Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.55 Kebiasaan Baru Sang Istri


__ADS_3

Lorena melangkahkan kakinya di koridor kampus menuju ruang dosen. Hari ini adalah jadwal konsultasi dengan Penasehat Akademik nya dalam penyusunan skripsi nanti. Ia belum mengetahui siapa penasehat dan pembimbingnya tersebut.


"Renaa..!", gelegar suara Dita nan cempreng memanggil, Ia berbalik badan menunggu sahabatnya yang berlari kecil menyusulnya. "Lo mau bimbingan yah..?", tanya Dita sejajarkan langkah ketika Lorena kembali melangkahkan kaki menuju ruang dosen.


"Iya, tapi gue belum dapat jadwal sama siapa pembimbingnya, lo udah..?", tanya Lorena berjalan beriringan. "Gue udah dapat kemarin, PA gue pak Taufik Hidayat, pembimbing dua nya Ibu Ismowati, tapi lo kemaren ngga masuk yah? kemana emang?".


"Gue ada perlu kemaren ngga bisa datang, periksa dokter", ujar Lorena sembari mengangguk kan kepalanya pada mahasiswa lain yang berpapasan dengannya. "Gue hamil..", lanjutnya kemudian sambil berbisik ke telinga Dita.


"What..!?", ujar Dita setengah berteriak, langkahnya terhenti. Alhasil mulutnya langsung di bekap Lorena. "Mulut lo kondisiin dongg !", Lorena sambil melayangkan sentilan di kening sahabatnya itu.


"Aduh..!, lo sama aja ama laki lo deh, sakit tau !", Dita meringis sambil mengusap kening bekas sentilan Lorena. Kemudian berlari ala-ala anak kecil mengejar Lorena yang sudah menjauh. "Lo serius..?", Dita memegang kedua bahu Lorena dari belakang, "Cewek apa Cowok ?", tanya nya kemudian.


"Belum tau, dan sepakat ngga pengen tau", jawab Lorena santai dan kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan untuk mengambil print out data dosen penasehat dan pembimbing akademik.


Dita menunggu di luar, sebenarnya Ia juga ingin bertemu dengan pembimbingnya Bapak Taufik Hidayat. "Lo lagi ngapain ?", suara seseorang yang tiba - tiba sudah di sampingnya mengagetkan Dita. "Ehh Robby, kaget gue..!", Dita mengusap dadanya, "Gue nunggu...", Dita menjeda kalimatnya, "Nah..itu !", dia langsung mengarahkan telunjuknya.


Lorena keluar dari ruangan tadi dan berjalan perlahan sambil menatap sebuah kertas. Ia seperti tak percaya...


Robby terkesiap, Ia seperti melihat hantu. Tiba - tiba tanpa basa basi pergi dari samping Dita dengan langkah pincang, terburu-buru. Dita yang melihatnya, kaget kembali, "Lhaaa...kenapa itu orang ?".


Ya, Robby. Dia tidak akan pernah berani lagi untuk mengusik Lorena dan kehidupannya. Ia kapok. Ancaman Devilito tidak main - main, sesuai dengan namanya yang ia sematkan sendiri, devil (iblis). Cukup kaki dan tangannya yang di buat cacat oleh suami Lorena itu. Dia masih ingin nyawanya ada di raga.


"Kenapa Dit, kok lo bengong ?".


"Eh..ngga, gue heran sama si Robby, pas gue kasih tau nunggu elo, dia kabur..biasanya kan reseh kan yah..?", sahut Dita meminta jawaban. "Oohh..yaudah biarin", jawab Lorena cuek dan kembali menatap kertas print out kecil di tangannya.


"Ada apa Ren..?, siapa pembimbing akademik lo?".


"Ckk..tuh baca", Lorena berikan kertas print out ke tangan Dita. "Hahaha...Shania Sesvara, SE.MM, Ak.", Dita tak bisa membendung tertawanya.


"Kenapa hidup gue ngga pernah jauh dari masa lalu suami gue yah..?", Lorena bertolak pinggang, pandangannya menerawang ke atas. "Elo bisa ngajuin penggantian, ajuin gih ntar dia mempersulit gimana ?", usul Dita.


"Udah biarin, kalo dia persulit, gue jitak ! liatin aja..", ujar Lorena kemudian, dia bisa saja mengajukan penggantian tapi lebih baik tidak.

__ADS_1


"Gue tinggal lo ya, gue mau nemuin pak Taufik, mau konsul", ujar Dita bersiap pergi, "Oh ya, jaga pikiran lo, jangan stress, jaga emosi kasian debay dalam perut !", nasehat Dita selanjutnya.


"Iyaa..bawel banget sih lo !, nikah sana makanya !".


"Semangat !", Dita cengengesan sambil mengepalkan tangan ke atas, lalu sedikit buru - buru berjalan meninggalkan Lorena yang juga berbalik badan, bersiap menemui dosen penasehat sekaligus pembimbingnya.


***


Disinilah Lorena sekarang, duduk berhadapan dengan Shania dalam satu meja, mereka secara profesional membahas tentang persiapan skripsi Lorena.


Shania menerangkan langkah awal apa saja yang akan di lakukan Lorena. Dosen itu menulis coretan-coretan di atas kertas.


Awalnya Shania agak canggung berbicara, namun Ia menepisnya kemudian.


"Dalam penyusunan kerangka penelitian, Anda harus terlebih dahulu tentukan cover judul nya apa", ujar Shania sambil kembali menulis di atas kertas, "Lalu baru nanti menulis Bab.1. pendahuluan", lanjut Shania kemudian, "sampai disini Anda mengerti ?, kalau ada yang mau di tanyakan, tanyain aja", Shania membetulkan posisi kaca matanya, dan memperhatikan mimik muka siswanya tersebut.


"Nanti di pendahuluan isinya apa aja,..bu ?", tanya Lorena ragu menempatkan kata panggilannya terhadap dosennya. Shania senyum, "Ngga apa-apa terserah kamu panggil aku apa kalau lagi berdua gini, tapi di kelas kalo di kelas, aku minta hargai aku".


"O yaudah, nanti aku bikin Bab satu, dan konsultasi kan dengan Ibu".


"Iya, kita mulai Bab satu dulu setelah kamu tentukan judulnya, nanti aku koreksi mana yang perlu, tenang aja, aku ngga akan mempersulitnya kok", imbuh Shania seolah menjawab keraguan dalam hati Lorena. "Kapan kamu mulainya, Rena ?", lanjut Shania ingin mencairkan suasana.


"Segera..!", jawab Lorena meyakinkan. Ia bersyukur Shania tidak seperti yang sebelum-sebelumnya, jutek.


"Ya sudah, cukup dulu kita konsulnya, nanti pembimbing dua kamu, pak Sagara ?", Shania membaca kertas print out di meja. "Betul bu..", Lorena mengangguk.


"Panggil kakak aja", ujar Shania tersenyum. "Pak Sagara agak perfect dan disiplin, nanti aku bantu bikin kerangka penelitian kamu, tinggal di kembangkan", lanjut Shania tulus.


"Terima kasih sebelumnya bu..eh kak", jawab Lorena tersipu malu. Tadinya Ia menyangka Shania akan mempersulitnya atau jutek, dan dia bersiap untuk itu, tetapi ekspetasi nya buyar dengan ketulusan yang di perlihatkan Shania.


"Gimana keadaan kamu..?", tanya Shania lembut ketika mereka sampai di pintu, dia sebenarnya merasa bersalah atas kejadian keributan yang di timbulkan Cerlotta tempo hari. "Baik kak, aku lagi hamil..".


"Oh ya ?, selamat ya Ren...", Shania terkejut, Ia mengusap lengan Lorena, "udah berapa lama?".

__ADS_1


"Baru lima minggu, belum ketauan cewek cowoknya" Jawab Lorena. "Duh, pengen deh...", sahut Shania dengan pelan.


"Nikah dulu kak hehehe, kak Shania serius kan dengan pak Sandi ?", bisik Lorena ke telinga dosennya itu. Suasana cair sudah terasa di antara mereka, tidak ada rasa canggung lagi. "Ehh, se..serius laah, ngga tau kapan belum ada lamaran dari Sandi nya", Shania tergagap, Ia baru ingat hanya Lorena yang mengetahui hubungan mereka tersebut.


"Nanti saya bilangin sama pak Sandi deh kalo kak Shania itu sudah siap di lamar", Lorena melemparkan senyum konyolnya. "Kamu ini..", Shania mencubit tangan Lorena pelan.


Tak terasa mereka berdua berjalan perlahan melewati koridor kampus menuju parkiran. "Yaudah, aku tinggal ya, masih ada mahasiswa lain mau konsul sebentar lagi", Shania melambaikan tangannya pada Lorena, dan berbalik menuju ruangannya kembali.


***


Lorena menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan kerja Devilito. Dari kampus tadinya ingin langsung pulang, tapi entah kenapa dia kangen sama suaminya.


"Sini yank..", Ia memberi kode dengan tangannya ketika Devilito mau mengambil botol mineral. Lalu menghampiri istrinya.


"Kenapa sayang ?, gimana konsultasinya, lancar ?", Devilito memberikan botol minuman lalu mencium kening istrinya. Lorena memperhatikan mata suaminya, "sebentar...", Ia berdiri dan menempelkan mukanya ke dada suaminya, seperti mengendus bau. Devilito mengernyitkan dahi nya, belum pernah Lorena bertingkah begini, "kamu kenapa yank..?, kamu curiga ada bau parfum lain?", tanyanya kemudian. "Udah diem ah..aku kangen bau kamu !", setelah mengucapkan itu, Lorena bermanja-manja di dada suaminya.


"Ya ampuunn..", Devilito menepuk jidatnya sendiri, tadinya hampir menyentil kening istrinya karena merasa di curigai. Kebiasaan baru lagi nih


"Capek yah ?", Devilito lihat istrinya meringkuk tiduran di sofa setelah adegan manja-manjaan di dada. "Pindah ke kamar gih, sini aku gendong", Devilito lalu mengangkat tubuh istrinya ala bridal. "Vitamin udah di minum..?", tanyanya sambil berjalan ke kamar kantor. Lorena hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali menelusup ke ceruk leher suaminya.


"Ngga usah turunin, aku mau begini aja sebentar", protes Lorena ketika sampai di kamar dan Devilito akan menurunkannya. "Hah..?, mau nya begini aja ?", Devilito merasa punya bayi raksasa, lalu dengan jahil mengayunkan badan istrinya seperti menidurkan bayi.


Ehh..dia beneran tidur ? Devilito membelalakkan matanya, tak percaya ketika mendengar dengkuran istrinya perlahan. Setelah beberapa menit dengan posisi seperti itu, perlahan di turunkan nya tubuh sang istri di atas ranjang, tangan Lorena yang melingkar di leher, di bukanya dengan sangat hati-hati dari lehernya agar tak bangun.


Ckckck Devilito geleng kepala, sepertinya ini kebiasaan baru bawaan dari sang calon bayi. Ia perhatikan wajah sang istri, pipinya yang mulai chubby, gemes.


Devilito mengusap perlahan rambut Lorena, lalu pergi keluar melanjutkan pekerjaannya, lalu mengotak atik ponselnya mengatur alarm, agar nanti ingat untuk membangunkan istri, sekarang ada jadwal konsultasi dokter Hanna.


-


-


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2