Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.83 Linggar dan Zhiva


__ADS_3

Linggar datang ke resepsi tersebut atas undangan Devilito langsung sebagai mitra bisnis, bukankah Silver Corp dan perusahaan Devilito adalah partner dalam pengerjaan proyek apartemen di Melbourne?. Ia datang di dampingi seorang wanita cantik, ada perawakan asia, terkesan kurus tapi terlihat seksi dengan gaun hitam membelah di pinggir pahanya.


Devilito belum pernah melihat perempuan tersebut, mereka terlihat sebagai pasangan serasi dengan bergandengan tangan memasuki ballroom gedung itu.


Setelah memberikan ucapan selamat pada kedua pasang mempelai, Linggar turun dan melemparkan pandangan seperti mencari seseorang, Ia kemudian melihat Devilito yang berada di sudut ruangan sedang berbincang dengan Tito dan Dasmond.


"Dia menghampiri, tunggu dia sampai sini, baru kalian berdua pamit", ucap Devilito nada pelan pada kedua anak buahnya.


"Malam pak Dev, apa kabar ?...", mereka berjabat tangan, "kenalkan ini calon tunangan saya, dengan Zhiva", ucapnya kemudian perkenalkan diri pasangannya. Zhiva pun tersenyum dan mengulurkan tangan pada Devilito.


"Halo"


"Salam kenal pak Dev".


Ini bukan jabat tangan wanita biasa...Devilito membatin. Devilito menganggukkan kepalanya. Apa benar ini pasangannya Linggar?.


Lorena mengedarkan pandangannya ke segala arah, tiba - tiba Ia berpapasan dengan Tito yang terlihat sedang terburu berjalan ke arah luar. Lorena memanggil dengan kode tangan, "Sstt...,bang Tito?", dengan suara pelan Ia bertanya, "Iya Nyonya", Tito menghentikan langkahnya. "Ketuamu mana?".


"Ada disana Nyonya, di sudut ruangan".


"Ishh..ngapain ketuamu disana, ama siapa?".


"Dengan tuan Linggar Nyonya".


Lorena mengalihkan pandangan kearah yang di tunjuk Tito tersebut, "Yaudah, aku kesana".


"Permisi Nyonya", Tito dengan sedikit membungkuk pamit meneruskan langkahnya, di luar Ia sudah di tunggu Dasmond. "Kok lama bang?", tanya Dasmond begitu melihat Tito agak tergesa berjalan ke arahnya. "Di panggil Nyonya Rena, udah hubungi Melvin?".


"Udah bang, dia lagi sama Hensly, tadi katanya, ketua sudah hubungi dia".


"Ooh yaudah, gue kira Hensly di rumah sakit, kalo gitu kita bergerak sekarang, panggil Donny kesini, biar dia yang menangani disini". "Siap bang!".


Lorena menyipitkan matanya ke sudut ruangan melihat suaminya sedang ngobrol dengan dua orang tamu undangan. Dia memang belum bertemu Linggar tadi, karena dia mengobrol dengan mama Luigi dan melayani beberapa tamu.


"Kamu disini rupanya yank?", tutur Lorena menghentikan obrolan Devilito dan Linggar. "Ah ya, kenalkan ini istri saya", Devilito kemudian merangkul bahu istrinya tersebut.

__ADS_1


"Halo, Lorena...", Lorena mengulurkan tangan pada Lusandri yang juga menyambut uluran tangan itu dengan senyuman manis, sambil menyipitkan mata, "Hai, Zhiva...cantik istri pak Devilito", ucapnya kemudian tertawa renyah. Lorena hanya tersenyum.


"Kalo yang ini ngga perlu dikenalin lagi dong?", ucap Devilito bercanda sambil memegang bahu Linggar, alhasil dapat pelototan dari sang istri. Lorena menangkupkan kedua tangan di dadanya, "Halo Linggar...", ucapnya sedikit kikuk. "Hai Rena...", Linggar menarik tangannya kembali setelah sempat dia ulurkan.


Ada sesuatu sepertinya di antara mereka? pikir Zhiva, matanya tertuju menatap Lorena dan Linggar secara bergantian.


"Zhiva indo?", tanya Lorena ketika mata mereka bertemu, "Mmh..nenek dari papa keturunan Russia". Lorena manggutkan kepala, "Oo pantes, soalnya mukanya ada bule - bule nya gitu, tinggal di Indonesia atau di Russia?".


"Aku udah lama di Indonesia, cuma sesekali ke Russia, aku punya sanggar balet, di daerah Kuningan".


"Udah lama kenal Linggar ini?", kali ini Devilito angkat bicara, bertanya. Linggar dan Zhiva berpandangan sejenak, lalu "baru dua bulan ini pak Dev", Linggar mendahului jawaban Zhiva.


Lorena yang sedang memeluk Devilito langsung memberikan cubitan kecil nan halus di pinggang suaminya itu, menurutnya itu pertanyaan tak pantas di lontarkan, walau hanya sekedar guyon pada Linggar tapi dengan Zhiva kan baru kenal?. Devilito menahan perih, Ia tersenyum sampai menyipitkan matanya pada sang istrinya itu.


"Lorena sekarang sudah hamil berapa bulan?", Zhiva mengalihkan pertanyaan. Lorena melepaskan cubitannya kemudian, "memasuki bulan ke enam, Zhiva".


"Waah, sebentar lagi jadi mama muda dong yah, bukan begitu pak Dev?". Devilito langsung menjawab pendek, "Hu uh", katanya sambil manggutkan kepala sedikit, padahal Ia masih menahan perih di pinggang. Entah sugesti apa, cubitan istrinya lebih menyakitkan dari pada luka tembak, menurutnya.


***


Malam jam 22.00...


Devilito yang di dampingi Lorena sedang terlibat perbincangan serius dengan petinggi - petinggi Lidah Api lainnya. Mr. Ludwig Smith, Robert, Marcel dan Giring berikut Cerlotta. Tak ketinggalan Marcel dan Dita yang baru ikut bergabung.


Sedangkan Linggar dan Zhiva sudah pamit pulang dari lima belas menit yang lalu.


Lorena lalu mencolek Devilito untuk sedikit mundur ke belakang dan berbisik, "Yank, aku mau hubungi yang jagain papa dan kak Nita, kan Hensly katanya kamu tarik kesini yah?, tapi handphone ku low batt, aku pake ponsel kamu bisa ngga?". Devilito kemudian merogoh kantongnya mengambil ponsel dan mencari nomor kontak kepala perawat dan memberikan pada istrinya tersebut.


Lorena memberikan tanda pamit pada yang lain untuk melakukan panggilan telpon. Dan, Devilito melirik sekilas ke arah istrinya yang menjauh.


"Bro, gue ama Cerry mungkin ngga bisa lama, kira - kira tiga hari lagi kembali ke Sisilia, soalnya Cerry ngajak ke Amerika setelah itu", Giring melirik istrinya, Cerlotta. "Ya, kita sekalian mau honeymoon", jawab Cerlotta menambahkan, namun tersipu malu.


"Wuihh keren kalian, yaudah ngga apa - apa, tadinya gue mau ajak kalian semua ke pulau yang pernah gue omongin, tapi kondisi Lorena ngga memungkinkan", tutur Devilito sambil menepuk bahu Giring, "berangkat berdua, nanti pulangnya bertiga dong yah?".


Muka Giring merona merah mendengar candaan sahabatnya itu. Ia tahu kemana arah omongannya.

__ADS_1


"Maksudnya?", tanya Cerlotta tak mengerti.


"Maksudnya, nanti kita kembalinya di perut kamu sudah berisi", Giring menjelaskan makna kalimat Devilito sambil memegang perut istrinya. Cerlotta terdiam sejenak, lalu matanya mendelik ke arah Devilito, Ia baru paham. Devilito terkekeh melihat Cerlotta baru menyambung guyonan ala Indonesia itu.


Papa Luigi dan Mama Luigi kemudian ikut bergabung dengan Devilito.


"Tapi paman, masih belum kembalikan?", tanya Devilito kemudian beralih pada Mr. Ludwig. "Belum, kan kita mau kelililing Indonesia dulu, mau ke Nusa Tenggara, ya kan?", jawab paman Ludwig pada Papa Luigi. Hubungan mereka kakak adik yang sudah mencair sejak kedatangan Devilito dan Lorena terakhir ke Sisilia. "Iya, tapi kamu dan Lorena ngga usah ikut, biar kita para sesepuh saja yang berangkat, kan mertua dan kakak ipar kamu sedang sakit", ujar papa Luigi menambahkan. Devilito terdiam, sebenarnya Ia ingin pergi menemani orang tuanya ini, tapi ada benarnya juga, Ia harus standby di Jakarta, "Tapi, harus tetap di kawalan loh!".


"Sayang, Lorena mana?", tanya mama Luigi pada Devilito, karena dilihatnya Lorena tidak ada. Devilito baru sadar, Ia pun melihat jam tangannya, sudah hampir dua puluh menit, istrinya belum kembali setelah pamit menelpon tadi. Devilito pamit mencari istrinya kearah yang terakhir dia lihat tadi. Suasana sudah mulai terlihat sepi, karena tamu undangan sudah pada pulang.


Devilito mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tidak ada. Toilet!...ah ya mungkin ke toilet, pikirnya. Lalu Ia mencoba mencari ke toilet wanita yang berada di posisi di belakang gedung. awalnya ragu - ragu masuk, tapi beberapa saat Ia dengar tidak ada orang di dalam, Ia pun masuk.


Degg..! Devilito tertegun, di lantai Ia lihat ada robekan kebaya jatuh di lantai. Ia meraihnya dan memperhatikan, itu robekan ujung lengan kebaya. Ia masih ingat, itu warna kebaya yang di pake sang istri, ada manik - manik swarovski.


Fix !...istrinya di culik!. Rahangnya mengeras, Ia menatap kaca wastafel. Saya bunuh siapapun itu!.


Ia mengatur nafasnya sejenak, Ia tak ingin terlihat panik nantinya. Sebelum keluar ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan toilet, dan terlihat ada ponsel pecah di pintu kamar mandinya. Ia raih ponsel itu, dan itu kepunyaan Lorena!. Berarti ponselnya masih di bawa sang istri. Mudah - mudah masih ada secercah harapan.


***


Dalam ruangan, Devilito memberi kode pada Giring.


"Kenapa bro?", tanyanya kemudian ketika melihat wajah Devilito dingin dengan rahang yang mengeras, seperti memendam amarah. Lalu Cerlotta menyusul di ikuti Dita.


"Lorena di culik, tapi gue tau siapa orangnya". "Hah ?", Dita kaget menutup mulutnya. "Sstt...diem dek, jangan keras - keras!", Marcel menenangkan Dita.


"Jangan sampai paman, papa dan mama Luigi tahu, biar gue tangani ini", Devilito berbicara dengan suara pelan pada Giring dan yang lainnya.


"Aku ikut!", Cerlotta angkat bicara, "dan ngga ada bantahan", katanya kemudian.


"Cel, kalo gitu, lo dan Dita temani paman, papa dan mama gue pulang".


"Siapa?", tanya Cerlotta bernada pelan pada Devilito, meminta jawaban orangnya. "Linggar dan Zhiva!", jawab Devilito pendek, Ia sedang berpikir bagaimana cara untuk memberi tahu kedua orang tua agar dia pergi dari situ tanpa di curigai.


"Zhiva nanti serahin ke aku!", Cerlotta mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2