Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Bab 9


__ADS_3

"Cup cup cup...anak kesayangan papa. Ini demi kebaikan kamu sayang, mama dan papa sudah tua dan banyak urusan...Kalau kami sudah tiada, siapa yang akan menjagamu nak? Sudah ya jangan sedih, Drag itu anak yang baik loh. Dia bersikap seperti itu karena menginginkan kebaikan buat mahasiswanya. Itupun di kampus , kalau di rumah mana mungkin begitu." bujuk papa Vera mencoba memprovokasi sembari menjelaskan dengan penuh kelemah-lembutan.


"Kamu mau ya nikah dengan nak Drag." bujuk papanya dengan penuh kelembutan, karena mereka tau semakin mereka keras dengan Vera, maka semakin pembangkang sifatnya. Itulah Vera yang tak bisa lembut dengan seseorang, tetapi maunya di lembutin sama orang. Sangat aneh. Vera hanya mengangguk pasrah tanpa berucap. Bibirnya sedikit mewek. Rencana papanya berjalan lancar ketika berhasil meluluhkan Vera dengan jurus andalannya. 


"Ya sudah sayang, pergi tidur sana. Mama dan papa mau istirahat juga, capek." ucap Sela segera berlalu pergi dengan tangan yang menggandeng lengan suaminya.


Begini banget nasib aku! Batin Vera kesal sembari melihat kepergian kedua orang tuanya.


Lama Vera terdiam di ruang keluarga, Vera akhirnya memilih pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Tubuhnya juga sudah lelah di sebabkan seharian melakukan banyak aktivitas. "Hmm....Pegel banget" Vera merenggangkan tubuhnya sembari menguap. Vera memanjakan tubuhnya dengan cara telentang lalu menggerakkan tangan dan kakinya. Tidak ada sedikitpun niat Vera untuk mengganti bajunya dengan baju tidur. Belum begitu lama dan tak terasa Vera sudah pulas dalam tidurnya. Gadis ini tak merasakan risi sedikitpun dengan pakaian yang di kenakan nya.


Remang-remang malam yang di hiasi suara jangkrik dan katak mendominasi tidur vera yang semakin lelap. Waktu terus berjalan, tak tau jam berapa sekarang. Vera masih setia dengan tidurnya. Semakin nyenyak nya, Vera tak sadar jika liur nya menganaik sungai yang meluncur ke bantal. "Drt..drt..drt.." Suara alarm berbunyi sangat nyaring. Bahkan semakin nyaring nya, bunyi itu bisa terdengar sampai lantai bawah. "Mampus..." ucap Vera kaget mendengar alarm yang di setel nya sendiri.


Nyawanya belum terkumpul. Vera mengucek mata dan memicingkan matanya melihat angka di alarm. Vera mengangkat kedua tangan dan meletakkannya di punggung kepala.


"Aku terlambat kuliah lagi. Pasti dosen killer itu yang masuk." ucap Vera sembari berlari kocar-kacir menyiapkan diri. Vera segera mungkin mandi dan berganti baju. Gadis ini bahkan tak mandi melainkan hanya melakukan jurus dua jari. Hanya alisnya saja yang basa terkena air. Ketika Vera hendak keluar kamar, dia terdiam sejenak.


Aduh Vera...sabtu dan minggu kan libur! Serba pelupa kau ya! Vera mengingat ucapan Lucy kemarin


Terdiam dan terduduk di lantai, tepatnya di depan pintu kamarnya yang tak jauh dari tangga. Wajah Vera terlihat syok. Mungkin siapa saja yang melihat kelakukan nya, akan tertawa dan menggodanya. "Iya-ya, ini kan masih hari libur..." ucapnya baru sadar. "Untung saja aku belum sempat turun! kalau nggak, apa nggak malu banget di lihat mama dan papa." ucap Vera bersyukur karena tak jadi malu.


Huh...Selamat. Batin Vera senang dengan tangan yang mengelus dadanya.


Vera kembali ke dalam kamarnya lalu  meletakan buku yang sempat ia bawa tadi. Setelah meletakkan perlengkapan kuliahnya di tempat semula. Vera segera melangkahkan kakinya menuruni anak tangga lalu berjalan menuju ruang makan. "Selamat pagi pa, ma." sapa Vera pada kedua orang tuanya dengan sedikit senyum kecil.


"Pagi sayang." ucap kedua orangnya secara bersamaan. Vera mulai meletakkan pinggangnya di kursi langganannya, lalu mengambil sehelai roti dan mencelupkannya ke gelas yang berisi  teh hangat. Dia memakan makanan nya dengan tenang dan nikmat. Vera kurang suka memakan roti berselai dan meminum susu hangat di pagi hari. Gadis ini sudah seperti bapak-bapak yang menyukai roti yang di celup ke teh manis hangat.


Sela membuka pembicaraan. "Sayang hari ini sampai hari pernikahanmu, kamu nggak boleh keluar tanpa ada mama, karena calon pengantin itu darahnya manis." nasehat Sela mengikuti tradisi dari zaman ke zaman. Vera tercengang dan menghentikan kunyahan nya. Mulut gadis itu masih penuh dengan roti tawarnya. Dia menatap mamanya dengan dahi yang berkerut heran.


"Masa sih ma nggak boleh keluar?!" ucap Vera tak terima di kurung di rumah. Bagaimana bisa gadis sepertinya berkurung di rumah terus? Bisa bisa hidupnya menjadi hampa dan kosong.


"Benar kata mamamu sayang, ini demi kanaikan kamu" sambung Ronal sembari meletakan cangkir kopinya.

__ADS_1


Vera cemberut melihat meja. "Hmm..." Vera berdehem kesal lalu melanjutkan mengunyah rotinya.


"Nanti kita ke butik ya, cari baju kebaya.” ucap Sela memecahkan keheningan.


"Tapi katanya nggak boleh keluar." ucap Vera membalikan kata-kata mamanya. Mamanya hanya menghela nafas sabar.


"Kan sama mama keluarnya. Nurut kenapa sih nak, jangan nakal-nakal. Dewasalah, sudah mau jadi istri orang pun." ucap Sela tersenyum menggoda.


Vera menatap mamanya dengan pandangan bete. Dia memakan kembali roti tawar yang di celupkan ke teh manis. Tanpa sadar, Vera sudah menghabiskan sepulu roti tawar serta setengah teko teh manis hangat. Tambah berisi lah tubuh Vera. Sudah gembul semakin gembul.


Menyebalkan sekali mama ku ini. Untung saja mama ku, kalau bukan, uda pergi dari tadi aku ni. Batin Vera ngedumel dalam hati.


“Cepat habiskan makanannya. Dari tadi kamu nambah terus...enak ya sayang?” tanya mamanya sembari mencoba memakan roti tawar yang di celup ke dalam teh hangat.


"Iya ma." ucap Vera singkat dengan anggukan pelan. Mama Vera menganggukkan kepalanya menikmati roti tawar yang di celup ke dalam teh. Ternyata memang benar enak. Pantas saja anaknya itu sendari tadi tak kelar-kelar memakan sarapannya.


***


Vera mengambil tas ranselnya lalu berjalan dengan mood yang rusak.


"Malas banget deh" Menampilkan wajah bete. 


Mama Vera sudah tidak sabar dengan keleletan Vera. Dengan cepat mamanya pun menyusul ke lantai atas, tepatnya kamar Vera.


"Nggak bisa cepat ni anak, kalau nggak di samperin dulu." Vera dan mamanya bertemu di tangga. “Lama banget!” omel mama Vera dengan nada yang tegas. “Ayo cepat" ucap Sela yang tak sebaran. Wanita tua itu menarik tangan Vera dengan paksa.


"Ehh tas ku ma" ucap Vera mengambil tasnya yang terjatuh.


"Lama banget kamu" kesal mama Vera yang sudah seperti mama tiri.


“Bukan Vera yang lama ma, tapi mama saja yang terlalu terburu-buru." jawab Vera.

__ADS_1


"H, h, jawab terus" ucap sela mengulurkan nada yang mengancam. Wanita tua itu meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Hehe..." Vera hanya bisa terkekeh tanpa bisa membantah, soalnya dia takut kalau mamanya sudah mengeluarkan taringnya.


Vera tersenyum terpaksa. "Ayo Mama ku sayang...Katanya mau cepat" ucap Vera mengalihkan kemarahan mamanya.


"Yuk" ucap mamanya singkat.


Mereka segera berjalan keluar menuju mobil lalu memasuki nya. Setelah masuk ke mobil, supir mulai menjalankan mobilnya. "Ke butik xxx ya pak" perintah Sela pada supir. Supir melirik spion depan lalu mengangguk kan kepalanya dengan pelan.


"Baik nyonya." ucap sang supir.


Di perjalanan tidak ada satu katapun yang terdengar, mama Vera sibuk chattan dengan teman arisannya, sedangkan Vera sibuk melihat jalan yang ia lewatinya.


 


Bosan bangettttt...Apes banget aku dari semalam. Batin Vera merana.


"Sudah sampai Nyonya" ucap sang supir setelah menghentikan mobilnya, tepat di depan pintu masuk butik. Menepuk tangan Vera pelan.


"Yuk sayang" Sela segera turun yang di ikuti Vera.


Loh kok cepat? baguslah. Rupanya waktu masih berpihak padaku. Hhhhh. Batin Vera senang.


Vera dan mamanya turun dari mobil dan langsung masuk butik terkenal dan mempunyai kualitas yang sangat bagus itu. "Cantik-cantik banget kebayanya, kainnya juga bagus." puji sela ketika melihat baju-baju yang di pajang di butik itu.


Apanya bagus, orang berenda-renda gitu, kembang-kembang pulak tu sebagian. Seandainya orang yang mengenakannya di kejar anj*ng gimana ya?! Hhhhh nggak bisa aku bayangkan. Batin Vera mengada-ngada. Benar-benar ya Vera.


Terlihat wanita sosialita yang sedang berjalan ke arah Vera dan mama. Wanita itu terlihat seumuran mama Vera. "Selamat datang jeng" ucap pemilik butik itu sembari tersenyum. Siapa lagi kalau bukan teman arisan mama Vera.


“Iya jeng.” ucap Sela sembari cepika-cepiki dengan sahabat sosialitanya itu.

__ADS_1


"Ini anak saya, namanya Vera. Anak saya inilah yang mau menikah jeng" ucap sela tersenyum lembut.


__ADS_2