Istri Nakal Dosen Killer

Istri Nakal Dosen Killer
Berubah 180°


__ADS_3

Setelah pulang dari kediaman Vera, Lucy memutuskan untuk pergi ke kantor Drag. "Assalamualaikum," ucap Lucy setelah mengetuk pintu.


"Wa'alaikumussalam," jawab Drag dari dalam, dia sudah tau siapa yang datang.


Setelah berada di dalam, Lucy langsung mendudukkan tubuhnya di sopa yang berada tepat di depan meja kerja Drag. "Kemana bang Vino bang Drag?" tanya Lucy tak menggunakan bahasa formal nya.


"Di rumah sakit katanya," ucapnya melirik Lucy sekilas.


Lucy mengernyitkan dahi sembari berkata, "Rumah sakit? bang Vino sakit apa? bukannya tadi baik-baik saja?" Lucy semakin heran ketika Drag tertawa. "Kenapa?"


"Vino di gigit anjing karena menolong Lili," ucapnya yang membuat Lucy tersenyum simpul.


"Kurang asam kau bang, gimana lah keadaan mereka?" tanya Lucy yang terlihat sangat santai mengobrol dengan Drag.


"Alhamdulillah, mereka baik-baik saja," Lucy hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Gimana data perusahaan, aman kan?" tanya Drag sembari menandatangani beberapa berkas.


"Alhamdulillah," ucap nya singkat. Drag dan Vino sudah tak heran dengan sikap wanita bercadar itu. Apalagi Vino yang sudah dari dulu mengenal Lucy. "Oya bang, kami ada rencana pergi, Vera boleh ikut tidak?" tanya Lucy membuat Drag menghentikan aktivitas.


"Mau kemana kalian?" tanya nya menatap Lucy yang sedang menikmati jus yang di bawanya.


"Belum tau, tapi yang pasti, Vera aman bersama kami," ucap Lucy dengan nada datarnya.


"Boleh saja istriku ikut bersama kalian, tapi kau harus menjaga istriku ya Lu," ucap Drag seakan berbicara dengan adik kandungnya sendiri. Mereka tidak seperti bos dan bawahan saja, tetapi sudah seperti Abang adik.


"Pasti," sahutnya lalu segera pergi menuju ruangan Vino.


Karena Lucy bertugas menjaga keamanan data perusahaan, membuat nya tak memiliki ruangan khusus, sebab Lucy tak ingin orang-orang mengenal dan mengetahui perkerjaan yang amat rahasia itu. Menjaga data perusahaan bukanlah perkejaan yang muda. Banyak orang-orang yang ingin membobol data perusahaan Abraham Grub hingga membuat kelangsungan hidup Lucy terancam. Bisa saja rekan bisnis Drag menculik dirinya lalu meminta segala informasi mengenai perusahaan Drag. Sebab itulah gaji Lucy lebih besar dari pada Vino yang jelas-jelas asisten kesetiaan Drag.


Jadi jangan pernah bertanya, kenapa Lucy bisa membeli kalung terlangka di dunia untuk sahabat nya Vera. Yang pasti banyak hal yang tidak kita ketahui tentang Lucy. Kura-kura ninja itu benar-benar sangat privasi!


"Tring," terdengar suara panggilan masuk di handphone Vino.


"Halo," ucap Vino tanpa melihat siapa yang menelepon nya.


"Assalamualaikum," ucap Lucy membuat Vino terkekeh.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ustadzah," jawaban dengan sedikit godaan.


"Ct, tutup mulut mu itu!" ucapnya yang tak suka di panggil Ustadzah.


"Iya-iya ustadzah," ucapnya tak sadar masih memanggil Lucy dengan sebutan Ustadzah.

__ADS_1


"Kau ini sudah bosan hidup ya!" sentak Lucy dari ujung sana membuat Vino menegang di tempat nya.


"Maaf Lu," ucapnya kembali ke mode datar.


"Gimana?" tanya Lucy sembari melihat ke luar jendela.


"Apanya gimana?" tanya nya sedikit bingung.


"Kakimu," ucapnya terlihat bosan di ujung sana.


"Alhamdulillah baik Lu," ucapnya melirik Lili sekilas.


"Ya sudah, aku matikan ya telepon nya," ucap Lucy membuat Vino menekuk kan wajahnya.


"Udah, cuma gitu aja?" tanya nya dengan nada sebal membuat Lucy tersenyum di ujung sana.


"Terus mau gimana lagi, dah ya, Wassalamu'alaikum," ucap Lucy langsung memutuskan sambungan telepon nya membuat Vino berdecak kesal di apartemen nya.


Anak ini, selalu saja bersikap sesuka hatinya! batin Vino menatap layar ponselnya.


"Culun!" panggil Vino membuat Lili yang harus saja terlelap langsung terbangun dari tidurnya.


Dalam keadaan nyawa belum terkumpul, Lili merapikan wajahnya dan mengelap air liur yang hampir menetes. Lili membenarkan kaca matanya lalu menatap Vino. "Ada apa tuan? tak bisakah kau membangunkan bidadari seperti ku dengan lembut!" ucap Lili penuh percaya diri membuat Vino menatap jijik ke arahnya.


Sabar Lili, sabar, dia yang telah menyelamatkan mu dari anjing gila itu, maka bersikap baiklah terhadap nya. batin Lili berusaha menahan emosinya.


"Kenapa diam? cepat bantu aku pergi ke kamar mandi," perintah Vino membuat Lili berjalan malas kearah nya.


Saat ini Lili merangkul tubuh besar Vino, saking beratnya membuat Lili tak bisa menjaga keseimbangan, akhirnya mereka jatuh ke lantai dengan posisi Lili yang menimpah kaki Vino yang terluka, "Akh,,,culun!" teriaknya membuat Lili segera bangkit dan merapikan rambutnya.


"Maaf tuan," ucapnya sembari membantu Vino untuk bangkit.


"Dasar bodoh!" umpat nya membuat Lili hanya bisa meneguk air liurnya. "Cepat bawah aku ke kamar mandi!" perintah nya dengan nada yang tak bersahabat.


"Baik tuan," ucapnya tak ingin memperpanjang masalah.


Setelah tiba di kamar mandi, Lili mendudukkan Vino di Kloset lalu meninggalkan nya. "Mau kemana kau?" tanyanya membuat langkah Lili terhenti.


Lili membalikkan tubuhnya kembali menghadap Vino lalu berkata, "Mau keluar tuan," ucapnya dengan wajah bingungnya.


"Enak sekali kau ingin keluar, bantu aku membersihkan diri, tubuh ku sudah sangat lengket." ucap Vino membuat Lili membulatkan bola matanya.


"A-apa sa-saya ti-tidak salah dengar tuan?" ucapnya dengan nafas yang tak teratur.

__ADS_1


"Selain culun, ternyata kau juga tuli ya," ejek Vino dengan tampang tak bersahabat nya.


Pria gila ini membuatku ingin melahapnya hidup-hidup! batin Lili gemas dengan tangan yang sedikit mengepal.


"Apa anda sudah gila tuan? apa anda kira saya ini istri anda? saya tidak mau memandikan tubuh jelek mu itu!" umpat Lili segera meninggalkan Vino yang terdiam di tempatnya.


"Hey culun,,," teriak Vino tetapi Lili terlihat enggan menoleh padanya. Vino menghela nafas lalu segera membersihkan tubuhnya sendiri dengan tubuh yang tetap duduk di kloset.


***


"Tring," Drag melihat layar ponselnya. Ia langsung tersenyum ketika istrinya melakukan video call. "Klik," Drag segera memposisikan handphone di depan wajahnya. "Assalamualaikum, halo sayang," ucapnya melihat Vera yang berbaring manja di atas ranjang.


"Wa'alaikumussalam, ayang kapan pulang?" tanya Vera dengan nada manjanya.


Drag melihat arloji nya sebentar lalu kembali menatap Vera. "Sebentar lagi sayang, kamu mau apa, biar Mas bawakan nanti," ucapnya masih setia menerbitkan senyum nya untuk Vera.


"Kangen,,, Sekarang saja pulang yang,,," ucap Vera membuat Drag tak bisa jika tak menuruti keinginan nya.


"Baiklah sayang, Mas pulang sekarang ya," ucapnya membuat Vera langsung heboh di sana.


Panik, jantung Drag seakan mau copot dari tempat nya ketika melihat Vera bangkit dan melompat di atas ranjang. "Sayang!" ucapnya memberi peringatan membuat Vera langsung berhenti dan kembali ke posisi awal. "Jangan seperti itu sayang, jika kamu jatuh gimana?" ucap Drag membuat Vera langsung melengkungkan bibirnya membuat Drag hanya dapat menghela nafas.


Sikap Vera benar-benar berubah 180° dari sikap di awal pernikahan. "Maaf sayang, Mas hanya khawatir sama keadaan kamu dan bayi kita," ucap Drag kembali melembutkan suaranya. "Ya sudah ya, Mas matikan dulu telepon nya," ucap Drag yang di angguki Vera.


Beberapa menit berlalu, kini Drag sudah memasuki kediaman nya dengan membawa beberapa makanan di tangannya, "Sayang,,," panggil Drag terus melangkahkan kakinya mencari Vera. "Pak Li, dimana istri saya?" tanyanya dengan mata yang masih sibuk mencari keberadaan Vera.


"Nona Vera berada di taman belakang bersama para maid tuan,"


"Baik, terima kasih Pak Li," ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju taman belakang. Ketika sudah sampai di pintu belakang, Drag mematung di tempatnya ketika satu anak panah mainan menempel di keningnya. Ia mengambil benda itu dan melihatnya sebentar. "Sayang," panggil Drag menatap tak percaya dengan perilaku Vera yang seperti anak kecil.


"Ayang,,," teriak Vera hendak berlari tetapi di hentikan oleh Drag.


"Stop! diam di situ, biar Mas yang ke sana," ucapnya membuat Vera memanyunkan bibirnya sebab kesenangan nya di patahkan oleh Drag. "Kenapa di sini sih sayang, cuaca nya lumayan dingin, jika kamu sakit gimana," Drag memberikan bungkusan di tangannya pada maid agar ia bisa melepas jasnya. Setelah jas sudah terlepas, Drag memakaikan jas itu di tubuh Vera.


"Gerah Yang," ucapnya terlihat tak senang di pakaikan jas.


"Sudah, ayo masuk," ucap Drag tak terbantahkan.


Drag dan Vera saling beriringan membuat maid yang mengikutinya tersenyum malu. "Ayang bawa apa tadi?" tanya Vera yang sempat melihat bingkisan di tangan Drag.


"Martabak dan bakso," ucap Drag membuat wajah Vera berbinar. "Kamu suka kan sayang?" tanya nya dengan tangan yang merangkul pundak Vera.


"Syuka,,," jawab nya sangat manja membuat Drag ingin sekali mencium nya. Karena maid berada di belakangnya, membuat Drag mengurungkan niatnya.

__ADS_1


__ADS_2