Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Kesabaran Drag


__ADS_3

Di perjalanan terlihat Vera menggigit kuku-kukunya menyalurkan rasa cemasnya. Vera pulang ke kediamannya orang tuanya menggunakan taksi online. Matanya tegang dengan mata yang memerah seakan ingin menangis. Sebenarnya ia tak berniat melakukan hal itu pada Glow. Tetapi harus bagaimana lagi, dirinya sudah di kuasai oleh amarah. Kesal dan dendam bercampur menjadi satu.


Sebenarnya bisa saja ia langsung pergi tanpa memberikan ganti pada pria tak di kenalnya itu. Vera menghapus air matanya yang hampir jatuh. Supir taksi yang memperhatikan Vera sendari tadi dari spion depan hanya diam. Ia tak mau mengganggu Vera yang tengah menghayati kesedihan nya. Beberapa menit di jalan, kini taksi yang di tumpangi Vera sudah masuk ke perkarangan rumah Vera.


Setelah mobil berhenti, Vera segera menyerahkan beberapa lembar uang tanpa berniat meminta kembaliannya. Gadis itu berjalan sedikit cepat dengan tangan yang menghapus air matanya. Hari ini adalah hari yang buruk bagi nya. Betapa bodoh nya dia mempercayai ucapan para musuhnya.


"Cklek." Vera membuka pintu kamar lalu menutup nya kembali. Setelah berbalik betapa terkejutnya Vera melihat Drag yang sudah berada di depannya. Drag memberikan tatapan imitasi nya ke arah Vera. Sesekali mata itu melirik jarum di arloji mahalnya.


"Dari mana? kenapa jam segini baru pulang?" tanya Drag dengan suara dingin dengan aura menyeramkan nya membuat bulu kuduk Vera berdiri.


Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan pada mas Drag. batinnya bingung dan takut. Vera menundukkan kepalanya agar Drag tak melihat wajah berantakan di sebabkan menangis.


"Jawab." bentak Drag dengan nada yang sangat tinggi. Ia sangat emosi ketika mendengar kabar dari anak buah nya jika Vera keluar dari kediaman orang tuanya. Drag semakin marah ketika mendapat kabar lagi jika Vera pergi ke hotel dan tak memberitahu dirinya.


"Maaf mas." ucapnya dengan suara seraknya. Dari suara Vera Drag langsung mengetahui jika wanita nya habis menangis. Dengan pelan Drag mengangkat dagu Vera agar menatap nya.


"Dek." hati Drag merasa sakit melihat wajah berantakan istri tercintanya. Mata bengkak Vera membuat Drag semakin sakit. Dia menurunkan egonya, mengontrol emosinya, dan melakukan segala nya agar Vera bahagia dan nyaman hidup bersama nya. Tapi apa yang ia lihat ini. Siapa yang telah menyakiti istri nakalnya ini.


Karena rasa cintanya lebih besar dari amarahnya, Drag segera menarik Vera ke dalam pelukannya. Ia mendekap Vera dengan erat menyalurkan rasa rindu dan sayangnya. "Saya sangat cemas Vera. Kenapa kau tak pernah mengerti. Kenapa kau tak pernah paham. Aku ini suamimu Vera, sudah tugasku menjaga, merawat, dan menyayangi mu. Kau buka seorang gadis lagi Vera. Kau sudah bersuami. Dan akulah suamimu itu!" ucap Drag menyalurkan amarahnya dengan cara menasehati Vera. Saat ini Drag tak menggunakan bahasa formal nya.


"Jangan pernah keluar tanpa seizin dan sepengetahuan ku. Pahamilah posisi mu saat ini. Jangankan memukul mu dengan tanganku, jangankan melukai hatimu dengan lisan ku. Bahkan, semut saja tak ku ijinkan untuk menggigit mu. Aku mencintaimu Vera, sangat-sangat mencintai mu. Berbicara dan terbukalah kepada suamimu ini. Katakan apapun yang kau mau, selagi aku bisa dan itu tak di benci Allah, aku akan berusaha mengabulkan ya." ucap Drag dengan sedikit Isak kan. Ia menangis bukan berarti lemah, tetapi itu adalah air mata cinta yang ia keluarkan untuk Vera.


"Maaf kan aku mas, hiks." Vera menyesal dengan semua perbuatan buruknya. Saat ini ia masih terisak di dada bidang Drag.

__ADS_1


"Ya, gak papa sayang." ucapnya dengan nada lemah sembari terus mengelus kepala Vera.


Dalam keadaan masih saling mendekap, Drag menggiring Vera untuk duduk di atas rajang. Vera yang menyesal bercampur malu masih enggan mengangkat kepalanya dari dada Drag. "Katakan padaku Vera, apa yang kau lakukan di hotel itu." tanya Drag dengan kepala dingin walaupun hatinya saat ini sedang tak baik-baik saja. Ia mencoba menahan rasa cemburu di dadanya.


"Hiks." Vera masih menangis seperti belum mampu menceritakan apa yang ia alami hari ini.


Astagfirullah, luaskan lagi rasa sabar ku ya Allah. batin Drag berusaha mengingat Allah sembari beristighfar dalam hati.


"Jangan menangis lagi. Aku tak mengijinkan air mata mu terjatuh kecuali air mata bahagia." ucap Drag membuat hati Vera luluh lantak. Hatinya berdenyut tenang saat ini.


"Mas." ucap Vera mulai membuka pembicaraan dengan suara parau nya.


"Hm." dehem Drag menepuk pelan pinggang Vera agar memberikan rasa nyaman padanya. Vera mulai memberanikan dirinya menatap mata tajam Drag.


"Kalau aku cerita, mas jangan marah ya." ucapnya dengan sedikit cegukan.


"Janji." Vera sudah mengangkat jari Kelingking nya untuk mengikat janji Drag.


"Janji." balas Drag menautkan jari kelingking nya ke jari kelingking Vera.


Vera yang sudah merasa lebih nyaman dan tenang mulai menjelaskan apa yang telah terjadi. Drag dengan serius mendengarkan curhatan istri nakalnya itu. Mendengar penjelasan Vera membuat moodnya berubah-ubah, kadang marah, sedih, kesal, kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu. Karena Drag sudah berjanji tak marah, iapun mencoba setenang mungkin mendengarkan Vera.


"Terus kamu menjual Glow kembali karena dia telah menjual mu bersama teman-teman nya?" tanya Drag menahan emosinya sebisa mungkin.

__ADS_1


Vera mengangguk lemah. Ia pun sudah sadar jika sudah melakukan hal yang bodoh. "Terus kemana uang itu Vera?" tanya Drag menatap penuh kecewa pada Vera.


"Masih ada di dalam tas." ucapnya lemah sembari melirik tas miliknya.


"Huh." Drag menghela nafas beratnya. "Bawah sini Vera." perintah Drag membuat Vera segera mengambil tasnya.


Setelah memegang tasnya, Vera segera kembali kesamping Drag. Ia segera membuka kancing tasnya dan mengeluarkan uang pemberian Alvaro. Drag mengambil uang yang di berikan Vera padanya. Ia membiarkan uang itu terpampang nyata di atas tangannya dan Vera. "Sayang, taukah engkau jika uang ini uang haram. Ini uang yang di berikan pria itu untuk membeli Glow bukan?" ucap Drag masih memberikan tatapan sendunya pada Vera. Vera hanya mengangguk menyetujui perkataan Drag yang sangat benar.


"Mungkin uang ini berharga dan bisa membeli sesuatu atau mungkin di sedekah kan. Tapi, Allah tak Ridha dengan perdagangan ini Vera. Bahkan tak akan ada keberkahan di dalamnya. Kita harus mengembalikan uang ini pada pemiliknya dan kamu harus meminta maaf pada Glow sayang. Mas tau dia salah karena terlibat atas penjebakan mu, tapi ini tidak benar Vera. Kalian sama-sama salah." jelas Drag mengelus rambut Vera dengan penuh pengertian.


"Masalah ini tak bisa di sepelekan Vera. Mas mengatakan ini bukan berarti mas membencimu dan membela mereka, tidak sayang. Justru mas sangat sayang padamu makanya mas mengatakan ini." ucap Drag penuh wibawa. Saat ini ia benar-benar sangat dewasa.


"Tapi mas..." ucap Vera membuat Drag langsung membungkam mulutnya.


"Glow juga merasakan kerugian sayang. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Jangan biarkan masalah ini sampai ke kantor polisi. Karena pasti, kamu akan kena hukuman juga sayang walau pun ringan. Mas tak ingin kamu berada di sel tahanan." ucap Drag mencium kening Vera.


"Mas, maafkan Vera, hiks. Vera janji nggak akan mengulangi perbuatan buruk ini lagi." tangis Vera kembali pecah di dada bidang Drag.


Maafkan mas sayang yang membuatmu takut. Sebenarnya dalam sekejap masalah ini bisa selesai. Mas menggertak dan menakutimu agar kamu tak mengulangi hal yang sama. Mas sangat mencemaskan dirimu. Mas masih hidup begini saja kamu bisa seperti ini, bagaimana seandainya mas sudah tiada? siapa yang akan menjagamu lagi? orang tuamu? mertuamu? mereka sudah tua Vera, dan tak pantas bagi kita yang lebih muda memberikan beban untuk mereka. batin Drag menatap ke sembarang arah dengan pelukan yang sedikit bergoyang.


"Sudah jangan menangis lagi." Drag tersenyum dengan tangan yang mengelap air mata Vera. Ia memberikan senyum kasih sayangnya pada istri nakalnya itu. "Mari bersih-bersih lalu pergi tidur." perintah nya yang di angguki Vera.


Dengan lemah Vera berjalan menuju kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya dengan perasaan yang masih kacau. Karena merasa tubuhnya lemah dan kacau, Vera memilih merendam tubuhnya dengan air hangat yang sudah di campur dengan wewangian. Vera menghirup aroma terapi lalu memejamkan matanya secara perlahan.

__ADS_1


"Sayang." panggil Drag yang merasa Vera sudah lama beranda di dalam sana. "Sayang." panggil Drag lagi ketika tak mendengar sahutan dari dalam. Drag yang tak sabar segera membuka pintu kamar mandi yang kebetulan tak di kunci. "Hm." Drag menggeleng pelan di sertai senyuman ketika melihat Vera tertidur di dalam bathtub.


Dengan pelan dan penuh sabar, Drag segera mengangkat tubuh polos Vera ke atas ranjang. Dengan telaten Drag memakaikan pakaian tidur di tubuh berisi Vera. "Mimpi indah sayang." bisik nya di telinga Vera sembari memberikan satu kecupan di kening Vera.


__ADS_2