
Kembali ke perusahaan Drag, saat ini terlihat Vera tertidur dengan perut kekenyangan di sopa yang berada di ruangan Drag. Drag yang baru saja menyelesaikan perkerjaan nya memalingkan wajahnya menatap Vera. Wajah datar itu seketika menerbitkan senyum manisnya melihat bidadari yang tengah tertidur itu.
Saat ini Vera tertidur dengan begitu nyenyak nya dengan tangan yang memeluk kepala boneka miliknya. Karena sopa tak muat untuk meletakkan bonekanya, jadi dia mendudukkan boneka panda itu di bawah lantai. Drag yang sudah membereskan pekerjaan nya segera bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Vera. "Berantakan sekali," gumamnya pelan sembari memperhatikan sampah es krim dan cemilan Vera. Drag mengalihkan lagi pandangan nya ke arah Vera. Pandangan nya begitu dalam pada istri nakalnya itu, tak lupa ia mengelus rambut Vera dengan lembut.
"Hm," leguh Vera terganggu dan mulai bangun dari tidurnya. Kelompok mata Vera terbuka secara perlahan, "Jam berapa sekarang mas?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur. Vera bangkit dari baringnya dan duduk di sisi Drag. Jemari kecil itu terus mengucek matanya yang sedikit buram dan gatal.
"Jam lima sore, yuk pulang," ajak Drag memberikan senyum hangatnya pada Vera yang sudah jelas melihatnya. Vera mengangguk pelan lalu segera memakai sepatunya yang ia lepas saat ingin tidur.
"Mas, kita makan seafood yuk, lapar,,," ucapnya dengan nada parau yang terdengar manja.
"Yuk." ucap Drag lalu bangkit dari duduknya dan segera menarik lengan Vera yang terlihat kesusahan untuk berdiri.
"Awas jatuh-awas jatuh," teriaknya panik ketika Drag menarik tangannya dengan sedikit godaan kecil. "Is, ketawa!" kesalnya melihat Drag yang saat ini sedang terkekeh ke arahnya.
"Maaf sayang." ucapnya masih terkekeh sembari mencubit ujung hidung Vera.
"Sakit mas." Vera memegang hidungnya yang sedikit memerah disebabkan ulah Drag. "Malas ah." Vera merajuk lalu segera berjalan ke arah pintu.
"Belanjaan nya untuk mas ya?" goda Drag mengangkat kantung plastik belanjaan Vera. Vera menghentikan langkahnya dan melirik ke arah cemilannya. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya lalu merampas belanjaan nya dari tangan Drag dengan sedikit kasar.
"Giliran makanan saja tak lupa." ucap Drag dengan senyum menggodanya menatap mata tak bersahabat Vera.
"Mas." kesalnya membuat Drag kembali terkekeh.
__ADS_1
"Maaf-maaf sayang, kamu lucu sekali sih,,," ucapnya mendekati Vera lalu merangkul bahunya dengan mesra. Vera hanya diam dan terus melangkahkan kakinya bersamaan dengan langkah Drag. "Vino, bawah boneka istriku ke mobil." perintah Drag ketika sudah berada di luar ruangan. Kebetulan Vino juga baru menyelesaikan perkerjaan nya dan hendak pergi keruang Drag.
Boneka lagi- boneka lagi, sabar Vino,,, anggap saya semua orang yang melihatmu bukan manusia. batinnya sembari memutar kembali ingatan nya tentang orang-orang yang melihat bahkan mentertawakan nya. Ini semua ulah Vera yang berkeinginan membawa boneka nya ke ruang suaminya.
"Baik tuan," ucap Vino dengan datar. Dari raut wajahnya terlihat jika pria itu terpaksa tapi tak rela.
"Jangan di cium ya." ucap Vera mengancam Vino dengan sorot matanya membuat Drag kembali tertawa dengan kekonyolan istrinya.
"Saya masih waras nona." ucapnya berani membuka suara setelah sekian lama diam dan pasrah.
"Hhhhhh, makanya Vin, cari istri!" ejek Drag di sela tawa bahagia nya.
"Hm," Vino memancarkan hawa dinginya menatap bos sekaligus sahabat mengesalkan nya itu.
"Ayo mas aku sudah lapar." ucap Vera menarik tangan Drag dengan cepat. Drag segera mengikuti langkah Vera yang terlihat tak sabar, sedangkan Vino masuk ke ruangan Drag dan segera membawa boneka Vera dengan raut wajah kesal.
Di rumah sakit tempat Sena di rawat, Papa gadis itu memarahi Sena habis-habisan karena telah berani berzina hingga mengandung anak dari pria yang tak jelas asal usulnya. Yang membuat Papa Sena lebih marah lagi ketika dokter mengatakan jika anaknya itu keguguran. Calon cucu pertamanya sudah tiada, pria paru baya itu tak membenci Sena dan bayinya, tetapi dia membenci sikap buruk anaknya itu.
"Kau sudah terlalu ku bebaskan. Di sini aku yang salah! ya, kurang mendidik dan memperhatikan anak ku sendiri sehingga inilah yang terjadi, hiks." ucap Papa Sena sembari mengusap air matanya yang menetes sebab ulah Sena. Mama Sena yang duduk kini bangkit dan menyamperi suaminya yang tengah kecewa itu. Ia memeluk dan memberikan elusan lembut di punggungnya.
"Sabar Pa, semua sudah terjadi. Intinya sekarang kita harus berbenah diri dan memperbaiki semuanya mulai dari awal lagi." ucapnya ikut terisak di dada suaminya itu.
Di ranjang nya, terlihat Sena menghapus air mata penyesalan nya, ia baru sadar jika apa yang selama ini ia lakukan bukanlah hal yang baik. Dia sedih atas dirinya sendiri yang telah bodoh dan mengikuti tren zaman sekarang yang berakibat buruk pada dirinya sendiri. Dia telah mematahkan hati kedua orang tua yang ia cintai. Ia segera mengelap air matanya lalu mencoba turun dari kasurnya dan bersujud di kaki kedua orang tua nya. "Maafkan Sena, Ma, Pa, Sena salah, ampuni lah Sena. Sena berjanji tak akan mengulangi hal yang sama. Hiks." tangis itu terdengar sangat tulus dan menyayat hati kedua orang tuanya. Dengan pelan wanita paru baya itu menarik tubuh Sena agar segera bangkit. Setelah bangkit, ia segera memeluknya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Tidak apa nak, Mama dan Papa sudah memaafkan mu. Berubah lah nak, kau tetap berharga di mata kami walaupun seluruh dunia menganggap mu layak nya sampah. Kau adalah putri semata wayang kami satu-satunya. Intan berlian permata, itulah dirimu sayang. Kau sangat-sangat berharga." ucap Mama Sena membuat Sena dan Papa nya mengangguk secara bersamaan dengan penuh haru.
Di luar pintu terlihat Tika yang baru saja tiba, menangis haru melihat kebahagiaan yang di miliki Sena. Karena melihat itu Tika kembali mengingat almarhum kedua orang tuanya yang telah meninggal. Bukan hanya Sena saja yang sadar akan perbuatannya, tetapi Tika juga sadar dengan perbuatan dan pergaulan bebasnya selama ini. Ia kurang perhatian dan kasih sayang makanya dia bisa seperti sekarang ini. "Tok-tok-tok." Tika mengetuk pintu sembari mengelap air matanya yang sempat menetes.
Keluarga yang saling berpelukan itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan melihat wajah Tika yang tengah tersenyum di balik kaca kecil di pintu itu. "Masuklah sayang." ucap Mama Sena yang langsung memberikan pelukan hangatnya kepada Tika. Tika yang mendapatkan pelukan seorang ibu kembali tersenyum bahagia. "Kenapa menangis sayang?" ucap Mama senang mengelap air mata sahabat anaknya itu.
Tika mengangguk pelan dengan senyum simpul di bibirnya. "Mulai sekarang, kami adalah orang tuamu juga nak. Jangan merasa sendiri ya sayang, walaupun kedua orang tuamu sudah tiada. Sekarang Sena bukan hanya sahabatmu tetapi saudarimu. Mengerti?" ucap Mama Sena dengan tangan yang memegang pipi Tika. Tika mengangguk pelan lalu memeluk kembali wanita paru baya itu.
Akhirnya Tika resmi menjadi anak angkat kedua orang tua Sena. Sekarang Sena dan Tika bukan hanya sebatas sahabat tetapi kakak adik. Jangan tanya darimana kedua orang tua Sena mengetahui keadaannya, karena Sena sendiri lah yang menceritakan semuanya pada orang tuanya, bahkan saat ini Tika saja heran kenapa kedua orang tua sahabatnya itu yang mengetahui keadaannya sekarang. Tika bertanya dengan sorot matanya ke arah Sena tetapi gadis itu hanya tersenyum menanggapi nya. "Terimakasih kasih Tante," ucapnya setelah pelukan keduanya terlepas.
"Kok Tante sih? Mama dong!" ucapnya membuat Tika tertawa pelan
"Maaf Ma." ucapnya dan hanya di angguki Mama Sena. "Oya Ma, Tika membawa banyak makanan untuk kita disini, mari kita makan." ajak Tika melirik kantung plastik yang ia bawah lalu melirik Mama angkat nya itu.
"Mari sayang." ucap nya tersenyum lalu mengandeng tangan Tika untuk duduk di sopa ruang VVIP itu.
Kini semuanya duduk dan makan bersama di sopa. Keadaan yang panas bercampur haru sudah lenyap di makan waktu. Kini tinggallah tawa dan ketenangan di sana. Tika maupun Sena sudah merasakan kasih sayang yang sebenarnya dari kedua orang tua mereka itu.
Bagaimana keadaan mereka di sana? mungkin aku dan Tika harus meminta maaf dan menjalin hubungan lagi dengan mereka walaupun harapan begitu kecil. batin Sena memikirkan Monica dan Stevia yang sempat ia sakiti.
"Sayang." panggil Mama nya membuyarkan lamunan Sena.
"I-iya Ma." sahutnya terbata sembari melihat wajah mamanya.
__ADS_1
"Buka mulutmu nak." perintah wanita paru baya itu membuat senyum Sena terbit di wajahnya. Sena segera membuka mulutnya dan menerima suapan kasih sayang dari Mamanya.
Terimakasih kasih ya Allah telah menyadarkan kami atas semua kesalahan yang telah kami perbuat. Tolong ya Allah, bantulah kami merubah diri kami menjadi manusia yang lebih baik lagi. Jangan biarkan kami mengulang perbuatan yang sama untuk yang sekian kalinya. Dan tempatkan lah anak ku di sisi terbaik mu yang Allah. Aku mencintai nya tetapi engkau lebih mencintai nya, maka aku Ridha ya Allah atas semua ketentuan mu. Doa Sena dalam hati dengan mata yang sudah berkaca-kaca, sedikit saja ia berkedip, maka jatuhlah air mata penyesalan itu.