Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Drama ngidam


__ADS_3

"Yang,,," panggil Vera yang saat ini duduk bersandar di dinding ranjang. Drag yang yang sedang membaca buku di sopa, langsung menolehkan wajahnya melihat Vera.


"Ada apa Sayang?" tanya Drag yang sudah menghampiri Vera. Tanpa menjawab Vera segera memeluk Drag dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu. Drag tersenyum melihat kemanjaan Vera padanya. Dengan pelan ia mengelus rambut Vera sembari berkata, "Apa sayangku ini menginginkan sesuatu?" tanya Drag yang langsung di angguki Vera. "Katakan, sayangku mau apa?" tanya Drag sudah setengah bungkuk menatap Vera yang sudah melepas pelukannya.


"Yang,,,pingin bubur sumsum," pintanya dengan manja membuat Drag mengangguk kan kepalanya pelan.


"Baiklah sayang, Mas akan memerintahkan Pak Li untuk menyiapkan nya untuk mu," ucap Drag segera beranjak pergi menemui kepala pelayan.


"Jangan Yang,,," rengek Vera membuat Drag menghentikan langkahnya dan menghadap Vera kembali.


"Kenapa sayang?" tanya nya sedikit bingung dengan keinginan istri nakalnya itu.


"Aku maunya Ayang yang membuat buburnya,,," rengekan manja itu membuat Drag hanya bisa mengelus dada. Mau tak mau, bisa tak bisa, Drag tetap membuatkan bubur sumsum yang di inginkan istri nakalnya itu.


"Yang,,," panggil Vera lagi membuat langkah Drag kembali terhenti.


"Apa lagi sayang?" tanya Drag dengan penuh kesabaran menghadapi tingkah aneh Vera.


"Ikut,,," ucap nya yang sudah merentangkan tangannya seakan minta di gendong.


"Ayo," ajak Drag segera membantu Vera berdiri tetapi ibu hamil itu terlihat enggan berdiri. "Ada apalagi sayang, katanya mau ikut?" tanya Drag yang melihat wajah menggemaskan Vera.


"Gendong yang,,," ucapnya dengan suara serak manja membuat tubuh Drag seperti tersengat listrik. Drag mencoba menahan semuanya demi istri tercintanya itu.


"Ya sudah ayo," ucap Drag segera menggendong Vera ala bridal style. Vera segera menghentakkan kakinya seakan tak ingin di gendong ala bridal style. "Kenapa lagi sayang?" tanya Drag mencoba tak mengeluarkan nada kesalnya.


"Nggak mau di gendong begitu,,,maunya di gendong di depan," ucap Vera membuat Drag langsung paham dan menghela nafasnya.


"Sayang, bukan Mas tak mau menggendong kamu seperti itu, tetapi Mas takut bayi kita terhimpit di dalam sana," ucap Drag mencoba memberi pengertian pada ibu hamil itu. Vera menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah menetes. Karena tak tega, akhirnya Drag menuruti keinginan Vera dan menggendong ala koala. Vera tersenyum senang ketika sudah berada di gendongan Drag. Dengan penuh sabar Drag menggendong tubuh Vera yang bertambah berat.


"Mau kemana yang?" tanya Vera menatap Drag yang hendak membawa nya memasuki lift.

__ADS_1


"Ya mau turunlah sayang," ucap Drag yang sudah menghentikan langkahnya.


"Jangan naik lift yang, kita turun dari tangga saja," pinta Vera membuat jantung Drag seakan berhenti berdetak. Bagaimana Drag tak terkejut jika posisinya saat ini berada di lantai empat dan dapur berada di lantai dasar.


"Yang benar saja sayang? bagaimana kalau kita jatuh!" ucap Drag sedikit tegas membuat Vera langsung melengkungkan bibir nya ke bawah dan mulai menangis seperti anak kecil.


"Mas jahat, Mas sudah nggak sayang sama aku lagi, aku mau turun hiks, kalau Mas mau naik lift naik saja sendiri, aku ingin turut lewat tangga," ucapnya merajuk dengan wajah yang tenggelam di dada Drag. Drag lagi-lagi harus mengalah dan menghela nafas dengan sikap ibu hamil yang sangat sensitif ini.


"Maafkan Mas sayang, Mas sayang banget sama kamu. Ya sudah jika kamu ingin Mas menggendong mu melalui tangga, Mas akan melakukan nya sayang. Sudah, jangan menangis lagi, hati Mas sakit melihat air mata mu jatuh sayang," ucap Drag mengelus tubuh Vera yang bergetar lalu mendaratkan satu kecupan di kepala ibu hamil itu.


Vera tak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya di leher Drag. Depan sangat berhati-hati, Drag melewati satu persatu anak tangga dengan Vera yang masih berada dalam gendongan nya. Kepala pelayan dan setiap Maid yang di jumpai Drag terlihat tertegun melihat adegan romantis di depannya.


Kenapa jantungku bergetar ya melihat Tuan dan Nona, bisik salah satu Maid pada temannya.


Kepala pelayan yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa siap siaga memantau Drag dan Vera yang masih berada di atas tangan. Ketika hampir berada di lantai dasar, tiba-tiba saja Devan tak sengaja melihat adegan romantis itu. Seperti biasanya, Devan akan membuat ulah. Apalagi kalau bukan memvideokan Drag dan Vera lalu mengirimkan nya ke grub keluarga.


"Devan!" teriak Vera yang tiba-tiba saja sudah berada di mode aslinya. Devan hanya tersenyum puas mendengar teriakan itu yang di barengi video nya yang terkirim.


"Hapus nggak!" ancam Vera yang saat ini masih berada dalam gendongan Drag.


"Sayang," ucap Drag memberi peringatan ketika Vera banyak bergerak dalam gendongan nya.


Devan yang tak mau mendapatkan masalah dari kakak dan kakak iparnya itu segera pergi meninggalkan mansion. "Sejak kapan Devan berada di sini Pak? apakah dia tak ikut pulang bersama Papa dan Mama?" tanya Drag melirik Pak Li sekilas.


"Tuan Devan tidak ikut dengan Tuan dan Nyonya karena masih punya kepentingan di sini tuan," ucap Pak Li membuat Drag mengangguk paham.


"Baik Pak Li," ucap Drag yang di sambut senyuman hangat pria paru baya itu.


Beberapa menit menuruni tangga, kini Drag berhasil sampai ke dapur, "Huh, huh, huh," nafas Drag terlihat naik turun setelah mendudukkan Vera di kursi yang berada di dapur. "Tunggu sebentar ya sayang," ucapnya seakan susah bernafas.


Pak Li segera mengambil segelas air dingin untuk Drag dan segelas jus untuk Vera. Vera cemberut karena jus yang ia pegang tidak dingin. "Kenapa jusnya tidak di kasih es Pak?" tanya Vera yang langsung mendapatkan tatapan tajam Drag.

__ADS_1


"Tidak ada es-es sayang!" ucap nya membuat Vera hanya memanyunkan bibirnya.


Beberapa menit berlalu, kini Vera duduk manis sembari memperhatikan suaminya yang sedang sibuk memasak. Drag membuat bubur sumsum Vera sembari melihat tutorial di handphone milik nya. Karena Drag tak biasa melakukan hal-hal yang berkaitan dengan dapur, membuat Drag terlihat sedikit kesusahan dan bingung. Beberapa jam fokus pada masaknya, akhirnya Drag berhasil menyajikan semangkuk bubur sumsum di depan Vera. Walaupun lelah, tetapi Drag terlihat tersenyum bangga karena telah berhasil membuat bubur spesial penuh cinta untuk Vera.


"Silahkan di makan Ratuku,,," ucap Drag membuat Pak Li tersenyum.


Vera menarik bubur panas di depannya lalu menghirup harum yang berasal dari bubur itu. Vera mengambil sesendok bubur lalu memperhatikan nya sesaat, ia tersenyum membuat Drag kembali tersenyum. Dengan raut wajah bahagia Vera memasukkan sesuap bubur itu ke mulutnya. "Ah," aduh nya membuat Drag panik.


"Kenapa sayang, apakah panas?" tanya Drag yang sudah mengambil sendok dari tangan Vera.


Vera menggelengkan kepalanya dengan lemah, "Yang mulut ku nggak bisa di buka lebar, seperti nya gigi paling belakang tubuh yang. Sakit,,," aduh nya lagi membuat Drag segera memeriksanya. Dan benar saja, Drag melihat gusi Vera yang sedikit membengkak dengan gigi baru yang sedikit timbul.


"Nanti kita obati ya, sekarang ayo makan lagi buburnya," ucap Drag yang di sambut gelengan Vera.


"Nggak mau yang, sakit,,,ayang saja ya yang menghabiskan nya," ucap Vera membuat Drag menegang di tempatnya. Bagaimana bisa ia menghabiskan bubur itu jika ia salah satu orang yang tak menyukai bubur.


"Mas nggak suka bubur yang," ucap Drag berterus terang.


"Di telan-telan saja yang buburnya, emangnya ayang mau mubazir?" ucap Vera yang mulai pandai menasehati.


"Baiklah, karena aku cinta kamu, aku akan menghabisi bubur sumsum ini," ucap Drag membuat Vera tersenyum senang padanya.


Dengan ragu-ragu Drag memakan bubur buatan nya sendiri walaupun rasanya ia ingin muntah. Benar kata Vera, jika di telan-telan saja maka rasanya tidak terlalu aneh di mulutnya.


Untung saja aku yang memakan bubur ini, jika tidak, pasti istri ku ini akan memakan sedikit bubur yang gosong, batin Drag menikmati buburnya dengan bibir tersenyum melihat ke arah Vera.


"Alhamdulillah," ucapnya setelah menghabiskan semangkuk buburnya.


"Yey," teriak Vera senang sembari bertepuk tangan. "Ma aci yang," ucapnya manja sembari masuk ke pelukan Drag. Drag membalas pelukan Vera yang lagi-lagi menjadi sebuah video di handphone Devan. Rupanya Devan kembali lagi ke kediaman Drag sebab mengambil barangnya yang tertinggal.


"Priwit," siul Devan menghancurkan adegan romantis itu.

__ADS_1


"Devan!" teriak Vera hendak mengejar Devan yang sudah berlari tetapi di tahan Drag.


"Sudah sayang," ucap Drag membuat Vera hanya bisa mendengus sebal.


__ADS_2