Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Sugar Daddy


__ADS_3

Benar-benar hebat sekali tiga wanita gila ini. Hebat dalam kebodohan nya. Bisa-bisa nya Sena dan Tika melakukan zina dengan pria yang tak di kenalnya. Bahkan yang lebih parahnya lagi mereka saling menukar nomor handphone agar ketika suatu saat mereka saling membutuh kan, mereka bisa saling menghubungi satu sama lain.


Masih di bar yang sama, terlihat Grisela mengendarkan pandangan mencari tiga temannya yang menghilang. "Bisa-bisa nya mereka meninggalkan kita." ucap Grisela yang di angguki Glow dan Stevia.


"Mari kita pulang! aku semakin tak nyaman berada di sini!" ucap Glow langsung di angguki Stevia.


"Iya, mari kita di luan pulang gusy." ajak Stevia sembari menatap sendu ke arah Glow dan Grisela.


"Ayo." ajak Grisela melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke luar bar.


Akhirnya mereka bertiga meninggal kan bar itu dan pulang ke kediamannya masing- masing dengan mobil yang sama.


Habislah aku jika papa tau aku pergi ke klub dan minum. batin Glow sedikit takut mengingat wajah papa galaknya.


"Gris, malam ini aku menginap di rumahmu ya." Ucap Glow memberikan tatapan serius ke arah Grisela.


"Ok." ucapnya dengan nada yang sangat senang karena malam ini ia bisa berbagi cerita dengan Glow.


"Stevia." panggil Grisela melirik kursi penumpang sekilas lalu kembali fokus menyetir mobilnya.


"Iya." ucapnya tersenyum sangat imut.


"Apa kau mau menginap di rumahku juga?" tanya Grisela memberikan senyum manisnya.


"Hm." dehem nya tengah berfikir.


"Ayolah Stev." ajak Glow menatap penuh harap pada Stevia.


"Okey..." ucapnya sangat imut membuat Glow dan Grisela bersorak senang. Akhirnya Grisela mengarahkan mobilnya menunju kediamannya.


***


Di negara lain. Waktu menunjukkan pukul 21:00 malam. Di kamar indah berklasik modern, terlihat Gaura berbaring santai dengan gaun sexy nya. Gadis itu bangkit dari baring nya lalu duduk dengan tubuh yang menyender di kepala ranjang. "Halo pa." ucap Grisela dengan handphone yang sudah berada di telinganya.


"Halo sayang." sahut Kuntoro dari ujung telepon.


"Ada hal penting apa yang ingin papa bicarakan pada Gaura?" tanya Gaura langsung ke intinya. Dari ujung sana terdengar belahan nafas berat dari Kuntoro. Gaura menaikan satu alisnya bingung bercampur rasa penasaran. Matanya fokus menatap ke arah depan sembari menunggu papanya berbicara.


"Katakan pa!" ucap Gaura sedikit memaksa.

__ADS_1


"Sayang, perusahaan kita terancam bangkrut." ucap Kuntoro terdengar lemas di ujung sana.


"Apa!" teriak nya refleks menegakkan tubuhnya yang tengah bersandar. "Bagaimana bisa pa?" ucapnya menampilkan wajah cemas bercampur panik.


"Perusahaan Abraham Grub memutuskan kontrak kerja secara sepihak nak. Bahkan perusahaan harus membayar uang penalti sebesar 23 miliar." ucap Kuntoro sedikit terisak di sana.


"Ng-nggak mungkin." ucapnya terbatah dengan kepala menggeleng pelan. "Ini pasti salah pa." ucap Gaura sembari membayang kan hidupnya yang jatuh miskin.


"Papa harus menggugat mereka!" sarat Gaura penuh penekanan.


"Mereka sangat kuat nak, bahkan asisten terbaik papa saja tak bisa meluluhkan hati CEO Abraham Grub." ucapnya lemah dengan suara yang lirih. "Kau di mana nak, papa sangat merindukan mu." ucapnya membuat Gaura langsung mengubah panggilan menjadi video call.


"Apakah mansion kita akan di tarik juga pa?" tanya Gaura mencoba menahan tangisnya. Kuntoro hanya mengangguk lemah di balik layar.


Awas kalian, aku akan melenyapkan kalian semua. batin Gaura dengan tangan yang mengepal kuat.


"Gaura berada di Amerika pa. Kalau papa sudah tak nyaman berada di sana, tinggal lah bersama Gaura di sini." ucap nya lembut. Gaura mencoba memberikan ketenangan kepada orang tua satu-satunya itu. Ia sudah tak memperdulikan lagi papanya yang akan bangkrut. Toh, dia mempunyai bank berjalan. Siapa lagi kalau bukan Martin.


"Baiklah nak, apa tak mengapa harta papa tak tersisa sedikit pun?" tanya Kuntoro menatap Gaura dengan mata sendunya.


"Tak apa pa." ucapnya menerbitkan senyum hangatnya.


"Baiklah, setelah masalah disini selesai, papa akan segera menyusul mu ke sana nak." ucap Kuntoro sudah kembali tersenyum.


Setelah percakapan singkat itu berakhir, Gaura segera memutuskan sambungan teleponnya. Karena waktu semakin larut malam, Gaura memutuskan untuk tidur dan memasuki mimpinya.


***


Kembali ke negara Indonesia. Saat ini terlihat Monica sudah berada di apartemen nya. Ia sengaja tak pulang ke kediamannya karena khawatir akan keadaan nya. Tubuhnya sangat lelah bercampur cemas di sebabkan perbuatannya di bar. Monica yang sedang mabuk masih mempunyai sedikit kesadaran. Wanita itu mengambil handphone nya dan segera menghubungi seseorang.


"Ada apa sayang." terdengar suara barinton nan sexy dari ujung telepon. Nafas pria itu terdengar jelas seperti sedang melakukan suatu kegiatan yang menguras tenaga.


"Suara apa itu om?" tanya Monica yang terlihat tak asing dengan suara itu. Pria di ujung telepon segera mengubah panggilan telepon menjadi video call. Dengan tak tau malunya pria itu memperlihatkan adegan panas nya bersama seorang wanita yang tengah menikmati perzinahan nya. "Om!" sentak Monica kesal karena melihat hal tak senonoh itu. "Dasar tak tau malu!" umpatnya dengan nada yang sangat ketus.


"Hhhhh, katakanlah." perintah pria itu tanpa menghentikan kegiatan nya.


"Kau tidak tau malu sekali om, nanti saja kita bicara! aku ingin muntah melihatnya." ketus Monica membuat pria yang di telpon nya tertawa.


"Sayang nanti kita lanjut." ucap pria itu pada wanitanya setelah berhasil meloloskan satu kehidupan. Wanita yang berada di bawah pria itu hanya mengangguk kan kepalanya lalu menarik selimut dan segera mengistirahatkan tubuhnya. "Katakan!" ucap pria itu sedikit penasaran dengan apa yang akan di sampaikan Monica padanya.

__ADS_1


"Aku ingin menjual seorang gadis. Bukankah om mempunyai banyak kenalan sugar Daddy?" tanya Monica menampilkan wajah angkuh dan sombong nya.


"Tentu sayang. Berapa kau ingin menjualnya?" tanya pria itu dengan nada sexy nya.


"Berapa om mau?" tanya Monica menantang membuat pria itu tersenyum devil kepadanya.


"500 JT?" ucapnya menawarkan sedikit harga untuk seorang gadis. Monica maupun pria itu tak tau jika Vera sudah menjadi wanita nya Drag.


"Ok, setuju." ucapnya langsung mengiyakan permintaan pria itu.


"Besok aku akan membawanya ke sebuah hotel. Om suruh saja sugar Deddy itu menunggu di sana. Ok om." ucap Monica dengan seringai liciknya.


"Baik sayang." ucap pria itu lalu segera memutuskan sambungan telepon nya.


Kerupuk jangek, habislah kau! batinnya tersenyum devil. Dia meremas handphone miliknya dengan sangat kuat.


Keesokan harinya, tibalah ia di kampus. Tak ada Glow maupun Sena karena keduanya di skors. Kini hanya ada Monica dan Grisela yang siap melancarkan aksinya. Saat ini terdapat jeda kuliah selama dua jam. Grisela maupun Monica sama-sama menatap lurus ke arah Vera yang tengah berbincang dengan Lucy yang hendak pergi. Ada beberapa mata pelajaran yang berbeda yang di ambil Lucy. Karena mata kuliah nya sudah selesai, Lucy pun pulang ke kediamannya terlebih dahulu. Lain halnya dengan Vera yang harus menunggu kelas terakhir nya.


Grisela tersenyum samar dengan mata yang terus memperhatikan wanita di depannya nya. "Bagus. Kita akan lebih muda membawa kerupuk jangek itu ke hotel xxx." ucap Grisela sembari tertawa bersama dengan Monica.


"Ayo Gris." ajak Monica sembari melangkahkan kakinya mendekati Vera dengan Grisela yang mengikutinya.


Kenapa ya harus ada jam terakhir, aku kan juga mau pulang. batinnya badmood karena waktu menunggu kelas terakhir nya cukup lama.


"Vera." sapa Grisela tersenyum ramah ke arah Vera. Vera yang di panggil segera membalik kan tubuhnya nya menghadap asal suara.


Tumben sekali mereka berbicara denganku. Pasti ada sesuatu yang tak beres. batin Vera curiga dengan kedatangan kedua musuhnya.


"Ada apa." ucap Vera to the point. Ia sangat cuek kepada dua gadis di depannya.


Sial sih kerupuk jangek, songong banget. Awas kamu ya. batin Monica tak suka dengan sambutan Vera.


"Tak ada yang spesial, aku hanya ingin mengundang mu ke acara party Monica. Semua mahasiswa sudah di undang, bahkan Lucy juga di undang. Apa dia tak memberi tahuku?" ucap Grisela mencoba meracuni fikiran Vera tentang Lucy.


Masa sih Lucy tak memberi tahuku? mungkin saja di lupa. batinnya mencoba berfikiran positif.


"Terus?" jawab Vera dengan sangat cuek. Wajahnya tak menampilkan senyum sedikit pun.


"Kami ingin mengundang mu. Apakah kau berkenan hadir malam ini?" tanya Grisela memberikan ekspresi merayu.

__ADS_1


"Tak bisa. Aku sibuk!" tolaknya langsung membalikkan tubuhnya hendak pergi dari dua wanita licik.


Grisela menatap Monica dengan aura sombongnya seakan memberi kode sesuatu. Mereka sendari tadi mencoba menahan amarahnya karena perlakuan tak mengenakan Vera. "Tunggu Ver." panggil Monica berhasil menghentikan langkah kaki Vera.


__ADS_2