Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Swalayan


__ADS_3

Masih di kediaman Glow, semua orang menunggu jawaban dari mulut wanita itu. Alvaro menatap Glow dengan tatapan yang sulit di artikan. "Maaf om, tante, mungkin kami harus mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Apa boleh saya berbicara berdua dengan Glow?" tanya Alvaro dengan sangat sopan pada kedua orang tua Vera.


Endrik yang merasa ucapan Alvaro ada benarnya, mengangguk setuju sembari berkata, "Silahkan nak. Sayang, ajak nak Alvaro ke taman belakang." Endrik melirik Alvaro dan Glow secara bergantian. Glow yang terpaksa mau tak mau menyetujui permintaan Alvaro itu. Akhirnya mereka berdua pergi ke taman belakang dengan Glow yang berjalan terlebih dahulu.


Alvaro yang ketinggalan jauh di belakang Glow segera mempercepat langkahnya lalu segera meraih tangan wanita itu. "Kenapa kau cepat sekali jalannya!" kesal Alvaro menatap wajah datar Glow yang terlihat tak senang dengannya. Glow mencoba melepaskan genggaman Alvaro dari lengannya. "Lepaskan aku brengsek!" bentaknya menatap nyalang mata Alvaro.


"Kau semakin cantik ketika sedang marah begitu." goda Alvaro sembari mencolek dagu Glow dengan senyum di wajahnya. "Menikah lah denganku." pinta Alvaro dengan sangat lembut. Glow fokus memperhatikan wajah pria itu dengan tangan yang terus berusaha melepaskan genggaman di tangannya.


Setelah genggaman Alvaro terlepas, dengan kasar Glow mendorong dada bidang pria di depannya dan kembali melangkahkan kakinya menuju taman. "Sangat menarik, aku harus menghukum kekurang ajarannya dengan menjadikan nya istri yang baik." gumamnya sembari terus menatap punggung Glow yang semakin menjauh.


Tak butuh waktu yang lama, kini keduanya sudah berada di taman belakang mansion. Glow berdiri dengan tangan yang bersedekah di dadanya. Seperti nya wanita itu enggan duduk di samping Alvaro yang saat ini menduduki kursi taman. "Duduklah sayang, apakah kau tak lelah?" ucapnya tetapi tak membuat Glow mendengar perintah nya.


"Sleep." Alvaro menarik tangan Glow dengan paksa membuat wanita itu terduduk di pangkuan Alvaro.


"Lepaskan aku brengsek!" bentak Glow kesal dengan Alvaro yang mendekapnya dengan erat.


"Aku tak akan melepaskan mu!" ucapnya kekeh dengan nada ketusnya.


"Apa yang kau inginkan sial*n!" umpat Glow dengan nada kasarnya. Alvaro tak memperdulikan nada kasar dan pemberontak kan Glow yang berada di pangkuannya.


"Kau harus menerima lamaran ku, jika tidak-" ucap Alvaro terputus di ujung kalimat.


"Jika tidak kenapa!" ucap Glow memotong ucapan Alvaro.


"Jika tidak, aku akan memberi tau malam panas yang telah kita lakukan pada kedua orang tua kita. Jika mereka tau hal itu, pasti mau tak mau mereka akan memaksa kita untuk menikah!" ancam Alvaro dengan seringai penuh kemenangan.


Sialan, si brengsek ini mengancam ku! batinnya kesal dan mati kutu di pangkuan Alvaro.


"Bagaimana?" tanya Alvaro memastikan.


Baiklah Glow, ikuti saja keinginan nya! jika umur pernikahan mu sudah beberapa bulan, maka ceraikan dia! batin Glow dengan fikiran liciknya.


"Lepaskan dulu pelukanmu." perintahnya tetapi enggan di dengarkan Alvaro.


"Aku tak akan melepaskan mu kecuali kau menyetujui pernikahan kita." ucapnya kekeh.


"Huh," Glow menghela nafasnya, " Baiklah, aku akan menikah denganmu!" ucapnya dengan terpaksa tetapi tak rela.


"Bagus!" ucapnya segera bangkit dari duduknya dan menarik tangan Glow untuk kembali menemui kedua orang tua mereka.

__ADS_1


"Ma, pa." panggil Glow sembari berjalan ke tempat duduknya semula. Glow menatap kedua orang tuanya dengan pandangan ragu.


"Katakanlah sayang." ucap Laila memberikan senyum simpul nya. Glow mengangguk pelan ke arah mamanya.


"Pa, ma, Glow menerima lamaran ini." ucapnya membuat semua orang yang berada di sana senang. Endrik dan Maesa saling berpelukan.


"Terimakasih kasih sayang." ucap Laila sembari memberikan satu kecupan di kening Glow.


"Kita akan mengadakan pernikahan secepat mungkin. Bagaimana Endrik?" pinta Maesa yang langsung di setujui Endrik papa Glow.


Mereka pun segera mengadakan acara makan bersama sebagai tanda syukur atas hubungan Glow dan Alvaro yang akan ke jenjang serius.


***


Karena hari Pernikahan sudah semakin dekat, Drag tak mengizinkan Vera untuk pergi ke kampus nya lagi. Bahkan pria itu berencana membuat Vera belajar online di rumahnya. "Mas,,,aku bosan kalau di rumah terus." rengek Vera mencoba meluluhkan hati Drag yang menatap datar kearahnya.


"Kalau begitu, ikut saja ke perusahaan mas." ucap nya final membuat Vera tak bisa membantah.


Karena bosan berada di rumah, akhirnya Vera memutuskan untuk ikut ke perusahaan suaminya. Saat ini Vera maupun Drag sudah siap untuk pergi ke Abraham Grub. Mereka sudah memasuki mobil dengan Vino yang mengemudikan nya. Kini mobil itu sudah membela jalan menuju Abraham Grub.


Di dalam mobil terlihat Vera menyandar manja di bahu kekar Drag, sedang kan Drag mengalihkan tatapannya memandang keluar jendela. Selain menyandar, Vera juga memainkan jari-jemari Drag. "Sakit sayang." aduh Drag ketika merasakan jari-jemarinya di dorong ke belakang. Vera menatap mata Drag sekilas lalu kembali melihat tangan Drag.


"Males!" ucapnya sembari mendongakkan wajahnya sebentar menatap Drag.


"Mau jajan tidak?" tanya Drag yang membuat Vera langsung menegakkan tubuhnya dan mengangguk cepat. Wajah datarnya sudah menerbitkan senyum penuh semangat.


Ya Allah gemas nya. Tadi bawaannya lemas, giliran di ajak jajan langsung semangat. batin Drag dengan tangan yang mencubit pipi Vera.


"Mau mas,,," ucapnya menampilkan gigi ratanya.


Drag mengalihkan pandangannya menatap Vino sembari berkata, "Vin, nanti singgah ke swalayan terdekat ya." perintah Drag membuat Vera senang.


"Baik tuan." ucap Vino menolehkan wajahnya kesamping dengan sedikit anggukan kecil.


Beberapa menit membela jalan, kini mobil Drag memasuki kawasan swalayan yang cukup besar. "Ayo sayang." ajak Drag setelah membuka pintu untuk Vera. Tak lupa ia juga meletakkan tangannya di atap pintu agar kepala Vera tidak terbentur.


Setelah keduanya sudah turun, mereka pun segera memasuki swalayan dengan Vino yang mengikutinya dari belakang. Vino sudah seperti nyamuk yang hingga di tubuh Vera dan Drag tetapi tak bisa. Jarak di antara mereka cukup jauh. "Mas kita ke sana yuk." ajak Vera menarik tangan Drag dengan paksa menuju lorong khusus makanan ringan. "Mas, kemarin kan trolinya." pinta Vera dan Drag mengikuti perintahnya.


"s?$!$Sksk." terdengar suara kerasak-kerusuk yang di timbulkan Vera yang sibuk memasuk kan banyak jajanan ke trolinya. Drag hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir melihat tingkah Vera.

__ADS_1


"Pelan-pelan sayang..." ucap Drag memperingati sembari mengembalikan snack yang jatuh ke tempatnya. "Sini, biar mas saja yang membawanya." ucap Drag sembari mengambil alih troli dari tangan Vera. "Mau beli apa lagi?" tanya Drag terus mengikuti langkah Vera yang tanpa arah.


Bagus banget bonekanya. batin Vera melihat boneka panda yang sangat besar. Saking besarnya boneka itu bisa membuat tubuh Vera tak terlihat.


"Mas,,," panggil nya sembari kembali ke arah Drag dengan sedikit larian kecil.


"Apa sayang." tanyanya dengan pelan nan lembut.


"Mau boneka itu." tunjuk Vera menampilkan wajah anak-anak yang sangat lucu. Drag segera mengalihkan pandangannya kearah boneka yang di tunjuk Vera.


"Yang mana sayang?" tanya Drag bingung karena di sana terdapat puluhan boneka yang di pajang.


Vera segera menggiring Drag menuju boneka besar yang di inginkan ya. "Yang ini mas." ucapnya berharap Drag akan membelikannya.


Drag sedikit kaget dengan boneka yang di tunjuk Vera. Itu adalah boneka terbesar di antara boneka lainnya. "Apa kamu yakin sayang." ucap Drag sedikit ragu bercampur malu jika membawa boneka itu. Vera hanya mengangguk dengan senyum merayunya.


"Baiklah sayang, Vino akan membawa boneka itu ke mobil." ucap Drag lalu segera memanggil Vino yang berada lumayan jauh di belakangnya.


"Ada apa tuan?" tanya Vino ketika jaraknya dengan Drag sudah dekat.


"Bawa boneka itu, jangan lupa membayarnya." perintah Drag membuat Vino menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mau tak mau Vino menuruti keinginan tuan mudanya itu.


"Yes, makasih mas." girangnya senang lalu memberikan satu kecupan di pipi Drag.


Drag tersenyum kaku dengan tangan yang memegang bekas ciuman di pipinya.


فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ


Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? batin Drag penuh syukur. Saat ini hati dingin itu sedang berbunga- bunga di buat Vera.


"Mas." panggil Vera menyentak bahu Drag membuat lamunannya buyar.


"Iya sayang?" ucapnya sudah menerbitkan senyum senangnya.


"Mari beli es krim." ajak Vera yang langsung di angguki Drag.


Kini keduanya berjalan mencari es krim yang di inginkan Vera, sedangkan Vino membawa boneka raksasa milik Vera sembari menahan malu. Di sepanjang langkahnya menuju mobil, ia menjadi bahan perhatian setiap orang terutama kaum wanita. Banyak yang tersenyum malu bercampur baper melihat Vino yang menggendong boneka. Mungkin mereka beranggapan jika Vino akan menghadiahkan boneka itu untuk kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2