
"Setres ana, stres ana! ضغوطي , ضغوطي" ucap pria Arab itu sembari memegang kepalanya yang tidak pusing. Akhirnya orang Arab itu memilih mengguna kan google maps dengan translate bahasa Indonesia.
Di lain tempat Vera sedang asyik dengan memakan es krim dan bakso beranak lavanya. Ya, sekarang Vera sedang duduk di lestoran yang berada di mall yang ia datangi. "Gini Kek dari tadi! Bosan banget...Malah jumpa orang Arab lagi, Arab makhlum. Hhhhhhh." ucap Vera sembari tertawa sedikit keras. Tawa Vera mengundang perhatian beberapa orang di lestoran itu. Ada yang menatap sinis dan heran ke arahnya.
"Kenapa dia?" terdengar bisik bisik orang di sekitarnya.
"Ku rasa dia sudah tak waras" bisik orang ke dua di sekitarnya.
"Apa lihat-lihat mbak! Jaga dong matanya!" tegur Vera dengan wajah kesal dan tak bersahabat kepada pengunjung yang melihat dirinya dengan sinis. Orang yang di tegur Vera pun langsung diam dan tak menanggapi ucapan Vera.
Mental kaleng aja pun, sok-sok natap orang dengan tajam! Batin Vera kesal dengan wajah tak bersahabat.
Vera kembali fokus pada makanannya lagi, setelah selesai, Vera beranjak mengelilingi mall tanpa rasa lelah sedikitpun.
Di kediaman rumah Vera, terlihat wanita tua sedang mengendarakan pandangan seperti mencari seseorang. Ya, dia adalah mama Vera. “Di mana Vera?" tanyanya pada para pelayan setelah berkeliling mencari putrinya.
"Maaf nya, kereta beat non Vera tidak ada di garasi" ucap satpam yang bertugas di rumah itu.
Wajah tua itu menampilkan wajah gemas. "Dasar anak nakal!" kesal Bidadari tua Vera. "Baiklah, silahkan lanjutkan perkerjaan kalian." perintah Sela lalu berjalan ke arah kamarnya untuk beristirahat. Sela mengomel sepanjang jalan. "Dasar anak nakal! Punya anak satu susah di atur. Huh..." ucapnya kesal dengan nafas yang di buang secara perlahan.
Masih di mall, terlihat Vera masih setia melangkahkan kakinya mengelilingi mall itu seperti biasanya. Vera asik dengan pemandangan di sekitarnya sehingga membuatnya tak fokus pada jalan di depannya.
"Bruk" Vera menabrak seseorang. Terlihat sekali tumbuh yang di tubruk Vera sangat keras, sampai-sampai tubuh Vera jatuh di sebabkan tak kuat menahan hantaman di depannya.
“Aduh...” ringis Vera menahan sakit dengan tangan yang mengelus pinggangnya.
Vera bangkit dari duduknya sembari mengerpas kan debu dari pakaiannya. "Kalau jalan itu lihat-lihat dong!" Bentak Vera kesal sembari mengalihkan matanya pada orang yang menabraknya. Vera mengangkat tangan kanannya menunjuk pria yang berada di depannya. "Ka..kau?" ucap Vera terbata.
Sial banget aku sih bisa berjumpa dengan dosen killer ini lagi. Batin Vera kesal melihat Drag.
Drag hanya menatap wajah Vera dengan datar. "Dengar ya pak! saran saya, bapak batalin saja deh pernikahan kita! nggak lucu tau nggak!" ucap Vera dengan berterus terang. Tak ada rasa takut dan sungkan dalam dirinya.
__ADS_1
Drag menampilkan wajah datar, dingin dan arogannya. "Kalau kamu mau, kamu saja yang batalkan." ucap Drag yang membuat Vera melebarkan mulut yang di iringi wajah kesal.
Kemarahan Vera sudah di ambang batas. "Kau ini mengesalkan sekali ya bapak dosen yang menyebalkan!" ucap Vera dengan tegas. Drag malas meladeni Vera, Drag memilih pergi menghindari Vera.
“Hey, aku belum siap bicara ya dosen gila!" umpat Vera sembari mengejar dosen killer nya itu. Vera mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Drag.
“Bapak bisu ya, makanya nggak bisa jawab." ucap Vera terus mengikuti langka kaki panjang Drag. Vera sudah berdiri di depan Drag dan menghadang Pria dingin dan kejam itu.
“Batalkan pernikahan ini!" Bentak Vera memaksa.
Vera tidak sadar jika sekarang dia berada di lorong yang sepi. Bahkan Vera juga tidak sadar jika kini hanya dia dan Drag lah yang berada di lorong tak berpenghuni itu.
"Hey Drag!" teriak Vera menyebut nama dosennya dengan lantang. Gadis itu berteriak lantang karena sendari tadi Drag mengacuhkan dan tak menjawab ucapannya. Hening, tiba- tiba,
"Brak" Drag mendorong dan menghimpit Vera ke dinding lorong sepi itu.
"Sudah puas bicaranya? " ucap Drag datar dengan pandangan mengimitasi. Kini tubuh Drag dan Vera sangat dekat, bahkan hembusan keduanya saling berlaga. Vera hanya bisa mengedipkan matanya tak percaya. Kesadaran nya kembali.
Drag semakin mendekatkan wajahnya ke arah Vera. "Kamu mau perjodohan ini di batalkan?" tanya Drag dengan santai.
"Iya" teriak Vera di depan Drag tanpa rasa takut. Benar-benar kuat mental gadis ini.
"Mimpi!" ketus Drag yang di iringi tumbukan di tembok mall itu. Drag mulai melepaskan Vera dari kungkungan nya.
"Kau!" bentak Vera kesal dengan mata memerah menahan tangis. Drag melihat Vera dengan datar.
"Apa?" tanya Drag dingin dengan aura killer nya, tatapan tajam dan muka jutek tak hilang dari wajahnya.
"Cepat katakan pada orang tua kita, kalau bapak mau membatalkan pernikahan ini!" ucap Vera mendesak Drag agar segera menuruti kemauannya. Wajah terlihat serius mengatakan itu. Dia sangat tidak mengharapkan pernikahan ini.
"Kalau kamu mau, kamu saja yang katakan pada mereka." ucap Drag santai sembari berlalu pergi meninggalkan Vera. Tanpa sepengetahuan Vera, Drag tersenyum devil mengingat tingkah Vera yang sangat lucu dan gemas itu.
__ADS_1
Vera menghentakkan kedua kakinya dengan kasar. "Uuu...Benar benar itu dosen gila." umpat Vera gemas sendiri di tempat. Dia berkelahi dengan udara sekitarnya. Mungkin jika ada orang yang melihatnya, pasti akan menganggapnya gila.
Waktu terus berjalan, Vera kembali dari mall pukul 6 sore. Setelah sampai, Vera menyuruh satpam untuk memasukkan motor Beatnya ke dalam bagasi. "Assalamualaikum" Vera masuk ke dalam rumah tanpa rasa bersalah.
Terlihat mama Vera tersenyum marah dengan tangan yang bersedekah di dada. Mata tajam Sela menghunus tajam menatap Vera. “Wa'alaikumussalam" jawab Sela dari arah belakang. Vera mematung di tempatnya. "Hebat ya anak mama yang cantik." Bidadari tua itu mulai menginterogasi Vera.
Vera yang mendengar suara menyeramkan itu langsung segera membalikan tubuhnya, lalu menyengir kuda. “Hehe..Mama" ucapnya menampilkan gigi putih nan rapinya. Vera memegang telinga dan perutnya. "Aduh ma, aduh ma.." ucap Vera mengadu kesakitan ketika mamanya mencubit dan menjewer telinga nya.
"Enak nggak, enak?" tanya Sela kesal tanpa melepaskan jeweran di telinga Vera.
"Ampun ampun ma, sakit mamaku sayang" Aduh Vera kesakitan lalu memberikan wajah sok manis di depan mamanya. Vera pun mulai berakting. Dia mulai mengeluarkan jurus andalannya, yaitu mengeluarkan air mata buaya nya. Sangat muda bagi Vera menampilkan wajah sendu dan mata berkaca kaca.
"Sakit ma." ucapnya dengan bibir yang sedikit melengkung ke bawah.
Mama Vera yang memang mudah luluh, lantas melepaskan jeweran nya di telinga Vera. Wanita paru baya itu memeluk gadis nakalnya sembari meminta maaf karena sudah berlaku kasar. "Maafkan mama sayang, makanya nurut sama mama." ucap mama Vera dengan lembut. "Ya sudah masuk kamar gih. Istirahat, nanti jangan lupa makan malam." ucap Sela melepaskan pelukannya, lalu pergi meninggalkan Vera.Tak ingin membuang buang waktu, Vera segera bergegas masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa ia mengunci pintunya.
"Bruk." Vera menjatuhkan diri di kasur empuk kesayangannya.
"Hhhhhh...Pinter sekali aku bah." ucap Vera berbangga diri. Vera membalikan tubuhnya menjadi terlungkup. Vera menggerakkan kedua tangannya menikmati setuhan kasur halus. Senyum senang terukir di wajahnya disebabkan dirinya yang merasa pintar bersilat lidah.
***
Waktu terus berjalan, hari mulai berganti. Tak terasa hari pernikahan pun tiba. Vera sedang berada di ruang rias, sedangkan di ruang tengah sudah ramai para saksi dan tentunya mempelai pria berserta keluarganya telah tiba. Terlihat penghulu menatap ke arah papa Vera. "Apakah bapak sudah siap menjadi wali dan menikahkan anak bapak?" tanya penghulu pada papa Vera.
"Siap." Jawab papa Vera dengan tegas. Penghulu memalingkan wajahnya menatap ke arah mempelai pria.
"Apakah mempelai pria sudah siap mengucapkan ijab Kabul?" tanya penghulu memastikan kesiapan Drag.
Drag mengangguk pelan sembari berkata, "Siap." jawab Drag dengan tegas dan lantang.
Penghulu menganggukkan kepalanya dengan pelan setelah memastikan kesiapan wali nikah dan mempelai pria. "Baik ijab Kabul akan segera kita mulai. Mohon wali nikah berjabat tangan dengan mempelai pria." Perintah penghulu pada papa Vera dan Drag.
__ADS_1
Papa Vera dan Drag sudah berhadapan dan mulai berjabat tangan sembari membenarkan duduknya. Penghulu menepuk bahu papa Vera dengan pelan. "Jangan lupa baca bismillah pak." ucap penghulu memandu papa Vera.