Istri Sang Pemimpin

Istri Sang Pemimpin
Chapt.23. Memanas


__ADS_3

*****


"Kak Devi, waktu itu kamu pernah bilang ingin menggagalkan perjodohan aku dengan anak nya om Jimmy, kamu tau ngga siapa sebenarnya om Jimmy itu?", entah kenapa sore itu Lorena jadi tertarik dengan pembicaraan mereka berapa hari yang lalu tentang perjodohannya.


"Tau...kenapa? kamu tidak ingin di batalkan?" Devilito melirik tajam sesaat kearah gadis di sampingnya ini lalu kembali melihat laut lepas.


"Yee..bukan gitu, aku malah senang kalau batal, cuma menurut kak Donita..Om Jimmy ini adalah komplotan gangster yang berbahaya, aku takut kak Devi bisa celaka karna itu" jawabnya cemas dengan raut muka sedikit kesal. Interaksi yang terjalin selama beberapa hari ini menimbulkan sensasi lain di perasaannya, Ia tidak mengharapkan sesuatu hal membahayakan terjadi pada pria pelindungnya ini. Tapi Devilito seperti nya menanggapi lain dari nada omongannya.


Devilito yang tengah memandang ke depan ke arah laut lepas, memutar posisi nya berhadapan dengan Lorena,


"Kamu meragukan kemampuan ku?" aura wajah Devilito berubah dingin mengatakan kalimat itu,


"Aku mampu membuat Jimmy dan komplotannya bertekuk lutut di hadapanku..!" lanjutnya kemudian dan kembali memutar arah duduknya seperti semula.


Hiiyy..serem amat !


Ia sudah melihat siapa pria di sampingnya itu ketika berada di tengah - tengah anak buahnya, sangat tegas dan menyeramkan. Dan aura itu keluar sekarang ini. Dan, entah kenapa pula Ia tidak merasa takut.


"Dih..begitu aja marah ", Ia mencolek pinggang Devilito, alhasil membuatnya terlonjak kaget.


"Ckk.." katanya pendek


"Yeaahh...gelian yaaa, hahaha...ngga cocok ama tampang !, untung ngga latah", Lorena tertawa geli meledek.


"Ehh..tapi kata orang - orang, pria geli an itu penyayang looohh " lanjutnya kemudian cekikikan.


Devilito gemas melihat intens wajah Lorena yang merah karna tertawa - tawa yang kemudian menutup mulutnya tapi masih cekikikan. Ia menyentil jidat Lorena pelan, dan merangkul menarik kepalanya dan mencium rambut Lorena.


Kembali, perlakuan Devilito berhasil membungkam tawa nya Lorena yang terlihat merona.


Blussh..."Kak Deviiii" Ia memukul tangan Devilito, malu.


Sudah memasuki hari ke 8 mereka terdampar di pulau ini tetapi tanda - tanda bantuan belum juga terlihat. Hari - hari mereka lalui terlihat menoton, sering di hinggapi rasa jenuh tetapi interaksi yang terjalin membuat mereka semakin akrab. Lorena sudah terbiasa melihat Devilito hanya memakai celana Hot pant nya ketika sedang mandi atau pun sebaliknya.


Mereka pria dan wanita normal, terkadang timbul rasa dan keinginan untuk lebih intim, terutama Devilito yang terkadang harus pergi mandi ke telaga hanya untuk menghilang hasrat itu, atau pergi tiduran di atas pasir pantai di waktu malam hari ketika Ia harus terbangun dan melihat Lorena menjadikannya guling dengan pakaian tersingkap awur - awuran.


Ia begitu menyayangi Lorena, dan tidak ingin menodainya.


Sampai datang sebuah harapan ketika Devilito melihat sebuah kapal nelayan melintas agak jauh dari pinggir pantai.


"Hallooo...Yuhuuuuu...!!" Devilito berteriak kencang mengangkat melambaikan kedua tangannya.


Lorena yang sedang di dalam pondok habis mandi begitu mendengar teriakan Devilito langsung berlari ke tepi pantai, kemudian ikut berteriak sekencang yang Ia mampu, dan menghambur - hamburkan pasir ke atas agar terlihat dari kapal nelayan.


Devilito tidak kekurangan akal, Ia mengambil batu berukuran cukup besar dan membawanya agak ke tengah laut, lalu melemparkannya ke atas hingga menimbulkan ciprakan air yang tinggi ketika jatuh ke dalam laut.


Usaha mereka berhasil, kapal nelayan tersebut terlihat berputar arah menuju mereka.


Melihat itu, Lorena meloncat - loncat ke punggung Devilito kegirangan.


"Kita selamaaattt..." Lorena lalu menangis dalam pelukan Devilito.


***


Pagi itu matahari mulai menampakan sinarnya, angin bertiup sepoi - sepoi di sebuah perkampungan kecil di Selangor negeri jiran Malaysia. Suasana semakin asri dengan indah nya bunga yang bermekaran di pekarangan rumah-rumah panggung cantik dari kayu - kayu berjajar rapi dan bersih.


Di salah satu rumah, Dato' Ahmad Zain baru saja menjamu tamunya sarapan pagi. Tamu yang tak lain Devilito dan Lorena itu sore kemarin di tolong oleh tuan rumah setelah 8 hari terdampar di pulau terpencil lepas pantai.


Setelah berbincang - bincang dengan Dato' Ahmad, Ia meminjam telepon selular beliau untuk menghubungi salah seorang anak buah nya yang berada di kota Shah Alam untuk menjemput nya di perkampungan tersebut tanpa di ketahui oleh siapa pun, termasuk anggota jaringan lain.


Selang dua jam kemudian, baru datang satu orang anak buahnya menjemput. Devilito dan Lorena berpamitan pergi meninggalkan keluarga Dato' Ahmad dan tidak lupa mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam karena telah menyelamatkan mereka berdua dan berjanji kelak akan datang kembali.


"Kita harus ke markas saja atau kemana ketua?", anak buah Devilito bertanya membuka percakapan setelah mereka bergerak meninggalkan perkampungan.


"Tidak perlu..."

__ADS_1


"Cari wisma di dekat kota saja Don saya mau istirahat sebentar setelah itu kamu persiapkan pesawat karena sore ini saya harus terbang ke Jakarta", Devilito berkata pada anak buah nya yang bernama Donny, yang juga merupakan salah satu pimpinan jaringan wilayah Shah Alam Selangor Malaysia.


"Baik ketua..", kemudian Donny melirik spion melihat Lorena sekilas lalu menatap lurus ke depan mengendarai mobil. Banyak sebenarnya yang ingin di tanyakan, karena Ia sudah mendengar berita hilangnya sang pemimpin dengan wanita anak Alexander yang merupakan salah satu rival nya dalam dunia bawah.


Tapi Ia tidak akan pernah berani untuk menanyakan itu.


Apakah wanita ini..? katanya dalam hati.


"Keadaan disini aman Don..?" suara sang pemimpin membuyarkan lamunannya.


"Aman ketua, sempat goyah beberapa hari yang lalu ketika mendengar desas - desus tentang menghilangnya ketua, namun bisa terkendali karna tuan Giring langsung melakukan konsolidasi"


Devilito tersenyum bangga dengan sahabatnya tersebut, mungkin suatu hari nanti tongkat estafet akan Ia serahkan padanya jika Ia mengundurkan diri.


Ya..sejak kunjungannya ke rumah papa Luigi di Italia, Ia mulai memikirkan nasehat mama nya untuk segera pensiun dan menikah.


Menikah..? hmm, tanpa sadar Ia tersenyum, sekilas melirik Lorena yang duduk di sebelahnya.


Lorena yang dari tadi hanya diam memperhatikan obrolan mereka berdua, mengernyitkan keningnya, lalu...


"Kenapa senyum - senyum ?"


Devilito sedikit terlonjak kaget karena Lorena tiba - tiba mencolek pinggangnya. Matanya melotot ke arah gadis itu.


"Pffft..." Lorena tertawa tertahan menutup mulutnya. Ia jadi senang karna tau kelemahan pria pelindungnya ini. Ia punya mainan baru.


Sang sopir di depan sedikit kaget, lalu tersenyum sedikit...


Nona ini sepertinya belum tau siapa itu Klabang Mentari...


Sampai di pinggiran kota Shah Alam, Devilito menyuruh berhenti di sebuah toko pakaian untuk membeli beberapa pakaian ganti untuk dirinya dan Lorena. Lalu Donny mengambil satu buah amplop coklat berisi seikat ringgit dari dashboard mobil dan menyerahkannya pada Devilito.


Setelah melanjutkan kembali perjalanan dari toko pakaian, mereka sampai di sebuah wisma penginapan kecil tapi keliatan bersih di pinggiran kota itu.


Donny kemudian masuk ke parkiran lalu Ia turun untuk melakukan reservasi.


"Hmm..."


"Disini ada 7 kamar tapi saya sudah cek, semua hanya di isi oleh keluarga", lanjutnya kemudian.


"Ok.."


"Saya ijin untuk segera persiapkan landasan, dan juga ini Hp cadangan sudah saya persiapkan untuk ketua berkomunikasi, dan nanti saya kembali lagi", Donny menyerahkan sebuah Hp bergambar apel di gigit separuh.


"Dan mobil ini saya tinggal disini, jika sewaktu - waktu ketua ada perlu, saya naik taksi saja" Katanya sambil bersiap turun.


"Bagus, nanti kamu jangan hubungi siapa - siapa tentang saya ya" lalu Devilito pun turun dan memakai topi yang Ia beli di toko pakaian tadi di ikuti Lorena menuju paviliun.


"Siap ketua"


Luar biasa ! .. Lorena yang dari tadi hanya diam, bergumam dalam hati, Ia kagum dengan Devilito dalam me-manage anak buahnya sehingga begitu tanggap dan loyal terhadapnya.


Sesampai di paviliun, Devilito menyerahkan paper bag yang berisi pakaian baru dan peralatan mandi pada Lorena lalu berjalan menuju kamar mandi yang berada di belakang.


"Eh aku duluuu..,ladies first! ", Lorena menyerobot masuk kamar mandi.


"Badanku lengket rasanya" imbuhnya kemudian.


"Pelan - pelan Rena nanti kamu kepeleset" Devilito geleng - geleng kepala melihat tingkah Lorena akhir - akhir ini yang menurutnya sangat menggemaskan.


Sementara menunggu Lorena mandi, Devilito mengambil Hp menghubungi Giring dan Marcel melalui video call.


Drrt..drrttt..drrttt


Giring yang sedang berada di markas melihat Hp nya ada panggilan video call dari nomor tak di kenalnya, bukan nomor IDN.

__ADS_1


Ia mengangkatnya. Begitu tersambung tiba - tiba mukanya kaget dan berseri.


"Hallo sob..wuiihh seneng banget gue, gue udah yakin lo pasti selamat, gimana keadaan lo sob?..sekarang lo ada dimana ?" Giring yang begitu excited menerima panggilan kawannya ini melontarkan pertanyaan beruntun.


"Ya ampuuun..lo kayak AK-47 aja, nanya nya satu - satu bro!, gue masih survive dan aman. kok Marcel ngga bisa di telp?,"


"Sori sob, hehehe...Marcel lagi ngga bisa terima telpon dia lagi ribet di RS nya, tadi udah hubungi gue"


"Ooh, gimana keadaan disana bro, ada perkembangan apa ?"


"Organisasi lagi sibuk disini, lawan udah melakukan pergerakan, gue butuh lo sebenarnya, kapan lo balik nanti gue ceritain detilnya, gue terpaksa harus ambil keputusan tanpa lo, urgent soalnya".


"Gpp, gue di Selangor di tempat Donny , malam ini gue balik Jakarta pake pesawat kita, lo jemput gue di landasan xx , sekalian bawa Marcel"


"Ok sob...oh ya gue perlu kabari juga ama lo , Cerlotta sedang ada disini"


"Hah..!?, ngapain dia ke Jakarta? emang keadaan genting banget sampe pusat ikut campur ? sama siapa dia datang?"


"Nah elo sekarang yang kayak AK-47 nih, dia datang karena dapat kabar elo menghilang sob ahahaha" Giring tertawa melihat ketidak sukaan wajah Devilito lewat layar Hp.


"Dari siapa dia dapat kabar?, elo ?" Devilito bertanya menyelidik.


"Bukan, gue juga ngga tau siapa, Marcel juga ngga tau. Cuma berita tentang hilangnya diri lo udah tersebar di media televisi dan online, dia datang send..." tiba - tiba pembicaraan terpotong oleh suatu suara,


"Siapa Cerlotta itu kak..??" Lorena yang baru selesai mandi sempat mendengar kan pembicaraan tadi, dia bereaksi setelah mendengar nama seseorang di sebut.


Giring terkaget bengong begitu wajah seorang wanita muncul di layar Hp di belakang Devilito, Ia mengenal wajah itu, cuma pakai handuk!


"Waaaw...kacau ini mah!


Ia berkata dalam hati lalu senyum - senyum.


"Cerlotta itu pacar kamu ?" tanya Lorena menyelidik, muka nya tergambar ketidak sukaan disitu.


"Oo bukaan, dia itu orang Italia, salah satu partner disana"


"Masak sihh??, kok gelagapan gitu jawabnya?"


"Bukan gituu .eh nanti deh aku ceritain"


Giring yang mendengar dan melihat tontonan gratis di layar Hp nya, senyum - senyum dan cekikikan menahan ketawa.


Aku..? kamu..? wah wah wah


"Cerlotta itu calonnya Giring" jawab Devilito mencoba meyakinkan.


"Heii halo...haloo" Giring berusaha memutus perdebatan di seberang sana.


"Yaudah bro, nanti malam jemput gue, oh ya berita gue sama Lorena jangan tersebar dulu ya, keep silent !" perintahnya sambil memainkan bola matanya lalu memutuskan hubungan.


Yaelah kebiasaan kadal begini nih, main putus sepihak


Setelah memutuskan komunikasi dengan Giring, Devilito menghampiri Lorena yang berdiri di pintu kamar, matanya masih meminta jawaban.


"Kamu cemburu ..hm?" Devilito bertanya dengan nada lembut.


"Aku udah di peluk - peluk, di cium cium kepalanya, di nina bobo in, di rawat , di jaga, di kasih makan, di suapin ngga boleh kesel gitu? ngga boleh nanya siapa Cerlotta gitu ?" matanya berair, menangis.


Devilito diam tidak menjawab, Ia langsung mendekap dan memeluk tubuh Lorena, mengusap - usap kepalanya lembut.


Lorena makin menangis di dada Devilito, dan terdengar bisikan kalimat,


"Aku sayangnya sama kamu..dan aku akan menikahi kamu".


-

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2