Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.45 Liburan di Bali


__ADS_3

Devilito dan rombongan sampai di bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Ya, Jumat sore ini seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya, mereka akan mengunjungi sebuah hotel yang akan berubah kepemilikan di kawasan Legian.


Kedatangan mereka di sambut langsung oleh pak Wayan Sudana yang membawa tiga orang stafnya di pintu kedatangan khusus. Pak Wayan berdiri begitu melihat Devilito berkaca mata hitam berpakaian santai menggandeng sang istri, di belakangnya mengikuti dua asisten, yaitu Hendra dan Indri.


Hendra dan Indri sengaja tidak membawa pasangan mereka, "Kalian kok sendiri?ngga bawa keluarga atau siapa gitu..?" ketika di tanya Lorena sebelum berangkat menuju pesawat di Jakarta, Hendra menjawab, "Ngga Nyonya, kami pengen menikmati liburan, maklum jarang ke Bali".


Ya, memang mereka berdua masih lajang, mungkin karena sibuk dengan pekerjaan jadi tidak sempat membagi waktu untuk pacaran.


"Atau, jangan-jangan kalian ada hubungan yaa..?" tanya Lorena curiga, Ia melirik ke arah suaminya minta penjelasannya. "Ya ngga apa-apa juga sih yank, kalo emang mereka ada sesuatu, kan sama² jomblo, tapi nanti salah satu aku pindahin ke cabang, ya...ngga?" ucap sang bos tersenyum ke arah Hendra.


"Ehh..kami ngga ada hubungan apa² pak Dev, sungguh.." Indri berkilah, mukanya tapi merona, "Iya juga ngga masalah, ya kan yank.." ucapan Lorena makin membuat Indri malu.


"Data orang belum di kenal aja bisa saya lacak, apa lagi yang beginian..terlalu mudah!" Devilito berkata cuek sambil berlalu menuju hanggar pesawatnya.


***


"Selamat datang pak Devi..., gimana perjalanannya pak, lancarkah?", pak Wayan menjabat tangan Devilito bergantian ke Istri. "Trima kasih pak Wayan, kebetulan cuaca hari ini bersahabat" Devilito tersenyum tipis.


"Mari pak, silahkan .." ucap pak Wayan mempersilahkan Devilito memasuki mobil yang di persiapkan, khusus Devilito mobil eksklusif sendiri, sedangkan Hendra dan Indri naik mobil Van hotel.


Hanya menempuh waktu tidak kurang dari 20 menit dari bandara, mereka sudah sampai di Hotel LuTuYe Resort & Spa, Legian.


Legian, kawasan strategis yang tidak hanya di kelilingi hotel-hotel di sepanjang garis pantai, tetapi juga kawasan yang di minati para clubber's. Ya, diskotik dan klub-klub malam sangat banyak tumbuh disekitaran situ.


Legian terletak di antara dua kawasan wisata ikonik, Seminyak dan Kuta. Yang akan terasa semakin hidup ketika pada malam hari, resto-resto pinggir jalan dan kafe-kafe anak muda menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal dan manca negara.


Hal ini yang membuat Devilito sangat tertarik untuk investasi dan berniat men-take over hotel resort yang memiliki beberapa cottage, rancangan nya menyerupai sebuah hotel resort di pantai Karibia.

__ADS_1


Devilito dan Lorena menempati salah satu cottage yang terletak dekat pantai. "Silahkan Anda kalau mau istirahat dulu pak Devi, kalau memungkinkan setelah makan malam nanti kita bisa meeting, atau terserah bagaimana pak Devi aja nanti, silahkan kabari saya aja", ucap pak Wayan bicara hormat, Ia mengantarkan langsung Devilito ke kamarnya.


***


Devilito berjabat tangan erat dengan pak Wayan Sudana, mereka akhirnya mencapai kata sepakat setelah 2 jam lamanya membicarakan tentang pengalihan kepemilikan hotel resort tersebut. Tinggal langkah terakhir tentang pengalihan ini akan di lakukan di Jakarta, satu minggu kemudian.


"Gimana yank, beres..?" tanya Lorena ketika suami sudah selesai meeting dan kembali ke kamar, Ia memberikan air mineral yang di ambil dari mini bar kamar. "Udah, tinggal nanti di bicarakan di Jakarta minggu depan tentang proses pengalihannya", jawab Devilito lalu meneguk air mineral yang di berikan istrinya.


"Trus, sekarang agenda nya apa setelah ini..?, masih ada meeting?"


"Jalan-jalan doong..."


"Yuk..aku pengen makan sate Warung M*** itu deh yank, kesana yuk..ajak Hendra dan Indri" Lorena sudah kebayang, jika ke Bali Ia tidak akan melewatkan makan sate disana.


Tiba-tiba pintu kamar di ketuk ..tok tok tok


"Itu mungkin Indri dan Hendra", Lorena segera bangun dari sofa, membuka pintu.


"Laki lo ngajak kak Marcel, disuruh sekalian ngajak gue" Dita menunjuk ke Devilito. Ya, mereka menyusul ke Bali atas perintah sang ketua, Devilito.


Hendra dan Indri terkejut ketika sampai di cottage sang bos, sudah ramai orang. Tapi mereka berdua tidak canggung lagi karena sudah mengenal dua orang sahabat sekaligus tangan kanan bos mereka itu, Marcel dan Giring. "Indri dan Hendra, kenalkan ini sahabat istri saya, Dita", Devilito memperkenalkan Dita pada kedua asisten di perusahaannya. Mereka pun saling berjabat tangan.


Prok..prokk, "ayo..malam ini kita bersenang-senang!". Devilito bertepuk tangan memberi kode pada semuanya agar segera berangkat.


"Destinasi pertama, Warung M*** !.." Lorena ambil alih pembicaraan, Ia sudah membayangkan enaknya makan nasi goreng dan sate lilit daging sapinya.


***

__ADS_1


Mereka berangkat dengan dua mobil Alphard yang sudah di siapkan oleh anggota Devilito di Bali, pak Wayan tadinya menawarkan servis dari pihak hotel, tapi di tolak secara halus.


Pak Wayan ikut menemani sekaligus Ia mengajak satu orang asisten sebagai pemandu rombongan.


Hidangan yang di pesan sudah terhampar di depan mata, menggugah selera. Tanpa ada acara ritual pembuka, mereka langsung bersantap. Tapi tidak dengan Lorena, seleranya tiba-tiba hilang...


"Yank, ini buat kamu aja", Lorena ambil satu tusuk sate, lalu menyodorkan ke mulut Devilito, "Loh, kita kan pesanannya sama yank?", tapi Ia tetap memakan sate yang di sodorkan istrinya itu. "Sama aja rasanya" gumam sang suami kemudian.


"Nah, sekarang ini, buka mulutnya..aaa", Lorena kemudian menyodorkan lagi sesendok nasi goreng ke mulut suaminya, bagi yang melihat mungkin itu romantis, tapi bagi Devilito itu suatu keanehan, karena istrinya belum satupun makanan masuk ke dalam perutnya.


"Kamu makan donk, Kamu belum makan sama sekali loh.., ini masih ada" Devilito menunjuk makanan yang masih ada dalam mulutnya. Oh mungkin pengen makan berdua , batin Devilito, lalu Ia menggeser makanan yang belum Ia sentuh ke tengah, "tuh..siapa yang mau"


Aiihh..romantis sekali nyonya, Indri memandang iri pada istri bosnya.


"Kamu bukannya yang kepengen makan disini..? kenapa ngga makan sama sekali yank?, ini enak kok!" Devilito berbisik ke telinga istri nya, Ia sedikit risih makan di suapin. Kalau cuma di depan teman dan staff nya sih ngga masalah, ini ada pak Wayan dan stafnya, masa harus ber romantis-romantisan..?


"Seleraku ilang tau kemana.." jawab istrinya pelan, cuek. "Hah..? kok bisa ?, ini enak loh, cobain nih", Devilito lalu mengambil sendok yang di tangan istri, gantian menyuapi istri. Ia tak peduli lagi suasana di sekitar.


Lorena menggeleng, tidak mau makan.


Waahh..Rena, jangan-jangan ? Dita yang duduk di meja seberang mencolek paha Marcel, matanya mengerling ke arah Lorena.


"Ho oh.." Marcel seakan mengerti apa yang di maksud calonnya ini.


Pak Wayan hanya senyum-senyum, sebagai orang yang sudah berkeluarga, Ia sudah paham.


-

__ADS_1


-


Berlanjut...


__ADS_2