bahagia.
__ADS_1