
*****
Sementara itu, di markas eL Paso kembali terjadi kegaduhan karena hilangnya ketua Alexander dari ruang perawatan pada waktu dini hari malam dari salah satu rumah sakit yang Raymond tunjuk.
Setelah di cek melalui CCTV, penculik melumpuhkan dua orang sekuriti, satu orang dokter jaga dan dua orang perawat yang di beri kewenangan untuk merawat Alexander yang sedang terbaring dalam keadaan koma.
Menyamar sebagai dokter dan perawat pengganti, para penculik dengan mudah menemukan ruang khusus VVIP dan hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk membawa pergi dari rumah sakit itu.
"Kurang ajar !!...kenapa bisa kecolongan kalian Hah !?, dimana Melvin , panggil kesini !!"
Bugggh..!! satu pukulan mendarat di perut salah seorang anak buah yang kebetulan malam kejadian menjadi sekuriti jaga depan kamar VVIP.
Ia terjengkang ke belakang dan memuntahkan darah segar di mulutnya.
"Percuma kalian di gaji besar kalau kemampuan kalian tidak memadai !"
Raymond terkenal sangat temperamen dan otoriter dalam bertindak. Sedikit berbeda dengan kakaknya Alexander yang lebih mengedepankan kompromi, mau mendengarkan masukan orang kepercayaannya, walau juga sangat kejam.
Melvin sampai di ruangan itu setelah Ia dapat panggilan dalam perjalanan dari tempat Aksan, tanpa sepengetahuan Raymond.
"Dari mana kamu ??", tunjuk Raymond ke muka dan menggebrak meja ketika Melvin masuk setengah berlari.
"Saya tadi bersama Hensly mencari informasi keberadaan ketua bos", Melvin menjawab dengan nada cukup tenang.
"Lalu, dimana Hensly sekarang ?", Raymond berjalan menghampiri Melvin, masih dengan mimik muka penuh ancaman.
"Hensly dan saya berpencar, barusan posisi nya di markas dua, konsolidasi dengan anak buah" Melvin sebenarnya berbohong, namun Ia mengucapkan itu masih dengan tenang.
Raymond mencengkram kerah baju Melvin, lalu berbisik...
"Jangan coba - coba khianati saya, kalau kamu tidak ingin mati !" dengan nada penuh ancaman.
Disini perlu diketahui, bahwa Raymond sangat tidak menyukai trio kepercayaan kakaknya yaitu Aksan, Hensly, dan Melvin. Namun Ia belum berani frontal karena masih memandang kakak nya sebagai ketua tertinggi organisasi.
Sekarang kakaknya sedang dalam keadaan koma. Ini merupakan kesempatan bagi nya untuk menyingkirkan trio tersebut, yang mana saat ini Ia curigai menculik kakaknya dari perawatan di bawah pengawasannya.
"Saya bukan pengkhianat bos!, justru saya yang akan menyingkirkan pengkhianat organisasi nantinya!" nada Melvin tetap dalam ketenangannya.
Tatapan berbalik mengancam menantang mata Raymond lalu berpindah ke Rudi Gomber dan Hector, duo tangan kanan Jimmy Ikusawek yang akhir - akhir ini sering mendampingi Raymond kemana pun pergi.
Nah, begitu juga sebaliknya, trio kepercayaan Alexander disini justru mencurigai Raymond yang memindahkan perawatan ketua nya, karena trio ini tadinya sudah lebih dahulu berencana untuk melakukan penyelamatan terhadap Alexander.
Apa dia sudah mengetahui rencana gue ama Hensly tempo hari ? apa dia sekarang berpura - pura ? tapi kalau bukan dia yang menculiknya
lalu siapa..??
Melvin berkata - kata dalam hati, kemudian minta ijin berlalu dari situ.
"Kunci sekarang pergerakan Aksan, Hensly dan Melvin , lalu laporkan!..pakai anak buahmu biar tidak kentara" ujar Raymond kepada Hector dan Rudi.
"Siap..!" jawab duo tandem Jimmy serempak.
Mereka terlupa dengan kehadiran sosok anak buah yang mulut dan bajunya berlumuran darah mendengarkan percakapan Raymond sambil tengkurap menahan sakit.
***
Dua hari sebelum penculikan Alexander.
Sore itu, Devilito dan Lorena dan Donny yang mengawal dari Selangor baru saja menapaki kaki nya di landasan khusus di kaki bukit kota B, kedatangan mereka langsung di sambut Giring dan Marcel serta Tito.
__ADS_1
"Welcome back supreme commander dan Nyo..ehh nona "Giring dengan muka cengengesan merentangkan tangannya memeluk sahabatnya yang seperti hidup kembali dimatanya.
Devilito membalas pelukan sambil memukul bahu karena ucapan jahil Giring.
"Apa kabar bro ?, nona.." Marcel ikut memeluk Devilito dan menyalami Lorena.
"Panggil aja aku Rena" balas Lorena menyambut tangan Giring lalu Marcel.
"Selamat bertemu kembali Rena"
Tito membungkuk hormat dan ikut menyalami Devilito dan juga Lorena.
Begitu juga dengan Donny yang membungkuk hormat menyalami Giring dan Marcel.
Tito dan Donny bersalaman ala laki.
Lorena senyum - senyum melihat cara komunikasi kedua sahabat Devilito yang begitu akrab dan bersahabat.
"Kita langsung ke rumah gue aja dulu, yuk" Devilito mengajak Lorena menuju mobil yang sudah di buka kan pintu nya oleh Tito.
Dua mobil lalu beriringan melaju meninggalkan kota B.
***
-- Dirumah Devilito --
Tito dan Donny mengobrol di teras samping. Mereka Donny, Tito dan Dasmon dulunya merupakan satu tim, tetapi karna jaringan Devilito membuka cabang baru di Selangor, Donny mendapat kepercayaan untuk memimpin jaringan baru tersebut.
Devilito, Giring serta Marcel berada dalam ruangan tengah. Mereka bertiga sedang terlibat pembicaraan serius membahas rencana jaringan yang saat ini sudah di serang oleh kelompok Raymond.
Giring melaporkan adanya dua orang anggota IT lawan membelot dan membocorkan rencana el Paso dan pengkhianatan Raymond terhadap Alexander.
"Kita sangat kuat, kalo rencana ini berjalan lancar, kita akan melakukan rencana selanjutnya seperti ini..." lanjutnya kemudian mengambil kertas dan pulpen lalu membuat coretan menerangkan bahwa mereka akan melakukan gerakan memecah belah jaringan memanfaat orang dalam yang tidak menyukai Raymond.
"Kalo gitu, nanti kita akan bergabung dengan eL Paso ??", Marcel sedikit protes dengan rencana Devilito karna agak beresiko kalau terjadi merger.
"Ooh bukan kesitu maksudnya bro..., jaman sudah mulai berubah, cara juga harus berubah...kita justru akan mengendalikan mereka jika kita menekan dengan bantuan, eL Paso kita musnahkan dan kemudian hanya tersisa satu nama yaitu Lidah Api". Devilito menerangkan rencananya yang kemudian,
"Kita manfaatkan tenaga dua orang tangan kanan ketuanya yang katanya tidak menyukai Raymond tadi melalui pendekatan kita ke Alexander", lanjutnya sambil membuat coretan di kertas.
"Oo baru gue ngerti, jika kita punya kompetitor 3 , kita harus dekati 1 untuk menghadapi yang 1, kemudian kuasai !..cerdas skali kau kawan !" Marcel menepuk - nepuk bahu Devilito.
"Pinteeerrrr lo" Giring baru memahami.
"Trus, Cerlo..."
"Ssttt...diem, jangan bahas Cery sekarang nanti aja bahasnya, lagian ngga perlu bantuan dia juga!" Devilito memotong ucapan Giring seolah - olah sudah tahu kemana arah percakapannya, yang di sambut tawa Marcel.
"Lo hutang cerita ama gue bro!" sahut Giring pelan.
Tiba - tiba dari tangga muncul Lorena yang baru selesai mandi di kamar tamu bagian atas.
"Ssttt...bahasan sementara selesai, tinggal besok langsung jalani, gue pagi mungkin ke perusahaan dulu", Devilito langsung memberi kode kedua temannya dengan mata.
"Kak Devi bukannya mandi dulu, udah berhari - hari mandi seadanya malah langsung rapat aja" Lorena berjalan menghampiri mereka bertiga.
"Wow..." Marcel langsung dapat tatapan tajam dari Devilito untuk diam. Ia menutup mulutnya tak percaya melihat adegan kecil kawannya ini.
"Iya, sbentar lagi aku mandi"
__ADS_1
Widddihh.. Aku ? Marcel membatin , menoleh menatap Giring yang di jawab dengan muka cengengesan sahabatnya itu.
"Oh ya, nanti gimana? masak aku tidur disini ? aku kangen ama kak Nita" Lorena bicara dengan sedikit memelas.
"Sementara ini demi keamanan kamu, kamu disini dulu ya, besok kita bertemu dengan Kira disini aja"
"Berarti ama kak Devi juga dong ketemu Kak Nita ?" ada nada tidak suka dalam perkataan Lorena.
"Yaa, gimana lagi? kan nanti - nanti juga ketemu, lagian ini untuk keamanan kamu dan papa kamu" Devilito berusaha memberi pengertian pada Lorena sambil melirik kedua sahabatnya bergantian.
"Yaudah bro, besok kita eksekusi hasil rencana kita ini..", Devilito merasa serba salah berinteraksi dengan Lorena di depan kedua sahabatnya yang dari tadi hanya senyum - senyum penuh arti.
"Rena, kedua teman Devilito mu ini pamit yaa, kalau dia macam - macam bilang sama kita! " ucap Giring sok akrab pada wanita dekat Devilito yang di jawab dengan kerlingan mata malas dari Lorena.
Devilito lalu membuat gerakan seperti mengusir kedua temannya untuk pergi dari situ.
Setelah semua nya pergi, Devilito mengajak Lorena untuk duduk di sofa ruang tamu...
"Rena, aku mau bicara sesuatu sama kamu"
"Apa.."
"Aku ngga tau caranya gimana ngomongnya, walau ini terkesan agak konyol, tapi aku serius.."
"Apaan sih, berbelit - belit deh ngomongnya..."
"Aku mau menikahi kamu , kamu mau kan ?"
"Hah ??, trus urusan kamu sama kak Nita gimana ?"
" Yaa kan Kira udah menikah"
"Urusan perasaan kamu maksudnya, trus siapa lagi tuh kemarin namanya siapa? Cer..cer apa ?"
" Yah itu lagi, aku ngga ada perasaan apa - apa sama dia"
"Loh, bukannya apa - apa juga, jangan memulai hubungan dengan orang lain sementara masa lalu kamu belum selesai, aku ngga mau begituu"
"Iya, aku tau itu..nanti aku selesaikan dengan Kira di depan kamu !, sekarang masalahnya kamu mau ngga menikah sama aku ?"
"Diih..yang romantis dikit knapa sih?"
"Romantisnya nanti aja kalo udah nikah!"
"Cieee.. kesel tuuhh" Lorena memasang wajah imut nya.
Devilito pun memasang wajah dinginnya menatap Lorena...
"Iyaa aku mau , asal selesaikan dulu masalah dengan kak Donita!"
"Okeh, besok aku selesain" jawab Devilito mantab.
"Harus di depan aku "
"Iyaa bawel"
-
Bersambung...
__ADS_1