
Tak sengaja Drag menatap ke arah lantai yang sudah banyak percikkan makanan milik Vera. "Jangan berantahkan Vera, bersihkan itu nanti." Tegas Drag dengan tampang yang garang. Vera memutar mata sinis nya.
"Iya bawel!" ucap Vera dengan kesal.
Akhirnya Vera telah selesai dengan aktivitas mengemilnya. Dia menyapu semua bekas makanannya. Setelah merasa sudah bersih, Vera beranjak pergi dari ruangan Drag. Sebelum keluar dari ruangan Drag, Verapun mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya itu. "Jangan kebiasaan main pergi saja, nggak sopan! sini salam saya dulu.” Perintah Drag seperti memaksa.
Sabar Vera, sabar...
Vera segera memutar badannya lalu berjalan ke arah Drag. Dia mengambil tangan suaminya lalu menciumnya. Drag yang merasa tangan nya di cium pun langsung mengelus kepala Vera dengan penuh kasih sayang. "Pulang nanti sama saya. Tunggu di mobil." ucap Drag pada Vera.
Mampus deh aku...
Vera terdiam sesaat ketika mendengar penuturan suaminya. "Bapak pulang di luan saja ya, saya ada tugas kelompok dengan teman saya. Jadi agak sedikit telat pulangnya." ucap Vera mencari seribu alasan agar tidak pulang dengan Drag.
Drag mengangkat sebelah alisnya. Dia menatap Vera dengan cara memicinkan sedikit matanya. "Jam berapa pulangnya?" tanya Drag yang sepertinya sudah terperdaya dengan ucapan Vera.
Jam berapa ya aku jawab?!
"Jam 5 sore pak." ucap Vera asal sembari menatap Drag dengan penuh tampang meyakinkan. Drag terlihat kaget dengan jam yang di ucapkan Ver.
"Lama sekali!" tak terima dengan keputusan Vera.
"Ya harus gimana lagi." Vera menampilkan wajah berpura-pura bingung.
"Kurangi jamnya, ingat kamu sudah bersuami!" Perintah Drag dengan tegas.
Ngeselin banget sih jadi suami!
Vera melihat suaminya dengan wajah cemberut. "Ok saya usahakan pulang jam empat." Vera mengundurkan jam pulangnya.
"Jam 2 harus sudah sampai rumah!" ucap Drag tak mau di bantah.
"Tapi pak!" ucap Vera kurang setuju dengan ucapan Drag.
"Saya nggak mau tau, pokok nya jam 2 harus sudah berada di rumah!" ucapnya sangat tegas dengan wajah yang lebih dari sebelumnya. Vera pergi dengan keadaan sangat kesal. Ia menghentakkan kakinya meninggalkan ruangan Drag.
Maaf istriku, bukannya aku melarangmu dan membatasi semua aktivitasmu. Tetapi, kau sudah menikah denganku dan sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga dan mengajarkan berbagai hal yang seharusnya sudah kamu ketahui.
Drag menatap kepergian istrin nakalnya itu.
Di Lorok kampus terlihat Vera berbicara sendiri, seperti nya gadis itu sedang mengumpat. "Uuu..ngeselin banget sih jadi suami!" umpat Vera sembari melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Suami siapa?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Vera.
"Eh!" Kaget vera. Vera mengelus dadanya yang sakit karena terkejut. Vera menatap wanita bercadar di depannya dengan wajah cemberut.
"Lucy ngagetin saja!" Vera kesal dengan keusilan Lucy.
__ADS_1
Lucy memajukan sedikit kepalanya , lalu berkata, "Suami siapa yang sedang kau umpat?!" tanya Lucy bingung dan penasaran. Vera berpura-pura tak mendengar dan pura- pura lugu.
"Suami? mana ada aku bilang suami, aku cuma bilang dosen killer itu." ucap Vera berbohong. Lucy bertambah penasaran ketika melihat gelagat aneh Vera.
"Kenapa kau mengumpatnya? nggak baik loh mengumpat guru! nanti nggak dapat ilmu dan berkahnya." Nasehat Lucy yang tak di tanggapi Vera.
"Kesel aku lu...gemes banget..." geram Vera dengan ekspresi yang membuat orang gemas. Lucy menatap Vera dengan wajah datar seperti biasanya.
"Kau pun juga salah Ver, makanya periksa semua barang bawaanmu di malam hari. Pasti setiap malam kau nggak ada baca buku kan?!" ucap Lucy menebak.
Mampus aku...
"Baca kok, tapi nggak banyak. Namanya aku juga manusia Lu, pasti ada khilaf yang ku lakukan. Hehe.” Vera beralasan sembari mendekap tubuh Lucy.
"Iya-iya, tapi khilafnya jangan keseringan, nanti jadi terbiasa." ucap Lucy dengan ekspresi datar dan dingin. Vera tersenyum melihat Lucy.
"Ya sudah, yuk masuk kelas." ajak Vera sembari merangkul Lucy.
Lucy menganggukkan kepalanya tanpa menjawab ucapan Vera. Akhirnya merekapun pergi menuju ke kelas terakhirnya. "Ahh... Akhirnya kelar juga kelasnya.” ucap Vera senang lalu merenggangkan tubuhnya yang pegal.
"Ver aku di luan." ucap Lucy yang sudah menenteng tasnya.
"Kemana?" Vera menatap Lucy dengan datar. Vera memiringkan sedikit kepalanya menghadap Lucy.
"Kemana saja." ucap Vera dengan senyum penuh godaan dan rayuan.
Lucy membuang nafas kasar. "Hmm...mager aku Ver." tolak Lucy secara lembut.
"Ayo lah lu...bentar saja. Nanti setengah dua kita pulang." ucap Ver mencoba mempengaruhi Lucy.
Dengan penuh pertimbangan akhirnya Lucy mau ikut dengan Vera "Hmm...okelah." Vera kesenangan dengan keputusan Lucy.
"Yes...gitu dong.” akhirnya Vera dan Lucy pergi menghabiskan waktu berdua. Mereka memilih untuk pergi ke cafe yang baru di buka. "Naik keretamu aja ya lu." saran Vera dengan tatapan memohon.
"Iya." ucap Lucy dengan singkat sembari berjalan ke arah parkiran motor.
Tanpa Vera sadari, di ujung lorong terlihat seorang pria sedang memperhatikan Vera.
Mau kemana mereka. Batin Drag bingung dengan mata yang terus fokus memperhati kan istrinya itu.
"Tin." Lucy menekan klakson seakan menyuruh gadis itu untuk naik ke motor beatnya. Vera yang paham akan kode itu, dengan segera menaiki kereta beat lucy, setelah Vera naik, Lucy pun menjalankan beatnya ke arah tujuan.
__ADS_1
Vera mengipas kan kedua tangannya ke wajah. "Enaknya anginnya.." ucap Vera tersenyum senang ketika angin sepoy-sepoy menerjang wajah cantiknya.
"Pegangan Ver." ucap Lucy yang terus fokus melihat ke arah depan. Tidak lama mereka berkendara, akhirnya Vera dan Lucy pun sampai ke cafe yang baru beberapa hari di buka.
"Keren banget cafenya Lu...ayo foto." ajak Vera sembari menarik tangan Lucy. Mereka berfoto di halaman cafe yang terlihat seperti taman yang di mana banyak pohon, bunga dan lampu-lampu gantung. "Satu..dua..tiga..Ckrek." satu tangkapan foto berhasil di ambil dan tersimpan di handphone Vera.
Vera mengendarakan pandanganya melihat keberbagai arah. "Cantik kali lampu hiasnya ya Lu." ucap Vera sembari tersenyum. Dia terus berjalan bersama Lucy untuk mencari tempat yang menurut nya pas.
“Iya, apalagi kalau malam.” ucap Lucy tanpa mengalihkan pandangannya.
"Yok makan. Dah lapar aku." ucap Lucy dengan wajah datar dan terlihat garang. Vera mengandeng tangan Lucy.
"Ayo..." ucap Vera dengan penuh semangat.
Mereka berjalan ke arah meja yang berada di luar cafe. Sepertinya pemandangan di luar cafe lebih indah, apalagi cuaca yang sangat mendukung, terlebih lagi ada angin sepoy- sepoy. "Maaf mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan cafe yang sudah berada di meja Vera dan lucy.
Lucy melirik pelayan cafe dengan wajah datar. "Boleh lihat buku menunya mbak?" tanya Vera.
"Silahkan mbak." ucap pelayan itu sembari memberikan dua buku menu kepada Lucy dan Vera. Vera menatap buku menu sejenak lalu memalingkan tatapannya ke arah Lucy.
"Kau pesan apa lu?" tanya Vera.
Lucy tidak menjawab pertanyaan Vera tetapi mengarahkan pandangan datarnya ke arah pelayan cafe. "Nasi padang ada mbak?" tanya Lucy tanpa getar.
"Maaf mbak kami tidak menjual nasi padang." ucap pelayan cafe dengan ramah dan senyum di wajahnya. Vera melebarkan matanya menatap tak percaya ke arah Lucy.
"Kau Lu ada-ada ajalah. Mana ada di sini nasi padang!" ucap Vera tidak habis fikir dengan pesanan Lucy.
"Mana tau..." ucap Lucy dengan santai. Gadis tomboy itu terlihat sangat percaya diri dan tidak merasa malu dengan kelakuan nya.
"Ya sudah mbak saya mau ipomie nyemek- nyemek ya.” ucap Lucy sembari mengembalikan buku menu kepada pelayan itu.
"Mbak saya mau nasi goreng sama ipomie macam teman saya ya." Vera mengikuti pesanan Lucy sembari menyerahkan buku menu.
Pelayan cafe itu bersiap-siap mencatat pesanan Vera dan Lucy lagi. "Minumnya mau apa mbak?" tanya pelayan cafe lagi.
"Apa lu?" tanya Vera menatap mata Lucy.
"Teh manis dingin." ucap Lucy singkat yang terkesan cuek dan datar. Mungkin siapa saja yang berada di situ kesal dan gemas dengan tingkah Lucy.
"Mbak teh manis dingin dua ya." ucap Vera pada pelayan itu.
"Baik mbak, tunggu sebentar ya." ucap pelayan itu dengan ramah sembari tersenyum. Pelayan itu pergi dari meja yang di tempati vera dan lucy. Tak lama pelayan itu pergi, terdengar suara deringan handphone, tak tau siapa pemiliknya.
"Tring..." Vera mencoba merogo tasnya. "Siapa sih ganggu saja!" kesal Vera sembari melihat layar handphonenya.
Ya ampun...bagaimana ini. Ada-ada saja sih beruang kutup ini! baru juga pergi sudah nelpon aja.
__ADS_1