
"Acara makan malam gue jadi batal, tau ngga ?..itu juga kalo ngga buru - buru gue pisahin, udah mati itu orang !", Dita dengan berapi-api menceritakan kejadian malam Marcel mengamuk. "Hii..serem !", Dita mengangkat kedua bahunya bergidik.
Lorena terkekeh, Dita belum terbiasa melihat adegan kekerasan, "Udah lo minum dulu tuh, kering kerongkongan lo nyerocos mulu dari tadi!", ucap Lorena santai.
Siang ini, Lorena ngga kemana - mana, Ia mau mengerjakan skripsinya yang sudah lanjut ke Bab II. Tadi pagi Dita menelponnya ingin curhat, sekalian juga mau ngerjain skripsinya juga katanya. "Apalagi elo jadi gue yah ?, punya suami ketua mafia yang ditakuti sejagat, pingsan kali lo!", Lorena kembali ketawa membayangkan bagaimana perform seorang Devilito.
"Tapi laki lo, suka kasar ngga sama elo ?".
"Ngga pernah, justru dia nganggep gue itu berlian Dit, harus di jaga, ngga boleh lecet, ngga boleh ada yang ganggu !",jawab Lorena dengan bangga, "emang Marcel pernah kasar sama lo ?".
"Belum pernah sih, tapi gue takut deh Ren ngeliat kak Marcel mukulin Rubino itu seperti pengen ngebunuh tau ngga ?".
"Iya, tapi kan karena Rubino itu mukul lo kan ?, berarti sama..lo di anggapnya berlian, ngga boleh lecet, ngga boleh ada yang ganggu !" Lorena menjeda kalimatnya, lalu meminum juice sirsak yang di sediakan di meja,"tapi memang, orang seperti kak Marcel, suami gue dan kak Giring itu berlebihan dalam bertindak, maklum aja kehidupan mereka yang membentuk karakter mereka seperti itu, tinggal kita nya sebagai pasangan untuk jadi peredamnya, dan mereka butuh seperti itu".
"Pada ngomong apa sih..?, bukannya ngerjain tugas, malah ngerumpi ?", Devilito tiba - tiba masuk ke ruangan tengah di atas itu, memakai baju kaos buntung dan celana training, terlihat habis olahraga karena baju nya basah. "Si Dita yank, ketakutan karena kak Marcel habis mukulin orang semalam". "Ohya?, kenapa emangnya?, Devilito lalu mencomot keripik singkong di tangan istrinya,"Ishh..udah cuci tangan belum?", Lorena menghardiknya dan sang suami mengangguk,"udah dongg..".
"Semalam Dita di tabok mantan pacarnya, waktu mau acara makan ikan bakar", ujar Lorena kemudian.
"Ooh..trus di patahin ngga tangannya yang nabok itu ?", Devilito menanggapinya dengan santai.
"Tuh..begitu tuh Ren, kak Marcel habis mukulin itu, juga santai aja tau ngga ?, kayak ngga ada kejadian apa - apa, sama ama laki lo ini", Dita langsung menimpali omongan Devilito.
Devilito berhenti mengunyah keripik singkongnya, sedangkan Lorena terkekeh.
"Loh, iya dong...kalo pria memukul wanita, itu bukan laki - laki namanya, itu baji***n namanya, dan berarti dia suka mukul perempuan, hukumannya patahin tangan itu", jawab Devilito tetap dengan gaya santainya.
"Ihh..jangan di habisin yankk", protes Lorena karena Devilito tak berhenti makan kripik di tangannya.
"Skali lagi..!", Devilito mencomot kripik yang di tangan istrinya, lalu pergi begitu saja ke kamar untuk mandi. Ia tak berangkat kantor karena hari libur.
Dita senyum - senyum simpul lihat kelakuan suami - istri itu, "gue iri deh ngeliat lo berdua, selalu mesrahhh..".
"Makanya, buruan nikah..pacaran setelah nikah itu enak tau!, halal lagi, kapan lo mau nikah ama kak Marcel ?".
__ADS_1
"Kemaren sore, kak Marcel bilang sama keluarga gue, tiga bulan lagi".
"Serius lo?..waahh, bagus doongg", Lorena mengguncang bahu Dita lalu memeluknya.
"Yaankk..sayanggg", Lorena berteriak memanggil suaminya. Devilito yang bersiap mandi hanya melongokkan kepala di pintu, "ada apa yank ?".
"Dita mau nikah tiga bulan lagi loh!", ujar Lorena antusias. Alih - alih ingin kasih tau berita gembira, justru sang suami menjawab santai, "iya, aku udah tau, semalam Marcel cerita", katanya sambil bersiap menutup pintu kembali tapi tertahan, suara istri masih menggema.
"Kok kamu ngga kasih tau aku ?, berarti kamu tau dong, kak Marcel mukulin orang?", muka Lorena berubah kesal, berita kejutannya gagal. "Tau, soalnya ngeliat kamu berpakaian sekseh semalam jadi mengalihkan duniaku, olahraga malam dulu deh", Devilito melemparkan senyum konyolnya pada istri, sambil mengedipkan mata.
"Hehh!, cabein juga tuh mulut !, ngga pake saringan kalo ngomong!", muka Lorena bersemu merah, ada Dita soalnya.
"Ya ampun, kuping gue masih perawan!", Dita ikut menimpali.
Sang suami pun buru - buru nutup pintu kamar, melanjutkan ritual mandi yang tertunda.
"Eh iya, Dit...gue sama suami rencananya mau liburan ke pulau tempat terdampar dulu, sekalian napak tilas. Lo ikut yah? sekalian ajak Marcel".
"Taaapi, kalo bisa setelah elo nikah dulu, jadi bisa leluasa. Tempatnya, baaagus banget !, kenangan yang ngga bisa gue lupain itu, tempat paling romantis yang pernah gue alami di jagat raya ini", Lorena dengan bombastis menceritakan bagaimana indahnya pulau terpencil itu dan bertautnya hatinya dengan Devilito disitu.
"Waahh, berarti disitu lo udah menyeh-menyeh dong disitu?, secara situasinya kan mendukung, lima belas hari bo!".
"Enak aja lo !, justru disitu gue memantapkan hati gue mau menikah dengan kak Devi, dia ngga pernah berbuat mesum sama gue, malah terkesan menjaga, dia pria pelindung gue!", sangkal Lorena sambil membanggakan suaminya.
"Wiihh..pria langka dong suami lo hahaha".
"Lo kira dinosaurus apa laki gue ?, langka !", Lorena menepuk bahu Dita pelan.
***
Bel pintu gerbang berbunyi, bik Tukini melihat dari monitor dapur sebuah mobil Jeep Wrangler hitam bersiap masuk, sang bibi sudah hapal dengan mobil itu dari play nomornya, memang sudah biasa keluar masuk. Ia memencet tombol, pintu gerbang terbuka.
"Nyonya, tuan masih di kamar ?", tanya sang bibi pada Lorena di lantai dua. "Ada di kamar, sebentar lagi keluar, ada siapa bik?".
__ADS_1
"Ada den Tito dan kawan-kawan di bawah".
"Ooh, ya sudah nanti tuan saya kasih tau, makasih bi".
Di bawah terlihat ramai, lima orang andalan Devilito sedang berkumpul, jadwal rutin mereka kalau hari libur, latihan di sasana milik sang ketua.
Tito, Dasmond, Hensly, Melvin dan Donny terlihat mondar mandir di dapur, mencari makanan. Mereka sudah terbiasa seperti itu jika di rumah sang ketua, merasa rumah sendiri, walau tetap dalam batasan.
"Masak apa hari ini bik ?", tanya Tito pada si Bibik yang terlihat sedang menyeduh beberapa minuman, hidangan makanan tak terlihat di ruang makan. "Masak gule daging, sama ikan gurame, udah di siapkan di sasana, di belakang den !", jawab sang bibik.
"Nyonya sama tuan di atas bik?", Dasmond bertanya sambil mengambil kopi kiriman dari kampung si bibik, Ia sangat menyukainya dan selalu meracik sendiri. "Iya den, bibi udah beritahu nyonya barusan, nyonya lagi ada temannya, non Dita".
"Owh, tuan Marcel juga ada ?", tanya Melvin menimpali. "Ngga den, cuma non Dita aja, lagi bikin tugas kuliahan kayaknya".
Begitulah suasana area dapur jadi ramai, celotehan para punggawa Lidah Api itu sama sekali tidak mengganggu Bibi dan suaminya. Sudah terbiasa seperti itu, suasana akrab memang terjalin dan seperti keluarga. Devilito sebagai ketua, jika dalam situasi santai, tidak seperti bos - bos di film - film, angkuh dan arogan. Justru Devilito terlihat sangat menghargai bawahannya, itulah kenapa jaringan mereka terlihat sangat solid dan sulit di kalahkan!, loyalitas anak buah tanpa batas.
Dan, mereka pun sebagai bawahan, tahu kapan santai dan tahu pula kapan harus bersikap sebagai bawahan.
***
"Yank, di bawah ada Tito dan kawan-kawannya", Lorena memberitahu suaminya begitu Devilito keluar dari kamar, masih dengan pakaian santainya. "Ooh, yaudah aku mau kebawah dulu, mereka mau latihan di sasana", Devilito kemudian menyusuri tangga turun menemui anak buahnya.
"Kalian berapa orang?", tanya Devilito membuyarkan keriuhan di dapur, berubah tertib. "Eh..ketua, berlima ketua, Donny sudah lebih dulu ke belakang", jawab Tito membungkuk hormat, di ikuti yang lain.
"Ooh, jangan terlalu kenyang, nanti malah bikin sakit perut, saya langsung ke sasana ya", Devilito lalu berbalik dan menuju ruang latihan. "Baik ketua, sebentar lagi kami ke sasana". ucap Tito walau sang ketua sudah tidak ada disitu.
"Yaudah yuk, jangan lama - lama!", ajak Tito kemudian.
-
-
Bersambung
__ADS_1