Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Melempar bunga


__ADS_3

Awal mula timbulnya luka Alvaro yang di buat oleh Drag. Alvaro yang menjalin kerja sama dengan kakak sepupu nya itu tidak menyangka akan menerima sambutan berupa pukulan dan amarah. Bukan hanya luka saja yang ia dapatkan, tetapi juga sebuah ancaman yang membuat nya tak bisa berkutik.


Drag yang memang memiliki sikap tegas dan arogan tak segan-segan berhadapan dengan orang yang menggangu miliknya walaupun itu keluarga nya sendiri. Hanya pada Vera dan Ami lah ia bersikap rama dan lembut, selebihnya dia hanya bersikap sekedarnya saja.


Bahkan tak jarang adik-adik sepupunya mengeluh akan sikapnya yang cuek, dingin, datar, arogan, dan tegas. Semua bercampur menjadi satu. Tak heran jika Ami selalu menerima aduan dari semua keluarga nya, termasuk para keponakan nya.


Maka beruntunglah engkau wahai Vera mendapatkan suami terbaik seperti Drag yang menerima segala kekurangan mu. Hanya engkaulah yang mampu membuatnya luluh. Selamat wahai Vera, selamat. Tanpa engkau sadari, engkau telah menemukan pria yang tepat nan penuh kasih sayang.


Flashback on


Setelah mendengar cerita Vera, Drag tidak tinggal diam dan melupakan hal itu begitu saja, ia segera menghubungi asisten kesetiaan nya. Tanpa sepengetahuan Vera, Drag menyelesaikan semua masalah yang terjadi. Sepanjang berada di kantor, Drag berusaha menahan amarah di dalam hatinya. Dia sudah tak sabar menunggu seseorang yang akan bertemu dengannya. Drag sudah merencanakan pertemuan ini dengan Vino.


Beberapa saat menunggu, kini terlihat Vino masuk ke ruangan nya dengan dua pria yang sangat di kenali nya. Pria itu berjalan di belakang Vino bersama asisten nya. "Selamat pagi tuan," sapa Vino seperti biasanya. Drag segera bangkit dari kursi kekuasaan nya dan berjalan pelan ke arah Alvaro.


"Apa Ka-," sapa Alvaro terpotong ketika Drag melayangkan bogem mentah ke wajah tampan nya. Saking kuatnya pukulan itu membuat tubuh tegap Alvaro tersungkur di lantai. "Tuan," ucap Arya segera membantu Alvaro yang memegang sudut bibirnya yang berdarah.


"Ada apa dengan mu kak!" tanya Alvaro tak percaya dengan sambutan Drag terhadapnya. Mata tajamnya membalas tatapan tajam Drag.


"Kau masih bertanya ada apa denganku?" ucapnya penuh penekanan sembari melangkah pelan mendekati Alvaro.


"Apa yang kakak maksud?" tanya nya yang sudah kembali berdiri dengan tangan yang membersihkan bahunya.


"Bug," lagi-lagi Drag melayangkan pukulan di wajah Alvaro membuat pria itu meringis menahan sakit di wajahnya.


"Jangan berpura-pura bodoh! kau tau kan, aku paling tidak suka bermain-main!" ucapnya tanpa berniat memalingkan tatapan nya dari mata Alvaro. Drag menatap Vino sekilas lalu berkata, "Berikan bukti-bukti kejahatan sih bodoh ini!" ucap Drag membuat Alvaro semakin bingung dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


"Baik tuan," Vino segera pergi mengambil map yang di inginkan Drag. Setelah kembali, Vino langsung menyerahkan map itu pada Drag.


Drag mengeluarkan semua isi map coklat yang ia pegang. Dengan kasar, ia melemparkan semua isi map itu tepat di wajah Alvaro. Alvaro segera mengambil salah satu foto yang terjatuh di lantai. Matanya terbelalak ketika melihat fotonya waktu di hotel. "I-ini?" ucapnya terbata dengan mata menatap tak percaya pada Drag.

__ADS_1


"Kenapa? apa kau mau memperkosa istriku!" bentak Drag memenuhi isi ruangan. "Berani sekali kau membeli istriku bajing*n!" bentak Drag lagi dengan tangan yang sudah memegang kerah baju Alvaro.


"Tuan, mari kita bicara kan hal ini secara baik-baik," ucap Arya mencoba menengahi keduanya.


"Masih untung kau tidak jadi menyentuh nya, jika tidak, aku tak kan segan membunuh mu adik sepupu!" ucapnya sangat tegas membuat Alvaro tak bisa melawan. Alvaro yang merasa bersalah hanya diam dan menerima semua yang akan di lakukan Drag padanya.


"Maafkan aku kak, aku tidak tau jika wanita itu adalah istrimu," ucap Alvaro menundukkan kepalanya dengan lemah.


"Dengar Alva, bukan hanya istriku, tetapi semua wanita tidak boleh kau hina kan seperti itu! apa kau mengerti!" ucapnya sangat tegas membuat Alvaro mengangguk pelan.


"Maafkan aku kak," ucapnya lagi meminta maaf. Drag menghela nafasnya seakan membuang jauh segala kemarahan di hatinya. Drag yang masih mempunyai rasa belas kasih melemparkan kotak p3k pada Alvaro. Alvaro yang tak siap pun gelagapan menangkap kotak yang di lempar Drag.


"Duduklah, dan jangan kau ulangi lagi! kau tau kan seperti apa paman Maesa ketika marah!" ucap nya dengan hati yang sudah mendingin.


"Iya kak," jawabnya singkat seakan tak ingin memperpanjang permasalahan.


Setelah merasakan suasana yang sedikit panas, kini keduanya kembali ke topik utama. Mereka membahas produk keluaran terbaru di tahun ini. Mereka terlihat sangat profesional walaupun memiliki masalah pribadi.


***


Saat ini di bawah pelaminan terlihat beberapa orang sudah bersiap untuk berlomba menangkap bunga yang akan di lemparkan Vera dan Drag. Para Bridesmaid maid dan sepupu Drag terlihat paling bersemangat untuk menangkapnya. Mereka semua bukan hanya ingin mendapatkan bunga saja, tetapi juga ingin mendapatkan hadiah dari pengantin.


Pokoknya aku harus bisa menangkap bunga nona Vera, lumayan kan dapat 10 JT. batin Lili terlihat tak sabar dengan pengantin yang akan melempar bungan nya. Lili membenar kan kaca mata nya. Kini ia sudah berancang-ancang untuk melompat.


"Cepat lempar,,," teriak beberapa wanita yang sudah tidak sabar ingin menangkap bunga.


Hhhhh, nggak sabar sekali mereka! batin Vera terlihat senang sembari berniat usil.


"Baik para pencari jodoh, silahkan berancang-ancang karena kedua mempelai akan segera melempar kan bunganya," ucap Devan menatap kerumunan di bawah pelaminan yang sudah seperti patung pajangan. "Satu, dua, ti-" teriak Devan dengan senyum usilnya. "Hhhhh," tawa Devan membuat para pencari jodoh kesal menatap nya. Bagaimana mereka tidak kesal jika pengantin tak jadi melepar bunganya, padahal keduanya sudah mengayunkan tangan.

__ADS_1


Jika biasanya Vera selalu kesal dengan kejahilan Devan, kini ia sangat mendukung kejahilan adik ipar nya itu. "Yang benarlah Dev!" teriak Popi yang juga ikut bergabung dengan kerumunan sang pencari jodoh.


"Hhhhh," tawa Vera berhasil membuat Drag tersenyum.


"Baik-baik, tenang,,, waktu kita masih banyak teman-teman, paling satu jam lagi bunganya di lempar," goda Devan membuat para orang tua menggeleng dengan perilaku usilnya.


"Jangan main-main lah Devan! kami capek Lo!" ucap Balqis yang terlihat gemas dengan pria yang masih setia di atas panggung itu.


"Ok, mari kita mulai lagi, jangan lupa kasih ancang-ancang terbaik ya," ucap Devan membuat Grisela melayangkan tatapan kesal ke arahnya. "Ok! satu, dua, tiga,,," teriaknya dengan sangat heboh di iringi pengantin yang melempar bunga nya. Kini seikat bunga itu melayang ke arah kerumunan para pencari jodoh. Dengan sigap dan penuh tekat, Lili melompat dan menangkap bunga yang hampir melewati nya. Karena tak seimbang, Lili pun terjatuh dengan tubuh yang menimpah seseorang. Semua mata langsung tertuju pada keduanya dengan di iringi sorakan godaan.


"Cie,,," teriak para wanita dengan sangat kuat membuat Lili malu dengan tubuhnya yang berada di atas tubuh seorang pria. Lili segera membenarkan kaca matanya lalu melirik wajah datar di bawahnya. "Bangkitlah!" desak Vino dengan aura yang sangat dingin nan arogan.


Dari atas pelaminan Drag dan Vera tertawa hingga memegang perutnya. "Ternyata pangeran es sudah menemukan pasangan nya," ucap Vera membuat Drag semakin tertawa.


"Kamu ini ada-ada saja sayang," ucapnya menampilkan gigi rata nan putihnya.


Kini Lili maupun Vino sudah berdiri tegak dengan wajah yang menahan malu. Sendari jatuh hingga bangkit, tak henti-hentinya orang-orang menggoda keduanya bahkan ada yang mengatakan jika mereka sangat serasi menjadi sepasang kekasih. "Lili,,,aku tak menyangka jika pilihan wow juga!" ucap Vio tersenyum senang dengan tangan yang menepuk bahu Lili.


"Itu cuma kecelakaan Nona," ucapnya dengan wajah yang sedikit memerah.


"Hm,,, kecelakaan apa kecelakaan?" goda Vio membuat Lili bertambah malu.


"Nona,,," ucapnya dengan suara menghiba agar Vio menghentikan godaannya.


"Hhh," tawa Vio sangat puas menatap wajah cemberut Lili.


"Calon istri Kak Vino segera mengambil hadiah yang telah di sediakan," ucap Devan membuat Vino menatap nya dengan tajam. Semua orang tertawa kembali mendengar penuturan Devan.


Lili segera mengambil hadiahnya dengan kepala yang sedikit menunduk. Bahkan wanita itu terlihat enggan menatap semua orang yang di lewatinya. "Teruslah berjalan Lili, jangan perdulikan tatapan orang-orang terhadap mu," gumamnya sangat pelan sehingga hanya dirinya saja yang mendengar suaranya.

__ADS_1


Sepanjang berjalan, terlihat mata tajam Vino tak henti-hentinya menatap wanita culun yang berada jauh di depannya. Tidak tau apa yang ada di dalam fikiran pria itu, yang pasti, sorot matanya menandakan ketidak sukaan pada wanita culun di depannya. Vino menghembus kan nafas dinginnya lalu pergi meninggalkan aula pesta.


__ADS_2