
Sore ini...
Semua terlihat sibuk. Siang tadi tepat jam 10.00, Marcel dan Dita yang di waliin oleh paman dari papanya telah melangsungkan akad nikah di sebuah masjid daerah kawasan elit PI, lalu selang dua jam kemudian tepatnya jam 12.00 siang, Giring dan Cerlotta pun mengikrarkan janji suci mereka di sebuah Gereja daerah Santa kawasan Kebayoran Baru. Terlihat biasa, gaungnya tak bergema seperti para artis, tak ada liputan berita khusus, tapi seperti itulah jikalau jaringan ini dalam perhelatan, tak perlu menarik perhatian, bukankah lawan mereka banyak?
Semua bergerak cepat, terlihat beberapa petinggi - petinggi jaringan Lidah Api dari perwakilan negara terdekat ikut menghadiri dua pernikahan pimpinan Lidah Api tersebut.
Persiapan resepsi di sebuah gedung di bilangan Gatot Subroto sudah mendekati akhir, jam 20.00 malam nanti adalah puncaknya. Devilito sudah mendapat laporan dari anak buahnya bahwa segala sesuatu mengenai persiapan sudah siap, namun entah kenapa Ia ingin mengecek langsung persiapan tersebut. "Kan ada anak buahmu yank?, ngga di serahin aja sama Tito pengecekannya?", ucap Lorena sore ini ketika Devilito minta ijin ingin pergi. "Iya, aku berangkatnya sama Tito kok, soalnya para petinggi organisasi ada disini, ada paman Smith juga kan?, kalo terjadi sesuatu, bahaya yank", tutur Devilito pada istrinya tersebut. "Haduhh Naak, kalo kamu laki - laki nanti jangan ngikutin jejak papa kamu yah, ribet hidupnya!", Lorena mengusap - usap perutnya sambil gelengkan kepalanya, bibir manyun.
"Tenang Nak, nanti kalo kamu lahir papa ajarkan bagaimana menjadi penguasa dunia", ucap Devilito menimpal omongan istrinya dan ikutan ngelus perut itu. "Heh!, cabein mulutnya ya, ngga boleh, harus jadi pelindung mama nya, ngga boleh jadi mafia!, awas aja ntar", Lorena mencubit pinggang suaminya yang sedang membungkuk.
Papa Luigi dan mama tertawa mendengar guyonan anak-anaknya ini, mama Luigi akhirnya melihat langsung bahwa Devilito sangat mencintai istrinya.
Di Gedung Resepsi...
Devilito di temani Tito dan Melvin memutari gedung dengan berjalan kaki. Ia mengecek tingkat keamanan gedung itu, walaupun nantinya bekerja sama dengan beberapa orang anggota kepolisian, namun Ia harus memastikan langsung persiapan resepsi tersebut.
Setelah di rasa aman, Devilito ingin segera buru - buru pulang. Hari menjelang magrib ketika di parkiran mobil Ia berpapasan dengan beberapa orang memakai baju catering makanan. Entah kenapa Ia tertarik melihat perawakan orang - orang tersebut. Tito menatap tajam ke arah pandangan ketuanya itu ketika Tito lihat sang ketua agak tertegun waktu pintu mobil sudah terbuka tetapi belum jua masuk.
Insting Tito bekerja, tanpa bertanya Ia segera turun dan memberi kode pada Melvin yang duduk di tengah untuk mengikutinya. Devilito perlahan menutup pintu mobil dan menganggukkan kepalanya pada kedua anak buahnya tersebut agar mendekat.
"To, kamu ikuti perlahan mereka itu jangan sampe ketauan, saya akan berputar, nanti ketemu di ruang catering, paham maksud saya?", Tito mengangguk, "paham ketua!".
"Tapi, tunggu instruksi saya!", ucap Devilito kemudian, "siap ketua!".
"Vin, koordinasikan dengan anggota lain yang ada disini untuk isolasi gedung ini, jangan ada yang masuk ke ruang belakang sampai saya bilang aman, kamu kerja sama dengan pihak keamanan gedung ini agar mereka tidak curiga".
"Siap ketua!", Melvin sudah tahu apa yang terjadi, ada suatu hal mencurigakan terlihat pada orang - orang yang di maksud, postur tubuh mereka tidak menggambarkan seorang karyawan. "Setelah itu, kamu susul Tito ke belakang, paham?". "Paham ketua!".
Ketiga nya kemudian berpisah, Devilito mengambil topi dari dalam mobil dan berjalan santai menuju pintu samping gedung, bertindak seolah tidak ada terjadi sesuatu. Melvin menuju ruang sentra dan Tito bergerak cepat ke arah ujung belakang.
Di ruang belakang...
Lima orang pria baru keluar dari ruangan ganti baju, mereka seperti baru mengganti kostum dengan pakaian katering dan berjalan menuju ke tempat rak makanan yang akan di hidangkan di ruang resepsi nanti. "Hei, kita punya waktu dua jam lagi, yang bagian dalam sudah standby?", ucap salah seorang pria tersebut, sepertinya dia pimpinan disitu. "Sudah, ada empat orang disana, mereka sudah siap", salah satu dari mereka menjawab. "Ingat, ini hidup mati kita, jadi jangan sampe gagal, kalian dibayar mahal untuk itu", pimpinan tersebut kembali melanjutkan kalimatnya, "lima orang target ini, harus terbunuh...ini yang pimpinannya Devilito, ini orang namanya Ludwig, Marcel, Giring dan ini istrinya bernama Cerlotta", Ia berturut - turut menyebutkan nama sambil perlihatkan beberapa foto - foto dan menangguhkan kalimatnya, meminum sebutir pil, lalu "jika kita berhasil dalam misi ini, kita akan kaya raya bon!", ucapnya melanjutkan perkataannya kearah yang di panggil Bonnie.
__ADS_1
"Tenang aja bos, empat eksekutor itu sudah terlatih, dan memakai senjata peredam, jadi meminimal keributan", ucap salah satu dari mereka sambil tersenyum terkesan meremehkan.
"Kalo sandera, kau taro dimana Bon?", tanya pimpinan tersebut, menanyakan anggota katering asli yang karyawannya sudah mereka sekap. "Ada di rumah kosong, di Slipi", jawab Bonnie pendek. "Nanti kalo udah beres, kau selesaikan aja mereka, lalu larilah sejauh mungkin, kalian juga!", katanya menunjuk orang - orangnya.
Devilito mengernyitkan dahinya, Ia sedang sembunyi di balik pintu lemari yang tidak terpakai, Ia merekam semua pembicaraan tadi. "Bagaimana bisa sebuah operasi baru mengetahui wajah target di menit - menit terakhir?, hmm...atau memang di sengaja oleh master mind nya?", Devilito bermonolog sendiri dengan pikirannya.
Prokk..prokk..prokk !...
Devilito bertepuk tangan tiga kali, Ia keluar dari persembunyiannya, tepat saat itu seseorang merangsek tiba - tiba masuk begitu pintu terbuka, Tito!.
Kelima pria itu kaget, namun beriringan dengan masuk Tito, salah seorang yang yang dipanggil bos tadi secara tiba - tiba melemparkan sebuah pisau ke arah Devilito yang sedang bertepuk tangan, mengarah ke leher. Begitu pun yang di panggil Bonnie, masuknya Tito secara mendadak, tak membuatnya terpana, Ia pun secara reflek melemparkan sebuah pisau hanya berselang beberapa detik dari pimpinannya tersebut.
Tapi, serangan kilat nan reflek dari kedua orang itu, luput. Devilito hanya perlu menggeser pinggangnya sedikit untuk menghindarinya. Namun, Tito sedikit tergores di bahu ketika lembaran pisau Bonnie mampu di hindarinya. Bajunya robek berubah warna jadi merah, ada darah mengalir dari situ.
Devilito memberi kode kemudian pada Tito untuk segera mengunci pintu yang terbuat dari besi baja itu. Devilito dan Tito segera waspada, sepertinya mereka orang bayaran yang benar - benar terlatih, di lihat dari gerakan reflek melempar pisau tadi. Begitu pun dengan kelima pria itu, mereka juga bersikap waspada, tapi belum menyadari siapa lawan mereka ini, karena Devilito memakai topi.
"Siapa kamu?", tanya pimpinan kelompok yang ternyata bernama Rocky ini. "Kalian dari kelompok mana dan siapa yang membayar kalian?", Devilito justru balik bertanya, perlahan menghampiri. Rocky menyipitkan matanya, ke empat temannya berpencar mengambil jarak, Bonnie pun memasang target, Ia mengincar Tito. Dua versus lima.
Rocky perhatikan Tito sejenak, Ia berusaha mengingat - ingat pria tersebut. Lalu, "Saudara Tito, apa kabar?, ckckck...", Rocky tertawa, gelengkan kepalanya, "aku kira kau sudah mati sepuluh tahun yang lalu di timur tengah, kau bilang aku pengkhianat?, apa kabarmu kawan yang menjadi tentara bayaran Gurkh* heh?".
"Setidaknya gue ngga mengkhianati bangsa gue, paham?", sarkas Tito sambil tersenyum.
Devilito hanya diam memperhatikan, sudut matanya tak luput melihat ke arah anggota lain yang perlahan mendekati dengan cara melingkar. Dua orang sedang perlahan mengepungnya.
Devilito mengedipkan matanya pada Tito. Perlahan Ia mundur beberapa langkah, seolah menghindari kepungan dua orang yang datang ke arahnya tersebut. Tiba - tiba, dengan gerakan kilat, Devilito berbalik badan mencabut pisau yang dilemparkan Rocky tadi yang menancap di pintu lemari, dan melemparkannya, Ia justru menyerang leher Bonnie yang sedang mengarah ke Tito.
"Awas Bon!", Rocky membaca pergerakan Devilito dan memperingatkan Bonnie.
Bonnie sekilas melihat kilatan pisau terbang ke arahnya, dengan reflek Ia menghindar dengan mundurkan kepala ke belakang, namun pisau tersebut menyerempet pipinya, berdarah.
Tito mengerti dengan maksud ketuanya itu, Ia langsung menyerang Bonnie yang sedang memundurkan kepalanya menghindari lemparan pisau dengan tendangan double kick terbang. Bonnie harus ekstra, dua kali harus hindari serangan kilat. Kaki pertama Tito berhasil di tepisnya, tapi tendangan kedua yang mengiringi itu tak mampu Ia hindari, bahunya kena, Ia terjajar ke samping, namun Tito langsung menyerang kembali ketika kakinya menyentuh lantai dengan gesit, tangan kanan seolah ingin memukul, tapi itu tipuan, justru Tito kembali merangsek dengan tendangan T menghantam rusuk.
Bugghh!!..Bonnie terjengkang, rusuknya sakit, Ia meringis tetapi segera berdiri kembali, Ia tak mau menjadi bulan-bulanan Tito. Walau kesakitan, Ia memasang kuda-kuda, dan menyerang Tito dengan tendangan depan di iringi sapuan bawah. Tito sudah siap, Ia menepis tendangan yang mengarah ke dagu serta meloncat hindari sapuan kaki.
__ADS_1
Di saat bersamaan, setelah melemparkan pisau ke arah Bonnie, Devilito langsung menyerang dengan gerakan tipuan ke arah dua orang yang mengepungnya. Bertindak seolah ingin menendang satu orang yang di kanan, ternyata itu untuk tumpuan kakinya. Dengan gerakan kilat, berbalik menyongsong serangan orang yang datang dari arah kirinya. Tumpuan kaki kanan tadi Ia gunakan untuk melambungkan tubuhnya melakukan tendangan bawah mengarah lutut. Kaki kiri menghantam lutut, sedangkan kaki kanan mengiringi masuk ke pergelangan kaki lawan, menjepit.
Krakkk..!!!, terdengar bunyi patah tulang.
Devilito tak berhenti, Ia berguling di lantai ke arah posisi lawan yang satu lagi, melakukan sapuan bawah, tepat!. Lawan tak menyangka gerakan yang di hitung dalam detik tersebut, Ia tiba - tiba merasa melayang di udara, tubuhnya terhempas. Tapi, Devilito justru sudah berdiri, dan melakukan tendangan seperti pinalti dalam sepak bola, Ia menendang leher lawan.
Krakk...!!, sekali lagi bunyi tulang patah, tapi ini leher, dan lawan tersebut... diam tak bergerak, Ia pingsan.
Rocky yang sempat terkesima dengan apa yang terjadi, langsung menyerang Devilito dengan kecepatan yang Ia miliki. Ia memainkan caapoera brazilnya melawan Devilito. Dua - tiga tendangannya tak mampu menyentuh Devilito. Justru, Ia sendiri kena tendangan caapoera Devilito yang sengaja memakai beladiri yang sama untuk melawan Rocky tersebut. Tendangan salto Devilito sukses menghantam rahang Rocky, Ia terhuyung ke belakang tapi tetap berusaha pertahankan posisi kuda - kuda. Namun Devilito seolah punya tenaga ekstra, serangannya berubah menjadi thai boxing. Kakinya menghantam paha luar Rocky dua kali, dan mengirimkan pukulan uppercut kiri ke rusuk juga dua kali, dan di tutup dengan tendangan lutut terbang menghantam rahang. Rocky langsung terkapar.
Bagaimana dengan Tito?
pertarungan dua gladiator ini cukup seru!. Bibir Tito berdarah, sebuah pukulan sukses menghantamnya. Ia terhuyung ke belakang. Bonnie tak menyia-nyiakan kesempatan, Ia susul melakukan tendangan double kick mengarah ke leher dan dada Tito secara bersamaan.
Tapi, disini perbedaannya...
Tito dalam keadaan terhuyung, ketika serangan susulan datang, Ia tak mundur. Ia justru melakukan gerakan maju zig zag. Maju menyilang ke samping, menyongsong tendangan double kick Bonnie, dengan gerakan bela diri silatnya. Tangan kiri masuk ke leher dan kaki kiri menjegal kaki kanan Bonnie yang menjadi tumpuannya. Bonnie ambruk jatuh terbanting, Tito langsung dengan kecepatannya menyerang dengan dengkul ke leher Bonnie yang terlentang. Tepat !, Bonnie pun diam tak bergerak, Ia pingsan.
Satu orang anak buah Rocky yang tersisa menyerah!.
Game over!
"Luar biasa Tito ini", Devilito bertepuk tangan, dan menepuk bahu anak buahnya tersebut. Tito membungkuk hormat, "semua berkat didikan ketua!".
Akhirnya, semua kekacauan dapat di selesaikan, Melvin yang sudah berkoordinasi dengan anggota Lidah Api lainnya, serta melibatkan pihak sekuriti gedung, berhasil membungkam empat orang yang berada di luar. Tetapi, satu orang anggota Lidah Api tertembak di perut karena sempat terjadi aksi tembak menembak. Tiga dari empat orang lawan pun pingsan di lumpuhkan Melvin.
Devilito kemudian menginstruksikan semuanya, agar kejadian sore ini di tutup rapat, dan memerintahkan membebaskan anggota katering yang di tawan di daerah Slipi untuk di jemput, supaya acara yang akan berlangsung kurang dari dua jam lagi berjalan lancar.
Tetapi, di rumah Devilito justru mendapat omelan dari sang istri...
-
Bersambung
__ADS_1