
Tidak butuh waktu lama, Lucy sudah menghampiri Vera menggunakan motor beatnya. "Ini untukmu." ucap Lucy menyodorkan sesuatu kepada Vera.
"Apa ini lu?" tanya Vera sembari menatap mata tajam lucy.
"Racun di bekukan." ucap Lucy dengan wajah yang tak bersahabat.
"Kau bisa saja Lu." ucap Vera tersenyum lucu.
"Uda tau itu es krim, masih aja kau nanyak!" ucap Lucy sedikit kesal dengan pertanyaan bodoh Vera.
"Ya uda ya, aku di luan. Kau nggak apa sendiri di sini?." tanya Lucy memastikan Vera tetap aman.
"Iya nggak apa Lu. Kau hati-hati. Makasih banyak sudah membantuku." ucap Vera dengan tangan yang membuka bungkus es krim yang di belikan Lucy.
"Hmm...Wassalamu'alaikum." Lucy menganggukkan kepalanya pelan lalu mulai menjalankan motor nya ke arah jalan besar.
"Wa'alaikumussalam." jawab Vera sembari melambaikan tanganya.
"Tin." terdengar suara klakson dari mobil hitam dari dalam kampus.
"Ya ampun... kaget aku." ucap Vera mengelus dadanya berulang kali.
"Dek." jantung Drag berdetak ketika melihat penampilan Vera yang syar'i.
Tadinya dia tidak tau jika gadis yang berkerudung hitam yang sedang memakan es krim adalah Vera. Tetapi yang membuat dia yakin bahwa itu istrinya adalah tas yang di kenakan Vera.
Tas yang di kenakan Vera adalah tas limited edition. Tas itu cuma ada satu di dunia. Tas yang di kenakan Vera tidak ada yang menjualnya di karenakan tas mahal itu di tempah dan di buat langsung oleh desainer internasional. Jangan tanya harganya karena mata seseorang bisa keluar ketika mendengar harganya.
"Naik!" perintah Drag dengan tegas dari dalam mobil.
Vera melihat ke asal suara. Dia malah melamun ke arah suaminya.
Ya ampun... bagaimana beruang kutub itu mengenaliku? Aduh...malu sekali sih beruang kutub melihat penampilan ku yang seperti ini. batin Vera menahan malu.
"Cklek." Drag yang sudah tidak sabar pun segera turun dari mobil yang di tumpangi nya lalu mengangkat tubuh kurus Vera ke dalam mobil. Vera masih terdiam, dia sedang bingung dengan keadaan nya saat ini.
Aku kenapa ya? kenapa tiba-tiba aku jadi linglung begini. batin Vera kebingungan.
"Vera." panggil Drag membuyarkan lamunan Vera.
"Eh iya." ucapnya sadar ketika tubuhnya di sentuh.
"Kamu kenapa tidak nelpon saya." tanya Drag mulai menjalankan mobil nya.
__ADS_1
Vera diam tak ingin membalas ucapan suaminya. "Maafkan saya Vera karena datang terlambat." ucap Drag dengan tulus dan wajah senduh.
Vera masih diam dan enggan untuk menanggapi ucapan Drag. "Nggak usah di bahas pak, sudah berlalu juga." ucap nya datar dengan mata yang melihat ke arah depan.
"Bapak?" ulang Drag dengan wajah datar dan mata yang mengimitasi Vera.
"Bapak? mas salah dengar tadi." bohong Vera dengan ekspresi cemberut nya.
"Hmm." dehem drag dingin. "Besok tidak usah kuliah. Kamu istirahat saja di rumah. Nanti kita bahas ya masalah resepsi kita." ucap Drag lalu kembali fokus melihat jalan.
"Hmm." dehem Vera lalu memejamkan matanya dengan malas.
Drag menghelas nafasnya dengan pelan. Dia harus banyak mengalah dengan istrinya yang mempunyai sifat keras dan kekanak-kanakan.
***
Di sebuah kamar tepatnya di sebuah rumah besar di sebuah komplek para miliarder, terlihat Glow tertawa bahagia bersama Grisela melalui video call. "Aku nggak bisa membayangkan gimana malunya di lempari telur oleh banyak orang. Hhhh... bau banget pasti." ucap Grisela tertawa puas hingga air matanya menetes saking bahagianya.
"Aku aja jijik lihatnya makanya aku pergi dari tempat yang tidak layak untuk di singgahi itu. Apalagi ikut berkumpul dengan para orang miskin itu. Iw... bisa berkudis aku ni!" ucap Glow mengeluarkan raut jijik di wajahnya.
"Glow!" terdengar teriakan dari lantai menyebut nama Glow.
"Eh siapa itu glow?" tanya Grisela bingung sekaligus penasaran.
"Ntah nggak tau aku!" ucap Glow yang juga bingung dengan teriakan itu.
"Cepat samperin glow." saran Grisela dengan wajah yang serius.
Akhirnya mau tak mau pun Glow terpaksa bangkit dari baringnya lalu berjalan ke asal suara tanpa mematikan video call nya.
"Ada apa sih ribut-ribut." ucapnya pelan dengan kaki yang terus melangkah.
"Ada apa ma?" tanya Glow ketika sudah berada di lantai bawah.
"Benar-benar anak nakal, apa yang kamu lakukan di kampus?" bentak Endrik memelototkan matanya melihat anak nya itu.
"Glow nggak melakukan apa-apa pa." elak Glow membela diri sembari menampilkan ekspresi takut.
"Terus kenapa papa di minta datang ke kampusmu? bahkan kamu kena skors selama satu semester!" bentak Endrik dengan nada tinggi.
"Beneran pa... glow tak membuat masalah kok." elak Glow dengan mimik meyakinkan.
Serem banget papa glow ini... untung saja papaku tidak galak seperti papa glow. Aku harus matikan video call ini, kalau tidak aku pasti ikut di marahi sama papa glow. batin Grisela yang sendari tadi mendengarkan semua yang terjadi di rumah Glow.
__ADS_1
"Kalau papa tidak percaya, tanya saja Grisela teman Glow." ucap Glow sembari menunjuk kan handphone miliknya. "Grisela cepat jelaskan pada papaku kalau aku tak membuat masalah di kampus." ucap Glow dengan percaya diri tanpa tau bahwa video call nya dengan grisela telah terputus.
Endrik melipat kedua tangannya di dada sembari menatap anaknya yang tengah mengoceh sendiri.
Kenapa papa diam saja sih...dan kenapa Grisela tidak berbicara dengan papaku?
Glow yang merasa aneh pun langsung membalikkan handphone miliknya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat layar handphone nya yang sudah menghitam.
Mati aku! Batin Glow menundukkan kepalanya gugup.
"Dasar anak nakal... mulai besok semua fasilitas kamu papa bekukan sampai masa skors kamu selesai!" ucap Endrik dengan tegas. Glow yang menunduk refleks mengangkat kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya lemah seakan tak setuju dengan keputusan Endrik.
"Pa jangan dong pa...masa papa tega sih membiarkan Glow tidak punya apa-apa" rayu Glow dengan wajah mewek sembari memegang lengan Endrik.
Endrik tak memperdulikan bujuk rayu gadis nakalnya itu. Ia memilih pergi meninggalkan Glow yang hampir m nangis di sana. "Ma..." aduh Glow memperlihatkan mata kucingnya.
"Sudahlah sayang... kamu tau kan papamu seperti apa kerasnya." ucap Laila memeluk anak kesayangan satu-satunya itu.
***
Di mansion mewah Drag terlihat Vera sedang kesakitan ketika kakinya di pijat oleh sang suami. "Aduh...udah mas uda...nggak tahan..." ucap Vera dengan wajah mewek dan suara yang sangat manja.
Di luar ruangan terlihat mama Ami dan beberapa pelayan sedang tertawa kecil ketika mendengar suara dari dalam kamar Vera.
"Sudah saya pulang saja, jangan bilang ya pada anak dan menantu saya jika saya datang ke sini." ucap Ami tersenyum dengan apa yang dia fikirkan.
Mama Ami segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Kepala pelayan dan beberapa maid turut serta mengantar Ami ke mobilnya. "Jangan ada yang menggangguk anak dan menantu saya ya." perintah Ami kepada kepala pelayan sembari masuk ke dalam mobil.
"Baik nyonya." ucap kepala pelayan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Setelah berada di dalam mobil, Ami pun memerintahkan supirnya untuk menjalankan mobilnya.
Kembali ke kamar, terlihat Drag masih fokus memijat kaki Vera. "Sabar Vera... sebentar lagi selesai." ucap Drag masih setia memijat kaki Vera dengan penuh kehati-hatian.
"Hu...uda hiks...sakit mas..." ucap Vera menangisi kakinya yang sudah membengkak karena terkilir.
"Ya sudah." ucap Drag menghentikan pijatannya. "ini, minum dulu obatnya agar tidak denyut." ucap Drag sembari menyodorkan satu pil penghilang denyut dan bengkak.
Vera menggelengkan kepalanya dengan tangan yang menutup mulutnya. Dari dulu Vera memang sangat anti jika meminum pil. Jika Vera sakit mamanya selalu memberikan obat cair kepadanya. "Ayo minum! " paksa Drag dengan tegas sembari terus menyodorkan pil ke arah Vera. "Buka mulutnya." ucap Drag dengan nada yang datar.
"Nggak mau!" tolak Vera mentah-mentah. Vera menggeleng lemah ke arah Drag.
Drag yang sudah mulai habis kesabaran meminum air putih yang banyak lalu memegang mulut Vera agar terbuka, lalu dengan cepat Drag memasukkan pil kecil itu ke mulut Vera lalu membuang semua air yang ada di bulutnya ke mulut Vera. "Uhuk-uhuk." Vera terbatuk ketika pasokan oksigennya habis. Bagaimana tidak habis jika Drag memencet hidup Vera agar pil nya tertelan oleh gadis itu.
__ADS_1
"Nggak ada fikiran tau nggak sih!" maki Vera memberikan tatapan kesalnya.
Drag tak memperdulikan umpatan Vera padanya."Sudah, ini makan buahnya." ucap Drag dengan tangan yang menyodorkan sepiring buah segar. Vera yang memang merasa mulutnya pahit disebabkan memakan pil tadi pun merampas piring buah dari tangan Drag.