
Devilito berjalan melewati Lorena yang masih terpaku berdiri di pintu, Ia berjalan menuju kamar yang berada disebelah kamar yang di tempati Lorena tadi. Entahlah, Ia juga tidak habis pikir dengan tindakannya sendiri kenapa Ia begitu peduli terhadap gadis galak yang baru di selamatkannya ini yang bahkan tidak mau memberitahu nama dan siapa keluarganya.
Nalurinya mengatakan, ingin menyelamatkan dan lebih dari itu, melindungi!
Lorena mengekor di belakang Devilito mengikuti langkah yang menuju kamar, Ia masih berpikir hati-hati dengan pria yang katanya baru saja menyelamatkannya dari drama penculikan tadi siang. Ia masih ragu, walau pernah satu kali bertemu sebelumnya tetapi Ia harus waspada toh?
Tanpa di sadari Ia mengikuti langkah Devilito sampai di depan pintu kamar yang terbuka dan melihatnya membuka baju dan mengganti dengan kaos turtle neck lengan panjang. Devilito sendiri dalam posisi memunggungi nya. Matanya tak luput sekilas melihat luka di lengan dan sebuah tato di punggung bergambar bintang kelabang.
"Kenapa kamu melihat saya seperti itu?" Devilito ternyata sudah berbalik berjalan menghampiri sambil menurunkan kaosnya
"Ehh...aku cuma mengikuti kamu, kirain mau langsung keluar", katanya tersentak dari lamunan. Ia malu, lalu berbalik badan.
"Ayo kita cari baju ganti kamu, kita cari baju sementara aja dulu" Devilito berjalan mendahului Lorena menuju pintu keluar.
Sampai dalam mobil, Devilito mengambil senjata kecilnya di bawah jok mobil di tempat yang sudah di rancang dan menyelipkannya di betis kanan. Gerak geriknya ini pun tak luput dari pandangan Lorena.
"Tas kamu ada di jok belakang" Devilito berkata sambil menstarter mobil dan melaju perlahan.
"Kamu ini siapa sebenarnya sih..?" Lorena menyipitkan matanya menatap tajam ke arah Devilito. Ia belum bergerak mengambil tasnya.
"Coba kamu periksa dulu isi tas kamu, ada yang hilang ngga selain Hp", Devilito mengalihkan pertanyaan.
Cih!...Lorena berdecak merasa pertanyaannya di abaikan lalu mengambil tas di belakang dan memeriksa isinya. Lalu menatap lurus ke depan dengan wajah kesal.
Devilito melirik memperhatikan gerak gerik gadis yang disampingnya ini dan Ia tersenyum tipis.
Jam menunjukkan hampir pukul 7 malam.
Hammer melaju dengan kecepatan cukup tinggi, dan ketika mendekati keramaian baru sang sopir menurunkan kecepatannya.
Berhenti di sebuah Distro.
"Ayo kita turun, habis ini kita beli makanan".
"Kita mau makan apa disini?" Lorena bertanya karena dia lihat tidak ada resto disekitar itu.
Devilito membuka pintu turun dari mobil tanpa memberikan jawaban.
"Ihh..." Lorena merasa di acuhkan dan memukul dashboard mobil lalu mengikuti keluar dari mobil.
Di dalam distro...
Lorena melihat - lihat baju yang menurutnya cocok di pakai. Distro itu sendiri di desain artistik, dan bagian luar sebelah kiri ada sebuah kafe yang pengunjungnya di dominasi anak - anak muda.
Devilito berdiri di dekat kasir di dekat pintu masuk. Pandangan matanya mengarah keluar memperhatikan sekeliling dan tertuju pada sebuah mobil jeep yang berhenti di seberang jalan di tempat agak gelap, Ia memperkirakan mobil tersebut ada dua orang di dalamnya berdasarkan cahaya lampu dari mobil arah berlawanan yang melintas.
Devilito lalu menghampiri Lorena yang sedang memilih-milih baju.
"Kamu tunggu disini sebentar ya, saya mau keluar dulu, tapi kamu harus tetap didalam!", katanya dengan sedikit perintah dan berjalan ke arah pintu samping.
"Kamu mau kemana emangnya?" Katanya tanpa melihat, tapi tidak mendapat jawaban karena orangnya sudah berlalu pergi.
Mau kemana itu orang ?, pengen gue cabein mulutnya rasanya, irit banget kalo ngomong! gumam Lorena kembali berbalik memilih baju. Ia memilih dua stel baju dan ahh gue kan perlu dalaman ganti ho ho , kemudian masuk ruang ganti.
Devilito keluar menuju tiga bangunan sebelah yang terpisah dari distro. Ia agak berlari dibelakang di bawah cahaya gelap dan sampai di ujung lalu menyeberang jalan dan posisinya sekarang berada sekitar 10 meter di belakang mobil jeep jenis Wrangler.
Dengan mengendap-ngendap Ia mendekati pintu mobil sebelah kiri. Ia mendengar sedang terjadi percakapan, sepertinya via telepon.
Devilito menunduk dengan posisi sejajar dengan kaca spion agar tidak terlihat dari dalam.
"Ia bang, posisi saya masih di luar butik memantau target", terdengar jawaban pria dalam mobil.
"Baik, saya sudah shareloc, cuma posisi saya agak terpisah dari anggota lain yang banyak memencar di daerah B", kembali bersuara.
"Siap bang, wajah yang laki samar ngga keliatan tapi yang wanita nya saya pastikan target", lalu percakapan terputus.
Devilito lalu mengetuk kaca dan memperlihatkan sebuah kartu nama seperti orang menanyakan alamat.
Orang yang sebelah kiri menurunkan kaca
"Ada apa?" katanya tegas.
__ADS_1
Buggh..!
Namun Devilito memberikan jawaban dengan sebuah pukulan keras mengarah ke rahang bawah, di iringi sebuah tembakan pakai peredam mengarah ke perut sopir. Tidak butuh waktu lama bagi Devilito untuk melumpuhkan kedua nya. Lalu Ia buru - buru kembali melewati jalan yang sama. Tidak ada yang melihat kejadian karena suasana sepi di area jalan.
Ia mampir di kafe pesan makanan dan kemudian masuk kembali ke dalam butik. Di lihatnya Lorena sudah menuju kasir di ikuti pelayan yang membawa setumpuk baju.
"Kamu dari mana?", melihat muka Devilito agak berkeringat.
"Pesan makanan", jawabnya singkat sambil mengangkat bawaan makanan.
"Berapa mbak?", Lorena berkata mengarah ke sang kasir dan membuka dompet mengambil kartu debit.
"Totalnya Rp. 1.750.000 kakak"
"Saya aja yang bayar" Devilito ambil alih dan mengeluarkan uang tunai.
"Aku aja, aku punya duit! " sambil menyodorkan kartu.
"Duitmu ngga berlaku di hadapan saya!", Devilito meletakkan duit di atas mesin kasir dan langsung mengambil kantong berisi baju di atas meja lalu pergi meninggalkan mereka.
"Ihh.." Lorena menghentakkan kakinya protes.
"Kak ini uangnya kelebihan 250 ribu" kasir memberikan kelebihannya ke Lorena.
"Buat kamu aja kembalian nya"
"Pacarnya ya kak atau suaminya?, macho deh" kasir berkata memasang wajah mupeng.
"Dihh..!" Lorena pergi dengan wajah geli.
"Makasih kakaak", sang kasir senang mendapat tip lumayan besar untuk ukurannya.
Devilito melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, Ia harus menghindari konflik susulan dengan orang tadi karena pasti temannya akan datang. Tiba - tiba Ia mendapat telepon dari anak buahnya yang mengatakan bahwa mereka sudah sampai di markas induk membawa dua orang tawanan.
Devilito sendiri tidak berbicara, Ia memutuskan percakapan lalu mengetik pesan singkat dengan satu tangan.
(kalian bawa ke ruang bawah tanah dan semuanya berkumpul disana, jangan ada yang berkeliaran di ruangan induk)
(Siap ketua)...
Disamping, Lorena tidak memperhatikan kegiatan Devilito, Ia asyik dengan jalan pikirannya sendiri.
Ia tidak memungkiri bahwa orang ini berkharisma tinggi, tampan sangat, berwibawa dan misterius. Dia sepertinya bukan orang jahat. Buktinya belum sekalipun orang ini melecehkan atau berbuat tidak senonoh terhadap dirinya malah terkesan hangat memperlakukan dirinya layaknya seorang yang spesial. Yaa...sangat menghargai walaupun wajahnya sangat dingin, flat!..bicara pun seperlunya , datar pula kecuali jika bicara ada temannya dan rasanya pengen memasukin cabe 1 kilo ke mulut pria ini hi hi
"Kenapa kamu senyum - senyum ?" pertanyaan Devilito membuyarkan lamunan Lorena.
"Hah .? eh ngga !, t..tadi itu kasirnya bilang naksir kamu hehe ", katanya secepat kilat menemukan kata mengelak.
"Ck.." Devilito hanya geleng - geleng kepala mengabaikan.
"Yaelaah..cuma ..Ck..doank gitu ?" tanyanya dengan bibir mengerucut mencibir.
Devilito hanya melirik sekilas dan menambah kecepatan.
"Heii..aku belum mau mati pelanin ngga ?!" perintah Lorena sambil memukul agak keras bagian lengan kiri Devilito.
Yang dipukul hanya cuek tidak ada reaksi.
"Kita harus buru - buru kembali" jawab Devilito datar dan memperlambat tekanan gas pada pedal.
Sesampai di markas jam sudah menunjukkan pukul 21.00....
hmm..jadi banyak orang? Lorena menatap sekeliling area belakang markas sudah berjejer beberapa mobil yang parkir, dan Ia mengikuti langkah Devilito yang menenteng dua belanjaan di tangan masuk ke dalam. Di pintu masuk mereka sudah di sambut Marcel dan Giring dengan wajah heran.
Tumben mau bawa belanjaan? Marcel berkata pelan sambil melirik ke arah Lorena tak percaya.
Devilito yang di tanya justru memberikan kantong yang berisi makanan kepada Giring dan berbisik,
"Udah siap?", Giring mengangguk pelan.
"Ini belanjaan kamu" Devilito menyerahkan belanjaan baju kepada Lorena yang sudah melangkah masuk menuju kamar dan kemudian mengambil 2 buah kotak makanan dari kantong yang di pegang Giring dan membawa nya mengikuti langkah Lorena.
__ADS_1
Sampai di pintu kamar Ia berhenti lalu menyerahkannya,
"Makanlah, itu isi nya roti bakar dan pisang bakar keju"
"Oh ya, kamu di kamar aja jangan keluar - keluar ya" Sambung Devilito datar mau menutup pintu kamar.
"Kamu mau kemana? aku ngga mau di rumah ini sendirian!"
"Saya di ruangan lain, ngga usah takut", jawabnya melangkah pergi.
Lorena mengunci pintu dan segera menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Badannya terasa lengket.
Devilito, Marcel dan Giring sudah sampai di ruang bawah tanah yang mirip aula kecil. Disana sudah berkumpul para anak buahnya yang berjumlah sekitar 15 orang.
"Yang lain kemana ?", tanyanya mengarah ke Tito, kemudian melangkah menuju dua orang tawanan yang berumur masing masing kira - kira 30 tahun, mulut mereka masih di lakban dan tangan terikat duduk di kursi.
"Yang sebagian 10 orang lagi di bawah pimpinan Dasmond saya tempat kan di sekitar area pintu masuk ketua, dan tim I bagian penyitaan dan auditor sudah di markas P"
"Ooh, trus ada kendala" katanya sambil melakukan peregangan otot dan membuka baju nya.
"Sampai sejauh ini clear ketua"
"Lepasin mereka dua - dua nya" perintahnya pada anak buah yang di dekat tawanan.
"Inj bagian gue!" Giring berbisik pada Devilito
"Gue udah lama ngga olahraga" sambungnya masih berbisik sangat pelan dan maju melangkah ke arah ke arah calon korban. Devilito mengangguk mempersilahkan.
Begitu di lepas ikatannya kedua tawanan justru berlari ke arah Devilito mohon pengampunan dengan tubuh menggigil ketakutan.
"Mohon ampun pak Dev saya salah" dan berusaha mencium kaki Devilito, namun Devilito bergeming dan menghindar ke samping.
"Kalian akan selamat jika kalian bisa mengalahkan dia" tunjuknya ke arah Giring.
"Berani berbuat berani tanggung jawab, saya paling benci pengkhianat !!"
"Kalian sudah saya kasih gaji yang cukup , fasilitas yang memadai dan tunjangan juga diberikan, tapi kalian manusia yang berubah menjadi tikus dan saya bikin hukum sendiri untuk itu !!", sambungnya sambil menendang perut salah satunya.
Dengan terpaksa mereka harus melawan Giring yang merupakan salah satu master dalam olah raga tarung bebas. 2 - 3 menit pertama Giring masih membiarkan kedua lawannya memukul , Ia hanya menghindar, baru kemudian melakukan serangan balik menghantam leher dan perut bertubi - tubi. Salah satu dari mereka pingsan dan satu lagi setengah sadar dengan muka babak belur.
Tiba - tiba...
"Berhenti !!!"..
Devilito setengah berlari menghampiri arah suara di pintu .
"Kamu ngapain kesini hah ?"
"Apa yang kamu lakuin kalian menyiksa orang disini!", Lorena membentak sang ketua.
Devilito menutupi arah pandangan mata Lorena sambil merangsek maju agar Lorena mundur ke belakang. Mau tidak mau Lorena mundur sampai beberapa langkah, kemudian Devilito menutup pintu.
"Kamu siapa sebenarnya hah!!, ternyata benerkan kamu itu penculik ? dan menculik aku !!", Lorena menunjuk muka Devilito.
"Saya bukan penculik, dan juga bukan menculik kamu, itu karyawan yang berkhianat, mereka melakukan korupsi di kantor saya".
"Kenapa mereka harus di siksa ?, kenapa ngga diserahkan ke pihak kepolisian?"
"Proses hukum pidana mereka tetap di limpahkan ke kepolisian kok!" Devilito membela diri.
"Huh !!..Aku curiga sama kamu, kamu itu penculik atau ngga komplotan gangster !!" Lorena mengakhiri perdebatan dan berbalik badan meninggalkan Devilito.
Dan Devilito sendiri langsung masuk ke dalam ruangan dan menampar salah satu anak buah nya yang dekat pintu karena lalai mengunci pintu. Lalu memanggil Marcel dan Giring dengan kode tangan.
"Elo bubarin deh, obati kemudian suruh Tito anterin lagi ke rumah dengan catatan!" Devilito berlalu dari situ tanpa menunggu jawaban kawannya.
Giring dan Marcel hanya melongo tak percaya dengan keputusan Devilito.
-
Bersambung...
__ADS_1