Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Mukbang Bakso Raksasa


__ADS_3

Di mobil yang sedang menuju kediaman Vino, terlihat Lili hanya diam terpaku menatap jalanan dan pohon yang ia lewati. Vino yang berada di sebelah Lili terlihat acuh dan tak memperdulikan kesedihan wanita culun yang sudah menjadi istrinya itu. "Apakah kau ingin pergi ke suatu tempat sebelum pulang kerumah kita?" tanya Vino mengucapkan kata rumah agar Lili sadar jika saat ini ia telah resmi menjadi suaminya.


Lili hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, bahkan ia enggan untuk menoleh ke arah Vino. Vino yang kesal di acuhkan menarik tangan Lili dengan cepat membuat wanita culun itu kaget dan jatuh di dada bidangnya. "Tu-tuan," ucapnya kaku sebab sangat tak nyaman dengan posisinya saat ini.


"Aku paling tidak suka di acuhkan ketika berbicara!" ucapnya dengan pelan namun penuh tekanan dan peringatan.


"Ba-baik tuan," keberanian Lili telah hilang di telan waktu. Jangankan melawan, menatap mata tajam Vino saja ia tak berani.


"Hm," dehem nya tetapi tak melepaskan Lili dari dekapan nya.


"Tu-tuan," panggil dengan suara kaku sembari menatap wajah Vino yang sedikit berjarak di atasnya.


"Hm," sahutnya tanpa menoleh ke arah Lili.


"Bisakah anda melepaskan pelukan anda?" tanya Lili dengan tubuh yang sedikit pegal karena tubuh miring. Vino yang mendengar permintaan Lili segera melepaskan wanita itu dari pelukan nya.


"Apa kau tak suka aku memelukmu?" tanya Vino dengan nada kesal. Wajah datar nan arogan nya terlihat tak bersahabat membuat Lili merasa serba salah.


"Bukan begitu tuan, tubuh saya pegal jika di peluk begitu," ucap Lili mengeluarkan unek-unek nya.


"Alasan! bilang saja jika kau tak ingin di peluk!" ketusnya seperti ngambek kepada Lili.


Ada apa dengan sikapnya ini? kenapa begitu cepatnya berubah? apakah karena vaksin rabies di tubuhnya tidak berkerja sehingga sikapnya berubah? batin Lili bertanya-tanya sembari terus menatap Vino.


Cih, gadis culun ini membuat ku sangat gemas dengan nya! bisa hancur pertahanan ku ini jika dia terus menatap ku seperti itu. batin Vino panas dingin.


"Berhentilah menatap ku seperti itu! apa kau mau aku meniduri mu di dalam sini," ucap Vino sedikit berbisik membuat supir yang mengendarai mobil tak dapat mendengar nya.


Lili menggeleng cepat ketika mendengar nada penuh ancaman itu. Ia benar-benar sangat merinding dan tak bisa membayang kan jika dirinya akan melakukan ibadah suami istri. "Bagus, jadilah istriku yang baik," ucap Vino sembari menepuk kepala Lili dengan pelan.


Setelah beberapa lama di jalan, kini Vino dan Lili sudah sampai di apartemen. Kedua nya turun dari pintu yang berbeda. Vino berjalan terlebih dahulu meninggalkan Lili di belakang. Rasa nya ingin sekali Lili kabur dari apartemen itu tetapi ia urungkan niatnya itu. Ia takut Vino melakukan hal yang tidak-tidak padanya di sebabkan dirinya yang berusaha kabur. "Culun!" teriak Vino membuat Lili segera masuk dengan cepat.


"Iya tuan," ucapnya dengan tubuh yang menjaga jarak dengan Vino.

__ADS_1


"Ayo cepat, kau ini lamban sekali," ucap nya datar tetapi terdengar menusuk.


Menyebalkan sekali, batin Lili sembari terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah panjang Vino.


Waktu berjalan begitu cepatnya, Sore ini Vera sudah di izinkan pulang. Drag selalu setia menemani Vera hingga sampai di kediamannya. "Ayang,,," ucapnya sangat manja di bahu Drag.


"Hm," sahut Drag menatap Vera yang terlihat sangat manja.


"Mau mukbang bakso raksasa,,," pinta nya sangat manja membuat Drag terkejut dengan permintaan Vera.


"Apakah nanti bisa habis bakso nya?" tanya Drag yang langsung di angguki Vera.


"Ya sudah, nanti Mas pesankan ya," ucap Drag tetapi langsung mendapat tolakan berupa gelengan manja. "Huh," Drag menghela nafasnya melihat sikap istrinya itu. Mau kesal, tetapi ia sangat mencintai nya. "Jadi sayang maunya gimana?" tanya Drag mencoba mengikuti kemauan Vera.


"Makan langsung di tempatnya yang," ucapnya dengan manja membuat Drag bukannya marah malah semakin sayang pada Vera.


"Ya sudah," ucap Drag membuat Vera sangat gembira.


Akhirnya Drag dan Vera pun segera pergi mencari penjual bakso raksasa walau kondisi Vera Saat ini baru saja pulih. Tepat pukul 20:00 Vera dan Drag berhasil menemukan rumah bakso raksasa yang tepat. "Bagus ya yang dekorasi nya," ucap Vera yang di angguki Drag.


"Sayang dulu yang makan, kalau Mas gampang," ucapnya tersenyum tulus membuat Vera tersenyum dengan mulut yang penuh. "Makannya pelan-pelan ya sayang, Mas tidak mau jika nanti kamu tersedak," ucapnya sembari memijit bahu Vera dengan lembut. Vera hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Seperti orang yang tak sakit, Vera memakan bakso super pedas itu dengan lahap membuat Drag sedikit cemas dengan calon anaknya. "Sayang, sudah dulu ya makan pedasnya. Ini minum," ucap Drag dengan lembut karena ia tau Vera sangat sensitif semenjak hamil. Vera segera menghentikan kegiatan nya lalu meminum air yang di sodorkan Drag padannya.


"Sudah kenyang?" tanya Drag sembari memperhatikan Vera yang mengelus perut buncit nya.


"Udah yang," ucap Vera dengan raut wajah bahagia.


"Ya sudah, mari kita pulang," ajak Drag membuat Vera langsung menatap suami tampannya itu.


"Yang, sisanya jangan lupa di bawa pulang ya. Nanti aku mau makan lagi," ucap Vera yang langsung mendapat anggukan dari Drag.


Dari kejauhan terlihat beberapa orang menatap tak suka ke arah Vera. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik. "Lihatlah, apa dia tak malu menampakkan dirinya di depan umum dengan perut yang tengah mengandung anak haram itu!" gosip salah satu wanita yang di sahutin teman di sebelahnya.

__ADS_1


"Benar sekali, jika saja aku adalah dirinya, mungkin aku sudah mati bunuh diri karena nggak mau menanggung malu!"


"Kenapa ya Tuan Drag mau menikahi nya. Bisa saja kan itu anak dari pria lain!" oceh yang lainnya yang sayup-sayup masuk di pendengaran Vera.


Tak terasa, jatuhlah air mata kesedihan itu. Ia tak pernah menyangka jika dampak berita miring tentang nya amat lah mengerikan. "Kamu kenapa sayang?" tanya Drag yang panik melihat Vera yang menangis dalam diam. "Apakah ada yang sakit? apa mungkin karena makan bakso pedas tadi?" tanya Drag berusaha mencari penyebab air mata Vera jatuh. Vera enggan menjawab, ia hanya bisa memeluk Drag dengan erat. tak lupa ia menyembunyikan wajahnya dari pandangan semua orang.


Perlahan Drag sudah mulai paham penyebab istri kesayangan itu menangis. Ia sangat geram.


Akan aku pastikan tempat ini tak akan buka lagi, dan aku pastikan siapapun yang membuat istriku menangis akan mengalami hal yang sama, batin Drag sangat geram lalu segera menggendong Vera ala bridal style menuju mobilnya. Setelah keduanya sudah masuk, sang sopir segera menjalan mobilnya menuju kediaman Drag. Sepanjang jalan Vera hanya bisa menangis tanpa mengucapkan sepatah katapun. Drag yang tak ingin mengganggu Vera hanya mengelus punggung istrinya itu dengan lembut nan penuh kasih sayang.


"Ting," Drag membuka email masuk dari anak buahnya yang menyelidiki berita miring Vera.


"Temui aku di ruang kerja nanti," balas Drag yang di setujui orang suruhan nya.


Drag menyimpan handphone nya lalu beralih melihat Vera yang sudah tertidur di dada bidangnya. Seperti tak ada lelah-lelahnya, Drag terus menepuk punggung Vera seperti bayi.


Beberapa menit berada di jalan, kini Drag sudah berada di kediaman nya. Setelah mengantarkan Vera ke kamarnya, Drag langsung menuju ke ruang kerjanya. Di sana sudah terdapat Vino dan anak buah suruhan nya. "Bagaimana?" tanya Drag langsung duduk di kursi kebesaran nya.


"Saya sudah menemukan akar berita ini tuan, semua ini ulah Tuan Kuntoro dan putrinya Nona Gaura," ucap pria itu membuat Drag mengepalkan tangan nya hingga uratnya terlihat.


Ternyata kejahatan mereka tak berhenti sampai saat ini. Lihat saja, aku akan membalas kalian semua. batin nya lalu kembali memerintahkan pria di depannya untuk menjelaskan informasi selanjutnya.


"Sesuai informasi yang saya dapatkan tuan, Tuan Kuntoro ayah dari nona Gaura masuk penjara saat ini. Ini di duga karena Tuan kuntoro melakukan pelecehan pada anaknya sendiri," jelasnya membuat Vino dan Drag saling menatap tak percaya.


Benar-benar gila pria tua itu! batin Vino terlihat jijik dengan anak dan ayah itu.


"Dimana mereka menetap?" tanya Drag dengan ekspresi datar nya.


"Saat ini keduanya berada di Amerika tuan," ucap pria itu lagi pada Drag.


"Kenapa?" tanya Drag yang melihat ekspresi khawatir orang suruhannya itu.


"Nona Gaura punya hubungan dengan tuan Marco yang tak lain ialah rekan bisnis anda tuan," jelas pria itu membuat Vino bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Tak kan muda menjebak gadis itu tuan, anda sendiri tau kan, Selain pesaing anda, ia juga tipe orang yang tak suka miliknya di ganggu," ucap Vino tetapi di respon biasa saja oleh Drag.


"Aku tak peduli Vin, aku ingin ayah dan anak itu berada di genggaman ku!" ucap Drag sembari bangkit dari duduknya lalu pergi dari ruangan itu.


__ADS_2