
Devilito tak habis pikir dengan perubahan drastis yang di alami istrinya sejak menginjakkan kakinya di pulau Dewata ini. Seperti malam ini, setelah acara makan di Warung M*** yang alhasil Lorena cuma makan tidak sampai 5 sendok, itu pun harus di suapin suaminya.
Alih-alih ingin libur bersama, malah sekarang justru Lorena mengajak suaminya berjalan kaki menyusuri pantai hanya berdua. Ya..ingin berdua saja,
"Tanpa 'dayang-dayang' pengiring" katanya tersenyum menatap semua, tanpa dosa.
"Istri lo kenapa sih sob?", Giring berbisik pelan, setelah Devilito bicara dengan pak Wayan serta stafnya agar memaklumi keinginan istri nya, dan meminta pak Wayan malam ini tidak perlu menjadi guide. "Iya, kenapa sih..?", Marcel dan Dita ikut nimbrung.
Devilito hanya mengangkat bahu, "Ngga ngerti gue, mungkin kena angin Bali kali!, kena sambet.." jawab Devilito acuh. "Ada apa kok pada bisik-bisik..?, ngomongin aku ya?", Lorena yang melihat tiga serangkai plus satu temannya ngumpul, Ia jadi curiga.
"Ngga, yank..mereka mau pergi surving malam-malam, tapi aku larang, ntar masuk angin, ya kan..?" Devilito secepat kilat menemukan jawaban yang tidak masuk akal sebenarnya. "Apaan..laki lo garing..!", Dita menarik tangan Lorena agar menjauh, "Lo kenapa sih Ren, aneh banget deh..?, kan kita tadinya pengen ke seminyak, kenapa lo pengen pacaran berduaan aja?" lanjut Dita kemudian.
"Yaudah, lo pacaran aja ama kak Marcel, mumpung disini, ya kan..? kemana gitu", Lorena mengerlingkan matanya, menggoda Dita. "Apaan sih lo..?" muka Dita bersemu, tangannya pengen menjitak Lorena.
"Yaudah, yuk ah..keburu tengah malam, ayo...malam ini, kesenangan masing-masing aja nanti kita ketemu di hotel", Devilito lalu mengibaskan tangannya, menyuruh mereka membubarkan diri.
Hendra dan Indri yang dari tadi hanya diam melihat sisi lain dari bos dan nyonya mereka, hanya senyum-senyum. "In, kita ngobrol di hotel aja atau gimana..?" Hendra berbisik. "Terserah pak Hendra aja". Indri berbalas berbisik. "Kalau acara non-formal gini, jangan panggil pak kenapa sih In..?,panggil mas aja ya", Hendra berkata senyum penuh arti, alhasil Indri melongo.
***
Disinilah mereka sekarang, Lorena dan suami berjalan bergandengan tangan menyusuri pantai, langit malam ini cerah dan bulan mendekati purnama menerangi bibir pantai Kuta memberikan nuansa magis dan romantis.
"Yank, kamu ingat ngga kenangan kita waktu yang terdampar..?, kapan kita kesana lagi..?" tanya Lorena bergelayut manja di bahu sang suami. "Hmm..mungkin setelah Marcel nikah aja gimana?", jawab Devilito. "Tapi, kak Giring kan belum punya calon kan yah?, trus nunggu dia nikah juga gitu..?, masa kak Giring ngga di ajak juga kalo kak Marcel ikut?", jawab Lorena dengan bibir mengerucut cemberut, sebenarnya Ia cuma pengen berdua aja tadinya.
"Eh iya yank, kak Giring itu ngga ada gitu cewek yang dia sukai..?, kan dia juga ganteng?, dia ngga belok kan yah...hihi"
"Normal kok dia, cuma dia orang yang sulit jatuh cinta. hmm, ada sih cewek sepertinya yang dia sukai..tapi, apa cewek itu tau atau ngga".
"Siapa..?"
"Ada, cuma aku ngga tau pasti" duh gimana ngomongnya? ntar urusannya panjang
__ADS_1
"Oh ya,..Yank, aku udah pernah ngomong belum sih, rencana mau ke Melbourne?", Devilito mengalihkan pembicaraan. "Udah kan, kenapa ?..", Lorena menghentikan langkahnya.
"Mungkin berangkatnya di percepat, tiga minggu lagi". "Owh..kirain batal", Lorena melanjutkan langkahnya, "Aku pengen ikut soalnya..".
"Emang siapa yang ngajak kamu..?".
"Hmm...", Lorena menghempaskan diri dari rangkulan suaminya, muka di tekuk dengan mata melirik tajam.
Devilito meraih tangan istrinya, "Iya, gitu aja ngambek..", Devilito mengusap kepala Lorena dan menciumnya.
"Duh..lo liat ngga itu bos kita?".
"Ngga, gue kekurangan vitamin A, jadi mata gue rabun malam, gue ngga liat apa-apa!". Jauh di belakang mereka, dua orang pengawal dari kejauhan berbisik-bisik melihat adegan mesra bos mereka.
***
"Cel, lo kapan rencana mau nikah..?" tanya Devilito di pagi hari pada keesokannya. Wah, kalo udah panggil nama brarti serius banget ini... Marcel meletakkan gelas kopi yang Ia pegang.
"Ya, ngga kenapa-kenapa sih, jangan kelamaan pacarannya , ngga baik..,lagian lo nungguin apa lagi?, lo kan sama ama gue dan Giring ngga punya saudara kandung, orang tua, handai taulan..udah waktunya ada yang ngurus". Devilito menatap intens sahabatnya itu.
Memang, mereka bertiga sudah berikrar dengan darah, bersumpah sebagai sahabat sekaligus saudara selamanya.
"Gue udah bilang sama ortu nya Dita, gue siap kapan aja kalo Dita Ok...nah, lo gimana..?, udah waktunya juga lo , inget umur!", Marcel melemparkan tanya ke Giring yang sedari tadi cuma manggut-manggut.
"Hah..kok gue?, lo yang punya calon, gue mah nyantai bro" Giring tersenyum tipis. Devilito menepuk paha Giring, "Nyante-nyante...lo ngga selamanya begini bro, lo ngga pengen ada penerus nanti nya?, atau nanti pas datang pikiran pengen berkeluarga, umur lo udah kelewat dan lo malu, akhirnya jomlo abadi" Devilito tergelak.
"Yaa, jangan sampe begitu juga kali, belum ketemu yang pas aja, ntar juga ketemu jodoh gue!"
"Makanya jangan terlalu milih juga loo...atau jangan-jangan masih ngarepin...mmmh, Cerry..?", ujar Marcel menyipitkan matanya, menatap Giring.
Giring merubah posisi duduknya, menegakkan punggung, lalu meraih gelas kopi, Ia gugup ditanya seperti itu. Ia membenarkan omongan Marcel. Ya, Giring sangat menyukai Cerlotta, tapi sayangnya...Cerlotta justru menyukai Devilito, walaupun Devilito tidak menanggapinya.
__ADS_1
Giring melirik ke Devilito, lalu sedikit berbisik, "Ngomong tentang Cery..dia udah tau belom lo merid..?".
Devilito menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Belom sih, gue ma.."
"Dan, tuan Ludwig juga belum tau..?, dan apa lo pikir Cerry dan tuan Ludwig akan diam, sementara dia pengen lo yang jadi mantunya?" Giring memotong omongan Devilito, terlintas dalam pikirannya bahwa ini akan menjadi konflik, tuan Ludwig dan Cerlotta sama kejam nya. Mereka tidak akan semudah itu akan menerimanya, Lorena akan terancam.
"Baik nya, lo segera kasih tau Ludwig dan Cerry secepatnya sob..kita berangkat ke Itali!", Marcel angkat bicara melihat Devilito seperti sedang berpikir keras.
"Tapi, gue lagi banyak planning sekarang ini, mau ke Melbourne juga tiga minggu lagi kan..?",
"Sepulangnya dari Australia aja kalo gitu.." lanjut Devilito kemudian.
"Ke Melbourne emang ngga bisa di wakilin..?" Giring kemudian yang bertanya. "Bisa sih sebenarnya, tapi karna Linggar calon mitra ini di sokong sama Raymond dan Triad Hongkong, jadi gue mancing Raymond disana, gue udah bilang sama Robert untuk mengatur".
"Oowh..gue ama Giring perlu ikut?".
"Nanti gue kabari lo berdua, standby aja dulu...".
"Yang penting, jangan sampe Cerry kesini duluan karna dia tau lo udah merid, kalo sam...", omongan Giring harus terhenti, karena Lorena muncul dari dalam kamar ikut bergabung.
"Ada omongan apa nih...?", tanyanya sambil menjejakkan pantatnya di samping suaminya. "Lagi ngomongin, nanti agenda kita hari ini kemana yank..".
"### Naah..kita kepantai aja lagi, gimana yank..? surving..".
"Gue setuju..yuk!", jawab Marcel antusias, Ia memang sangat menyukai olahraga berselancar itu.
"Nanti habis meeting sama pak Wayan dulu gue, ada yang mau dibahas sedikit, panggil Dita yank..", katanya melirik sang istri. "Kalau Hendra sama Indri sedang menyiapkan berkas untuk meeting nanti" lanjutnya kemudian.
-
Bersambung
__ADS_1