Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Kekesalan Vera dan Glow


__ADS_3

"Sudahlah sayang, apa kamu lupa jika Alvaro itu sepupu ku. Mas tau seperti apa sikapnya. Mas yakin dia bisa membahagiakan Glow. Lagian memang sudah sepantasnya mereka menikah sebab Glow sudah mengandung anaknya." jelas Drag membuat Vera terdiam di tempatnya. Ini benar-benar sangat mengejutkan. Wajah terkejut tadi kini berubah menjadi wajah sendu. Ini semua disebabkan ulahnya yang mengelabui Glow waktu itu hanya karena untuk menyelamati dirinya dari Alvaro.


Maafkan aku Glow. batin Vera sembari menangis penuh penyesalan.


"Sayang,,, jangan menangis. Lagian bukankah sayangku ini seharusnya bahagia sebab sahabat mu itu akan menjadi bagian dari keluarga kita? kalian bisa lebih akrab lagi dan tentunya akan lebih sering bertemu sebab kita akan menjadi saudara. Bukankah begitu?" ucap Drag yang langsung di angguki Vera dengan penuh senyuman.


Benar juga, aku akan lebih dekat dan sering mengajak Glow bertemu sebab kami akan menjadi keluarga. batin Vera dengan perasaan yang mulai membaik.


Alvaro sialan, jika kau menyakitiku sahabatku, aku tak akan memaafkanmu! batin Vera lagi dengan tangan yang di remas sebab geram mengingat perbuatan Alvaro di tempo lalu.


"Sayang," panggil Drag yang langsung mendapatkan tatapan dari Vera.


"Aku jadi sangat merasa bersalah dengan Glow sayang. Benar-benar merasa bersalah. Jika saja aku ti-" belum lagi Vera menyelesaikan kalimatnya namun Drag sudah memotongnya.


"Uts,,, jangan fikirkan itu sayang, ini semua sudah takdir dan sudah terjadi juga. Kita memang tidak bisa memperbaiki masa lalu namun kita masih bisa memperbaiki masa depan. Masa lalu setiap orang mungkin sangat kotor dan buruk, namun masa depan semua nya tetaplah suci sayang. Mas tidak membela siapapun, namun bisa saja seseorang yang kita lihat adalah seorang pendosa hebat, namun tanpa kita sadari bisa saja dia diam-diam bertaubat pada Allah dan menjadi manusia yang lebih mulia dari pada yang lainnya di sisi Allah." ucap Drag dengan sangat lembut nya sembari mengelus perut buncit Vera dengan penuh kasih sayang.


"Hiks, yang,,," Isak Vera di dada bidang Drag. Wanita itu benar-benar terharu dengan kata-kata yang di lontarkan Drag padanya.


"Sudah,,," ucap Drag berusaha menenangkan Vera yang masih terisak di dadanya.


"Aku tidak bisa memaafkan Alvaro sialan itu yang, hiks," ucap Vera dengan rasa sesak di dadanya.


"Tidak usah terburu-buru sayang, perlahan-lahan saja. Mas yakin dengan seiring berjalannya waktu kamu akan memaafkan nya." ucap Drag memaklumi sikap Vera.


"Terimakasih yang, sudah memahamiku dengan begitu hebatnya," ucap Vera mengeratkan pelukannya yang di balas oleh Drag.


"Memang seperti itu seharusnya sayang," ucap Drag lalu memberikan satu kecupan hangat di pucuk kepala Vera.

__ADS_1


"Ah,,, sayang Mas,,," ucapnya dengan sangat manjanya membuat Sela yang baru tiba di sana tersenyum senang melihat kemesraan keduanya.


"Mas juga sayang kamu, bahkan sangat-sangat sayang," ucap Drag dengan senyum penuh cinta nya.


"Hm, sepertinya kita menggangu ni Pa," ucap Sela pada Ronal yang saat ini memegang kopi milik nya.


"Sepertinya begitu Ma," ucap Ronal yang membuat Vera dan Drag sangat maka pada keduanya.


"Ih,,, Mama, Papa, siapa yang terganggu juga," ucap Vera menyembunyikan rasanya malunya di balik raut kesalnya.


"Benarkah itu nak Drag?" tanya Ronal dengan nada godaannya.


"Tentu saja Pa," ucap Drag terkekeh pelan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Benar-benar tak salah aku menjodohkan anakku dengannya, batin Ronal dengan senyum simpulnya.


Karena sudah di persilahkan gabung pun, kini Sela maupun Ronal segera duduk di meja yang sama dengan Vera dan Drag. Mereka pun berbicara ringan di sana dengan sesekali godaan yang dilayangkan pada Vera.


"Alvaro tidak tau Tante, sudah dua jam Alvaro menunggu namun Glow tak kunjung turun." ucap Alvaro membuat Laila kesal dengan anak nya itu yang terlihat enggan bertemu dengan Alvaro.


"Maafkan sikap Glow ya sayang, dia memang suka seperti itu," ucap Laila merasa tak enak dengan calon menantunya itu.


"Tidak apa Tante, mungkin Glow ketiduran atau sedang bermake-up," ucap Alvaro berusaha menampilkan sisi terbaiknya di hadapan Laila.


"Baiklah sayang, tunggu sebentar ya, Tante akan menemui anak nakal itu!" ucap Laila terlihat kesal dengan Glow.


"Baik Tante," ucap Alvaro menampilkan senyum terbaiknya.

__ADS_1


Alvaro tersenyum melihat kepergian Laila yang semakin lama semakin jauh menaiki tangga. "Kita lihat, sampai kapan kau akan menghindari ku sayang!" gumam Alvaro tersenyum smirk menatap Laila yang sudah tak terlihat lagi.


Di lantai atas tepat nya di depan kamar Glow, terlihat Laila menggedor pintu kamar Glow dengan sedikit kasar membuat wanita yang berada di dalam sana mau tak mau membuka pintu kamar nya. "Ma-mama?!" ucap Glow terlihat terkejut melihat Laila raut muka Mama nya yang terlihat marah.


"Dasar anak nakal," omel Laila sembari menarik telinga Glow dengan sedikit kuat.


"Aduh Ma, sakit,,," aduh Glow sembari memegang telinga nya yang sudah memerah.


"Kamu tu ya, kebiasaan sekali membuat semua orang menunggu. Sekarang cepat bersiap, calon suamimu sudah menunggu di bawah sendari tadi!" pinta Laila dengan tegas membuat Glow mau nggak mau segera bergegas bersiap-siap dan menemui Alvaro.


"Jangan pakai lama ya!" ucap Laila lagi sebelum pergi meninggalkan kamar Glow dan kembali ke lantai bawah.


"Baik Ma," jawab Glow dengan sangat malasnya.


Beberapa menit bersiap-siap, akhirnya Glow pun keluar dari kamar nya lalu menemui Alvaro di ruang tamu. "Hm," dehem Glow setelah berada tak jauh dari Alvaro. Bumil muda itu terlihat menjaga jarak dari Alvaro.


"Hhhhhh," tawa Alvaro lepas melihat wajah cemberut Glow. Glow yang melihat itu terlihat bingung bercampur gemas dengan tawa Alvaro yang menurutnya sangat mengesalkan.


"Apa ada yang lucu?!" tanya Glow dengan tangan yang sudah bersedekap di dada.


"Tentu saja, kau itu sangat lucu sayang jika sedang marah dan ngambek," ucap Alvaro dengan tawa yang masih terdengar di telinga Glow.


"Menyebalkan!" kesal Glow sembari melempar bantal kursi ke arah Alvaro namun dengan cepat pria itu menangkap nya.


"Ada apa ini?" tanya Endrik yang membuat Glow langsung menegang di tempatnya.


"Tidak mengapa om, kami hanya bercanda sedikit sebelum pergi. Apakah om mengijinkan nya?" tanya Alvaro pada Endrik.

__ADS_1


"Tentu saja, pergilah," ucap Endrik yang membuat Glow terdiam di tempatnya.


Kenapa Papa mengijinkan nya? seperti bukan Papa saja! batin Glow lalu segera mengikuti Alvaro. Sebelum pergi, keduanya pun berpamitan pada Endrik dan Laila.


__ADS_2