Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.8. Tentang Sebuah Hati


__ADS_3

Donita memarkirkan kendaraannya di depan butik miliknya. Dia masih duduk di belakang setir melamun. Dalam perjalanan dari pertemuan dengan adiknya tadi, Ia kepikiran dengan kemunculan seseorang yang mirip dengan orang yang sangat dikenalnya, ada rindu yang sesak, ada sebuah luka yang perih ketika dia harus meninggalkan semua kenangan indah di negara spagheti.. Kebahagiaannya harus di renggut dan terpaksa menikah dengan orang yang sekarang menjadi suami nya, Aksan !


Aksan sendiri dalam pikirannya tidak tahu tentang masa lalu dirinya, Aksan seperti tidak mau tahu dan dirinya pun tidak pernah menceritakan.


Cukup lama Donita berdiam diri sampai Ia tersentak gara - gara kaca mobilnya di ketuk oleh seseorang. Tersadar, Ia memperhatikan orang tersebut, Ia curiga. Tetapi kecurigaannya hilang setelah orang tersebut memperlihatkan pergelangan tangannya ada sebuah gelang khusus. Hanya para anak buah papa nya yang memakai itu.


"Ada apa? " Ia membuka kaca sedikit.


"Maaf..nona muda diminta oleh tuan besar untuk segera pulang ke rumah induk sekarang" pengawal bicara dengan sopan


"Loh kenapa?, kok papa ngga ngabarin saya?" tanyanya menyelidiki.


"Nona silahkan lihat Hp nona ya", tetap dengan kesopanan.


.


Ya ampun Hp nya dalam posisi mode mute karena tadi Ia silent di waktu ngobrol makan siang. Ada 15 kali panggilan tak terjawab dari sang papa. Ia mencoba telpon balik, tetapi Hp papa nya tidak aktif. Ia mencoba menelpon ke nomor bisnis papa nya tapi Ia pikir baiknya dia ke rumah papanya saja, pasti ada sesuatu yang terjadi


"Yaudah, kalian duluan berangkat nanti saya ke rumah papa" perintahnya sambil memasukkan Hp ke dalam tas.


"Kami ditugaskan mengawal Anda nona, jadi saya yang bawa mobil nona" pengawal tetap berdiri di samping pintu isyarat kalau Donita segera pindah ke belakang.


"Loh.. ada apa sih?"tanyanya menyelidik.


"Saya tidak berhak menjawabnya nona, silahkan nanti tanya langsung tuan besar"


Donita mau tidak mau segera bergeser ke kursi belakang, dan pengawal membuka pintu kemudi sambil memberi kode ke temannya yang sudah stand by di mobil jeep terparkir di depan untuk segera berangkat.


Diperjalanan Donita menghubungi suaminya, tapi terdengar panggilan sibuk. Ia mencoba berulang kali tapi hasil nya sama lalu Ia mengirimkan pesan singkat,


"Bee, kamu dimana? Kok telpon kamu sibuk terus?."


Beberapa menit baru ada balasan,


"Aku udah di rumah induk mih, lagi sama papa, kamu udah otw ?."


"Ooh...udah, aku lagi otw, ada apa sih?.


"kamu kesini aja dulu nanti di kasih tau"


Hhh...kok perasaan jadi ngga enak yah? Donita menarik nafasnya berat.


Ruas jalan ibu kota siang itu cukup lancar, cuma butuh waktu 30 menit untuk sampai di sebuah rumah mewah milik ayahnya. Pintu pagar langsung di buka penjaga dan memberi sikap hormat begitu iringan mobil Donita dan pengawal masuk. Di samping rumah induk terlihat banyak mobil - mobil dari bermacam jenis, di dominasi mobil jeep wrangler.


Berarti ada sesuatu hal yang terjadi kalau anggota organisasi papa berkumpul


Area Kediaman rumah Alexander sangat luas. Terdiri dari dua bangunan utama, yang paling depan rumah induk dua lantai yang di huni oleh papa Donita dan bagian samping agak ke belakang di jadikan sebagai markas organisasi.


Donita keluar dari mobil langsung masuk rumah induk dengan terburu - buru. Di ruang tamu sudah ada papa nya, Aksan sang suami dan om Raymond adik kandung Alexander yang juga merangkap sebagai ketua organisasi jaringan bawah tanah.


"Papa, ini ada apa. pa ?"


Alexander menghampiri dan memeluknya,

__ADS_1


"Lorena di culik ..papa sedang mengusut dalangnya siapa, dan papa akan pastikan adikmu kembali", Alexander berkata menenangkan.


"What...??, kapan diculiknya...bukannya tadi sama aku di restoran..? ya kan bee..?", Donita tak percaya melihat ke arah suaminya, dan langsung meraih tas mengambil Hp, mencoba menghubungi Lorena.


"Hp Lorena ngga bisa di hubungi ,kejadiannya pas di waktu pulang dari restoran tadi mih" Aksan menjelaskan.


Tubuh Donita bergetar hebat menahan tangis, lalu duduk di sofa.


"Untuk saat ini kamu dan Aksan menginap disini dulu sampai keadaan tenang" Om Raymond angkat bicara.


"Papa dan Om Raymond juga Aksan mau ke markas dulu, kamu di kamar aja", perintah Alexander, sambil berjalan keluar di ikuti Raymond dan Aksan.


Donita tidak menjawab, Ia pergi ke kamar nya di lantai atas, Ia masih tak percaya kalau adik nya di culik. Terbayang kembali peristiwa penculikan atas dirinya di Italy dulu yang menyebabkan dia harus menikah, meninggalkan kekasihnya dan berganti identitas.


Ia juga menyesali keputusan sang adik karena pergi dari rumah dan tinggal sendiri di sebuah apartemen milik mamanya setelah mama mereka meninggal menjadi korban pembunuhan. Adik dan papa nya sendiri saat ini tidak akur, menurut adik nya tersebut, kematian mama mereka akibat jaringan bisnis papa, dan Ia tidak menyalahkan pemikiran sang adik karena memang...bisnis papa sangat beresiko tinggi. Dia sendiri turut menjadi korban.


-- 1 jam sebelumnya di tempat yang berbeda --


Devilito sudah mendekati markas, dia berhenti beberapa menit di tanah kosong yang terhalang pepohonan. dan pandangan nya melihat sekeliling area dan sesekali melihat spion mobil. Lorena memperhatikan tingkah laku Devilito yang sedang memastikan bahwa mereka tidak di ikuti.


Ini orang tidak seperti penjahat dan terlihat sangat hati - hati dalam bertindak, berkata dalam hati.


Setelah di rasa keadaan aman, Devilito kembali melajukan kendaraannya, kira - kira 20 meter Ia membelokkan arah mobil ke kanan masuk jalan setapak yang kiri kanan nya dipenuhi semak liar. Di ujung jalan ,baru terlihat sebuah bangunan rumah tua yang cukup luas, seperti bangunan peninggalan Belanda. Bersih terawat namun menyeramkan !


Sampai di belakang bangunan Devilito memperhentikan mobilnya, dan..


"Turun..." perintahnya dengan suara datar.


"Kamu siapa sebenarnya..?, kenapa menculikku?" sambungnya tanpa mengalihkan pandangan dari mata Devilito.


Devilito yang sedikit grogi ditatap seperti itu, menjawab..


"Saya tidak menculik kamu..!" tegasnya.


"Trus kenapa aku dibawa kesini..! dan siapa yang membekap mulut aku di bassement?," tanya Lorena lagi.


"Nanti aja di dalam kita omongin,, saya harus mengobati luka goresan di tangan saya", Devilito bergerak membuka pintu mobil. Lorena tetap diam di dalam.


"Atau saya paksa turun..?"


"Coba aja kalau berani..!, saya tusuk kamu..!" di tangan Lorena sudah ada belati yang Ia dapat dibawah pinggir jok pintu.


"Haduuhh...kamu ini bener - bener yah ??," Devilito geleng - geleng kepala.


"saya cuma mau menyelamatkan kamu, setelah aman nanti silahkan kamu pergi dari sini, dan kamu tau?...penjahat itu masih berkeliaran", gerutunya kesal.


Tiba - tiba ada sebuah mobil datang pelan - pelan tetapi tidak meneruskan jalannya menuju garasi belakang., berhenti.


"Yakin kamu ngga mau turun ??" Devilito menakuti dan memutar badannya meninggalkan.


Lorena ketakutan melihat ada mobil yang berhenti tidak jauh dari tempatnya, Ia pun buru - buru turun lalu berlari menyusul Devilito..


Dan dari balik gorden pintu ada sepasang mata yang memperhatikan kedua nya dari pertama mereka datang, lalu membuka pintu menyambut Devilito.

__ADS_1


"Lo udah lama sampe ?" tanya Devilito pada orang tersebut yang ternyata Giring.


"Udah 20 menitan, gue dari kota B langsung kesini, Marcel hubungi gue tadi" sambil membiarkan Devilito dan Lorena masuk..


Sejenak Ia memperhatikan Lorena seperti mengingat sesuatu, lalu mempersilahkan masuk dengan kode tangannya.


Beberapa menit kemudian Marcel pun masuk rumah tersebut dan melihat Lorena kemudian bertanya setelah sampai di ruang tengah,


"Ini korbannya. sob..?" tanyanya


"Iya." jawabnya singkat.


"Ini yang jadi korbannya siapa sih sebenarnya?" sambil memperhatikan tangan Lorena yang memegang pisau belati., dan berpindah melihat lengan Devilito yang berdarah.


Lorena yang merasa diperhatikan baru sadar kalau Ia masih memegang pisau.


"Kalian ini siapa sebenarnya ?", Ia balik bertanya dan matanya tajam tertuju ke arah Marcel


"


"Wow .tenang nona, saya dan dia adalah teman korbanmu itu", jawabnya menunjuk Giring dan Devilito..


"Diem lo..!, obatin tangan gue" Devilito mendengus kesal kemudian membuka kemeja nya yang bercak darah.


"Nona, orang tua kamu siapa?, dan namamu ?" Devilito bertanya tetap dengan datarnya .


"Kamu ngga perlu tau siapa aku dan keluargaku!" Lorena menjawab. membentak


"Haisssh..kamu ini di tanya baik - baik, kalo gitu kamu masuk aja kamar disitu, atau kamu mau lihat tubuh saya ?" katanya sambil menunjuk kearah salah satu kamar.


"Cih..ogah !!" Lorena cemberut menjawab sambil berjalan masuk kamar yang di tunjukkan.


"Itu belati kembalikan dulu ..!" Devilito mengingatkan.


"Ngga mau..siapa tau kalian memang penjahat!", kemudian pintu dibanting tertutup.


Devilito hanya diam


Marcel dan Giring tertawa cekikikan setelah Lorena masuk kamar


"Orang yang ngga ada takut nya dengan manusia mana pun, menembak orang ngga berkedip, setan aja minggir ama dia, ehh dibentak - bentak cewek kayak harimau ketemu pawang , hahaha" Marcel terbahak di ikuti Giring


"Udah, cepetan periksa luka gue, infeksi nanti"


"Ok bos" Marcel mengangguk dan masih tersenyum geli.


"Kejadiannya gimana sob..?", tanya Marcel sambil mengobati luka Devilito.


Devilito pun menceritakan runutan kejadian itu.


Bersambung....


"

__ADS_1


__ADS_2