Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Pertengkaran


__ADS_3

"Kenapa gara-gara aku? emang ada aku suruh kau ikuti logat ku! nggak ada kan?" ucap Lucy dengan nada aslinya.


"Hmm... serah kaulah Lu, capek aku debat sama kau! nggak masuk ke otak aku. " ucapnya dengan mimik wajah yang cemberut.


"Sudahlah jangan bahas ini lagi. Bahas yang tadi saja." ucap Vera dengan ekspresi semulanya.


"Sampai mana tadi Lu? " tanya Vera pada Lucy.


"Ituloh... yang kau ngajak laki-laki nikah. Hhhhh" ucap Lucy dengan tawa yang sedikit keras.


"Bising kali lu..." terdengar suara Sasa di ujung telpon.


"Mampus kau kan lu. Hhhhhh" Vera tertawa senang ketiak Lucy mendapatkan amukan sasa.


"Maaf sa... " teriak Lucy pada sasa.


"Gimana tadi Ver kau bilang?" tanya Lucy pada Vera.


"Seperti ini Lu. Mas... mau nggak jadi suami aku? gitu ku. hehehe. " ucap Vera tertawa geli dengan pemikiran nya.


"Jangan gitu Ver... kurang tepat tu." ucap Lucy pada Vera.


"Terus gimana?" tanya Vera bingung dengan mata yang masih fokus melihat tv.


"Gini, gini. Bang... apa boleh aku jadi istrimu? gitu Ver. "ucap tersenyum malu.


"Sumpah lu... malu kali aku seandainya aku di posisi itu! kau berani bilang seperti itu?" tanya Vera memastikan Lucy.


"Beranilah ver... Aku nggak ada yang aku malu kan. Bahkan nyanyi sambil joget depan presiden, raja, cowok ganteng, b aja sih Ver. Cuma itu dulu... sekarang aku nggak bisa gitu lagi... taulah kau... Aku ini ukhty-ukhty hijrah... lagi belajar memperbaiki diri. Hehehe.. do'akan aku ya biar bisa istiqomah dan bisa bersikap sebagaimana manusia yang di cintai Allah. " ucap Lucy dengan nada khasnya.


"Aamiin... Aamiin..." ucap Vera tersenyum manis.


"Semoga suatu saat kau bisa seperti aku Ver! Aamiin. " doa Lucy dengan cepat.


"Nggak mau aku berselubung kayak kau. Gini aja aku uda kepanasan kok, apalagi bercadar kayak kau." Nyinyir Vera tak bisa membayangkan dirinya yang mengenakan kain tebal.


"Pelan-pelan lah Ver. Nggak usahlah bercadar dulu... menutup aurat aja kau... ih, uda senang kali aku." ucap Lucy dengan nada antusias.


"Hmm... ya lah Lu. serah kau saja. " ucapnya pasrah.


"Jelek kali wajah kau kalau gitu! " goda lucy.


"Eh enak saja kau. Uda dulu ya Lu.. Babay... " ucap Vera sembari melambaikan tangannya.


"Wassalamu'alaikum Ver! " ucap Lucy kembali ke mode datarnya.

__ADS_1


"O iya lupa. Maaf besti... Wassalamu'alaikum." ucap Vera terkekeh.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. " ucap Lucy lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


Video call pun berakhir. Vera meletakkan handphone nya di atas ranjang king size nya.


Vera bergerak-gerak sembari tersenyum lucu mengingat pembicaraannya dengan Lucy.


"Hhhhhh." tawannya pelan dengan tangan yang menutup mulutnya.


"Mas, boleh nggak aku menjadi istrimu? " ucap Vera meniru ucapan Lucy tadi. Vera pun kembali ke dekat ranjang lalu mengambil handphone nya. Seperti nya Vera ingin membuat rekaman video dirinya. Dan benar saja, Vera membuka kamera handphone nya, lalu mulai merekam dirinya.


"Mas... boleh nggak aku menjadi istrimu? " ucap Vera tersenyum geli.


"Siapa yang ingin kau nikahi!" tanya Drag yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Vera.


Drag berbicara tanpa bahasa formal. Saat ini ia menatap datar punggung Vera.


"Dek." Bagai kaca di sambar petir, Vera membeku di tempatnya. Dia tidak melanjutkan rekamannya. Bahkan, ia tak berani membalikkan tubuhnya.


"Siapa pria itu! di mana dia sekarang?!" tanya Drag dengan penuh amarah. Drag sangat cemburu ketika mendengar secara langsung bahwa istrinya ingin menikah dengan pria lain.


"Pria mana yang anda maksud?" tanya Vera mencoba memberanikan diri.


"Siapa yang selingkuh! " ucap Vera dengan suara yang sedikit meninggi, dia ikut terpancing emosi.


"Siapa pria itu? berani sekali kau bermain api di belakangmu!" bentak Drag tepat di depan wajah Vera.


Vera yang di bentak pun tak kuasa menahan kesedihannya. Ia berusaha menahan air matanya yang hampir saja jatuh. "Anda salah paham tuan." ucap Vera dengan nada sok tegar.


"Apanya yang salah paham??? jelas-jelas kau sendiri yang mengatakannya. Siapa pria itu!" tanya Drag dengan suara yang sangat tinggi.


"Aku tidak selingkuh... aku hanya membuat video rekaman..." ucap Vera mencoba membuat Drag percaya.


"Mana rekamannya." ucap Drag mengulurkan tangannya seakan berkata 'berikan handphone mu padaku'.


Mau tak mau Vera memberikan handphone miliknya nya kepada Drag. Dia sudah membuka handphone nya. Dengan cepat Drag pun masuk ke penyimpanan video. Sebelum memulai video, terlihat ada panggilan masuk di handphone milik Vera. Drag mengeraskan rahangnya, matanya bertambah tajam.


Vera melihat ke arah panggilan di handphone milik nya. Dengan gugup dia mendekat dan melihat. Matanya membulat dengan sempurna.


Bagaimana ini? bagaimana bisa keadaan seakan-akan menjadi nyata. Aduh kevin... kau menelpon di waktu yang tidak tepat. Habislah aku... Hiks, hiks. batin Vera sangat cemas. Saat ini ia seakan berada di ujung tandus.


Saat ini juga rasanya ia ingin menangis dan berteriak, tetapi dengan sekuat tenaga dia mencoba menahan air mata dan suaranya. Matanya sudah berkaca-kaca, sedikit lagi runtuh lah pertahannya. Pandangan mata Vera beralih melihat ke arah wajah suaminya. Dia benar-benar sangat takut melihat wajah menyeramkan suaminya itu. Rahang drag mengeras, matanya tajam, wajahnya di tekuk.


"Kembalikan handphone ku." ucap Vera mencoba merampas handphone nya dari tangan Drag. Setelah berhasil mengambil handphone miliknya, Vera mencoba memberanikan diri untuk mengangkat telepon dari kevin temannya.

__ADS_1


Ketika Vera sudah mengangkat teleponnya dan memindahkan handphone itu ke dekat telinganya. Dengan cepat Drag merampas handphone itu lalu melempar handphone itu ke atas lalu menangkapnya kembali, setelah berhasil menangkap handphone Vera, Drag pun membanting kan nya ke marmer kamar itu. Handphone Vera hancur tak berbentuk.


Vera terkesima melihat handphone nya yang sudah tidak berbentuk lagi. Dia langsung menghampiri handphone nya lalu menangis.


"Handphone kesayangan ku... hiks, hiks. " ucap Vera menangis kecil dengan tangan yang memegang serpihan handphone nya.


Drag yang melihat itupun langsung keluar dari kamar dengan membanting pintu dengan sangat kuat. Vera sampai terkejut di buatnya. Vera tak bisa berbuat apa-apa selain menghapus air matanya. Nasi sudah menjadi bubur, kini handphone nya sudah tak bisa di kembalikan seperti semula lagi. Mau tak mau pun Vera harus mengikhlaskan nya.


Kenapa sih aku bisa di jodohkan dengan pria seperti nya Jahat banget tau nggak... hiks hiks. handphone ku... batinnya sedih dengan air mata yang terus mengalir. Vera menangis tanpa suara semakin sesaknya dadanya.


***


Di luar kamar terlihat Drag berjalan cepat ke arah kamar tamu. Saat ini dia enggan melihat wajah istri nakalnya itu. Dia ingin menenang kan dirinya terlebih dahulu di kamar tamu itu.


Para pelayan yang mendengar keributan Drag dan Vera hanya membisu tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka takut di pecat jika berani mencampuri urusan rumah tangga majikannya itu.


Di dalam kamar terlihat Vera sedang berjalan ke sana dan kemari sembari menggigit kecil kuku-kukunya.


Bagaimana ini... dia salah faham kepadaku. gumam Vera dengan cemas.


Vera sangat cemas dan takut kepada suaminya itu. Saking takutnya ia sampai melupakan handphone nya yang sudah tidak berbentuk itu.


Apa aku samperin saja ya? tapi... ya sudahlah samperin saja. gumam Vera dengan wajah bingung.


Akhirnya Vera memutuskan untuk menyusul Drag suaminya. Dia keluar dari kamarnya sembari mengendarkan pandangannya ke berbagai penjuru.


"Bi... dimana suami ku? " tanya Vera pada salah satu pelayan perempuan.


"Di kamar tamu nona." Jawab pelayan pada Vera.


Ya ampun... kamar tamu di rumah ini kan banyak... hmm... bibi-bibi! gumam Vera sedikit jenuh dan kesal.


"Kamar tamu yang mana bi? " tanya Vera menetralkan suara hatinya.


"Di kamar lantai dua nona." Jawab bibi lagi.


"Baiklah bibi..,terima kasih ya." ucap Vera segera melangkahkan kakinya menuju lift. Setelah berada di sana, Vera menekan tombol lantai dua. 2 menit berlalu, kini Vera sudah menginjak kan kakinya di lantai dua.


"Maaf Pak, di mana suami saya? " anya Vera kepada kepala pelayan.


"Tuan muda berada di kamar tamu nona. Mari saya antar." ucap kepala pelayan yang di angguki Vera. Kepala pelayan segera membawa Vera menemui Drag. "Silahkan nona." ucap kepala pelayan ketika sudah sampai di depan pintu kamar Drag.


"Terima kasih pak." ucap Vera yang di sambut dengan senyuman kepala pelayan.


"Sama-sama nona." ucap kepala pelayan lalu segera berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2