
Setelah kepala pelayan pergi, tinggal lah Vera seorang diri. Dia masih ragu untuk masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Drag.
Aduh... pakai acara gemetar segala lagi... gumam Vera cemas.
Akhirnya mau tak mau Vera mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar milik Drag. "Tok tok tok." hati Vera sedikit gemetar. "Pak... bapak... tok tok tok." panggil Vera sembari mengetuk pintu dengan lebih keras lagi. "Tok tok tok." lagi-lagi Vera mengetuk pintu kamar tamu itu dengan sangat keras.
Kok nggak di buka sih??!! Gumam Vera sedikit kesal.
"Tok tok tok. " ketuk Vera mencoba memutar gagang pintu. "Ah..." teriak Vera ketika bokongnya sudah mencium marmer. "Aduhh... sakitnya bokongku... kalau tau pintunya nggak di kunci, main masuk sajalah aku tadi!" ucap Vera ngedumel kecil.
Setelah merasa bokongnya sudah sedikit membaik, Vera segera berdiri dan menelusuri kamar tamu itu.
Luas juga ya kamar tamu di rumah ini. batin Vera melirik ke berbagai penjuru.
Vera terus berjalan sembari mengendarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya.
Ya ampun... bahkan di kamar tamu saja terdapat balkon. gumam Vera terpanah.
Vera bergegas melangkahkan kakinya menuju balkon. Di saat sudah berada di balkon, tak sengaja matanya melihat sesosok lelaki tampan dan atletis yang sedang berbaring di kursi santai yang menghadap langsung ke taman.
Vera pun melangkahkan kakinya dengan pelan ke arah suaminya berbaring santai. Dia duduk di kursi kecil yang berada di sebelah kursi santai milik suaminya. "Hmm..." Vera mulai berdehem seakan akan mengkode suaminya.
Gaya banget suami jahat ini menggunakan kaca mata hitam. Beruang kutub nggak punya perasaan, main banting-banting handphone orang segala...Untung saja aku masih punya handphone cadangan yang tentunya lebih bagus dari pada handphone yang di banting nya! umpat Vera dalam hati.
"Pak... bapak..." ucap Vera mulai memanggil dengan nada yang pelan.
Sudahlah, langsung saja aku jelasin ke suami jahat ini!
"Pak...Bapak salah paham sama saya... saya tadi habis video call sama Lucy sahabat saya. Kami bercerita tentang seorang perempuan yang menawarkan diri untuk di nikahi seorang lelaki yang di cintai nya pak. dan itu lucu menurut saya, ya... saya buat video lah pak untuk menghibur diri saya sendiri yang selalu ke sepihan di rumah ini. Bapak nggak tau kan rasanya menjadi istri pingit tan macam narapidana di sel tahanan. Pas saya mau nunjukin video tadi... kebetulan teman saya yang bernama Kevin nelpon pak. Bapak salah paham sama saya... saya nggak ada niat selingkuh dari bapak... malah pakai acara Banting handphone saya segala lagi. Pak. Bapak dengar nggak sih saya ngomong apa?" ucap Vera menjelaskan panjang x lebar kepada suaminya.
Vera yang kesal pun langsung bangkit dari duduknya lalu membuka kaca mata milik Drag. "Astaghfirullah... yang rajin kalilah aku yang ngejelasin tadi. Mau sampai rusak pita suaraku pun nggak akan di dengar sama ni beruang kutub! hiii bisa-bisanya dia tidur di saat istrinya sedang bicara!" ucap Vera pelan tetapi masih bisa di dengar oleh suaminya. Sebenarnya Drag buka tidak mendengar penjelasan Vera, tetapi dia hanya ingin mengetes istrinya dengan cara berpura-pura tidur.
"Pak... bapak..." panggil Vera terus menggoyang lengan kokoh Drag.
"Ya sudah kalau nggak mau bangun!" ucap Vera dengan kesal lalu membalikan tubuhnya untuk pergi.
"Hap." dengan cepat Drag menarik tangan Vera.
"Ah..." teriak nya kaget. Vera yang tak siap pun langsung terjatuh ke pangkuan Drag.
Vera dan Drag saling menatap satu sama lain. Vera yang tiba-tiba saja sadar dari lamunan nya. Langsung mencoba berdiri tetapi Drag menahan tubuhnya. "Apa-apaan sih." bentak Vera emosi dengan kelakukan suaminya.
__ADS_1
"Awas ih!" ucap Vera kesal ketika Drag melingkarkan tangannya di pinggang Vera.
"Mau kemana?" tanya Drag dengan datar tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Minggir nggak!" ucap Vera terus mencoba keluar dari delapan suaminya.
"Maaf." satu kata yang keluar dari mulut Drag membuat Vera diam seketika. Drag memeluk tubuh istrinya itu dengan erat lalu menyender kan dagunya di pundak Vera.
"Minggir." ucap Vera berusaha mendorong suaminya dengan keras. Setelah berhasil melepaskan diri dari dekapan Drag, Vera pun lalu berlalu pergi meninggalkan Drag di sana.
"Vera..." panggil Drag dengan suara yang sedikit keras. Vera tidak memperdulikan panggilan itu. Dia sangat kesal dengan sikap Drag.
Enak sekali dia bilang maaf. Apa dia kira aku akan luluh dengan pelukan hangatnya itu! eh apa kataku tadi? pelukan hangat? mampus... sudah bucin kau Vera! ini nggak bisa di biarin. Titik nggak pakai koma! umpat Vera geram dalam hati.
Sekarang keadaan membalik, yang awalnya Drag yang marah, sekarang Vera lah yang balik marah padanya.
"Pokoknya aku harus diamin dosen killer itu. Kalau bisa aku puasa bicara padanya. Itu hukuman untuknya karena sudah berani menuduh, membanting handphone ku, dan mengacuhkan ku." uap Vera pelan tetapi masih bisa di dengar oleh seseorang.
"Pokoknya aku harus diemin dia!" ucapnya lagi dengan nada pelan.
"Siapa yang mau kamu diemin?" tanya seseorang dengan rasa penasaran. Ssuaru itu seperti suara seorang pria.
"Maaf kakak ipar cerewet." ejek Devan pada Vera. Hal itupun membuat Vera semakin kesal.
"Siapa yang cerewet? benar-benar adik ipar durhaka kamu ya..." ucap Vera sembari memukul Devan dengan wajah penuh amarah.
"Ampun kak ampun kak... hhhh." ucap Devan sembari tertawa. Vera terus saja memukulin adik iparnya itu. Bukanya merasa kesakitan, Devan malah tertawa karena pukulan Vera tak berasa apa apa.
"Sudah sayang..." ucap Drag menarik Vera dari adiknya Devan. Setelah berhasil menarik Vera, Drag langsung memeluk istri nakalnya itu dengan sangat posesif, seakan-akan Devan ingin merebut istrinya.
"Hhhh... Nggak kena nggak kena. Wekk..." ejek Devan sembari menjulurkan lidahnya ke arah Vera.
"Awas kau ya Devan!" uap Vera kesal dengan tubuh yang masih di dekap Drag.
"Sudah-sudah." ucap Drag mencegah tangan istrinya yang hendak meraih Devan.
"Hhhhh..." Devan terus mentertawakan kakak iparnya itu.
"Devan." ucap Drag memarahi adiknya itu. Devan yang di marahin kakaknya pun langsung diam sembari menahan ketawanya.
Abang sama adek sama saja! sama-sama ngeselin...
__ADS_1
Drag hanya tersenyum melihat kelakuan Vera. Bukanya marah, dia malah gemes sendiri melihat istrinya yang sedang marah.
Drag mengayunkan jemarinya ke arah adiknya seakan berkata 'cepat pergi dari sini' Itulah sekiranya yang di tangkap oleh devan. Devan segera pergi dari lantai dua itu menuju lantai dasar.
"Lepasin." bentak Vera memberontak.
"Jangan marah..." rayu Drag dengan pelan.
"Awas..." ucap Vera mencoba melepaskan pelukan Drag.
Ya ampun... aku lupa, kan aku lagi puasa bicara sama beruang kutub ini.
Akhirnya Vera mencoba melepaskan dirinya tanpa bersuara.
Ya Allah... gemasnya istriku ini...
Drag memilih mengalah dan melepaskan Vera begitu saja. Setelah pelukan Drag melemah, Vera berjalan menjauh dari Drag dengan suara yang terlihat marah. Drag hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
Setelah puas melihat punggung Vera, Drag segera turun ke lantai dasar menemui adiknya. "Tumben kesini dek. " tanya Drag menjatuhkan tubuhnya di samping Devan.
"Emang nggak boleh aku ke sini kak? " tanya nya sedikit kesal pada kakaknya itu.
"Bukan begitu... kan kamu jarang banget ke sini, bahkan hampir tak pernah." ucap Drag dengan datar.
"Aku hanya ingin memastikan kakak iparku baik-baik saja kak." ucap Devan menampilkan senyum menggoda ke arah Drag.
Drag yang mendengar itu langsung menatap adiknya dengan tajam. "Kamu nggak ada niat ngerebut istri kakak kan?" tanya Drag menatap Devan dengan tajam. Seperti nya Drag cemburu dengan adiknya itu.
Wah... nggak biasanya kakak ku begini...Vera, kau adalah salah satu wanita beruntung di muka bumi ini. Selain ibuku, kau adalah wanita kedua yang di cintai kakak ku. Jadi ingin godain lagi. batin Devan tersenyum devil. Drag yang melihat adiknya tersenyum devil pun merasa curiga dan semakin cemburu. Fikiran Drag sudah mulai negatif.
"Jangan macam macam ya dek!" ancam Drag dengan tegas pada adiknya nakalnya itu.
"Kakak takut banget ya kakak ipar aku ambil? sampai sebegitu cemburunya sama adik sendiri." ucap Devan memperlihatkan gigi putihnya.
"Biasa saja sih." bantah Drag kembali dengan mode dingin dan datarnya.
"Ooo... biasa saja. Berarti kalau nanti kakak sudah tiada, boleh dong kakak ipar jadi milikku?" goda Devan tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Devan!" ucap Drag dengan penuh penekanan. Mata tajamnya sudah menghunus menatap Devan.
Hhhh... sudah ku duga.
__ADS_1