
Vera melangkah kakinya mendekati salah satu pohon pir. Vera melirik ke kanan dan ke kiri. "Petik buah dikit ah." ucap Vera sembari berjalan seperti maling ke arah pohon buah yang mau ia cicipi.
Hmm...enak banget...malah manis lagi. batin Vera tersenyum dengan mulut yang mengunyah buah.
"Lagi apa?!" terdengar suara barinton seorang lelaki yang tak di sangka kemunculannya. Vera menoleh ke arah sampingnya.
"Eh..." kaget Vera sembari menjatuhkan setengah buah yang sudah ia makan.
"Kurang ajar banget sih ngagetin orang!" Bentak Vera sembari menatap orang yang mengejutkan nya.
"Hmm..." terlihat aura dingin dan menyeramkan dari lelaki itu.
"Ehh bapak..." ucap Vera sedikit takut dan malu. Senyum terpaksa tapi tak rela telah muncul di bibirnya.
"Kenapa kau di sini? Dan kenapa sendiri? bukannya saya sudah bilang, jika membutuh kan sesuatu, katakan saja kepada kepala pelayan." omel Drag pada istri nakalnya itu. Ya, lelaki yang tak di duga kemunculannya adalah Drag suaminya vera.
"Kenapa bapak bisa ada di sini sih. Bukannya di..." ucap vera tertahan karena Drag menutup mulutnya dengan kumpulan jemarinya.
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Masuk!" ucap Drag dengan tegas dan arogan. Tak lupa wajah beringas dan mata tajam nyalangnya ke arah vera istrinya.
"H." Vera meninggalkan Drag tanpa menjawab. Vera menampilkan muka cemberut dan masam. Drag hanya menggelengkan kepalanya. Dia tak habis fikir dengan tingkah laku Vera yang bersikap kekanak-kanakan dan tak bisa di atur.
Drag sangat panik di buatnya. Bagaimana dia tidak panik ketika mendapat telepon dari kepala pelayan, bahwa istrinya hilang tak tau kemana. Seluruh pelayan panik di buatnya. Untung saja empat bodyguard yang sempat bertemu istrinya segera memberi tahu.
Drag sudah seperti orang tua yang sedang memarahi anaknya, pria arogan itu berjalan di belakang Vera dengan tatapan yang tak lepas memandang Vera. "Kenapa kamu susah banget sih di beri tau Vera!" ucap Drag sembari terus berjalan mengikuti langkah kaki Vera.
Vera enggan melihat ke arah suaminya. Sepertinya gadis ini benar benar kesal dengan Drag. "Aku kan cuma mau keluar." Jawab Vera singkat.
"Diam!" ucap Drag dengan tegas. Lelaki arogan itu sudah berada di depan Vera. Vera mencoba menyingkirkan tubuh Drag yang menghalanginya.
"Apaan sih!" ucap Vera dengan nada jutek.
Drag menarik tangan Vera dengan kasar, sehingga Vera tak memiliki jarak dengan Drag. "Kamu itu sudah menjadi istri saya Vera! jadi kamu tidak bisa pergi kemanapun tanpa seizin saya! Kamu dengar tidak!" ucap Drag dengan sangat tegas.
Vera menarik tangannya dengan kasar. "Nggak mau dengar, dan nggak mau tau!" Vera melawan Drag. Dengan cepat, Vera segera berjalan menghindari suaminya itu. Baru hitungan hari mereka menikah, sudah bertengkar saja.
__ADS_1
Drag yang mendengar penuturan pedas Vera tersulut emosi. Pria tampan bermata tajam itu mengejar Vera. "Slep..." Drag mencekal dan menarik tangan Vera. Dengan paksa dan beringas, Drag mencium jambu merah di wajah Vera. Vera berusaha memberontak, dan terus menerus memukul dan mendorong suaminya itu. "Hap...." Vera mengambil napas sebanyak mungkin ketika Drag sudah melepaskan ciumannya.
Vera mendeorong dada bidang Drag dengan kasar. "Gila tau nggak sih!" bentak Vera yang membuat Drag semakin marah. Tanpa menunggu kesiapan istrinya, Drag kembali mencium jambu merah yang telah ia cicipi tadi. Drag benar benar tidak membiarkan Vera mengambil nafas. "Hiks..." terdengar tangis lirik Vera setelah Drag melepaskan ciumannya.
Drag mengelap bibir merahnya dengan punggung pergelangan tangan. "Itu hukuman kamu jika berani membantah suamimu sendiri." ucap Drag sembari berjalan meninggalkan Vera sendiri.
Begini banget sih nasibku. Lihat saja ya...suatu saat nanti aku pasti pergi dari rumah ini.
***
Di lantai bawah, terlihat Drag memanggil kepala pelayan. "Jangan pernah biarkan kejadian seperti ini terulang kembali. Jangan biarkan istriku pergi, dan keluar dari mansion tanpa pengawasan." perintah Drag lalu di angguki kepala pelayan.
Semenjak mendengar istrinya hilang dari mansion, Drag berubah menjadi suami yang posesif. Apa mungkin Drag sudah bucin kepada istri nakalnya itu? Ntah lah, hanya dia dan tuhanlah yang tahu.
Di lantai paling atas, tepatnya di kamar Vera. Terlihat Vera sedang duduk sembari menghapus air matanya. "Nyebelin banget tu dosen gila, beruang kutub, suami nggak punya perasaan. Jahat banget sama istri sendiri." Keluh Vera dengan bibir mewek. Pusing memikirkan nasibnya, akhirnya Vera memilih tidur di kamar yang nyaman itu.
Hari mulai berganti, tak terasa Vera sudah mulai masuk ke kampusnya lagi. Tak terasa sudah 4 hari juga Vera izin tidak masuk kuliah. "Assalammualaikum." ucap Vera pada Lucy yang sedang membaca buku di kursi paling belakang.
Lucy melirik sekilas tanpa melihat siapa yang mengucapkan salam kepadanya. “wa’alaikumussalam.” Vera memanyunkan bibirnya tak suka.
"Astaghfirullah." ucap Lucy kaget melihat wajah vera yang sudah berada di depan wajahnya. "Kapan kau di sini?!" tanya Lucy sedikit bingung. Vera mendudukkan pinggulnya di kursi di depan Lucy, lalu menghadapkan tubuhnya ke samping.
"Baru aja, kau sih lu...terlalu sibuk dengan buku!" ucap Vera dengan raut wajah yang sama.
Lucy memberikan tatapan datar ke arah Vera. "Kemana kau semalam? kok nggak masuk?!" tanya Lucy mengalihkan pembicaraan. Vera gelagapan.
"E...itu...anu.." ucap Vera bingung dan salah tingkah di hadapan sahabatnya itu.
Perilaku Vera membuat Lucy penasaran.
"Kenapa?" tanya Lucy lagi sembari menaikkan sebelah alisnya. Vera mencoba menampilkan wajah setenang mungkin lalu memberikan senyum samar. "Semalam ada acara keluarga lu, makanya aku izin nggak masuk kuliah. Heheh..." ucap Vera dengan nyengir kuda.
Lucy memicingkan mata tajamnya ke arah Vera. "Mencurigakan." ucap Lucy lalu kembali fokus kepada buku yang sedang ia pegang. Vera berwajah masam.
"Ihh kebiasaan deh Lucy..." Kesalnya tak terima di duakan dengan buku.
__ADS_1
Vera tidak menyadari jika suaminya telah memasuki kelas.
"Selamat pagi." terdengar suara barinton dari depan kelas.
"Pagi pak." ucap teman-teman Vera.
Vera yang kaget, langsung segera membenarkan duduknya. Dia tidak menyangka, dosen sekaligus suaminya sudah masuk dan mengajar secepat ini. "Cepat banget sih masuknya!" gerutu Vera sembari menatap tajam ke arah suaminya.
Terlihat Drag merapikan mejanya lalu menyusun buku dan berkas dengan sangat rapi. "Kumpulkan semua catatan, hari ini kita kuis." ucap Drag seperti bom yang membuat para mahasiswa ketar ketir.
Gila bah dosen gila ini, nggak di kampus, nggak di rumah, sama aja ngeselin nya.
Dari depan Drag memperhatikan Vera dengan mata tajamnya. "Vera!" Panggil Drag dari arah depan.
"Iya pak?!" tanya Vera sedikit cuek dan memperlihatkan raut wajah yang tidak bersahabat.
"Di mana catatan kamu, apakah kamu tidak berniat untuk ikut kuis?!" tanya Drag dengan nada dingin dan tatapan yang mengimitasi.
Para mahasiswi lain hanya memandang vera.
Lucy mendorong sedikit kursi Vera dengan kaki kanannya. Lalu menatap gadis itu dengan datar. "Mana catatan kau Ver? cepat sana kumpul! nanti kau di hukum pulak!" ucap Lucy mengeluarkan uara dingin.
Vera tak menghiraukan ucapan Lucy lalu fokus melihat ke arah depan. Dengan gugup Vera membalas tatapan Drag. "Maaf pak, sepertinya buku saya ketinggalan." ucap Vera sedikit menunduk takut.
"Keluar!" bentak Drag pada vera.
Terkejut, Vera benar-benar terkejut dengan suara barinton itu. "Ta..tapi pak?!" ucap Vera terbata. Dia sedikit tak terima ketika Drag langsung menyuruhnya keluar.
"Cepat keluar!" ucap Drag memaksa vera dengan nada yang sudah meninggi. Lucy hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Vera-vera." ucap Lucy pusing sendiri dengan ulah yang di buat Vera.
Mau tak mau Verapun keluar dari kelas seperti kemarin. "Dasar tidak di siplin!" ucap Drag ketus. Drag terus memperhatikan, dan memandang Vera yang sedang berjalan ke arah pintu. Ada yang tersenyum sinis sekaligus senang melihat Vera yang di usir Drag. "Jangan masuk sampai jam saya habis!" ucap Drag dengan tegas. Dosen killer itu benar-benar tegas dan profesional dalam berkerja.
Dasar nggak punya perasaan sih beruang kutup itu, eh nggak cocok kalau beruang kutup! mungkin, macan gila? ntah lah...ku rasa dua-duanya cocok menjadi nama panggilannya!
***
Jam pelajaran pun selesai, Vera masuk kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran kedua, yang di mana dosennya berbeda. "Jangan di tekuk terus wajahnya, jelek tau!" ucap Lucy melirik wajah cemberut Vera.
__ADS_1
"Hmm..." Vera hanya berdehem ngambek. Lucy bangkit dari kursinya lalu menghampiri Vera.
"Cantik yuk." ajak Lucy yang langsung menarik tangan Vera.