Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Pertengkaran dua geng.


__ADS_3

Di kediaman Grisela, terlihat gadis itu mondar mandir tak jelas dengan mulut yang menggigit kuku-kuku jarinya. Ia masih cemas dengan keadaan Glow. Jika tau hal ini akan terjadi, mungkin ia akan mengurungkan niatnya untuk menjebak Vera bersama teman-teman lainnya. Sekarang dia tak tau harus melakukan apa agar Glow memaafkan dan kembali berteman dengannya.


"Non." panggil pelayan sembari mengetuk pintu kamar Grisela. Grisela yang mendengar itu segera mengalihkan pandangannya ke asal suara.


"Iya bi." ucapnya sembari berjalan ke arah pintu lalu membukanya.


"Cklek." Grisela dan pelayan nya sudah berpapasan. "Ada apa bi?" tanya Grisela tanpa wajah sombong nya.


"Maaf non, ada nona Monica dan temannya di ruang tamu." ucap Bibi dengan sopan.


Grisela mengangguk pelan lalu segera melangkahkan kakinya menemui teman-teman nya. Sedangkan pelayan itu kembali menyelesaikan perkejaan nya.


"Tak-tak-tak." Suara sepatu yang bergema di ruang tamu membuat Monica dan yang lainnya melihat ke asal suara.


"Gris." panggil nya segera mendekati Grisela yang menampilkan wajah datar dan juteknya.


Kini Grisela berhenti dengan tangan yang di lipat di dadanya. Grisela menatap malas ke arah teman-teman nya kecuali Stevia. "Duduklah." ucap Grisela masih memperlihat kan ekspresi yang sama. Monica dan yang lainnya segera duduk ketika mendengar perintah Grisela.


"Grisela, bagaimana keadaan Glow?" tanya Monica membuka pembicaraan. Sorot matanya menampilkan wajah cemas nan takut.


"Lupakanlah, dia tak ingin berteman dan bertemu dengan kita lagi. Bahkan Glow berniat pindah ke universitas lain." ucapnya dengan mimik datar dengan hati yang sedih.


"Pulanglah kalian, aku tak ingin di ganggu untuk saat ini!" usir Grisela lalu segera melangkahkan kakinya meninggalkan teman-teman nya di ruang tamu.


"Gris,,," panggil Monica hendak mengejar Grisela tetapi bahunya di tahan oleh Sena.


"Sudahlah Monica, tak penting juga kita berteman lagi dengan mereka. Lagian zaman sekarang pergaulan bebas itu sudah wajar, bahkan tren zaman sekarang, Mereka saja yang lebay!" ucap Sena tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia juga menampilkan wajah datar pertanda tak peduli.


"Bagaimana bisa kau mengatakan itu Sen! mereka itu teman kita!" bentak Monica tepat di depan wajah Sena. Jangankan sakit hati, peduli saja dia Tidak.

__ADS_1


"Tak penting! ayo teman-teman kita pergi dari rumah Grisela yang tak tau diri itu!" ketus Sena dengan wajah sombong nya. Tika segera mengangguk sembari mengikuti langkah kaki Sena, sedangkan Stevia masih berdiri di tempat nya memandang penuh prihatin ke arah Monica.


"Stevia!" panggil Sena dengan sedikit teriakan. Dari suaranya sudah bisa di pastikan jika wanita itu tengah melampiaskan amarahnya pada Stevia.


Stevia yang mendengar bentakan itu menatap teduh ke arah Sena dan Tika sembari berkata, "Kalian duluan saja, aku masih ingin berada di sini." ucap Stevie dengan wajah imut yang terlihat takut.


"Kau sudah berani membantah ya, apa kau mau keluar dari geng kita?!" tanya Sena dengan tatapan tak bersahabat. Sama halnya dengan Sena, Tika pun menatap tak bersahabat ke arah Stevia.


"Maaf teman-teman, aku masih mau di sini." ucapnya dengan nada lemah tetapi masih bisa di dengar semuanya. Monica menghilangkan raut wajah sedihnya lalu menatap nyalang ke arah Sena. "Dasar jal*ng tak punya perasaan, pergi kalian! jika kalian tak mau berteman dengannya, kami yang akan menjadi temannya." ucap Monica membelah Stevia yang masih menatap takut dua orang di depannya.


"Apa kau tak pernah berkaca? jal*ng kok teriak jal*ng. Sebelum mengatakan ku jal*ng sebaiknya kau introspeksi terlebih dahulu!" ucap Sena menantang dengan suara yang ketus.


"Dasar jal*ng brengsek!" bentak Monica lalu berlari ke arah Sena dan menghajarnya. Sena yang tak terima rambut nya di Jambak segera menjambak balik rambut indah Monica, tak lupa Tika juga ikut membantu nya. "Rasakan ini jal*ng!" bentak Sena memukul kepala Monica dengan sekuat tenaga. Stevia yang kasihan melihat Monica di keroyok, segera membantu Monica dengan mengumpulkan semua keberanian nya.


"Lepaskan Monica!" teriaknya menjambak rambut Tika lalu mengantuk kan kepalanya ke lantai. "Rasakan ini." pukul Stevia penuh amarah. Selama ini dirinya hanya di jadikan sebagai boneka berjalan oleh Sena dan Tika. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk membalasnya.


Stevia segera melepaskan Tika yang sedang terbaring lalu beralih membantu Monica menyerang Sena. "Bruk." dengan sekuat tenaga Stevia menendang perut rata Sena membuat darah mengalir dari kakinya. Sena berteriak kesakitan memegang perutnya. Ia menangis melihat darah di bawah sana.


Dari jauh terlihat kedua orang tua Grisela lari ke arah keributan itu. Para keamanan dan pelayan memenuhi ruang tamu yang sudah berantakan, sedangkan Grisela kembali ke ruang tamu ketika mendengar keributan teman-teman nya. "Cepat bawah gadis ini ke rumah sakit." perintah Dio pada bodyguard nya. Tika menatap penuh permusuhan pada dua wanita di depannya lalu segera ikut menyusul Sena yang di larikan ke rumah sakit.


"Ada apa ini sebenarnya!" tanya Dio dengan nada tegasnya. Matanya sudah menghunus tajam ke arah Grisela, Monica dan Stevia. Penampilan Monica dan Stevia saat ini benar-benar sangat berantakan.


"Maaf om." ucap Stevie dan Monica secara bersamaan, mereka terlihat enggan menjelaskan semuanya. Bahkan Grisela memberi kode pada keduanya dengan sorot mata tajamnya.


Jangan cerita, habislah jika orang tuaku mengetahui semuanya. batin Grisela dengan dada yang berdetak cepat. Saat ini ia sangat panik dan takut jika kenakalannya di ketahui kedua orangtuanya.


"Grisela." panggil Dio dengan tegas membuat Grisela bergegas melangkahkan kakinya mendekatinya.


"Iya pa." ucapnya pelan dengan wajah takut.

__ADS_1


"Bawa teman-teman mu ke kamar dan obati lukanya." perintah Dio lalu mengalihkan tatapannya ke arah pelayan. "Bersihkan tempat ini." perintahnya lagi pada para pelayan lalu segera pergi bersama istrinya menuju kamar.


"Baik tuan." ucap para pelayan secara bersamaan. Setelah ruang tamu itu kosong, mereka segera membersih kan ruangan itu. Tak lupa mereka mengelap darah Sena di bawah lantai. "Kenapa banyak sekali darah nya." ucap salah satu pelayan merasa ngilu melihat darah di lantai itu.


Mengerikan sekali anak zaman sekarang! batin pelayan kedua dengan mata yang terus memperhatikan lantai berlumur darah..


***


Di rumah sakit terlihat Sena di bawah keruang UGD. Kedua orang tuanya sudah berada di sana menunggu dokter keluar. Mereka yang mendapat penjelasan dari Tika sudah tak heran dengan kenakalan anaknya itu.


Satu jam menunggu, kini dokter sudah keluar dari ruang UGD, kedua orang tua Sena segera menghampiri nya. "Bagaimana kondisi anak saya dokter." ucap Papa Sena menampilkan wajah khawatir. Dokter menghela nafas mendengar pertanyaan itu. Karena merasa tak enak berbicara sambil berdiri, dokter segera membawa kedua orang tua Sena ke dalam ruangan nya.


"Katakan dok." ucap Mama Sena menatap serius ke arah dokter.


Dokter lagi-lagi menghela nafasnya mencoba menetralisirkan perasaan nya. "Maaf tuan, anak anda mengalami benturan yang sangat keras pada rahimnya membuat kami tak bisa menyelamatkan janinnya." ucap dokter membuat kedua orang tua Sena sangat syok.


"A-pa yang dokter maksud? anak kami hamil? berapa usia kandungan nya dok?" tanya Papa Sena dengan suara sedikit bergetar.


"Perkiraan kami, usia kandungan nya baru beberapa minggu tuan. Kandungan nya sangat lemah dan rawan, maka sebab itulah benturan kecil bisa membuat anak tuan dan nyonya keguguran." jelas dokter lagi menatap mata kedua orang tua Sena secara bergantian.


"Baiklah dokter, terima kasih atas penjelasannya." ucap Papa Sena sembari memeluk tubuh istrinya yang saat ini tengah menangis.


"Sama-sama tuan." ucap dokter mengangguk pelan. Setelah pembicaraan singkat itu, kini kedua orang tua Sena segera pergi keruangan Sena. Beberapa menit yang lalu para suster sudah memindahkan Sena ke ruang VVIP.


Di ruangan itu terlihat Sena masih memejamkan mata nya. Tubuhnya saat ini terlihat lemah. Dengan pelan Mama Sena mendekati dirinya. "Sayang." panggil nya dengan suara bergetar bercampur kecewa. Sena yang terganggu dari tidurnya segera membuka matanya dan menatap mamanya yang tengah menangis.


"Sena di mana ma? dan kenapa Mama menangis?" tanya Sena sembari memandang wajah Mama nya. Dari jarak yang tak terlalu jauh terlihat Papa Sena menatap penuh amarah pada anaknya itu tetapi ia masih menahannya. "Kenapa kau bisa seperti ini nak." tangis Mama nya pecah kembali membuat Sena menatap bingung. Sejarah nya ia tak pernah melihat mamanya menangis hanya perihal dirinya sakit.


Kenapa mama menangis? dan kenapa Papa menatap penuh amarah padaku? di mana Tika? batinnya sembari mengendarkan pandangan nya mencari sosok Tika.

__ADS_1


__ADS_2