
Ramadhan semakin dekat, karena puasa tinggal hitungan hari membuat para wanita menghabiskan waktunya untuk menikmati berbagai makanan. Vera yang sudah mendapatkan izin dari Drag terlihat sangat senang bisa keluar bareng teman-teman nya.
Dia yang memang suka makan, semakin bertambah nafsu makannya semenjak hamil. Porsi makan Vera doubel dua kali lipat dari makan biasanya. Setiap minggunya berat badan Vera bertambah setengah hingga satu kilo.
Karena Vera tengah hamil, semua orang jadi memakluminya. Bahkan tak jarang para teman-teman nya membelikan segala hal yang di inginkan Vera. "Vera, lihat deh," panggil Stevia dengan suara imutnya sembari mengangkat sebuah gaun yang terlihat nyaman untuk ibu hamil. "Bagus kan? kau harus memiliki nya Ver," ucap Stevie langsung memasukkan baju itu ke dalam keranjang nya.
Tampak nya Vera tak berselera melihat pakaian dan barang branded di sekitarnya. Matanya kini sudah fokus melihat es yang berada di depan toko. "Stev," panggil nya sembari menggoyang kan bahu gadis itu. Stevia yang fokus memilih baju mengalihkan matanya menatap Vera. "Kenapa Ver?" tanyanya dengan wajah santai nya.
"Mau itu,,," ucapnya sudah menunjuk toko es krim.
"Vera, bukankah kau sedang hamil?" ucap Lucy yang tiba-tiba saja sudah berada di sebelah Vera.
"Eh, kau Lu. Buat kaget saja lah!" kesal nya sudah mengelus dada yang sedikit berbeda dengan dadanya yang dulu. Saat ini semua yang ada di tubuh Vera semakin membesar, tetapi Vera tak menyadarinya. "Aku ingin memakan es krim itu Lu,,,boleh ya, sekali saja." mohon nya sembari menggenggam tangan Lucy. Lucy yang tak tega hanya bisa menghela nafas dan menuruti keinginan ibu hamil itu.
"Ayo," ajak Lucy membuat Vera berdecak senang. Kini Lucy, Vera, dan Steve berjalan menuju toko es krim. Sepanjang jalan tak hentinya bibir Vera melengkung indah membuat wajah gembul nya terlihat imut.
"Bang, es krim tiga ya," ucap Lucy pada penjual es krim.
"Mau rasa apa saja mbak?" Lucy melirik Vera dan Stevia secara bergantian seakan bertanya rasa es krim yang mereka suka.
"Aku rasa vanila lu," ucap Stevia sembari melirik beberapa jenis es krim.
"Lu aku mau es krim coklat, vanilla, stroberi, dan es krim biasa ya," ucap Vera membuat Lucy tercengang di tempat nya dengan bibir yang sedikit terbuka di balik cadarnya.
"Kau yang betul-betul aja Vera,,," ucap Lucy dengan nada datar membuat Stevia yang mendengarnya bergidik ngeri. Lain halnya dengan Vera yang sudah terbiasa dengan sikap cuek nan datar Lucy. Vera semakin mendekatkan tubuhnya pada Lucy lalu menggapai tangannya.
"Bolehlah Lu, debay nya mau es krim," rayunya dengan wajah sendu penuh permohonan.
"Huh," helahan nafas Lucy terasa hangat di wajah Vera. "Keinginan debay atau keinginan mu bumil? memang kaulah!" omel Lucy tetapi tetap membelikan es krim yang di inginkan Vera.
"Hehehe, makasih sayang," ucapnya memeluk pinggang Lucy dengan sangat posesif.
__ADS_1
Karena kasihan melihat Vera terus berdiri, akhirnya Lucy mengajak kedua wanita itu untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan penjual es krim. "Enak?" tanya terlihat cuek tapi sangat perhatian. Lucy mengelap keringat Vera menggunakan tisu mini yang selalu ia bawa kemanapun.
Bukannya menjawab, Vera hanya asik pada beberapa es krim yang berada di depan nya. "Ver mau coba," ucap Stevie hendak mengambil es krim biasa milik Vera. Vera yang melihat sendok Stevia semakin mendekati mangkuk es krim nya, segera menghentikan tangan itu membuat Stevia terdiam di tempatnya.
"Nggak boleh," tolaknya dengan suara yang sangat manja seperti anak kecil yang tak ingin mainan di ambil.
"Vera pelit ya," goda Stevia tetapi di anggap serius oleh Vera.
"Hiks, aku tidak pelit ya, ini semua debay nya yang nggak mau berbagi,,," tangisnya membuat Stevia kalang kabut karena semua orang melirik ke arah mereka.
"Sudah, ayo makan lagi." ucap Lucy yang berhasil menenangkan Vera. Dengan masih sedikit sesenggukan, Vera melahap semua es krimnya dengan lahap. Semua rasa es krim itu bercampur aduk menjadi satu. Entah apa rasanya, yang pasti Vera sangat menikmati nya.
"Nih, Stev," Lucy menyodorkannya es krim biasa ke hadapan Stevia membuat senyum wanita itu terbit. Lucy segera kembali ke kursinya lalu menikmati es krimnya kembali.
"Makasih Lucy cantik,,," ucapnya yang di balas anggukan oleh Lucy.
Kembali ke toko, Beberapa wanita masih sibuk mencari barang yang mereka inginkan. Sesekali mata Grisela melirik satu persatu temannya yang memenuhi toko branded itu. Wajahnya terlihat Bingung ketika tak mendapat tiga temannya di dalam sana. "Monica," panggil Grisela membuat Monica menghentikan aktivitas nya.
"Kenapa Gris?" tanyanya yang sudah berada di dekat Grisela.
"Maaf gusy," ucap nya dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.
"Kau ini kenapa Sen?" Grisela menatap heran pada Sena yang memegang dengkul nya. Sena segera berdiri dan mensejajarkan tinggi nya dengan kedua wanita itu. Dengan cepat ia mengeluarkan handphone dan memperlihat kan sesuatu yang ada di dalamnya. "O my God!" ucapnya tak percaya dengan berita yang baru saja ia lihat di handphone milik Sena.
"Gila, siapa sih yang berani menyebar berita yang tak benar ini!" kesal Monica meremas keduanya tangan dengan kuat. "Vera tidak boleh tau tentang berita ini, aku takut dia stres dan itu sangat membahayakan janinnya." ucap Grisela yang di angguki Sena dan Monica.
"Mau sebaik apapun kita menutupinya, cepat atau lambat Vera akan segera mengetahui berita itu," sambung Glow yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Grisela. "Dimana Vera?" tanya Glow sembari mengendarkan pandangannya ke berbagai arah.
"Di sana," ucap Sena sembari menunjuk toko es krim di depannya nya. "Ayo," ucap Sena melangkahkan kakinya terlebih dahulu. "Ting," terdengar notifikasi dari handphone milik Vera. Karena penasaran dengan nomor baru yang menghubunginya, ia pun membuka pesan itu. Dan betapa kagetnya ia ketika mendapatkan berita yang tak benar tentangnya. Belum sempat menyahuti panggilan Glow, Vera jatuh pingsan dengan handphone yang sudah tak berada di genggaman nya lagi. Untung saja Lucy sigap menangkap tubuh gemoy Vera.
"Vera," ucap semuanya secara bersamaan. Stevia segera melihat isi handphone Vera.
__ADS_1
"O my God," ucapnya dengan nada yang bergetar.
"Pak tolong bantu teman saya pak," ucap Sena pada salah satu penjaga keamanan membuat Lucy mengeluarkan mata tajamnya ke arah penjaga keamanan itu.
"Tidak perlu, aku sanggup mengangkat nya," ucap Lucy menghentikan gerakan penjaga keamanan. Tak ingin membuang waktu, Lucy segera mengangkat Vera ala bridal style membuat semua orang terpukau dengan kekuatan wanita itu. Dengan enteng nya Lucy berjalan dari lantai tiga menuju lantai dasar.
"Cklek," Grisela membukakan pintu mobil untuk Lucy. Dengan pelan dan sangat berhati-hati, Lucy mendudukkan Vera di kursi penumpang. Grisela dan Glow mengapit Vera di tengah. Lucy segera masuk ke kursi kemudi lalu menjalankan mobil itu menuju rumah sakit terdekat.
"Ayo kita susul mereka," ucap Sena yang di angguki yang lainnya. Kini dua mobil menyusul mobil yang di bawa Lucy.
"Tring," Drag melihat panggilan masuk dari Lucy, alisnya terangkat bingung karena tak biasanya Lucy menghubungi nya jika
bukan ia yang mendahului nya. "Assalamualaikum," ucapnya sudah meletakkan handphone di telinga nya.
"Wa'alaikumussalam, Pak ke Rs Sulaiman sekarang, Vera pingsan dan dokter sedang memeriksa nya," ucap Lucy membuat Drag membulatkan matanya tak percaya.
"Baik-baik, terima kasih Lu, wassalamu'alaikum," ucapnya segera mengakhiri sambungan telepon nya. Drag segera pergi dengan sangat terburu-buru membuat semua karyawan menatap heran padanya.
"Ada apa dengan Tuan Drag?"
"Tuan Drag sangat terburu-buru."
"Mungkin ada sesuatu yang penting?"
Berbagai pertanyaan muncul di benak karyawan. Tetapi sepertinya Drag tak mengambil pusing hal itu.
Beberapa menit mengendarai mobil nya, kini Drag sudah sampai di rumah sakit. Setelah keluar dari mobil, Drag langsung menuju ruangan rawat Vera yang di beritahu Lucy.
"Dimana istri saya?" tanya nya dengan tampilan yang sedikit berantakan.
"Vera berada di dalam bersama Lucy Pak," jawab Tika menunjuk ruangan di depannya.
__ADS_1
"Hm," Drag segera masuk menemui istrinya yang terlihat belum sadarkan diri.
Lucy yang tak ingin mengganggu, segera pamit pulang bersama yang lainnya. Sebelumnya ia sudah menjelaskan hal yang membuat Vera menjadi pingsan. Drag mengepalkan tangannya tak terima dengan berita buruk mengenai istrinya.