Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Keceplosan


__ADS_3

Drag terus menerbitkan senyumnya memandang wajah cemberut Vera. "Jangan cemberut gitu sama suami, dosa loh!" ceramah Drag mencolek mencubit hidung Vera.


"Awas!" ucapnya kesal sembari menepis tangan Drag dari hidungnya.


"Iya, tumben sekali istri shalihah ini mencari suaminya, ada perlu apa sayang?" ucapnya dengan nada lembut membuat suasana menjadi romantis.


"Deg, deg, deg" Vera mulai merasakan detak kan di sertai getaran di hatinya.


Ada apa dengan hatiku? tak biasanya gemetar seperti ini. Aduh, kok aku jadi salah tingkah ya. Kenapa aku jadi segan dengan suamiku sendiri? batin Vera sedikit bingung dengan mata yang kosong.


"Much." Bunyi kecupan membuat Vera tersadar dari lamunannya. Ia mengalihkan tatapan tak suka pada Drag.


"Is,,," desisnya terlihat jijik dengan tangan yang mengelap liur drag yang menempel di pipinya.


"Mas jorok banget sih!" decak nya mencubit pucuk dada Drag dengan gemas.


Drag yang di cubit Vera merasa panas di area dadanya. Ngilu dan sakit bercampur menjadi satu. Ia mengelus dada bidangnya sembari menatap Vera dengan wajah menahan sakit.


"Sakit sayang,,," keluhnya membalas tatapan kesal Vera.


"Rasain, siapa suruh cium-cium. Wek!" ucapnya di sertai ledekan. Wanita nakal itu menjulurkan lidahnya ke arah Drag.


"Hm." deheman dengan wajah cemberut.


"Mas." panggil nya kembali ke tujuan utama mencari Drag.


"Apa." ucapnya masih menampilkan sedikit wajah cemberut pada Vera.


"Mas, mas kan dulu pernah bilang mau ajak aku jalan-jalan, tapi sampai sekarang mas nggak ngajak-ngajak. Mas ini suka banget ya mengecewakan istri cantik seperti ku! kapan kita jalan-jalan..." ucapnya Vera di iringi lengkingan di ujung kalimat.


"St,,," Drag mengucap telinganya yang hampir rusak di sebabkan lengkingan suara Vera.


"Bisa tidak sih sayang, bicaranya pelan-pelan. Dosa kamu loh meninggikan suara di depan suamimu." nasehat Drag lagi-lagi membuat Vera jenuh hingga membuatnya menghela nafas.


Ceramah lagi- ceramah lagi. Bosen banget ah! batin Vera terlihat lelah dengan sikap suaminya itu.


"Iya mas." balasnya dengan penuh keterpaksaan.


"Gitu dong, kan mas semakin cinta." gombal Drag membuat Vera ingin muntah.


"Uwek,,," Vera berpura-pura ingin muntah. Drag yang tau jika itu hanya sebuah ledekan belaka hanya tersenyum manis.

__ADS_1


"Alhamdulillah istri mas sudah hamil." goda Drag dengan senyum setengah tawa.


"Eh enak saja hamil! nggak ya!" ucapnya tak terima di katakan hamil.


"Hehe, canda sayang,,,lagian kalau hamil juga nggak papa. Atau mau program hamil? mas siap loh ibadah berjam-jam setiap harinya." goda Drag dengan senyum jenakanya membuat Vera tersipu malu. Kini pipi chubby itu sudah memerah seperti cery.


Jangan sampai dia melihat wajahku. Aku kan malu...batinnya mencoba memalingkan wajahnya dari Drag. Vera mencoba menutupi wajah merahnya dari pandangan Drag.


"Sayang, kenapa diam saja? hm, mas tau ni, kamu suka kan ibadah bareng mas setiap malamnya. iya kan?" goda Drag membuat wajah Vera semakin memerah.


"Mas!" sentak Vera sangat kesal. Jika dia diam saja pasti suasana seperti ini akan berkepanjangan.


"Hhhhhh." tawa nya lepas dengan tangan yang menutup wajahnya.


Ya Allah, indah sekali rasanya hidup hamba karena sudah engkau berikan istri spesial seperti ini. Jaga dia dan jangan pisahkan kami ya Allah. Hamba tulus mencintainya, dan hamba menerima segala kelebihan maupun kekurangan nya. Jaga hati hamba ya Allah dari wanita di luar sana. Biarlah cinta, kasih sayang, dan seluruh hati hamba hanya untuk istri hamba seorang. Hamba akan tetap menomorsatukan engkau dan orang tua hamba ya Rabb. batin Drag sangat tulus seakan merasakan kehadiran Allah yang sangat dekat dengannya.


Lo, kenapa beruang kutub ini? kenapa dia tersenyum sendiri. Ih, serem banget. batin Vera mencoba melihat Drag lebih dekat.


Drag yang merasa Vera hendak menciumnya segera memajukan kepalanya ingin mencium Vera. Vera membulatkan matanya bingung. Mata itu terus memperhatikan ekspresi dan gerakan Drag yang semakin mendekat padanya.


"Plak." satu tamparan kecil mendarat mulus di pipi Drag.


"Kenapa kamu menampar saya?" tanya Drag memegang pipinya.


"Maaf mas, aku kira mas kesurupan." ucap Vera tanpa merasa bersalah.


"Kamu ini." ucapnya kembali ke ekspedisi dingin nan datar.


"Sudahlah mas lupakan, kembali ke topik. Kapan kita jalan-jalan?" tanya Vera dengan wajah cemberutnya.


"Habis resepsi ya." Drag mencoba menghangatkan suasana hati Vera.


"H, malas ah." ngambek Vera langsung membuang wajah nya. Vera segera meninggalkan Drag lalu kembali ke kamarnya.


"Sayang,,," panggil Drag segera menyusul Vera yang semakin menjauhinya.


***


Setelah beberapa hari cuti, kini Vera kembali memasuki kampusnya. Drag sudah memperbolehkan Vera untuk melakukan rutinitas biasanya. Pagi yang cerah di sertai tumbuhan yang segar, terlihat Vera duduk santai bersama Lucy di kursi taman. Saat ini terdapat jeda yang cukup lama antara mata kuliah kedua dan ketiga.


Di taman kampus yang cukup luas itu terdapat beberapa bunga dan tanaman hias lainnya. Capung, lebah dan kupu-kupu terbang beriringan seakan menikmati serbuk sari bersama. Angin sepoy-sepoy di taman membuat suasana semakin tenang dan nyaman.

__ADS_1


Saat ini sepasang sahabat tengah menikmati cemilan berlemak yang mereka beli di kantin. Semakin nikmat nya makanan itu membuat mereka tak sadar telah menghabiskan berpuluh-puluh tusuk bakso berserta sausnya. "Hm, enak banget ya Lu." ucap Vera dengan tangan yang memegang setusuk bakso.


"Hm." dehem Lucy di sertai anggukan kecil.


"H." Vera menghembuskan nafas panasnya di sebabkan kepedasan. Tangan mungil itu mengipas-ngipas kan tangannya ke arah mulutnya.


"Ni minum." Lucy menyerahkan sebotol air dingin dengan ekspresi datarnya.


"Glek." Vera mengambil air itu tanpa mengeluarkan suaranya. "Pedas sekali Lu." oceh nya merasa sedikit lega ketika sudah meminum air dingin.


"Makanya, jangan banyak-banyak sausnya." ucap Lucy tanpa senyum sedikit pun.


"Nggak enak kalau nggak pedas Lu." ucap Vera mulai memasukkan kembali sesuap bakso kemulut nya. Vera terus mengunyah makanan di mulutnya dengan tangan yang mengeluarkan handphone dari dalam tas.


"Tumben pakai handphone itu, yang satu lagi kemana?" tanya Lucy sembari menunjuk handphone Vera melalui sorot matanya.


Vera yang fokus ke handphonenya tak sadar dengan apa yang ia katakan pada Lucy. "Ya iyalah aku pakai handphone ini Lu, orang handphone kesayangan ku di banting suamiku!" ucapnya dengan nada sedikit kesal.


Lucy mengernyitkan alisnya di balik cadarnya. Ia menatap Vera dengan sorot mata tajam nan datarnya. "Suamimu yang banting handphone kesayangan mu?" tanya Lucy masih fokus menatap Vera yang terlihat biasa saja. Vera masih belum sadar dengan ucapannya, bahkan ia mengangguk membenarkan ucapan Lucy.


"Ooo, untung aja kau punya dua handphone ya Ver." ucap Lucy dengan nada datar yang di perlambat.


"Hm." berdehem dengan anggukan setuju.


"Maaf Ver izin bertanya, memang sejak kapan kau menikah? apa sudah resepsi?" tanya Lucy tak merasakan kecewa sedikit pun.


"Dek." Vera yang baru sadar dengan apa yang ia bicarakan terdiam panik. Jantungnya seakan ingin berhenti berdetak.


Mampus aku, aduh mulut,,,kenapa sih nggak bisa ngerem dikit! batinnya mengutuk dirinya sendiri. Tamatlah sudah riwayat mu Vera. Lucy sahabatmu sudah mengetahui status mu sekarang.


Vera mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk takut. Ia tak siap jika Lucy marah dan kecewa padanya. Ia tak punya sahabat terbaik lagi jika Lucy membenci dan menjauhinya. Ia takut sendirian di kala orang-orang mengelilingi nya. Hanya Lucy yang paham dan menerima sikap apa adanya itu.


Mata Vera mulai mengembun menatap sorot mata tajam Lucy. Perlahan tangan Vera mulai menggenggam tangan Lucy. "Maafkan aku Lu, aku sudah tak jujur padamu. Aku salah, jangan tinggalkan aku. Aku tak mau kehilangan sahabat seperti mu. Hiks." ucapnya di iringi Isak tangis.


Lucy yang melihat Vera menangis segera menerbitkan senyum lucunya. Bahkan sekarang senyum itu sudah berubah menjadi tawa bahagia. "Hhhh Vera, biasa aja kali Ver." ucap Lucy sembari menghapus air mata di pipi Vera. Tak lupa ia juga mengelus rambut wanita di depannya itu.


"Kau nggak marah sama aku Lu?" tanya Vera melihat Lucy dengan mata sembabnya.


"Nggaklah Ver, itu kan masalah pribadi mu, kalau hal itu baik dan membuat kau bahagia, maka nggak ada alasan aku untuk marah dan kecewa. Dan nggak ada hak ku untuk memaksa mu menceritakan semua hal pribadimu. Selamat ya sahabatku sayang. Jadi istri yang baik. Kalau boleh tau kapan nikahnya?" tanya Lucy memberikan senyum hangatnya. Tak biasanya gadis itu memberikan banyak senyum pada semua orang termasuk orang terdekatnya.


Beruntung sekali aku mendapatkan sahabat sebaik ini. batinnya terharu dengan sikap dewasa Lucy.

__ADS_1


__ADS_2