
"Dasar adik durhaka... berani sekali mendoakan kakaknya cepat mati." ucap Drag sembari memijat tubuh Devan dengan kuat.
"Ampun kak ampun. Adek cuma becanda loh..." ucap Devan membela diri. Dia terkekeh sembari mencoba melepaskan dirinya dari genggaman Drag. Setelah berhasil melepas diri, Devan segera menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Drag.
Seram sekali kakakku ini. Pantaslah dapat istri macam kakak ipar ku itu. Hhhh.... sebelas dua belas sifatnya. Memang benar, jodoh cerminan diri kita sendiri.
"Maaf Tuan." ucap kepala pelayan pada Drag.
"Iya Pak." sahut Drag mengalihkan pandangannya menatap kepala pelayan.
"Makan malam sudah siap Tuan." ucap kepala pelayan dengan sedikit bungkuk kan kecil.
"Baiklah pak, Terima kasih. Oya Pak, tolong panggilkan istri saja di lantai 4" perintah Drag pada kepala pelayan.
"Baik Tuan." ucap kepala pelayan segera berlalu pergi.
Setelah kepala pelayan pergi, Drag dan Devan pun melangkah kan kakinya menuju ruang makan.
***
Di lantai atas terlihat kepala pelayan mengetuk pintu kamar Vera. "Tok tok tok." Vera menolehkan pandangannya ke asal suara. "Siapa?" tanyanya tanpa berniat bangkit dari tengkurap nya.
"Saya nona, Pak Li." sahut pak Li dari balik pintu.
Vera bangkit dari tengkurap nya lalu segera melangkahkan kakinya membuka pintu. "Sebentar ya Pak." ucap Vera dengan nada rendahnya.
"Baik Nona." sahut Pak Li dari balik pintu. Tak lama menunggu, akhirnya Vera membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Pak?" tanya nya pelan dengan tangan yang menggenggam handphone miliknya.
"Makan malam sudah siap Nona. Tuan muda sudah menunggu anda untuk sarapan bersama." jelas Pak Li tanpa melepaskan tatapan nya pada Vera.
"Saya mau makan di sini saja pak. Bisa tidak, antar kan makan malam saya ke sini? saya sedikit tak enak badan." tolak Vera secara halus.
"Baik Nona. Apa Nona mau saya panggilkan dokter?" tanya pak Li sedikit cemas. Vera mengangguk dengan senyum simpul di wajahnya.
"Terimakasih pak Li, saya hanya sedikit sakit saja." ucap Vera beralasan yang di angguki kepala pelayan. Setelah pembicaraan singkat itu, Pak Li dan beberapa maid yang mengikutinya segera pergi meninggalkan Vera.
Huh...hampir saja! batin Vera mengelus dadanya.
***
Di lantai bawah terlihat kepala pelayan sudah berada di ruang makan. "Maaf Tuan, Nona Vera ingin makan malam di kamarnya." jelas Pak Li menatap mata tajam Drag.
__ADS_1
"Ada apa dengan kakak ipar saya Pak?" tanya Devan begitu penasaran.
"Maaf Tuan muda, Nona Vera mengatakan bahwa beliau sedang tidak enak badan." jelas Pak Li lagi pada Drag dan Devan. Pria paru baya itu sedikit menjelaskan tentang keadaan Vera. Drag yang mendengar hal itupun sedikit mencemaskan Vera.
Bagaimana bisa istri nakal ku sakit? bukan kah tadi baik-baik saja? Apa aku terlalu keras dan pencemburuan padanya? sehingga egoku membuat diriku tidak tau bahwa istriku tertekan dan sakit karena ulahku? batin Drag merasa bersalah sebab terlalu keras dengan Vera.
"Loh, kenapa tiba-tiba! padahal tadi kak Vera sehat loh Pak Li. Apa jangan-jangan...kak Vera hamil!" ucap Devan asal hal itu membuat Drag tersedak. Devan tersenyum jahil melihat kakaknya yang tersedak. "Minum kak." ucap Devan menyerahkan segelas air pada Drag.
Drag yang sudah tak tahan, segera merampas air dari tangan Devan lalu meminumnya.
Hehehe...mudahnya menggoda kakakku ini. Batin Devan tersenyum devil. Sepertinya hatinya sangat senang saat ini. Lihat saja senyum jeleknya itu, tak pudar-pudar.
Pak Li yang mendengar penuturan Devan, hanya bisa tersenyum. Ia berharap istri tuan mudanya benar-benar hamil.
"Pelan-pelan kak, pelan-pelan. Hehehe." kekeh Devan dengan tangan yang menepuk punggung kakaknya.
"Huh... kamu ini dek kalau ngomong asal ceplos saja. Buat orang kaget saja!" kesal Drag dengan aura dingin dan tatapan tajam. Dia sangat kesal dengan kelakuan adik satu satunya ini.
"Sorry bos..." ucap Devan meminta maaf sembari menyengir kuda.
"Pak Li, tolong perintah kan beberapa pelayan untuk membawakan makanan ke kamar istriku." perintah Drag pada kepala pelayan lalu segera bangkit dari duduknya. Sepertinya Drag ingin menyusul Vera ke kamarnya.
"Baik tuan." ucap pak Li segera berlalu pergi menuju dapur dengan beberapa maid yang mengikutinya.
"Makan saja sendiri." ucap Drag dengan ketus. Drag tak memperdulikan Devan yang terlihat kesal di sana. Ia terus melangkahkan kakinya menemui Vera.
"Nyebelin banget sih jadi kakak." omel Devan dengan wajah di tekuk. Karena sudah lapar, akhirnya Devan memilih makan sendiri di sana. Dia mengambil nasi dan lauk dengan suasana hati yang badmood.
***
Di lantai atas terlihat Drag memasuki kamarnya tanpa berniat menutup pintu.
Vera yang merasa ada yang masuk ke dalam kamarnya pun langsung segera mematikan handphonenya. Ia membenarkan posisi tubuhnya dan berpura-pura tidur.
Sudah ku duga, pasti suami nyebelin itu akan menyusul ku ke kamar. batin Vera kesal dengan mata yang sudah terpejam.
Mata tajam Drag fokus melihat wanita yang sedang tidur di ranjang. Dengan pelan ia mendekat ke arah Vera. Setelah berada di sisi ranjang, Drag mendudukkan tubuhnya lalu mengelus wajah Vera dengan jemarinya. Drag mencurahkan rasa cinta dan sayangnya melalui perhatikan kecil itu.
"Vera...Apa kamu sakit? kenapa tidak bilang pada saya. Bangun dulu yuk. Kita makan dulu." ucap nya dengan nada yang sangat lembut. "Sayang..." panggil Drag lagi dengan nada lembutnya.
Ih geli sekali aku... berani sekali dia memanggilku sayang! batin Vera tak terima di panggil sayang.
Akhirnya mau tak mau Vera membuka matanya. Ia menatap Drag dengan sangat datar. Dengan malas ia membangkitkan tubuhnya. "Apaan sih.. awas ih. Jangan pengan-pegang!" tolak Vera dengan jutek.
__ADS_1
Drag tersenyum dengan kelakukan istri nakalnya itu. "Dosa loh nolak suami." goda Drag sembari mencolek dagu Vera. Vera menepis tangan Drag yang mencolek nya lalu menatap sengit suaminya itu.
"Jangan colek-colek. Bisa diam nggak sih tangan ini." ucap Vera sembari mengangkat tangan Drag.
Ya Allah... gemesnya istriku. batin Drag mencoba mengontrol hatinya yang tak karuan.
"Ngelawan ajalah ini..." goda Drag terlihat gemas dengan tubuh yang sudah memeluk Vera. Drag mengayunkan tubuhnya dan Vera secara pelan.
"Nyebelin banget sih!" bntak Vera menampilkan wajah tak suka.
"Tok tok tok." mata Vera dan Drag menoleh s cara bersamaan menatap ke arah pintu.
"Siapa?" tanya Drag tanpa berniat melepaskan pelukannya.
"Saya Tuan, Pak Li." jawab kepala pelayan dari balik pintu.
"Masuk saja Pak." ucap Drag mempersilakan kepala pelayan dan beberapa maid masuk k kamarnya.
Karena sudah mendapat kan izin. Pak Li dan beberapa maid yang mengikutinya segera masuk dengan membawa meja dorong yang berisi banyak makanan. Para pelayan meletakan makanan itu di meja dekat sopa. Kepala pelayan terus memantau perkerjaan para maid itu.
Setelah selesai, kepala pelayan dan para maid pun pamit undur diri. Kini tinggal Vera dan Drag yang berada di sana. Mereka sama- sama diam membisu. Suasana kamar itu hening sejenak. "Yuk makan." ajak Drag bangkit dari duduknya lalu menggapai tangan Vera dan membawanya menuju sopa.
Vera yang memang sudah lapar tak menolak ajakan Drag. Ia mengikuti langkah kaki drag tanpa berniat melepaskan genggaman tangan Drag. "Makan yang banyak ya istriku." ucap Drag menyodorkan sepiring makanan yang telah di ambilkan nya untuk Vera.
Ada apa dengan perasaan ku ini, kenapa ada yang berbeda. Kenapa aku merasa sangat nyaman dengan perlakuan suamiku? apa aku sudah jatuh cinta padanya? huh... itu tidak bisa terjadi, pasti lelaki seperti dirinya ini banyak simpanannya. Apalagi hartanya berlimpah ruah begini. batin Vera dengan fikiran buruknya. Vera terus menatap suaminya.
Ingat Vera... sifatnya ini hanya sementara. Perhatiannya ini hanya di buat-buat saja agar kau tidak marah padanya. batinnya terus menatap Drag.
"Vera!" sentak Drag membuyarkan lamunan Vera.
"Kenapa?" tanya Vera menatap datar suaminya itu.
"Kenapa? harusnya saya yang bertanya seperti itu pada kamu. Kamu kenapa melamun?" tanya Drag membalas tatapan datar Vera.
"Nggak papa." ucapnya acuh lalu segera memakan makanan miliknya.
"Apa sebegitu tampannya saya, hingga kamu melamun seperti itu." ucap Drag sangat percaya diri. Dia suka sekali menggoda istri nakalnya ini. Vera menampilkan wajah mengesalkan nya.
"Ihh,,, kepedean sekali!" ucap Vera membuat drag terkekeh geli.
"Harus pede memang." ucap Drag tersenyum indah ke arah Vera.
Setelah pembicaraan singkat itu, akhirnya mereka pun makan bersama tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Di selah menikmati makan nya, Drag mengarahkan satu suapan ke arah Vera. Vera menghentikan kegiatan dengan tatapan datar ke arah Drag.
__ADS_1
"Nggak usah sok romantis." ucap Vera tetapi tetap menerima suapan itu. Drag hanya tersenyum menanggapi istri nakalnya itu.