
Gelap perlahan mulai menghilangkan, kini mentari sudah mulai memperlihatkan sinar indahnya. Sayup-sayup terdengar kicauan burung di sekitar mansion. Karena semalam turun hujan, membuat semua tumbuhan terlihat segar dan indah. Semilir angin pagi menembus jendela dan menerbangkan tirai-tirai putih yang indah. Tak hanya menerjang tirai, semilir angin segar itu menyentuh kulit-kulit halus di bawah selimut.
"Uh, dingin banget..." leguh Vera lirih dengan mata yang masih terpejam. Kedua tangannya mengusap bahunya berulang kali untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya.
Pergerakan Vera mengganggu tidur Drag. Pria tampan nan gagah itu mulai menggeliat dan mengejap kan kelopak matanya. "Hm," dehem Drag memfokuskan mata mengantuk nya menatap Vera. Drag yang melihat Vera kedinginan segera memeluk Vera dengan erat di bawah selimut. "St,,,tidurlah lagi sayang." bisik Drag sembari mengusap punggung Vera tanpa batas.
Vera hanya menggeliat kan tubuhnya tanpa berniat menjawab ataupun membuka mata. Tubuh dinginnya sudah sedikit menghangat. Saat ini Vera merasa nyaman berada dalam dekapan suaminya. "Tok-tok-tok." terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
"Tuan, nona. Sarapan pagi sudah siap." ucap bi Sumi dengan suara lembut tetapi terdengar jelas di telinga keduanya.
Drag mengucek matanya dengan kepala yang sudah menoleh ke arah pintu. "Iya bi, sebentar lagi kami turun." ucap Drag tanpa berniat menyamperi bi Sumi.
"Baik tuan." ucap bi Sumi tersenyum di balik pintu lalu segera meninggalkan kamar itu.
Drag sudah membuka matanya dengan lebar. Mata tajam itu terus melirik wajah Vera. Tangan Drag menyapu lembut pipi chubby Vera membuat tidur wanita itu terganggu.
"Jam berapa mas." tanya Vera menutup mulutnya yang menguap dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun yuk sayang. Kita sarapan dulu." ajak Drag mendudukkan Vera dengan paksa. Setelah berhasil mendudukkan Vera, terlihat ia menyender manja dengan tubuh yang sengaja di lemas kan. Drag tak memperdulikan rasa berat di dadanya. Dengan senang hati pria itu menampung tubuh berisi Vera. "Lucu banget sih. Banyak lemak nya." kekeh Drag sembari memainkan lemak yang berada di tubuh Vera.
"Mas!" kesal Vera yang merasa sakit bercampur geli di tubuh gembul nya.
"Ayo bangun. Kasihan bi Sumi sudah menunggu di bawah." ucap Drag menatap kotoran di mata Vera. Tanpa rasa jijik sedikitpun ia membersihkan nya. "Mari kita mandi." ucap Drag penuh semangat sembari menggendong tubuh berat Vera ala bridal style. Vera yang terkejut dengan gendongan Drag refleks membuka mata indahnya.
"Mas suka banget sih gendong orang!" ketusnya menampilkan wajah kesal.
"Saya tidak menggendong orang, saya sedang menggendong bidadari saya." gombal Drag di pagi hari membuat pipi Vera bersemu merah.
"Dasar gombal!" ejek Vera memukul dada Drag dengan pelan.
Kini keduanya sudah berada di kamar mandi. Vera menatap bingung ke arah Drag yang terlihat sibuk melepas pakaiannya. "Mas mau ngapain?" tanya Vera memberikan tatapan curiga. Drag hanya tersenyum sembari menghidupkan shower. "Mas keluar dulu dong,,,kita gantian mandinya!" perintah Vera dengan nada yang sangat manja.
__ADS_1
"Is mas!" ketus Vera merajuk lalu segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Sleep." Drag menangkap tangan Vera dengan ekspresi datar nan arogannya. "Mari mandi bersama." ucap Drag tanpa rasa malu sedikitpun.
"Dek-dek-dek." jantung Vera berdetak begitu cepatnya sembari membalas tatapan mata Drag.
"Kenapa diam?" tanya Drag menutup pintu kembali laku memeluk Vera dari arah belakang.
Hatiku, kenapa aku masih malu ya? bukannya sebelumnya aku pernah merasakan nya? batin Vera memegang dadanya.
Drag yang masih memeluk Vera tersenyum devil melihat ekspresi gugup wanita itu. Dengan isengnya Drag menghembuskan nafas hangatnya di tengkuk Vera. Hal itu berhasil membuat Vera merinding. "Mas,,," ucapnya manja seakan ingin merasakan lebih.
"Kenapa sayang?" tanya Drag berpura-pura tak mengerti dengan kode alam istrinya itu.
"Mas,,," ucapnya manja dengan tubuh yang menghadap Drag secepat kilat. Kepala mungilnya sudah bergoyang di dada bidang Drag yang tak mengenakan penutup sedikit pun. Drag yang sudah tak tahan, segera menuntaskan hajatnya di kamar mandi.
Di lantai bawah, bi Sumi menatap heran ke lantai dua. Mata tua itu masih menunggu dua sosok yang akan datang. "Kenapa non Vera dan tuan Drag belum turun juga? apa mereka tak merasa lapar?" gumam bi Sumi bertanya-tanya. Tak ingin mengambil pusing, bi Sumi memilih pergi ke dapur dan menyelesaikan tugas lainnya.
***
Glow bagaimana kabarmu? maafkan kami yang lalai menjagamu. Kami pun juga tak tau jika kerupuk jangek menumbalkan mu untuk menyelamatkan dirinya. pesan Grisela yang hanya di read oleh Glow.
Bukan hanya Grisela saja yang mengirim pesan seperti itu. Monica, Sena, dan Tika juga melakukan hal yang sama. Stevia yang masih berada di luar negeri hanya bisa mengucap kan kalimat turut prihatin padanya setelah mendengar kabar mengerikan itu.
Jangan menghubungi ku lagi! Balas Glow di sertai emot amarah.
Glow,,, jawab Grisela di sertai emot sedih.
Glow yang muak dengan semuanya memilih mematikan handphone nya lalu menyimpan nya. "Tok-tok-tok." terdengar suara ketukan di pintu kamar Glow.
"Siapa?" sahut Glow dari dalam sembari mengusap matanya yang sembab.
__ADS_1
"Saya non, bi Iyem." ucap bi Iyem dari balik pintu.
"Cklek." Glow membuka pintu itu dan menatap bibi dengan mata sendunya. "Ada apa bi?" tanyanya mencoba menyembunyikan kesedihannya.
Ada apa dengan no Glow? kenapa mata nya bengkak dan sembab. batin bi Iyem terus memperhatikan wajah Glow.
"Non, tuan dan nyonya memanggil non. Mereka sudah menunggu di ruang tamu." ucap bi Iyem membuat Glow mengernyit heran.
Kenapa pagi-pagi seperti ini mama dan papa berada di ruang tamu? tak biasanya. batin Vera memilih acuh lalu segera kembali ke kamarnya.
"Baik bi. Sebentar lagi Glow ke sana." ucap Glow yang di angguki bi Iyem. Setelah menyampaikan pesan papa dan mama Glow, bi Iyem segera kembali ke dapur untuk membuat minum dan cemilan tamu tuannya.
"Tumben sekali!" ucapnya ketus sembari terus berjalan menuju kamar mandi. Setelah pintu itu tertutup, terdengar lah suara gemericik air menandakan Glow sedang membersihkan tubuhnya. "Aku benci kau pria brengsek!" umpat Glow kesal di bawah shower dengan mata yang fokus menatap cermin. Banyak sekali tanda merah di sekujur tubuh Glow karena ulah pria Alvaro.
Tak ingin membuat Endrik marah karena lama menunggu nya, Glow segera menyelesaikan mandinya dan segera mengenakan pakaian. Wanita itu menutupi semua tanda merah di tubuhnya dengan bedak yang sangat tebal. "Perfeck." ucapnya tersenyum senang ketika sudah tak melihat tanda pengundangan murka papanya.
Setelah merasa siap, Glow segera melangkah kan kakinya menuju lantai bawah. "Pa, ma." sapa Glow yang sudah berada di ruang tamu.
"Dek." tubuh Glow menegang ketika melihat pria yang di bencinya berada di rumahnya. Bukan hanya pria itu saja, ia juga melihat pria dan wanita yang seumuran dengan kedua orang tuannya.
Tamatlah riwayat ku! batin Glow menatap Alvaro yang tersenyum devil padanya.
Ya, orang yang mengunjungi kediaman Glow di pagi hari tak lain ialah Alvaro Mahesa. "Mari duduk sayang." ajak Laila dengan lembut dan senyum anggunnya. Glow mengangguk pelan lalu segera melangkahkan kakinya menuju sopa di dekat mamanya.
"Sayang perkenalkan, ini tuan Mahesa dan nyonya Era. Dan sih tampan ini bernama Alvaro Maesa." ucap Endrik memperkenalkan putrinya pada orang-orang itu.
"Vera, om, tante." sapa Glow tanpa berniat menyapa Alvaro.
Kau sangat cantik sayang jika cuek begitu. batin Alvaro terus menatap Glow dengan mata tajamnya.
"Langsung saja papa jelaskan. Kedatangan keluarga Maesa ke sini tak lain untuk melamar mu nak. Papa dan tuan Maesa sudah menjalin pertemanan sejak lama. Papa mau kamu menerima lamaran ini. Karena yang papa tau, nak Alvaro adalah pria yang baik untukmu." ucap Endrik membuat Glow terdiam di tempatnya nya. Dirinya bagaikan di sambar petir di pagi hari.
__ADS_1
Apa yang di inginkan seorang Alvaro akan selalu dapat, termasuk dirimu calon pengantin ku. batin Alvaro bersorak senang dalam hati.
Tak usah bertanya dari mana pria itu mengetahui kediaman Vera. Alvaro dan keluarganya bukanlah orang sembarangan. Dalam waktu sekejap mereka bisa mencari informasi orang yang ingin di ketahui nya. Itulah sebabnya kenapa pagi ini Alvaro sudah berada di kediaman Glow.