
"Cklek." Vera yang mendengar suara pintu yang di kunci segera menolehkan wajahnya ke asal suara.
Kenapa aneh sekali, pasti ada yang tak beres. Malah tempat ini gelap banget lagi. batin Vera mencoba kembali mendekati pintu. Tangan nya berulang kali memutar knop pintu.
"Buka pintunya." teriaknya dengan tangan yang mengetuk pintu berulang kali.
"Tik." Seseorang menghidupkan saklar lampu.
Ruangan gelap itu seketika menjadi terang. Vera yang yang sudah melihat dengan jelas segera memutar tubuhnya ke asal suara. Mata gadis itu membesar ketika melihat seorang pria tampan tanpa mengenakan pakaian atasan nya. Vera bisa melihat dengan jelas tubuh atletis dan roti sobek pria itu.
Kini mata Vera dan mata tajam pria itu saling menatap. Rahang pria itu sangat tegas dan kokoh. Benar-benar sugar Daddy yang tampan. "Anda siapa?" tanya Vera mencoba menetralkan suasana hati nya setenang mungkin.
Kenapa aku bisa berada di kamar bersama seorang Pria. Brengs*k! rupanya mereka ingin menjebak ku. Vera, fikirkan sesuatu. batinnya tanpa melepas tatapan datar pada pria tampan di depannya.
Pria itu melangkah kan kakinya pelan ke arah Vera. Vera segera memundurkan langkahnya ketika melihat pria itu semakin mendekati nya. "Jangan mendekat!" ucapnya sangat tegas dengan mata yang memancarkan peringatan.
Gadis yang menarik. Baru kali ini ada seorang wanita yang tak tertarik denganku. batin pria itu menerbitkan seringai tipis.
"Tenanglah sayang, kita akan bersenang-senang malam ini." ucap pria itu terus melangkahkan kakinya mendekati Vera.
"Aku tak mau, biarkan aku pergi dari sini!" bentaknya dengan tubuh yang sudah menghimpit ke pintu.
"Mana mungkin aku menyia-nyiakan uang 500 juta ku dengan cara melepas mu." ucapnya berhenti karena fokus memperhatikan wajah Vera yang terlihat tegar tetapi sejatinya ketakutan.
Berani sekali mereka menjualnya. Baiklah, akan ku ikuti permainan kalian! batinnya menatap tajam ke arah pria di depannya.
"Baiklah tuan, aku pasrah dengan semuanya. Sebelum kita bermalam bersama, bolehkan aku membawa teman wanitaku? aku mempunyai teman yang sangat membutuhkan uang, bisakah kau memberikan tambahan uang untuk nya?" tanya Vera menampilkan wajah pasrah dan meyakinkan.
Pria itu memicingkan matanya mencari kebenaran dalam mata Vera. Nafasnya berhembus dengan dinginnya. Dada nya naik turun secara perlahan. "Percaya lah tuan, lagian aku sudah tak perawan. Pasti mereka mengatakan padamu jika aku masih gadis kan?" ucap Vera menampilkan wajah meyakinkan membuat pria di depannya berfikir sejenak.
Berani sekali mereka menipu seorang Alvaro Maesa! lihat saja, aku akan menghabisi pria mata duitan itu! batinnya mengingat wajah pria yang berbicara dengan Monica.
"Sudah ku duga tuan. jujur saja, sebenarnya aku bukan hanya tak perawan, tetapi aku juga seorang pelac*r yang dalam semalam bisa melayani 7 pria yang berbeda. Apa tuan akan tetap menyentuhku? bahkan aku tak tau, apakah aku terinfeksi virus atau tidak. Jika malam ini tuan ingin aku layani, dengan senang hati aku akan melakukan nya." ucap Vera mengeluarkan tipu muslihat nya dengan bibir tersenyum devil.
__ADS_1
Br*ngsek! bahkan mereka mendatangkan wanita bekas kepadaku. batinnya sudah menampilkan wajah kesal.
Bagus Vera, pertahanan ekspresi jahat mu. Berkerja samalah kaki, jangan bergetar. batinnya menahan sesuatu yang hendak bergoyang.
"Maafkan aku tuan, tetapi itulah kenyataan! jika kau sudah tak tahan, aku bisa membawa temanku. Dia sangat berbeda denganku dan ku pastikan, teman ku ini masih perawan!" hasut Vera dengan wajah meyakinkan.
"Baiklah, bawa gadis itu ke sini. Dan ambil lah uang ini!" ucap Alvaro dengan nada tegas bercampur jijik melihat Vera. Tubuhnya yang sudah dekat dengan Vera kini kembali ke posisi awalnya.
"Serahkan kunci nya." ucap Vera menengadahkan tangannya ke hadapan Alvaro.
Alvaro yang takut terinfeksi virus dari Vera tak mau menyerahkan kuncinya secara langsung. Ia melempar kunci itu dari jarak yang lumayan jauh. "Sial!" umpat Alvaro ketika Vera sudah memegang kunci kamarnya.
Aku harus segera mencari mereka. Jika tak dapat semua, satupun jadi! batin Vera dengan hati yang menyimpan dendam dan amarah.
"Cklek." Vera menutup pintu hotel lalu segera melangkah kan kakinya mencari para wanita yang menjebaknya. Ia mengendarkan pandangan nya keberbagai arah. Mata penuh amarah itu terus menatap satu persatu orang yang di lewatinya.
Dapat! batin Vera menatap tajam ke arah Glow yang tengah menikmati segelas jus nya. Di sana Vera hanya melihat Glow seorang diri tanpa adanya Grisela ataupun teman lainnya.
"Glow." panggil Vera dengan wajah yang sudah tersenyum. Ia menyembunyikan amarah dengan sangat baik.
"Ve-Vera!" ucap nya sedikit panik dan gugup. Glow menerbitkan senyum terpaksa nya demi menetralkan rasa takutnya.
"Glow, terimakasih ya sudah mengajak ku ke sini. Pestanya sangat meriah. Oya Glow, tadi aku bertemu dengan Grisela, dia menyuruh mu untuk datang ke ruang pesta. Grisela dan Monica sudah menunggu mu di sana." ucap Vera dengan wajah yang berbinar. Ia memberikan anggukan meyakinkan pada Glow.
Kenapa Grisela tak memberitahu ku ya? bukan nya dia tadi pergi ke toilet? apa rencana nya telah di ubah? apakah mereka benar-benar mengadakan pesta itu? batin Glow bingung dengan mata yang fokus ke depan.
"Glow." panggil Vera membuyarkan lamunan Glow.
Sepertinya dia sedang linglung. Baguslah! batin Vera senang bercampur geram dalam hati.
"Ayo." ajaknya tersenyum ceria sembari menarik tangan Glow dengan sedikit memaksa.
Dalam keadaan bingung dan linglung, Glow melangkahkan kakinya mengikuti langkah Vera. Kini kedua wanita itu sedang berjalan menuju kamar di mana Alvaro berada. Beberapa menit berjalan, kini mereka sudah tiba di depan kamar. Dengan pelan dan lembut Vera memutar gagang pintu dan menarik Glow ke dalam kamar.
__ADS_1
"Mari masuk." ajaknya masih dengan senyum yang sama. Glow hanya mengangguk patuh dengan ucapan Vera.
Setelah berada di dalam sana, Vera melirik Alvaro seakan memberi kode bahwa ia menempati ucapan nya. "Glow sebentar ya, aku mau mengambil barang yang tertinggal di meja mu tadi." ucap Vera langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Glow. Vera yang dari tadi menahan rasa takutnya melangkah dengan cepat. Kunci masih berada di tangannya. Dengan penuh amarah, Vera mengunci Glow dan Alvaro di dalam sana.
Rasakan itu! batin Vera terus melangkahkan kakinya dengan cepat menuju lantai bawah. Dia sudah tak sabar ingin segera pulang ke kediamannya.
Masih di hotel yang sama, terlihat Grisela baru saja menuntaskan hajatnya di toilet. Setelah merapikan makeup dan penampilan nya, wanita itu kembali ke tempat dimana Glow menunggu. Setelah berada di sana, Grisela mengendar kan matanya mencari sosok Glow.
Kemana dia? gumamnya bingung dengan mata yang terus mencari Glow. Grisela segera melanjutkan langkahnya menuju meja tempat Glow menunggu. "Tring." Grisela mencoba menghubungi ponsel Glow yang terus berdering.
Tumben sekali tak di angkat! batinnya bingung menatap layar ponselnya.
Di kamar hotel, terlihat Glow ketakutan ketika melihat pria asing menatap penuh gairah ke arahnya. Glow yang paham apa yang akan pria itu lakukan segera berlari ke arah pintu dan menggedor nya. "Buka sial*n!" bentaknya setengah berteriak. Ia terus menggedor pintu sembari sesekali melirik Alvaro yang menatap tajam ke arahnya.
"Vera...tok, tok, tok." teriaknya memanggil Vera agar segera di buka kan pintunya.
Alvaro semakin mendekati Glow yang ingin lari darinya. Alvaro yang sudah menunggu lama untuk ini segera memeluk Glow dengan erat. "Lepas brengsek!" umpat Glow memberontak sekuat mungkin tetapi tak membuat Alvaro menghentikan perbuatannya.
Mama, papa, tolong Glow. batin nya pasrah sembari meneteskan air matanya.
"Diam!" bentak Alvaro penuh penekanan sembari menggiring Vera ke arah ranjang.
"Grisela! Monica! Tolong...hiks." teriaknya memanggil teman-temannya.
Mau sekuat apapun Glow memberontak, ia akan tetap kalah dengan kekuatan Alvaro. Karena gairah nya sudah di atas awan, membuat Alvaro menyentuh Glow dengan paksa. Dengan ganas dan tanpa perasaan nya pria gagah nan tampan itu merobek pakaian mahal Glow. Alvaro membiarkan kamar itu berserakan disebabkan ulahnya.
"Akh." teriak Glow merasa sakit di bawah sana. Bukan hanya tubuhnya yang merasa sakit tetapi hatinya juga ikut sakit.
Hiks, aku membenci kalian semua! umpatnya dalam hati dengan air mata yang terus mengalir. Alvaro yang melihat Glow menangis tak berniat menghentikan kegiatannya. Tanpa Glow sadari Alvaro tersenyum melihat darah keperawanan nya.
Aku akan bertanggung jawab. batin Alvaro luluh ketika merasa jika Glow adalah wanita baik-baik.
"Hentikan brengs*k." tangis Glow sembari terus memukul dada bidang Alvaro.
__ADS_1
"Tenanglah sayang." ucap Alvaro berubah lembut sembari memberikan kecupan lembut di kening Glow.
Malam itu adalah malam yang tak akan pernah di lupakan Glow. Habislah sudah hidupnya. Harga diri yang selama ini ia pertahankan sudah di ambil orang yang tak ia kenal.